Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Prolog


__ADS_3

Kain tipis kuning yang berenda dan mengelilingi tepian atap panggung megah itu berkelabakan diterpa angin. Seolah menari karena bahagia terhangati mentari pagi.


Di bawah panggung, teduh menguasai. Telah duduk khidmat pada kursi kayu yang berderet rapi, para siswa-siswi kelas 12 SMA Teratai yang tampilannya tak kalah rapi: berkemeja putih dan bercelana atau rok hitam. Wajah mereka cerah, bola mata berbinar dan kedua sudut bibir mengembang. Tapi perasaan semuanya kelabu. Karena hari ini, atau kali ini, adalah Hari Perpisahan mereka sebagai murid SMA.


Tatapan mereka memperhatikan seksama pada MC di atas panggung di depan sana yang tak lain adalah seorang Gadis kelas 11ketika Gadis itu mulai berbicara lagi dengan mikrofon. MC itu memanggil Pak Purnomo, Kepala Sekolah SMA teratai untuk mengucapkan pidato perpisahannya. Sejurus kemudian orang yang dipanggil bangkit dari kursi paling depan, dari deretan para guru. Lekas naik ke panggung dengan mengedarkan senyumnya pada seluruh siswa. Bersamaan para Siswa dan para Guru memberi tepukan riuh.


Kepala sekolah bertubuh tambun itu berhenti di depan penyangga mikrofon. Meniup mikrofon dan sesaat mengetuknya. Ia mendeham bersiap memulai pidatonya yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari.


Seluruh hadirin mulai menatapnya lekat. Termasuk juga seorang gadis bermasker dan perpakaian SMA yang duduk sambil bertopang dagu di balik salah satu jendela kelas. Tatapan dari bola matanya yang hitam nampak dingin, seolah mengisyaratkan kalau hatinya sangat dalam dan gelap untuk diselami.


"Perpisahan?" Gumamnya lantas menghela napas berat, "perpisahan untuk siapa? Dan untuk apa sebenarnya?" Ia mengenang masa lalunya. Ketika dua orang yang dicintainya waktu kecil berpisah. Setelah semua itu seluruh dunia terasa memburam jadi merah di matanya. Seperti warna bunga Higanbana. Lalu warna merah itu lantas jadi merah darah.


"Ah!! daraaah!!, siapa yang suka darah. Lintah? Iya iya dia suka darah, tapi Jikininki juga suka darah."


Delapan menit berlalu dan Purnomo mengakhiri pidatonya. Suara tepuk tangan kembali riuh di lapangan itu. MC mendekatinya dan berbicara pelan kalau ada salah satu siswinya yang memberi sebuah amplop.


"Kata siswi itu didalam amplop ini adalah sebuah puisi perpisahan, ia ingin bapak yang membacanya."


"Dari siapa?" tanya Purnomo sembari menerima surat dan membukanya. Mc mengangkat bahu.

__ADS_1


"Tidak tahu soalnya dia pakai masker. Tapi nampaknya bukan dari anak kelas 12," jelas si MC mengingat-ingat gadis yang memberinya surat. Purnomo mengangguk-ngangguk sembari mengambil secarik kertas dari dalam amplop. Matanya sedikit terbuka mendapati tinta tulisan di kertas itu yang berwarna merah. Di tulisannya, di bagian paling atas yang nampaknya adalah judul puisi, tertulis 'Puisi Hitam'


Kepala Sekolah itu memberikan amplop pada MC. Kemudian mendekatkan mulutnya lagi pada mikrofon dan mengedarkan pandangannya pada hadirin. Angin tiba-tiba berhembus agak kencang.


"Katanya ada Puisi perpisahan dari salah satu siswi yang harus saya bacakan. Entah dari siapa, pengirim tidak melampirkan namanya. Dan harus Bapak bacakan." Ia tersenyum, "demi pete dan cireng mbak Wati, sebenarnya bapak tak pande baca puisi." Ia terkikih. Seluruh hadirin juga terkikih. Purnomo menatap kertas dan mulai membaca:


'Puisi Hitam.'


'Puisi indah bukanlah cinta, tapi untaian mantra.'


'Dan kata-kata ini adalah jalan ke alam baka.'


'Dia suka si gadis seperti sukanya pada kelopak lili.'


'Pada tanduk domba hitam.'


'Juga tulang, daging dan darah'


Purnomo mengangkat kepalanya lagi, menatap keseluruh hadirin. Puisi yang aneh pikirnya dan ia merasa seluruh yang ada disini menganggap puisi ini aneh juga karena nyatanya tak ada satupun yang bertepuk tangan. Apa ini pantas disebut puisi perpisahan? Ini malah terdengar seperti puisi kematian.

__ADS_1


Mata Purnomo tetiba membeliak. Ia merasakkan sakit yang teramat, seperti ada sebuah benda yang menancap di jantungnya. Seluruh yang dipandangnya juga memburam merah. Dunia terlihat lain. Dan! Ada tangan putih gading kurus dengan kuku panjang yang sudah pada terlumuri darah keluar dari dadanya. Bukan keluar tepatnya, tangan itu menembus tubuhnya dari belakang hingga kedepan.


Ia mendengar suara bisikan di telinganya.


"Melayanglah seperti kelopak lili, menarilah seperti mereka di alam baka."


Purnomo menoleh ke asal suara. Dilihatnya sebuah wajah tirus besar. Ia seperti manusia tapi jelas bukan manusia. Wajahnya pucat dilapisi kulit yang keras, mulutnya lebar penuh senyum dan gigi-giginya runcing. Hidungnya mancung seperti pelatuk gagak, bola matanya merah menyala dan sehelai rambutnya setebal tentakel gurita yang juga sewarna dengan kulitnya.


"S-siapa kau?"


"Siapa aku? Aku Jikininki teman si Gadis. Keh keh, beruntung kau bisa melihatku dalam hidupmu, sayang orang-orang disini tidak, Keh Keh. Tapi sayang ini juga jadi yang terakhir melihatku. Si Gadis tidak mengukaimu, mungkin kau punya salah?"


Purnomo rebah ke lantai panggung itu. Seluruh yang ada disana terkejut dan sebagian berteriak histeris. Dari hidung dan mulutnya perlahan keluar cairan merah yang tak lain adalah darah. Ia tewas.


Sementara senyum kecil mengembang dari balik masker gadis di balik jendela tadi. Gadis itu lalu bangkit dan perlahan melangkah keluar dari dalam kelas.


"Permainan ini kurang menyenangkan, Jikininki perlu banyak darah," gumamnya gembira.


TBC_

__ADS_1


__ADS_2