BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)

BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)
BAB 22 AKHIR INVESTIGASI


__ADS_3

Pagi itu Hwa Young berlari-lari sepanjang koridor mencari Byeol yang sedang menyiapkan barang-barangnya untuk pergi dari istana.


"Byeol-ah. Yang mulia raja sudah mengeluarkan perintah penangkapan kepada Ratu Shin dan pangeran Wang Yo. Mereka dihukum pengasingan," ungkap Hwa Young pada Byeol.


Byeol tersenyum mendengar kabar baik itu. Dia ingat pertemuannya dengan Wang So sebelumnya. Byeol berbalik arah dan menceritakan semuanya pada Wang So. Dia meminta Wang So untuk melindungi saksi yaitu dayang yang sedang diincarnya. Wang So memenuhi janjinya, dan mengungkapkan semua pada yang mulia raja.


"Tugas kita sudah selesai Young-ah. Kita harus pergi dari sini secepatnya. Kasim Han sudah menunggu,"


Hwa Young tersenyum lalu menganggukkan kepala.


"Aku minta waktu sebentar Byeol-ah ada hal yang harus kulakukan," pinta Hwa Young.


"Baiklah," ujar Byeol


Hwa Young lalu meninggalkan Byeol.


Byeol keluar kamarnya. Dia melihat Wang So sedang berdiri bersandar di tiang.


"Apakah kau akan pergi lagi?" tanya Wang So


Byeol tersenyum.


"Ya, yang mulia. Tugas hamba sudah selesai," ujar Byeol, "Terima kasih atas kerjasamanya. Semoga Anda dikarunia umur panjang dan kesehatan. Hamba pamit," ucap Byeol sambil membungkukkan badan memberi hormat lalu pergi dari hadapan Wang So.


Wang So menarik tangan Byeol lalu menatap mata gadis itu. Keheningan tercipta. Tapi detak jantung mereka tidaklah demikian. Wang So tak mampu berkata apa-apa menghadapi gejolak rasa dalam dadanya selain menghela napas untuk menahan diri. Byeol hanya diam lalu menundukkan pandangan.


"Sampai jumpa lagi Byeol," ucap Wang So pada akhirnya.


Byeol pun membungkukkan badan memberi hormat lalu pergi. Getaran rasa cinta mulai terpancar dari keduanya. Wang So tak mengelak tentang rasa ketertarikannya pada Byeol, tapi Byeol masih ragu pada Wang So. Byeol tak yakin bisa bersama Wang So pada akhir cerita.


***


Raut muka Wang Jung terlihat dingin pada Hwa Young yang sedang berdiri di hadapannya. Hwa Young menunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Anda tahu, hamba menjadi prajurit dan masuk ke istana demi bertemu dengan yang mulia," ujar Hwa Young di antara isak tangisnya.


"Yang mulia, hamba pamit. Semoga Anda di karuniai umur panjang," ujar Hwa Young memberi hormat lalu pergi dari hadapan Wang Jung.

__ADS_1


Wang Jung menarik napas panjang ketika melihat Hwa Young yang pergi begitu saja.


"Young-ah,"panggil Wang Jung membuat Hwa Young menghentikan langkah kakinya.


"Maafkan aku. Aku tahu kau pasti membenciku. Peristiwa kematian kakakmu karena kesalahanku. Jujur saja setiap kali melihatmu, aku selalu saja merasa bersalah dan membuatku semakin benci diriku yang tak bisa menjaga janjiku padamu," terang Wang Jung dengan raut penuh penyesalan.


Hwa Young diam memandang Wang Jung. Pikiran laki-laki itu kembali pada masa lalu, saat Wang Jung dan Hae Jin, kakak Hwa Young berangkat perang melawan Liao. Hae Jin seorang tabib istana, bersahabat lama dengan Wang Jung. Hae Jin mati di medan perang ketika melindungi Wang Jung yang dihujani panah sesaat setelah jatuh dari kuda. Kematian sahabatnya terjadi di depan matanya menimbulkan trauma yang mendalam. Hal inilah yang membuat Wang Jung tak berani bertemu dengan Hwa Young, adik Hae Jin, kekasihnya.


"Maafkan aku Young-ah," ucap Wang Jung sambil mendekat pada Hwa Young lalu memeluk perempuan itu.


Hwa Young menangis dalam pelukan Wang Jung. Mereka sadar sebenarnya mereka saling mencintai tapi peristiwa kematian Hae Jin seakan menjadi beban bagi Wang Jung sehingga selalu saja menghindari pertemuannya dengan Hwa Young. Dari kejauhan Byeol memandang mereka berdua.


***


Tabib Hong sedang memeriksa Putra Mahkota yang sedang demam dan mengalami halusinasi akut. Laki-laki itu memeriksa dengan seksama lalu memeriksa mata putra mahkota. Di sebelah Tabib Hong berdiri Ratu Janghwa.


"Sakit yang mulia Putra Mahkota sama dengan yang diderita oleh Myungwool. Bisa jadi ini efek dari racun Monk's Hood yang diberikan sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama. Beruntung sekali, hamba sudah berhasil mendapatkan antidotnya," ucap Tabib Hong


"Terima kasih Tabib Hong. Segera buatkan resepnya. Kami berhutang budi pada Anda," ujar Ratu Janghwa


"Tidak yang mulia, ini sudah tugas kami sebagai rakyat mengabdi pada istana. Lagipula antidotnya bukan hamba yang membuat tapi Soon Joon sendiri yang mengirimkan pesan melalui Myungwool adiknya dengan mempertaruhkan nyawa mereka," terang Tabib Hong.


***


Wang So mendatangi kediaman Tabib Hong. Terlihat Myungwool yang sudah sehat bersama kakaknya Soon Joon, begitu juga gadis yang diselamatkan oleh Wang So dari lubang kematian. Tabib Hong sedang merebus obat-obatan. Melihat kedatangan Wang So, mereka berdiri untuk menyambutnya dengan senyum gembira.


"Kau sudah sehat gadis kecil?" tanya Wang So pada Myungwool sambil mengelus kepala gadis itu.


"Berkat Anda kami baik-baik saja," ucap Myungwool memberi hormat.


"Kami berhutang budi pada Anda," ucap Soon Joon yang duduk di dipan di halaman rumah dengan kaki yang masih terbalut perban.


"Sudah menjadi kewajiban kami untuk melindungi rakyat," jawab Wang So


Myungwool masuk ke dalam rumah lalu mengambil kalung berliontin safir dan kulit kerang yang sudah diperbaiki.


"Yang mulia, berikan kalung ini untuk orang yang Anda cintai. Hamba doakan semoga cinta Anda abadi selamanya," ucap Myungwool

__ADS_1


Wang So menerima kalung yang unik dan indah itu dan mengulas senyum.


***


Kasim Han, Byeol dan Hwa Young berjalan kaki di tengah kota. Mereka berbaur di tengah keramaian orang-orang yang lalu lalang. Tiba-tiba keramaian orang-orang itu tersibak dengan iring-iringan Ratu Shin yang akan dikirim ke tempat pengasingan. Semua orang melihat dengan rasa benci. Mereka berbisik-bisik membicarakan Ratu Shin. Kereta tertutup itu pun menghilang di belokan jalan.


***


Wang Yo terlihat kepayahan sedang duduk dalam kerangkeng kayu yang ditarik oleh kuda. Sejumlah prajurit dan dayang-dayang menjaganya dengan ketat. Perjalanan jauh akan mereka lalui ke tempat pengasingan. Tak lama kemudian dari arah yang tak disangka-sangka muncul orang-orang yang bercadar dan berbaju hitam menghadang rombongan itu. Mereka semua membawa pedang yang terhunus.


Mereka langsung menyerang dan berusaha membebaskan Wang Yo. Suasana chaos. Suara senjata beradu dan malaikat maut memanen jiwa manusia saat itu. Jumlah mereka tak seimbang, prajurit istana lebih tangguh. Seorang penyerang berhasil membebaskan Wang Yo dari kerangkeng. Sejumlah orang berkeliling melindungi Wang Yo, mereka melarikan diri sampai akhirnya satu persatu orang yang melindungi Wang Yo tewas. Wang Yo dengan sebilah pedang berusaha untuk melawan prajurit yang hendak menangkapnya kembali. Sampai akhirnya dia terdesak di sebuah jurang dengan sungai yang deras di bawahnya. Seorang prajurit menyerangnya lalu dengan hanya sekali sabetan pedang, membuat Wang Yo goyah dan jatuh ke dalam jurang. Semua tak menyangka Wang Yo jatuh ke dalam sungai. Mereka menduga Wang Yo sudah tewas.


***


Ratu Janghwa mengadakan pesta untuk merayakan kesehatan Putra Mahkota. Raja, para selir, para pangeran, serta para puteri raja duduk di tempat mereka masing-masing. Putra Mahkota belum datang ketika Byeol diminta oleh Ratu Janghwa memainkan gayageum.


Para hadirin menikmati makanan dan minuman yang dihidangkan, Byeol membawakan sebuah alunan musik yang indah. Wang So memandang Byeol dengan pandangan penuh pesona. Tak lama kemudian datang Putra Mahkota bersama kasim dan dayang-dayang. Byeol menghentikan permainannya.


Dia melihat wajah Putra Mahkota yang masih terlihat pucat. Tiba-tiba badan Byeol terasa panas dingin. Setelah memberi hormat, Byeol memulai lagi permainan gayageumnya. Tapi seakan tangan dan jari-jarinya tak bisa dikendalikan. Byeol memainkan musik yang mengalun cepat dan tiba-tiba sebuah kawat sitar putus dan melecut pipinya. Darah menetes dari pipi Byeol. Para hadirin terkesiap.


Pandangan mata Byeol tiba-tiba berputar. Dia melihat kematian Raja Hyejong dan Wang So yang menangis di hadapannya dalam sebuah pertempuran.


"Byeol-ah ... Byeol-ah ... kau tak apa-apa?" ucap Tuan Choi menyadarkan Byeol yang diam saja tanpa ekspresi.


"Abeoji ...," ucap Byeol memandang ayahnya, memberi hormat lalu pergi dari ruangan itu. Tuan Choi membungkuk meminta maaf pada Raja dan para tamu lalu mengejar Byeol yang tiba-tiba pergi.


Tak terasa Byeol berlari sampai di paviliun ayahnya. Byeol memeluk badannya sendiri. Dia masih merasa panas dingin yang tak nyaman. Disekanya pipinya, darahnya masih menetes seakan tak mau berhenti.


"Byeol-ah ... ada apa? Apakah kau mengalaminya lagi?" tanya Tuan Choi yang menghentikan langkah Byeol.


"Abeoji, aku melihat lagi penglihatan itu. Kematian Raja Hyejong dan Wang So yang menangis di hadapanku di sebuah pertempuran. Aku takut," terang Byeol khawatir dengan wajah pucat.


Tuan Choi memandang Byeol lalu mengusap darah yang terus menetes dari pipi Byeol.


"Tetap lah di sini aku akan mencari obat untuk pipimu. Jangan sampai orang lain tahu kemampuanmu atau apa pun yang kamu lihat," pesan Tuan Choi.


Tapi terlambat, Tuan Choi dan Byeol melihat Wang So yang sudah berdiri di belakang mereka. Raut wajahnya penuh tanya. Wang So mendengar dengan jelas apa yang sudah mereka bicarakan.

__ADS_1


"Apa yang kalian bicarakan, Apakah kau memang bisa melihat masa depan. Byeol-ah? Jelaskan padaku," ucap Wang So.


Tuan Choi dan Byeol diam sambil menghela napas. Rahasia mereka diketahui oleh orang lain. Byeo menjelaskan semua pada Wang So. Tanpa mereka sadari, Sun Hwa adik Wang Wook mencuri dengar semua penjelasan Byeol pada Wang So.


__ADS_2