
Festival ulang tahun putra mahkota pun menjelang. Byeol sudah bersiap dengan baju dan topeng yang akan dipakai. Ketika keluar dari ruang ganti, Byeol menabrak seseorang yang berpakaian sama dengan penari pedang. Topeng yang dipakai laki-laki itu terjatuh dan Byeol melihat wajah yang asing.
Laki-laki itu bukan termasuk salah satu prajurit yang ditugaskan untuk membawakan tarian bersama para pangeran. Byeol tak pernah melihat wajahnya. Byeol yang sudah memakai topeng meminta maaf. Laki-laki itu tergesa-gesa memasang topengnya dan berlalu pergi.
Byeol curiga, lalu diikutinya laki-laki itu. Tak jauh dari tempat festival masih di area hutan istana, beberapa orang berganti baju dengan baju yang sama dengan para penari. Mata Byeol terbelalak tak percaya dengan apa yang dia lihat. Mereka bukan para prajurit yang ditugaskan membawa kain dari arah atap seperti biasanya. Apakah sabotase akan benar-benar terjadi seperti penglihatannya. Berarti memang benar akan ada penyusup. Byeol masih di tempat persembunyiannya.
"Benar dugaanku," kata seseorang dari belakang Byeol.
Byeol terkejut dan hampir saja berteriak kalau saja lelaki itu tidak menutup mulutnya. Byeol tak menyadari ternyata ada Wang So berdiri di belakangnya menyaksikan hal yang sama dengannya.
"Aaah, Anda benar-benar mengejutkanku,"bisik Byeol.
Wang So hanya diam dan menatap Byeol. Dia taruh jarinya di depan bibirnya memberi kode agar diam.
"Ayo, kita harus siap-siap menyambut para penyusup itu. Kita beritahu Jendral Park agar bersiap mengamankan yang mulia raja dan putra mahkota. Jumlah mereka terlalu banyak untuk kita serang berdua," ajak Wang So sambil menarik tangan Byeol. Wang So mengajaknya beranjak dari tempat itu.
Wang So tak melepas pegangan tangannya pada Byeol walau sudah sampai di tempat terselenggaranya festival. Wang So mencari-cari Jendral Park. Byeol sadar tangan Wang So masih memegang tangannya. Lalu di tariknya tangannya membuat Wang So tersadar akan apa yang dia lakukan.
"Maaf," itu saja yang terucap dari Wang So.
Mereka akhirnya menemukan Jendral Park. Wang So membisikkan apa yang dia lihat. Jendral mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham. Lalu pergi menyiapkan prajuritnya untuk menyambut penyusup yang akan datang berkedok penari pedang dan pembawa kain yang bertuliskan ucapan selamat untuk putra mahkota.
***
Acara dimulai. Byeol masuk melalui gerbang. Sesuai dengan suara musik, Byeol mulai bergerak membawakan tarian pedang solo di tengah lapangan, di depan para anggota istana. Dia bisa melihat wajah raja dan para ratu, serta para pejabat-pejabat istana. Dia ingin memberikan dan melakukan yang terbaik. Sampai irama musik mengalun dengan ritme yang cepat, para pangeran masuk ke tengah lapangan dan membawakan gerakan tarian pedang bersama dengan Byeol. Tak ada yang menyangka Byeol seorang gadis. Sampai akhirnya musik berubah ritme agak pelan dan bersiaplah para penari dari arah dinding turun.
Sebagian dari mereka membawa kain yang bertuliskan ucapan selamat ulang tahun untuk putra mahkota. Namun, sebelum para prajurit gadungan turun dari arah dinding yang tinggi, para pangeran sudah membuat formasi berjajar lurus seakan menunggu dan menghadang para prajurit gadungan. Jumlah mereka sekitar 20 orang. Para pangeran ditambah para prajurit sudah siap dengan pedang terhunus.
Pertunjukkan kembang api dimulai, sebagai tanda bagi para prajurit gadungan muncul. Benar saja, mereka muncul berkelompok dari arah dinding dan berlari lurus menuju ke arah raja dan putra mahkota. Istana ribut, para pejabat sadar ada yang tidak beres segera berlari menyelamatkan diri. Jendral Park memberikan komando menyerang para penyusup. Para pangeran termasuk Byeol ikut bertarung dengan mereka di tengah lapangan. Tak mudah menundukkan mereka, karena sepertinya mereka petarung yang terlatih.
Raja dan putra mahkota berdiri mematung melihat kejadian yang terjadi. Arena menjadi chaos, suara pedang beradu berdenting, suara teriakan bergantian. Persis seperti yang dilihat oleh Byeol sebelum masuk gerbang istana.
Byeol berhasil menundukkan seorang penyusup. Dia membuka topeng, lalu memandang sekelilingnya. Persis seperti yang dalam penglihatannya. Sampai akhirnya dia melihat seorang penyusup yang terluka berhasil bangkit kembali dan bermaksud untuk menebaskan pedangnya pada seorang pangeran.
Craaaakkk!
Byeol mencoba melindungi pangeran yang akan ditebas pedang. Darah muncrat dari punggung Byeol yang tertebas pedang. Sadar ada seseorang yang luka di belakangnya, sang Pangeran berbalik ke belakang, lalu menangkap Byeol yang jatuh, karena terluka. Dibabatnyalah penyusup yang sudah melukai Byeol hingga tewas. Pangeran itu pun membuka topengnya. Wang So-lah sosok yang ada di balik topeng.
Byeol sudah mulai kehilangan kesadaran. Wang So berteriak memanggil-manggil nama Byeol. Lalu, terasa di tangan Wang So darah yang menetes dari punggung Byeol. Dia memeriksa nadi Byeol. Wang So bersyukur Byeol masih hidup.
Pertarungan selesai, beberapa penyusup yang masih hidup berhasil diringkus. Wang So membawa Byeol ke tempat yang aman. Paramedis istana mulai bergerak memeriksa, dan menyelamatkan korban. Tuan Choi mendatangi Byeol yang terluka dalam pelukan Wang So. Mereka membawa Byeol dan berusaha menyelamatkan nyawanya.
***
Byeol tidur telungkup di tempat tidur. Para tabib dan dayang perawat mencoba menyelamatkan hidupnya. Wajahnya terlihat pucat dan belum sadarkan diri. Tuan Choi gelisah di luar ruangan mondar-mandir ke sana kemari karena khawatir terjadi sesuatu pada Byeol. Lalu, tabib keluar ruangan bersamaan dengan Ratu Janghwa yang datang bersama dayang-dayang istana. Mereka memberi hormat pada Ratu Janghwa.
"Bagaimana keadaan Byeol?" tanya Tuan Choi kepada tabib yang barusan keluar dari ruangan.
"Luka Nona Choi dalam. Dia kehilangan banyak darah. Dia orang yang kuat. Jangan khawatir. Malam ini kondisinya masih kritis. Kita lihat perkembangannya,"jelas tabib.
"Semoga tak terjadi hal yang lebih serius," ucap Ratu Janghwa
Tabib itu memberi pesan kepada dayang perawat untuk menjaga Byeol, lalu pamit pergi. Tersirat rasa cemas di wajah Tuan Choi dan Ratu Janghwa.
__ADS_1
***
Malam berlalu, pagi menjelang. Byeol sudah melewati masa kritisnya dijaga oleh para dayang perawat istana. Byeol belum sadarkan diri. Masih tidur tertelungkup dengan wajah pucat. Seseorang masuk ke dalam kamar lalu duduk di samping Byeol. Wang So memandang wajah Byeol. Tangannya terulur menyentuh dahi gadis itu. Masih terasa panas badannya. Lalu dipegangnya tangan gadis itu. Tak disangka tangan Byeol memegang erat tangan Wang So. Mata Byeol terbuka sesaat.
"Oppa," ucap Byeol seakan melihat Kang Min Hyuk ada di sampingnya.
Wang So terkejut Byeol memanggilnya Oppa. Dia tak paham maksudnya. Mata Byeol menutup lagi lalu tertidur nyenyak kembali.
"Gadis bodoh, mengapa kau mau mengorbankan diri seperti ini? Cepatlah sadar Byeol-ssi," ucap Wang So lirih sambil masih memandang Byeol penuh arti.
***
Byeol sudah mulai bisa duduk. Wajahnya masih pucat. Tuan Choi ada di depannya sedang duduk memandang anak gadisnya.
"Syukurlah kondisimu sudah mulai baik. Kami benar-benar mencemaskanmu. Segera setelah kau bisa jalan, kita pulang ke rumah,"
Byeol menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana dengan para penyusup itu Ayah? Apakah sudah diketahui siapa dalang dibalik semua kejadian di festival?" tanya Byeol.
"Para penyusup yang tertangkap, mereka ditemukan mati dalam penjara karena meminum racun. Mayat para prajurit yang seharusnya bertugas membawa kain ucapan selamat untuk putra mahkota belum ditemukan. Bisa jadi mereka sudah dieksekusi di luar istana. Sepertinya semua peristiwa ini berkaitan dengan orang dalam istana. Sebaiknya kita tak usah ikut campur," ujar Tuan Choi
"Apakah Ayah bisa memperkirakan siapa yang melakukan ini semua?" tanya Byeol
"Aku tak yakin, bisa jadi Wang Yo yang melakukannya, bisa jadi yang mulia Wang Gyu mertua yang mulia raja sendiri karena sejak awal dia tak setuju dengan penobatan Wang Mu sebagai putra mahkota,"
"Sebaiknya kita lihat perkembangan selanjutnya Ayah, aku yakin yang mulia Taejo Wang-geon takkan tinggal diam,"ujar Byeol.
Pikiran Byeol menerawang tentang kejadian di istana. Wang Mu harus menjadi raja selanjutnya, pikir Byeol, karena sesuai sejarah dia yang akan menjadi Raja Hyejong. Wang Gyu bisa jadi sebagai dalang kejadian ini, karena dia lebih memilih Wang Eun sebagai penerus Raja Taejo, tapi Wang Yo bisa juga menjadi dalangnya karena memang dia orang yang berambisi untuk berkuasa.
***
Byeol sudah mulai bisa berjalan keluar kamar. Badannya terasa kaku. Dia berdiri di tengah halaman rumah. Sepi, bahkan dayang tak terlihat satu pun. Dia menggerakan badannya agar lentur kembali, tapi apa daya sakit di punggungnya masih terasa nyeri membuatnya nyengir kesakitan. Byeol mulai berjalan-jalan lagi keluar pagar paviliun. Dilihatnya sebuah pohon apel yang sedang berbuah lebat. Perutnya lapar, dia ingin mengambil sebuah saja untuk di makan.
Buah terdekat terlalu tinggi untuk diambil. Byeol sudah berusaha melompat-lompat tapi tak kunjung dapat. Sampai akhirnya seseorang mengangkat tubuhnya ke atas agar sampai tangannya mengambil apel. Byeol terkejut lalu menoleh melihat sosok yang sudah membantunya. Wang So tersenyum sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya menahan beban.
"Kau harus menurunkan berat badanmu," ujar Wang So susah payah mengangkat Byeol.
Byeol tersenyum lebar lalu konsentrasi kembali mengambil beberapa apel dari pohon
"Yang mulia, terima kasih," ucap Byeol membungkukkan badannya ketika sudah turun di tanah.
Byeol memberikan sebuah apel untuk penolongnya.
"Gadis kuat, kau sudah baikkan?" tanya Wang So sambil menerima apel dari Byeol.
"Seperti yang mulia lihat," jawab Byeol tersenyum dan berlalu dari hadapan Wang So.
Merasa tak dianggap Wang So pun menarik tangan Byeol, lalu menaikkan gadis itu ke atas kuda.
"Ayo ikut aku, kutunjukan padamu sesuatu yang indah," ajak Wang So sambil naik ke atas kuda dan mengendarainya keluar kota.
Mereka mendaki bukit dan melewati hutan. Kuda yang mereka tunggangi mulai melambat. Mereka turun lalu berjalan ke arah puncak bukit. Mereka berhenti di sebuah tebing. Terhampar di hadapan mereka pemandangan Songak dari atas gunung bahkan pintu gerbang istana bisa terlihat jelas. Byeol takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Itu Songak, itu istana. Indahkan? Dari sini bahkan kau bisa melihat iring-iringan keluar dari istana," terang Wang So.
Mereka duduk sambil menikmati pemandangan. Dari jauh terlihat kesibukan para penduduk di jalan. Rumah-rumah beratap genting abu-abu dan ghetto yang didominasi atap daun. Rata-rata yang tinggal di situ adalah para pengungsi Balhae, dan orang-orang yang sedang konflik dengan bangsa Khitan dari Dinasti Liao. Raja Taejo Wang-geon dengan tangan terbuka menerima mereka.
Namun, tetap saja kesenjangan itu ada. Perbedaan kasta tak dapat dihindari. Tak sedikit dari para pengungsi itu menjadi pelayan dan buruh kasar, walaupun dia berkasta bangsawan. Byeol memandang Wang So di sebelahnya. Laki-laki di sampingnya itu yang akan menjadi penguasa Goryeo. Wang So yang akan mendobrak kebijakan kesetaraan sosial antara bangsawan dan kasta budak.
"Apa yang ada dipikiran yang mulia melihat ghetto di lembah itu?" tanya Byeol memberanikan diri.
"Mereka masih jauh dari kesejahteraan. Mereka rata-rata pengungsi perang. Harta masih terkumpul pada para bangsawan dan tuan tanah. Para pengungsi yang dulu seorang bangsawan benar-benar kehilangan harta dan menjadi budak pada akhirnya. Perang masih akan terus berlangsung. Hal seperti itu akan tetap ada," jawab Wang So, "Apa kau mau kuajak ke daerah itu?" tantang Wang So
"Ide bagus," jawab Byeol merasa tertantang.
Mereka duduk berdampingan dalam diam sesaat. Byeol memandang Wang So. Laki-laki itu merasa Byeol memandanginya.
"Ada apa?" tanya Wang So
Byeol tersenyum.
"Kupikir tak ada ruginya hamba berkorban nyawa untuk Anda seperti waktu itu?" terang Byeol.
Wang So tersenyum dan sedikit heran.
"Aah, Anda tersenyum. Saya suka senyum Anda," puji Byeol
"Aku penasaran mengapa kau mau melakukannya waktu itu, dengan menjadikan dirimu sebagai tamengku?" tanya Wang So
"Karena ... Anda seorang yang berharga bagi Goryeo," jawab Byeol
"Seandainya yang di serang waktu itu bukan aku. Apakah kau akan melakukan hal yang sama?" tanya Wang So
Byeol tersenyum lagi dan pandangannya beralih ke arah kota.
"Entahlah," jawab Byeol
Senyum Wang So merekah lalu pandangannya menerawang jauh ke arah kota.
"Terima kasih Byeol-ssi, kuharap kau tak lagi menderita demi orang lain lagi. Ini perintah," ucap Wang So
Byeol memandang dalam-dalam sosok di sampingnya, tetap dengan senyum manis tersungging di wajahnya.
"Andai kau tahu betapa kau juga berharga bagiku yang mulia," ucap Byeol dalam hati.
Tak lama kemudian terdengar suara terompet dari kejauhan. Gerbang istana terbuka, lalu terlihat iring-iringan panjang keluar istana. Diawali dengan para prajurit berkuda, dua kereta kencana, para prajurit infanteri, dan para dayang. Sepertinya itu iring-iringan Ibu Suri yang mau pergi ke kuil untuk berdoa di awal musim semi.
"Itu iring-iringan Ratu Shinmyeongsunseong?" tanya Byeol.
"Ya,' jawab Wang So singkat dan matanya masih menatap ke arah kemeriahan pawai yang keluar dari istana.
"Ibu yang mulia?" tanya Byeol memberanikan diri.
"Ya", jawab Wang So singkat, tapi dengan tatapan mata sedih
Ratu Shinmyeongsunseong merupakan ibu kandung dari Wang Yo, Wang So dan Wang Jung. Byeol tahu hubungan Wang So dengan ibunya tak begitu bagus. Ratu Shin lebih mencintai Wang Yo yang diharapkan bisa menjadi penerus Raja Taejo. Wang So lebih banyak dikirim keluar istana untuk menjaga perbatasan. Tengah hari mereka turun dari gunung. Wang So mengantar Byeol pulang. Mereka berjanji besok akan bertemu lagi untuk mengunjungi daerah ghetto.
__ADS_1