BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)

BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)
BAB 27 PERSEKUTUAN


__ADS_3

Dalam sebuah pondok kayu di hutan, duduk dua orang saling berhadapan. Di sekeliling mereka ada pengawal setia yang menjaga, siap dengan pedang di tangannya. Satu orang laki-laki tua berbaju kumal dan satu laki-laki yang terlihat luka-luka badannya terbalut kain.


"Wang Yo. Bagaimana kondisimu?" tanya laki-laki tua itu


"Sudah lebih baik Tuan Wang Gyu," jawab Wang Yo


"Kondisi Goryeo sedang goncang. Ada rumor yang beredar bahwa Raja Hyejong sedang sakit keras. Bangsa Khitan juga sedang menyerang perbatasan. Laki-laki itu sudah membunuh Wang Eun. Aku tak bisa diam begitu saja," ujar Wang Gyu


"Apakah Anda punya rencana?" tanya Wang Yo


"Kupikir kita harus melakukan penyerangan ke istana begitu kondisi raja sekarat,"


"Bagaimana dengan pasukan?" tanya Wang Yo


"Pengikut setiaku masih banyak dalam istana. Tidakkah Ratu Shin juga bisa melakukan lobi-lobi rahasia untuk menjadikanmu raja Goryeo berikutnya? Aku akan menggerakkan mereka," ujar Wang Gyu


Wang Yo diam berpikir tentang strategi menyerang istana begitu Raja Hyejong dinyatakan mati. Pertemuannya dengan Wang Gyu suatu keberuntungan baginya. Disaat dia jatuh ke sungai, anak buah Wang Gyu mencarinya dan menolongnya.


Dia tahu bersekutu dengan Wang Gyu akan mempermudah jalannya menjadi raja Goryeo. Dia tahu Wang Gyu tidak akan membiarkan dia menjadi raja selain dirinya sendiri, karena Wang Eun sudah mati. Dia juga memiliki rencana akan menusuk Wang Gyu dari belakang begitu dirinya naik tahta. Wang Yo menyadari Wang Gyu juga memanfaatkan kekuatannya.


"Siapkan mata-mata untuk masuk istana. Begitu Hyejong dinyatakan sekarat, kita serang secara berlapis," ujar Wang Yo dengan tatapan mata yang tajam menusuk penuh dengan dendam.


***

__ADS_1


Timbangan masa bergerak tak seimbang. Di satu sisi Wang Yo dan sekutunya menggalang kekuatan dari luar istana, sedangkan di sisi lain Raja Hyejong menjelang kematiannya. Kabar Raja sakit dan sekarat di rahasiakan oleh istana demi menjaga stabilitas negeri dan menghindari keresahan rakyat.


Ratu Janghwa cemas bersama Tuan Choi dalam kamar raja. Sedangkan Byeol menunggu di luar kamar. Sampai detik itu raja tidak memberikan pernyataan siapa yang akan menjadi penerusnya. Tuan Choi keluar dari kamar dan melihat kasim istana raja berlari sepanjang lorong.


"Tuan ... Tuan ... gawat. Ada kabar kudeta dari yang mulia Wang Gyu, Bala tentara mereka sedang menuju ke istana," ujar kasim itu sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


Byeol dan Tuan Choi terkejut mendengar kabar itu. Tuan Choi masuk ke kamar dan mengabarkan hal ini pada Ratu Janghwa. Tapi dilihatnya Ratu Janghwa sedang menangis terisak karena raja sudah mangkat. Tahun 945, tahun kedua Raja Hyejong bertahta, tapi maut mengakhiri segalanya. Tuan Choi limbung karena terkejut, lalu memerintahkan Kasim Han memanggil Jendral Park. Jendral Park teman dekat raja Taejo, teman satu perjuangan dalam menyatukan tiga kerajaan (Silla, Goguryeo dan Baekje).


Jendral Park dan Wang So sedang berjaga di benteng dalam dengan pasukannya menyambut kedatangan pasukan Wang Gyu yang sedang bergerak menuju istana. Kasim Han berlarian menuju Jendral Park dan membisikkan sesuatu. Jendral Park terkejut lalu diam memandang ke langit.


"Hei Wang-goen, anakmu menyusulmu tanpa wasiat apa pun," ujar Jendral Park lirih lalu menarik napas panjang lalu menghembuskannya untuk mengurangi beban kesedihan di hatinya.


***


Kedua pasukan berhadapan. Lalu Wang Gyu meneriakkan komando untuk menyerang. Aliran manusia bak air bah bergerak menyatu di tengah tanah lapang. Saling serang dan saling tebas. Panah-panah dari kedua pihak berterbangan membelah udara. Kuda-kuda menjerit dalam riuh suara teriakan manusia yang kesakitan dan penuh amarah.


Wang Wook berhadapan dengan Wang Gyu. Pertempuran mereka seimbang. Wang Jung berhadapan dengan kakaknya sendiri Wang Yo.


"Jung-ah ... sebaiknya kalian mundur. Aku tak ingin melumuri pedangku dengan darah adikku sendiri," ujar Wang Yo


"Bagaimana aku bisa membiarkanmu mengkhianati wasiat raja terdahulu. Hyejong adalah raja sah Goryeo. Selama dia masih bertahta, aku akan membelanya," jawab Wang Jung.


Mereka meneruskan duel pedangnya sampai akhirnya Wang Jung tersabet pedang di lengannya, dan pedangnya terjatuh ke tanah.

__ADS_1


Dari kejauhan Wang So membawa bendera putih diikuti beberapa prajurit mendekat ke area peperangan.


Melihat kedatangan Wang So, Wang Wook berteriak memberi komando untuk mundur. Semua pasukan yang masih berperang beringsut mundur. Perang pun terhenti. Wang So mengendarai kuda mendekati Wang Wook dan menyampaikan bahwa Raja Hyejong telah mangkat. Wang Wook terkejut


"Saat ini tak ada pilihan selain berdamai," ujar Wang Wook.


Wang Wook paham, apabila Hyejong mangkat, yang berhak menjadi raja seharusnya Wang Yo, kecuali raja menunjuk seseorang untuk menggantikannya.


"Yang mulia raja tidak meninggalkan wasiat apa pun," terang Wang So pada Wang Wook.


***


Para menteri di rumah perdana menteri mengadakan rapat darurat. Mereka sepakat mengangkat Wang Yo sebagai penerus Hyejong daripada Wang Gyu. Mereka tak punya solusi untuk menyingkirkan Wang Gyu. Mereka yakin Wang Gyu merasa di atas angin saat ini, karena berhasil menjatuhkan Hyejong walau sebenarnya itu hanyalah sebuah keberuntungan. Salah satu dari mereka mengutus orang untuk memberitahukan hasil rapat mereka pada Jendral Park yang ada di depan istana.


Terlihat Wang Gyu dan Wang Yo masuk ke halaman istana bersama beberapa pasukan. Mereka berdiri tegak dan mata mereka memandang tajam ke arah istana. Wang So, Wang Wook dan Wang Jung di belakang mereka. Jenderal Park masih diam berdiri di depan istana raja bersama Byeol. Wang Gyu lalu tertawa terbahak-bahak melihat hasil usahanya selama ini sudah membuahkan hasil. Dia akan menjadi raja Goryeo selanjutnya. Tiba-tiba Wang Yo mengarahkan pedangnya ke leher Wang Gyu.


"Kau, Apa ini?" tanya Wang Gyu dengan mata yang terbelalak melihat kilatan pedang yang ada di lehernya.


Tanpa menjawab, Wang Yo sudah menebas tangan Wang Gyu yang sedang memegang pedang. Wang Gyu terjatuh ke tanah sambil memegangi tangannya yang hilang sebelah.


"Aku tahu kau pasti akan demikian. Jangan harap kau yang akan menjadi raja Goryeo selanjutnya," jawab Wang Yo.


Mata Wang Gyu melotot marah karena dia dikhianati oleh sekutunya. Lalu tanpa belas kasihan Wang Yo menebas leher Wang Gyu yang akhirnya menggelinding ke tanah. Byeol yang melihat hal itu tiba-tiba limbung dan matanya berkunang-kunang. Tapi dia masih bisa menahan diri.

__ADS_1


Apa yang dilihatnya di depan gerbang istana ketika pertama kali menjadi kenyataan. Semua pangeran dan Jendral Park beserta pasukannya pun akhirnya memberikan penghormatan pada Wang Yo. Mereka mengakui Wang Yo sebagai raja Goryeo selanjutnya.


__ADS_2