
Seorang laki-laki datang menemui ayah Byeol membawa sebuah surat dari Raja Taejo. Laki-laki itu adalah Kasim Han, pengurus paviliun Ratu Janghwa. Setelah dibaca oleh ayah Byeol, surat itu dibakar. Byeol dipanggil ke dalam ruang ayahnya. Gadis itu memberi hormat pada ayahnya dan Kasim Han, lalu duduk di hadapan mereka.
"Siapkan dirimu untuk masuk ke istana Byeol-ah. Yang mulia raja memintamu menghadapnya. Berangkatlah siang ini juga bersama Kasim Han," ujar Tuan Choi.
Byeol merasa khawatir dengan apa yang terjadi, tapi mimik wajahnya dibuat setenang mungkin, walau hatinya berdebar keras. Dia akan menghadap raja secara pribadi, penguasa Goryeo, pemersatu tiga kerajaan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? batin Byeol
"Ya, Ayah," ucap Byeol sambil memberi hormat.
Byeol dibantu ibunya mempersiapkan apa saja yang akan dibawa. Mereka belum tahu apa yang dikehendaki raja atas diri Byeol. Wajah Tuan Choi sebenarnya juga khawatir, dia tak ingin anaknya menghadapi masalah ketika masuk ke istana. Istana bukan tempat yang aman buat Byeol yang sama sekali tak tahu seberapa kejamnya sebuah tampuk kekuasaan di sebuah negeri. Di dalamnya penuh konspirasi saling menjatuhkan demi kepentingan masing-masing. Siapa kuat dia yang berkuasa, tak jarang mereka saling membuat konspirasi sedemikian rupa agar bisa menjatuhkan lawan politik dan menjadikan klannya berkuasa. Byeol sama sekali belum punya pengalaman untuk menghadapi hal seperti itu.
Sebelum Byeol masuk tandu, Tuan Choi memberi pesan.
"Byeol-ah jaga dirimu baik-baik di istana. Seperti yang sudah pernah kunasehatkan padamu agar hati-hati menjaga segala tindakanmu, bahkan dinding di istana memiliki telinga dan mata. Ssstt ... jangan sampai seorang pun tahu tentang kemampuanmu," ujar Tuan Choi sambil merendahkan suara.
Kasim Han sudah menunggu di halaman. Mereka pun berangkat ke istana.
***
Tengah hari mereka sudah sampai di istana. Byeol diantar Kasim Han ke tempat raja. Begitu di depan pintu istana, tak karuan perasaan Byeol. Rasa deg-degan itu membuncah saat Kasim Han membukakan pintu ruang utama tempat Raja Taejo bersinggasana. Tak sembarang orang diizinkan masuk. Banyak pertanyaan dalam diri Byeol berkelindan, salah satunya untuk apa yang mulia raja sendiri yang ingin bicara kepada dirinya, sedangkan dia tidak memiliki status apa pun juga.
__ADS_1
Pintu terbuka, Byeol menundukkan kepala lalu melangkah masuk. Dia tak berani mengangkat wajahnya. Raja Taejo sedang duduk di singgasananya memeriksa gulungan-gulungan surat.
"Kau yang bernama Byeol, anak Choi Ji Mong?" suara Raja Taejo terdengar berwibawa begitu Byeol selesai memberi hormat.
"Ya, yang mulia," jawab Byeol tanpa berani memandang Raja Taejo.
"Kau masih begitu muda, tapi memiliki keberanian dan kemampuan luar biasa. Kau mirip ayahmu. Aku berterima kasih padamu, sudah menyelamatkan Wang So bahkan dengan mengorbankan dirimu sendiri. Membantu memadamkan kekacauan ketika festival ulang tahun Putra Mahkota. Aku tak tahu cara balas budi yang seperti apa untuk membalas kebaikanmu untuk putra-putraku. Apa yang kau inginkan Choi Han Byeol agar aku membalas jasamu?" tanya Raja Taejo
"Yang mulia, hamba tak menginginkan apa pun juga selain bisa mengabdi untuk raja dan negeri ini," jawab Byeol.
"Angkat wajahmu," perintah Raja Taejo.
Byeol mengangkat wajahnya lalu memandang sosok tua dihadapannya.
Byeol tak bisa berkata apa pun. Oh Man Se dalam diri Byeol ingat tentang sejarah Goryeo bahwa Raja Hyejong pengganti Taejo Wang-geon memang sakit-sakitan. Banyak spekulasi di tengah para ahli sejarah di masa depan tentang kondisinya. Apakah memang dia sakit dan meninggal karena depresi ataukah karena dibunuh?
Bagi gadis naif seperti Byeol, permintaan Raja Taejo terlalu berat, mengingat dia tak memiliki kekuatan dan kekuasaan, selain fakta dia anak Choi Ji Mong. Dia hanya seorang perempuan. Tapi dia sudah bertekad ingin mengikuti aliran waktu yang membawanya. Lagipula tak mungkin seorang raja seperti Raja Taejo salah menilai tentang dirinya. Byeol memantapkan hati.
"Yang mulia, apa yang bisa hamba lakukan sebagai pengikut dari Putra Mahkota?" tanya Byeol
__ADS_1
"Apakah kamu juga memiliki kemampuan yang sama seperti ayahmu? Kau bisa melihat masa depan?" tanya Raja Taejo.
"Hamba tak yakin hamba mampu seperti yang Anda harapkan, yang mulia ," ujar Byeol
"Seperti sebuah berlian, kau perlu diasah oleh ahlinya Byeol-ssi. Aku ingin kau masuk ke dalam kemiliteran, sebagai prajurit wanita. Ratu Janghwa yang meminta hal ini. Aku ingin kau bersamanya melindungi Putra Mahkota," pinta Raja Taejo
Byeol diam tapi dalam hatinya berkecamuk. Apakah dia harus masuk ke dalam putaran arus permainan di istana? Ataukah dia menolak? Dilema dirasakannya, jika dia menolak berarti menentang raja, jika dia ikut putaran arus maka dia harus siap mati pada akhirnya.
Hidup itu pilihan, bagaimana pun juga kematian itu sebuah kepastian, tinggal dia mati dalam keadaan apa itu adalah misteri. Akhirnya Byeol memutuskan dalam hati. Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya seakan ingin menghempaskan beban berat baginya
"Baiklah, yang mulia," jawab Byeol.
"Aku bisa menebak pilihanmu. Kamu memang mirip ayahmu selalu rendah hati dan setia," ujar Raja Taejo lalu tertawa.
Raja memanggil Kasim Han, dan memintanya mengantar Byeol ke kediaman Ratu Janghwa.
***
Malam itu Byeol duduk di sebuah kamar di lingkungan istana ratu. Dia menulis surat untuk ayah ibunya agar tak khawatir dengan keadaannya. Dia akan lama di istana dan mendoakan semua baik-baik saja. Pikirannya menerawang ketika menghadap Ratu Janghwa.
__ADS_1
"Byeol-ssi, besok Kasim Han akan mengantarmu ke suatu tempat untuk mengikuti pelatihan. Tempat para prajurit wanita dilatih untuk melindungi anggota istana. Semoga kau kerasan dan bersabar menjalaninya," terang Ratu Janghwa.
Byeol tak bisa tidur, memikirkan apa yang akan terjadi esok. Pikirannya berkecamuk, tapi lelah membuatnya tertidur pulas.