Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Dibalik Panggung


__ADS_3

Kontainer besar itu akhirnya berhenti setelah menabrak dinding pabrik. Sebelumnya Karma berhasil menembak mati kedua orang di dalamnya.


"Ayo Alena!" pinta Karma sembari mulai berlari, pikirannya cemas ketika mengetahui mobil yang mengejar AJ tadi meledak. Ia belum tahu dengan kondisi AJ, Jap, atau komplotan Puisi Hitam. Alena mengikuti Karma dibelakang.


Keduanya berhenti di dekat mobil sedan yang meledak tadi yang kini sudah jadi rongsokan gosong.


Karma memperhatikan. Alena juga memperhatikan sebentar sebelum pandangannya teralihkan ke arah Jap yang berdiri di luar pagar pabrik sana. Bersamaan terdengar sirine mobil polisi--yang sebelumnya memang AJ panggil untuk menangkap anggota Puisi Hitam, sengaja AJ menyuruh mereka datang agak telat karena demi kebutuhan misi.


"Jap di sana, Karma!" Beritahu Alena sembari menunjuk. Karma menoleh. Keduanya kemudian langsung bergegas ke arah Jap.


Sesampainya, Karma dan Alena berhenti dan langsung memperhatikan apa yang di sekitarnya dengan perasaan campur aduk dan penuh tanya: terutama saat melihat dua tubuh tergeletak. Yang pertama seorang pria--yang pakaiannya persis dengan pakaian AJ-- dan kedua seorang gadis yang sepertinya adalah Raisa.


"Apa yang sudah terjadi?" tanya Karma pada Jap yang tengah memborgol pria bertubuh agak besar yang tak lain adalah Sinyo Harahap. Jap tak langsung menjawab.


Alena berjongkok di dekat tubuh AJ. Ia menatap Jap dan menunggu juga jawaban dari pertanyaan Karma tadi.


"AJ mati. Tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya," jawab Jap.


Mata Karma dan Alena seketika melebar mendengar ucapan Jap. Alena memperhatikan tubuh pria berpakaian AJ tadi. Yang kini ia yakini adalah AJ, hanya saja tidak memakai topeng lagi.


Hingga para polisi pada datang mereka masih mematung di sana.


*****


Dua orang polisi: yang satu paruhbaya bertubuh tinggi dan agak gemuk, dan yang satu masih sangat muda berjalan melangkahkan kaki menyusuri koridor sembari mengobrol. Nampak keduanya mengobrolkan topik yang sangat seru, bisa dilihat dari wajah masing-masing yang berbinar dengan senyum yang mengembang.


Mereka berpapasan dengan polisi lain, dan para polisi lain tersebut langsung pada memberi hormat pada polisi paruhbaya.


"Jangan sampai kau gila hormat Muhiso," ujar si polisi muda.


"Sudah kubilang berapa kali, panggil aku Irjen. Mana sopan santunmu," balas Muhiso yang tak lain adalah Inspektur Jendral Polisi atau ketua Polisi Metro Jaya.


"Tak ada hormat bagiku untuk orang serakah sepertimu."


"Haha dasar Raka bodoh, setidaknya berterimakasihlah padaku. Tanpa dana dariku Kelompok Puisi Hotammu tidak akan melangkah sampai sejauh ini."


"Tanpa Puisi Hitam, kau juga tidak mungkin jadi Inspektur Jendral Polisi menggantikan Thirto." Perlu diingat kembali, Thirto adalah ayah Karma atau Inspektur Jenderal sebelumnya. Yang diduga tewas karena Puisi Hitam.


"Iya iya, aku akui itu. Setelah ini bantulah aku jadi Presiden di negeri ini. Dan komplotanmu nanti akan lebih leluasa bergerak."


"Dasar serakah. Kau baru beberapa bulan jadi Irjen Polisi."


"Jangan tanggung-tanggung untuk mencapai kesuksesan."


"Muhiso, kau tidak akan pernah puas dengan segala apa yang kau dapatkan jika kau tidak pernah bersyukur. Sekalipun kau jadi raja di dunia ini, jika kau tidak pernah bersyukur hidupmu akan terus terasa kurang."

__ADS_1


"Ah bijak sekali. Padahal kau sendiri serakah Raka. Kau bahkan ingin menciptakan duniamu sendiri dan memiliki yang ada di dunia ini sendirian. Tidakkah itu disebut serakah."


"Mungkin."


"Kita sama-sama serakah Raka. Tidak usah munafik."


Keduanya berhenti di depan sebuah pintu. Yang tak lain adalah pintu markas Tim Inu. Muhiso menggesekan sebuah kartu chip dan pintu langsung terbuka.


"Aku kagum padamu Muhiso, seorang AJ saja tidak pernah mencurigaimu terlibat di dalam semua kejahatan ini." Keduanya memasuki ruangan tersebut.


"Jangan remehkan aku Raka. IQ-ku sama tingginya dengan para Detective itu. Dan lebih tinggi darimu, hanya saja kukira kau lebih licik."


"Licik? Apa aku licik di matamu?"


"Haha entah. Mungkin ini karena aku yang agak tidak terima sering diperintah atau tidak pernah dihormati anak kemarin sore sepertimu."


"Tidak asyik kalau seorang penjahat sepertiku sopan pada orang lain." Raka tersenyum manis. Ia dan Muhiso berhenti di dekat komputer yang boasa digunakan Tim Inu untuk mencari dan menyimpan informasi soal kejahatan Puisi Hitam.


"Kau lebih tahu mungkin soal mereset data Raka."


"Tentu." Raka menyalakan komputer memasukkan sandi masuk yang diberikan Sinyo sebelumnya dan mengotak atik komputer. Raka kagum pada keahlian Sinyo meretas. Tak lama layar menunjukkan sebuah tulisan kalau seluruh data tengah direset. Sekitar dua menit kemudian seluruh data ter-reset.


"Padahal tanpa direset-pun tidak akan jadi masalah buatmu, karen mereka akan tetap mempercayai ucapanku, dan aku juga akan membubarkan Tim Inu.


Raka menoleh pada Muhiso. "Tidak. Kau tidak akan bisa membubarkan Tim INU dengan mudah Muhiso. Karena Tim INU dibentuk langsung oleh Kapolri."


"Iya, kau benar."


"Sebelumnya kau lenyapkan Kapolri itu biar kita bisa membubarkan Tim INU."


"Nanti. Satu persatu dulu."


Keduanya kemudian berbalik dan melangkah keluar.


"Muhiso, mungkin AJ menyimpan data tentang kami di komputer lain. Kau telusuri dan langsung hapus kalau ketemu."


"Serahkan urusan itu padaku." Muhiso menunjukkan smirk jahat. Sementara Raka tetap tanpa ekspresi.


Malam tiba disertai hujan deras. Tak seperti orang-orang lain yang mencoba berteduh dari hujan. Ruru malah membiarkan tubuhnya terbasahi hujan. Gadis itu kini tengah berdiri di atas sebuah gedung pencakar langit. Tak takut dan peduli jika petir tiba-tiba menyambarnya. Ia termenung fokus mentap gedung-gedung tinggi disekitarnya dan jutaan butir hujan yang turun, yang nampak terlihat indah karena tersoroti lampu-lampu dari gedung.


Dari dalam bangunan, terlihat seorang pemuda keluar, yang tak lain adalah Raka. Ia mendekati Ruru.


Ruru menoleh ketika mendapati kehadiran Raka yang malah langsung mematung seperti menirukan aktivitasnya. Ruru kembali menatap gedung-gedung dan hujan.


"Aku pikir kau terlalu pelan bertindak Raka," ucap Ruru tanpa menoleh.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, aku cuma tidak suka terburu-buru."


"Karena tingkah lambanmu Raisa harus meregang nyawa. Kita akan kerepotan kalau harus menemui orang seperti AJ lagi."


"Tidak akan. Kelompok seperti INU tidak akan terbentuk lagi. Karena Muhiso akan jadi Kapolri."


Ruru mengernyitkan dahi. "Tidak akan mudah membuat Muhiso jadi seorang Kapolri. Dia jadi Kapolres saja karena waktu itu dia adalah wakilnya."


"Tidak ada yang tidak mungkin. Aku akan pikirkan caranya."


"Ck terserah kau saja. Asal jangan bergerak terlalu lambat lagi."


Keduanya terdiam sesaat. "Kenapa kau hujan-hujanan Ruru?"


"Aku sedang menangis. Aku masih tidak bisa menerima kematian Raisa." Ruru berhenti sejenak. "Raka, apa kau yang menyuruh Raisa berkorban?"


"Tidak. Selama ini Raisa sering bilang kalau ia menyukaiku. Tapi aku tidak percaya cintanya jika itu cuma sebatas ucapan. Makannya kuminta padanya untuk menunjukkan kalau ia benar-benar menyukaiku." Raka berhenti.


"Terus?"


"Raisa menanyaiku soal apa yang aku mau. Aku jawab yang kumau jelas menciptakan dunia ideal yang selalu penuh dengan kedamaian, dan aku yang jadi pemimpinnya. Namun itu bakal sulit terwujud jika AJ masih tetap hidup."


"Dan dia rela berkorban nyawa demi pembuktian cinta padamu itu." Ruru mengepalkan tangan. Masih tak terima dengan kenyataan kalau Raisa, adik angkat sekaligus orang tersayangannya telah tiada.


"Cinta. Haha Raisa rela mati demi hal bodoh tersebut."


Mendengar ucapan Raka yang seperti itu Ruru tiba-tiba merasa kesal. "Bagaimana kau bisa bilang hal tersebut bodoh. Raisa selama ini tulus padamu."


"Cinta hanya akan membuatmu lemah dan bodoh. Buanglah cinta dari dirimu jika ingin dunia ideal kita terwujud. Cinta hanya akan membawa pada peperangan dan penderitaan, karena dalam cinta selalu terdapat pengorbanan. Mereka yang berkorban rela melakukan apapun demi orang yang mereka cintai, termasuk membunuh, merampok atau apapun. Hal ini jelas bersinggungan dengan dunia ideal impian kita yang tanpa peperangan dan konflik."


Ruru termenung. Jelas hati kecilnya tidak menerima apa yang Raka katakan. Namun selama ini ia selalu mencoba mempercayai Raka dan apa yang diimpikannya. Dan satu lagi, ia sudah muak dengan kekotoran hidup di dunia ini. Apalagi dengan keserakahan manusia dan tatanan hidup yang makin hari makin aneh.


Krina masih duduk termenung di bangku sebuah kafe. Di depannya sudah tersedia roti bakar selai nanas dan Macha hangat. Hujan di luar sana menjadi berkah karena membuat kafe ini jadi sepi dan Krina bisa mencari inspirasi membuat puisinya dengan tenang.


Ia menggigit ujung pulpen. "Menulis puisi tentang hujan saja." Ucapnya bermonolog. Ia hendak menulis tapi masih bingung dengan kalimat pertamanya.


Disela-sela kesibukannya berpikir, pandangannya tetiba teralihkan ketika melihat dua anak remaja: yang satu cowok yang satu cewek bermain hujan-hujanan dengan tawa riang. Dari kemesraan yang mereka perlihatkan nampaknya keduanya pasangan pacar.


Ah tiba-tiba ia jadi teringat masa-masa remajanya dulu, saat masih pacaran dengan Raka. Dulu ia juga pernah main hujan-hujanan bersama. Momen itu kini jadi kenangan indah yang sulit terlupakan.


Jujur dalam hati Krina masa-masa bersama Raka dulu adalah masa terindah dalam hidupnya. Dunia benar-benar indah dan serasa milik berdua. Namun sayang Ayah Krina tidak pernah menyetujui hubungan keduanya.


Tak terasa air bening lolos dari kelopak mata Krina ketika dirinya teringat saat Raka ijin pergi dari kehidupannya.


"Maaf Raka. Maaf. Tuhan pasti punya rencana yang terbaik untuk kehidupanmu," gumam Krina.

__ADS_1


TBC__


__ADS_2