
Byeol duduk di kursi, di balkon sambil melihat langit malam gemintang yang bersih dari awan. Ayahnya keluar dari dalam ruangan lalu menoleh ke arah Byeol yang sedang melamun. Laki-laki itu berjalan mendekat.
"Apa yang sedang kau pikirkan," tanya ayahnya membuyarkan lamunan Byeol.
Gadis itu tersenyum lalu menghela nafas.
"Ayah ... ada yang ingin kukatakan padamu. Tapi entah Ayah akan percaya padaku atau tidak. Aku merasa resah apabila tak menceritakannya. Kupikir hanya Ayah yang bisa kupercaya,"ujar Byeol dengan nada yang berat.
"Ceritakanlah," ujar Tuan Choi lalu duduk di kursi di samping Byeol.
Tuan Choi merasa penasaran karena dia tahu Byeol selama ini bukan orang yang mau berbagi rahasia dengan siapa pun bahkan cenderung memendam masalahnya sendiri.
"Ayah ... apakah Ayah percaya dengan penglihatan masa depan?" ujar Byeol dengan raut muka serius..
"Ayahmu seorang penasehat raja dan ahli perbintangan istana tentu saja aku percaya hal itu ada," jawab ayahnya.
"Kalau kubilang Byeol ini bukan Byeol anakmu, tapi orang lain. Apakah Ayah akan percaya?" tanya Byeol hati-hati.
"Apa maksudmu?" Tuan Choi terkejut.
"Ayah, aku bukan Byeol anakmu, benar tubuh ini adalah tubuh Byeol, tapi yang ada di dalam tubuh ini bukanlah Byeol, tapi seorang gadis yang bernama Oh Man Se," jelas Byeol jujur sambil menatap wajah Tuan Choi seperti ingin tahu bagaimana reaksi setelah Byeol mengatakan hal yang mengejutkan.
Tuan Choi menoleh ke arah Byeol sambil membelalakkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar
"Apa maksudmu," tanya Tuan Choi lagi.
__ADS_1
Byeol berdiri lalu masuk ke dalam ruangan mengambil sesuatu. Byeol mengambil buku harian dan memberikannya pada Tuan Choi. Tuan Choi membuka buku itu dan membacanya perlahan
"Ayah, aku tak bisa baca tulis huruf Hanja. Jadi aku tak tahu apa isinya. Tapi di situ ada gambar-gambar yang seakan sebuah penglihatan yang Byeol alami terkait dengan diriku. Namaku Oh Man Se, aku datang bukan dari zaman ini," ujar Byeol dengan suara yang merendah seakan tak ingin ada orang lain yang ikut mendengar selain Tuan Choi.
Tuan Choi masih terlihat syok dan tak percaya, mimik wajahnya terlihat berpikir keras dan mencoba menerima kenyataan. Dia melanjutkan membaca buku harian Byeol dan sampai pada halaman yang memuat gambar-gambar bintang yang meredup, meledak dan berubah menjadi bintang merah. Tuan Choi terkejut karena gambar itu mirip dengan mimpi yang dia alami. Lalu gambar seorang perempuan yang memakai pakaian aneh dengan tulisan Hanja besar di bawahnya.
Tuan Choi membaca keras tulisan itu yang berarti "Oh Man Se. Mungkin aku harus mati dulu agar gadis itu mendapatkan cinta sejatinya". Mata Tuan Choi makin membulat tak percaya.
Man Se dalam tubuh Byeol terkejut. Apa maksud Byeol? Apakah karena dirinya Byeol harus mati? Merinding bulu kuduk Man Se. Apakah ini takdir? Jadi kemampuan penglihatan di depan pintu gerbang istana itu sebenarnya juga karena dia berada dalam tubuh Byeol. Mereka termenung dalam diam.
"Maafkan saya Tuan Choi," itu yang terucap oleh Man Se memecah keheningan.
Tuan Choi meneteskan air matanya. Tanpa bisa berkata apa-apa. Dia merasa bersalah tak pernah tahu fakta bahwa anaknya juga memiliki kemampuan yang sama dengannya. Bahkan, sampai dia kehilangan Byeol pun dia tak tahu apa-apa.
"Tuan ... jangan menangis ... aku tetap anakmu Byeol walau yang ada di dalam tubuh ini bukan lagi Byeol," hibur Man Se.
"Ya. Aku datang dari masa depan, ribuan tahun dari zaman ini. Dimana keadaan sudah sangat berbeda dengan di sini. Aku tak tahu mengapa aku bisa sampai terbawa ke sini. Terakhir kali aku jatuh dari gedung karena mabuk. Setelah sadar aku terkejut dengan keadaan di sekitarku. Aku tak tahu apakah ada misi tertentu yang membuat aku terbawa ke sini," jelas Byeol.
"Kau memiliki takdir yang terhubung dengan Byeol. Byeol memiliki kemampuan "melihat" dengan indera keenam, apakah kau juga bisa melakukannya?"tanya Tuan Choi.
Byeol menggelengkan kepala.
"Aku, Oh Man Se tidak pernah memiliki kemampuan itu. Tapi, Byeol bisa melakukannya. Byeol memang memiliki kemampuan melihat masa depan. Aku menyadarinya saat sebelum masuk gerbang istana," jelas Byeol
"Apa yang kau lihat?" tanya Tuan Choi penasaran.
__ADS_1
"Aku melihat festival ulang tahun putra mahkota berakhir rusuh. Seorang raja mangkat. Aku melihat seorang anak muda yang dieksekusi, dan seorang tua juga dieksekusi oleh orang yang berbeda. Perang dengan orang-orang yang mirip orang Mongol. Dan seorang laki-laki yang tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku. Entah siapa mereka itu, dan entah kapan akan terjadi. Hanya saja laki-laki yang mengulurkan tangannya, aku bertemu dengannya tadi sore ketika hujan deras,"cerita Byeol.
"Kau tahu siapa dia?" tanya Tuan Choi.
Byeol menggelengkan kepalanya. Dia teringat dengan jubah merah yang diberikan padanya.
"Aah, sebentar, mungkin Ayah tahu ini milik siapa?" ujar Byeol sambil beranjak bangun dari duduknya lalu masuk ke dalam mengambil sesuatu.
Tak lama kemudian Byeol keluar lalu memberikan jubah merah kepada Tuan Choi. Laki-laki itu memperhatikan jubah di tangannya dengan seksama. Dia tahu itu milik pangeran Wang So, putera kedua Raja Taejo Wang-geon dari Ratu Shinmyeongseonsong.
"Ini milik yang mulia Wang So," ujar Tuan Choi dengan nada gumam yang pelan.
"Wang So? Raja Gwangjong?" ujar Byeol terkejut seakan tak percaya dengan ucapannya sendiri.
"Apa maksudmu dengan Raja Gwangjong, siapa dia?" tanya Tuan Choi penasaran.
"Kupikir aku bisa mengartikan penglihatan yang terjadi padaku di depan gerbang istana. Siapa raja yang mangkat dan siapa yang dieksekusi. Entah apakah kau akan percaya padaku apa tidak. Setelah ulang tahun putra mahkota Wang Mu, Raja Taejo Wang-geon akan mangkat. Raja baru bergelar Hyejong. Akan ada yang mati di saat dia berkuasa yaitu pangeran Wang Eun, cucu Wang Gyu mertua Wang-goen. Tak lama Hyejong juga akan mangkat digantikan oleh Raja Jeonjeong, tak lama setelah itu Gwangjong naik tahta. Ayah, entah kau akan percaya dengan ucapanku apa tidak," terang Byeol lalu memandang ayahnya dengan pandangan meyakinkan.
Oh Man Se dalam tubuh Byeol begitu fasih menjelaskan karena dia tahu sejarah dinasti Goryeo. Sungguh hal yang menakjubkan jika saat ini dirinya menjadi saksi sejarah naik turunnya raja-raja Korea kuno.
"Ssst ... rendahkan suaramu. Kau tahu apa yang kau ucapkan bisa membahayakan jiwamu, Jangan sampai ada yang tahu dengan apa yang kau ucapkan, kalau tidak kau bisa mati. Istana tempat orang yang memperturutkan ambisi dan pengaruhnya. Bahkan raja sekalipun tak bisa membantu apabila bertentangan dengan klan yang berkuasa. Ingat ini baik-baik. Kau dengan lancang menjelaskan tentang raja-raja, jika salah satu dari klan mereka mendengar ucapanmu, kepalamu bisa hilang,"ujar Tuan Choi dengan raut wajah khawatir.
"Ya," jawab Byeol dengan gugup, "Tapi itulah yang akan terjadi, aku tak hanya melihatnya melalui mata Byeol, tapi aku, Oh Man Se, orang yang datang dari masa depan yang tahu tentang sejarah bangsaku, aku tak mungkin salah," terang Byeol dengan suara berbisik.
"Ya ... ya aku percaya padamu Oh Man Se. Tinggal kita lihat, apakah benar dengan yang kau katakan itu akan terjadi. Aku nasehatkan padamu untuk tidak menyampaikan hal ini pada orang lain," ujar Tuan Choi serius, "Aku pergi dulu, masih banyak yang harus kupersiapkan untuk acara ulang tahun Putera Mahkota," pamit Tuan Choi lalu beranjak pergi meninggalkan Byeol.
__ADS_1
Byeol duduk seorang diri sambil memegang jubah merah milik Wang So. Apa yang akan terjadi nanti? Mengapa takdir membawa Man Se ke masa lalu, bahkan bertemu dengan orang yang wajahnya mirip dirinya dan Kang bersaudara? Kalau pun ini mimpi semoga dia bisa segera terbangun, pikir Man Se.