
Suara terompet tanda dimulainya perburuan sudah di tabuh. Para pangeran sudah berjajar berkelompok-kelompok termasuk Byeol. Mereka semua memakai baju perang dan menyandang senjata serta anak panah. Tak berapa lama, mereka bergerak menuju ke hutan dan berpencar. Suara riuh rendah derap kuda memeriahkan perlombaan menuju hutan ditingkahi suara genderang yang ditabuh.
Kelompok Byeol menuju ke arah Timur. Menurut Wang Jung lebih baik mengikuti arah lintasan matahari untuk lebih memudahkan kembali ke perkemahan. Mereka pun masuk ke hutan yang lebat. Mereka berhenti memacu kuda, dan mulai berjalan melambat. Semakin masuk ke hutan mereka memutuskan untuk turun dari kuda dan berjalan kaki sambil menutun kuda masing-masing.
Sampai tengah hari mereka belum menemukan apa pun. Mereka berempat duduk istirahat di tepi sungai. Kuda-kuda dibiarkan lepas mencari makan. Wang So memberi sebuah ide agar mereka berpencar saja dan berkumpul kembali ke pinggiran sungai itu menjelang senja nanti. Mereka melakukan undian dengan batang rumput. Wang So bersama Wang Eun ke hulu sungai sedangkan Wang Jung bersama Byeol ke hilir sungai. Mereka berpencar.
Byeol berjalan bersama Wang Jung. Tak lama kemudian Wang Jung merasa sakit perutnya dan minta izin kepada Byeol untuk pergi sebentar. Wang Jung pun masuk ke semak-semak yang jauh dari pandangan Byeol, tapi tak lama kemudian sebuah teriakan terdengar. Suara Wang Jung memanggil Byeol dan meminta tolong.
Byeol bergegas menuju sumber suara. Wang Jung terangkat ke atas dengan posisi kepala di bawah dan kakinya terikat di tali jebakan. Melihat kedatangan Byeol, Wang Jung pun nyengir. Dengan sigap Byeol memanah tali yang mengangkat kaki Wang Jung lalu dibiarkan laki-laki itu jatuh ke tanah.
Bruuuugh!
"Aduuuh. Byeol-ah kenapa kau tak bantu aku turun," keluh Wang Jung sambil mengusap-usap punggungnya..
Byeol hanya tesenyum lebar.
"Ayolah, jangan cengeng," jawab Byeol.
Wang Jung melepaskan ikatan di kakinya. Dia pijat badannya yang terasa sakit, lalu berjalan mendekati Byeol. Tiba-tiba mata Wang Jung membulat.
"Diam, jangan bergerak," perintah Wang Jung kepada Byeol.
Byeol diam tak bergerak bahkan tak menoleh. Wang Jung mengeluarkan sebuah pisau lalu di lemparkannya pada sesuatu yang ada di belakang Byeol. Kena, Seekor ular melintas di belakang Byeol. Ular itu pun mati. Tak lama kemudian Wang Jung mengambil bangkai ular lalu dipotong-potong, darahnya di cecerkannya kemana-mana. Daging ular di pasang di jebakan tali yang sudah menjerat kaki Wang Jung tadi. Byeol heran dengan apa yang dilakukan Wang jung.
"Kita pasang umpan. Bau darah akan disukai hewan liar terutama serigala atau rubah. Kita tunggu saja mereka datang. Mereka menjauh dan naik ke sebuah pohon sambil menunggu hewan buas datang memakan jebakan mereka. Benar kata Wang Jung. Tak lama kemudian seekor serigala datang sambil mengendus-endus darah yang tercecer di tanah. Wang Jung dan Byeol lalu memasang anak panah dan siap membidik.
Slaaap!
Tembakan anak panah Wang Jung meleset. Serigala itu bergerak lari.
Slaaap!
Tanpa ampun panah Byeol mengenai kepala serigala itu. Mereka berdua bersorak sorai atas keberhasilan mereka mendapat hewan segesit serigala. Mereka turun dari pohon lalu mengikat hewan buruan mereka di sebuah kayu lalu mereka menggotongnya ke tempat pertemuan yang sudah ditentukan.
***
Di pinggir sungai, Wang So dan Wang Eun sudah menunggu. Mereka berdua sudah membuat api unggun. Wang So sedang menangkap ikan di sungai menggunakan sebatang anak panah. Mereka mendapat seekor rusa. Melihat Wang Jung dan Byeol datang membawa sekeor serigala, mereka pun bertepuk tangan dengan gembira. Melihat hasil tangkapan mereka yang luar biasa. Bisa dipastikan mereka akan menjadi pemenangnya.
__ADS_1
Perut Byeol sudah lapar. Terdengar jelas suara perutnya membuat mereka tertawa bersama-sama. Wang Jung pun membuka bajunya lalu masuk ke dalam sungai bersama Wang So mencari ikan. Wang Eun dan Byeol duduk di sekitaran api untuk menyiapkan apa-apa yang bisa dipakai untuk membakar ikan makan siang mereka.
"Apa yang kau pikirkan, Hyung?" tanya Wang Jung pada Wang So yang diam mematung.
Wang So memandang Byeol diam-diam.
"Gadis itu, tadi malam, perkataannya membuka pikiranku," jawab Wang So sambil menyeka air di wajahnya.
"Apakah terjadi sesuatu yang "istimewa" tadi malam?" selidik Wang Jung sambil tersenyum nakal.
Wang So pun memercikkan air ke wajah adiknya itu.
"Buang jauh-jauh pikiran kotormu, kami tidak melakukan seperti yang kau pikirkan," ujar Wang So, lalu mulai mengejar ikan yang besar-besar di sungai. Wang Jung tertawa terbahak. Dia tahu kakaknya jatuh hati pada Byeol, walau dalam hati Wang Jung juga tertarik kepada gadis itu. Wang Jung pun menatap Byeol.
Menjelang senja mereka berkuda menuju perkemahan. Mereka pacu kuda mereka lebih kencang ketika mendekati perkemahan. Belum ada kelompok lain yang datang. Mereka tertawa gembira. Merekalah pemenangnya.
***
Malam hari seperti yang dijanjikan oleh raja, mereka mengadakan pesta di perkemahan. Raja menobatkan kelompok Byeol sebagai pemenangnya. Semua seakan tak percaya bahwa kelompok Wang So yang menang. Mereka memperkirakan kelompok Wang So kalah. Mereka dengan bangga mendapat minuman yang langsung dituangkan oleh raja. Semua bergembira sampai yang mulia Taejo mengumumkan sesuatu yang membuat para hadirin diam.
Wang So terkejut, dia tak mengira akan dijodohkan, sedangkan dia sudah jatuh hati pada Byeol. Secara politis memang menguntungkannya, tapi jujur dia tak suka pada aturan perjodohan.
Byeol juga terkejut atas keputusan raja, tapi dia bisa memahami hal seperti ini pasti akan terjadi. Ditatapnya Wang So yang menundukkan kepala usai memberi ucapan terima kasih atas karunia yang diberikan Raja Taejo. Byeol memandang wajah tenang Wang Wook. Apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu? Semua hadirin pun menyatakan terima kasih atas anugerah raja malam itu.
***
Byeol duduk seorang diri di tengah padang rumput bermandikan sinar matahari. Dia merenungi nasibnya, yang belum jelas akan terbawa angin takdir ke arah mana. Dia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba ada di sampingnya. Laki-laki itu meneduhkan mata Byeol dengan telapak tangannya dari sinar matahari. Byeol menoleh pada laki-laki itu.
"Aah, akhirnya kau menoleh juga padaku. Apa yang kau pikirkan Byeol-ah, aku mencarimu kemana-mana," ujar Wang Wook
"Hamba hanya merasa bingung ingin melangkahkan kaki ke arah mana. Hamba ingin merenungi hidup hamba di sini," jawab Byeol santai
"Bagaimana pendapatmu tentang perjodohan Wang So dengan Putri Gyeonghwa," tanya Wang Wook
"Apa yang bisa hamba katakan yang mulia, sedangkan hamba hanya seorang gadis biasa yang berasal dari klan rendahan," jawab Byeol lugas
"Aku tahu di antara kalian ada sesuatu. Kemarin malam aku melihat kalian berdua di pinggir sungai," jelas Wang Wook mengejutkan Byeol.
__ADS_1
Gadis itu hanya diam menunduk.
"Diantara kami tak terjadi apa-apa yang mulia," jelas Byeol.
"Syukurlah kalau tak terjadi apa-apa. Berarti masih ada kesempatan untukku untuk mengisi kehidupanmu. Langkahkan kakimu ke arahku. Maukah kau menjadi bagian dari takdirku?" ujar Wang Wook jujur.
Byeol diam karena perkataan Wang Wook cukup mengejutkannya.
"Maaf, apakah hamba tak salah dengar yang mulia?
"Tidak, kau tak salah dengar. Aku ingin kau di sisiku," jelas Wang Wook sekali lagi.
Byeol terseyum dan hanya gelang-geleng kepala seakan tak percaya. Man Se dalam tubuh Byeol ingat pada Kang Seo Woo yang lugas menyatakan perasaannya kepada Man Se di masa depan, ketika tahu Kang Min Hyuk akan menikah dengan Hong Sun Hwa. Kang Seo Woo juga menyatakan perasaannya pada Man Se. Apakah ini sebuah kebetulan bahwa kisah hidupnya sama dengan gadis yang bernama Byeol ini? Luar biasa, pikir Man Se dalam tubuh Byeol.
"Bagimana dengan Seonui?" tanya Byeol.
"Yang ada hanya pernikahan politis Byeol-ah. Kami menikah karena alasan politis. Begitu juga dengan Wang So, aku tahu hyung tak mencintai Putri Gyeonghwa," jawab Wang Wook.
Byeol makin tak paham apa yang dalam pikiran para lelaki di sekelilingnya. Dalam pikiran Byeol, entah itu sebuah pernikahan politis atau kah tidak suatu saat hati dan rasa cinta itu akan mewarnai.
"Yang mulia, lebih baik Anda jangan menyakiti hati perempuan," ujar Byeol sambil berdiri lalu memberi hormat pada Wang Wook. Byeol tahu Seonui sangat mencintai Wang Wook.
Byeol pergi meninggalkan Wang Wook duduk sendirian. Laki-laki itu memandang kepergian Byeol dengan tatapan kecewa lalu dia pun kembali ke tendanya.
***
Byeol merenung di atas tempat tidurnya. Harta, kekuasaan menjadikan orang-orang tak memiliki hati bahkan cenderung mempermainkan perasaan dan nasib seseorang, pikir Byeol. Hatinya masih gamang, siapakah laki-laki yang akan menjadi labuhan cintanya.
***
Byeol baru saja keluar dari tenda sore itu ketika Wang So tiba-tiba menariknya dan mengajaknya naik kuda menjauh dari perkemahan diam-diam. Mereka berkuda dengan laju membelah padang rumput sampai di pinggir sebuah lembah gunung yang indah dengan bunga-bunga berwarna merah. Di ujung lembah terdapat reruntuhan benteng batu yang membentang sepanjang pandangan mata. Wang So menurunkan Byeol dan mengajaknya naik ke benteng.
"Indah bukan, aku selalu ke sini setiap kali ada perburuan. Matahari tenggelam terlihat sangat cantik. Tunggu saja, sebentar lagi," terang Wang So.
Wang So berjalan mendekat ke dinding batu. Byeol pun berjalan ke arah laki-laki itu. Wang So menoleh dan mengulurkan tangannya ke arah Byeol. Tiba-tiba gadis itu mengalami déjavu. Byeol teringat sosok laki-laki yang mengulurkan tangan padanya dengan latar belakang langit senja. Byeol semakin yakin, bahwa laki-laki itu adalah Wang So.
Byeol yang sejak tadi diam dan berdiri pun akhirnya tersenyum lalu menyambut tangan Wang So. Mereka berdua berdiri di dekat dinding batu sambil menikmati pemandangan matahari tengelam yang terlihat indah. Byeol mengangkat tangannya ke langit seakan ingin menyentuh matahari yang sebentar lagi masuk ke peraduan. Senja yang di warnai merah saga yang indah.
__ADS_1