
Tepat setelah mereka beranjak dari kediaman Eli dan menaiki mobil, ponsel Karma berdering. Awalnya pemuda itu mengira Krina yang menghubunginya, namun ternyata bukan, melainkan nomor baru.
Hampir-hampir ia menolak panggilan tersebut karena malas menjawab sebelum AJ menyuruh untuk mengangkatnya.
"Angkat Karma, siapa tahu itu mereka." AJ mengira itu dari Puisi Hitam. Dengan berat hati Karma menuruti perintah AJ, bersamaan AJ menyalakan mobil dan melajukan kendaraan beroda empat tersebut.
"Ni hao," ucap Karma dengan sedikit bibir mengembang, sesekali ia ingin iseng.
"Berikan ponselmu pada AJ." Terdengar suara lelaki dan penelepon ini tahu soal AJ, Karma berpikir kalau ia pasti dari Puisi Hitam seperti dugaan AJ.
"Aku tidak mau memberikan ponselku pada aja karena aku ingin berbicara dengan kalian. Sebelumnya Siapa kau?" Karma mengaktipkan mode loudspeaker agar AJ dan Alena mendengar obrolannya.
"Dalang dibalik semua kerusuhan ini dan juga orang yang kalian cari-cari selama ini. Puisi Hitam."
"Kami sudah mengira kalian akan menelepon kami, dan mungkin kami juga tahu alasan kalian menelepon. Ingin menukar Jap dengan Ruru bukan."
"Haha hebat, kalian seperti bisa membaca otak kami. Aku kagum, terutama pada AJ."
"Tidak usah banyak basa-basi, sekarang dimana kita akan melakukan pertukarannya."
"Haha Jangan terlalu terburu-buru Karma, santai saja. Kalau kau terburu-buru itu cuma akan mempercepat kematianmu."
"Aku tidak akan mati ditangan kalian."
"Begini, sebenarnya tanpa melakukan pertukaran inipun tidak akan berpengaruh apapun bagi puisi hitam. Kami sudah tidak membutuhkan Ruru lagi."
"Jika Ruru tidak penting terus kenapa kau menelepon kami?"
"Untuk sebuah hiburan bagiku saja. Aku mau melakukan permainan adu kecerdikan antara aku dan AJ. Bisa juga menyebutnya adu siapa yang lebih hebat antara tim INU kalian dengan tim Puisi Hitamku. Permainan ini sederhana, cuma pertukaran sandra saja tapi dibalik itu permainan sederhana bisa menentukan masa depan dari kedua tim."
AJ paham dengan maksud mereka. Ia tahu ada peluang besar di pertukaran ini bagi tim INU untuk menangkap Puisi Hitam. Namun di sini juga ia merasa ada resiko besar bagi tim INU. Ya AJ paham sekarang, tujuan pertukaran ini bagi mereka memang bukan untuk menyelamatkan Ruru, tapi untuk menghabisi Tim INU. Nampak ada rencana licik dari mereka yang perlu AJ waspadai.
"Terlalu banyak alasan, aku yakin kalian takut karena Ruru sudah kami tahan," celetuk Karma.
"Terserah apa katamu Karma, yang jelas kalian juga butuh pertukaran ini kan demi menyelamatkan nyawa teman kalian yang bernama Jap itu."
"Brengsek, lepaskan Jap."
"Haha tidak semudah itu Karma."
"Sebenarnya mau kalian itu apa hah? Untuk apa kalian melakukan semua ini?"
"Orang sepertimu tidak akan pernah paham kenapa kami melakukan ini."
Karma menyeringai kesal.
"Aku tidak akan basa-basi lagi, kita akan melakukan pertukaran siang ini di dekat gudang bekas pabrik elektronik di wilayah Depok. Nanti aku akan kirimkan alamat lengkapnya lewat email. Namun ingat, jangan beritahu game ini pada kepolisian, atau kalian tidak akan pernah bertemu dengan anak bernama Jap Ricardo lagi.
Tut, sambungan telepon terputus. Karma berdecak sesaat, ia sudah sangat jengah dengan para penjahat Puisi Hitam itu. Pikirannya sesaat melayang pada Raka, jika Ruru terlibat di sini pastinya Raka juga terlibat. Karma berprasangka yang menelepon dirinya tadi itu juga Raka.
"Bagaimana sekarang AJ?" tanya Karma kemudian.
"Kita ikuti permainan mereka."
"Bagaimana kalau mereka malah cuma mempermainkan kita?"
"Itu tidak masalah, yang penting kita harus terus bergerak ketika ada sesuatu yang dirasa penting."
"Aku agak kurang mengerti dengan jalan pikiranmu AJ."
Sekitar semenit kemudian, seperti yang diucapkan anggota Puisi Hitam sebelumnya, mereka mengirimi e-mail ke ponsel Karma. Setelah itu tiga anggota Tim INU langsung bergerak menuju Polres untuk menjemput Ruru.
__ADS_1
Ketika ketiganya sampai, mereka mendapati Ruru tengah terduduk tenang sambil memejamkan mata, seperti tengah melakukan yoga tapi jelas bukan. Kata penjaga selnya, selama gadis poni itu ditahan, ia memang sering melakukan hal tersebut. Entah untuk apa.
"Bangunlah!" suruh AJ ketika ia memasuki sel Ruru. Mata gadis itu terbuka, dan bola matanya langsung menatap fokus pada AJ.
"Untuk apa? Aku sedang malas berurusan dengan siapapun."
"Bangunlah jika kau ingin terbebas dari tempat ini."
Ruru bangkit dengan santai, ekspresi gadis itu selalu nampak tenang dan percaya diri seolah tidak perlu ada yang dikhawatirkan di dunia ini.
Karma dan Alena sesaat memperhatikan gadis itu dengan takjub.
Mereka kembali ke mobil dengan mengajak Ruru, dan setelahnya langsung menuju alamat yang diberikan anggota puisi hitam tadi.
AJ kembali menyetir, ia berada di kursi depan sendirian. Dibelakangnya, Karma dan Alena ditugaskan mengapit Ruru.
Cuaca tengah terik-teriknya. Rasa lapar yang mulai melanda tak Karma hiraukan. Entah, beberapa hari terakhir ini ia jadi begitu antusias dengan permasalahan Puisi Hitam. Mungkin karena terdorong dendam karena kematian Frans. Frans, meskipun sebentar perkenalannya dengan inspektur itu, Karma merasa Frans adalah sosok yang berharga baginya. Sosok seperti ayah sekaligus sahabat sendiri.
"Ruru, apa Raka adalah anggota Puisi Hitam juga?" tanya Karma kemudian.
"Kau kan detektip, kenapa tidak cari tahu sendiri saja."
"Katakanlah."
"Untuk apa?"
Karma merasa percuma berbicara dengan gadis ini.
"Apa enaknya membuat keonaran, bukankah kalian malah akan dibenci banyak orang?" tutur Alena yang tiba-tiba berbicara panjang lebar. Biasanya anak itu tak pernah berbicara lebih dari 5 kata.
"Gadis manja sepertimu mana mungkin bisa paham," jawab Ruru.
Alena beradu mata dengan Ruru sesaat sebelum mengalihkan pandangan ke arah luar. Hampir-hampir tidak ada yang berbicara hingga kurang lebih sekitar satu jam kemudian atau hingga mereka akhirnya tiba di alamat yang dicari.
AJ memperhatikan suasana di luar, mencari tanda-tanda keberadaan manusia lain di tempat ini.
Kesunyian tempat di sini membuat perasaan Karma dan Alena langsung dirundung cemas. Kali ini mereka bisa mudah saja diserang atau tepatnya ditembak dari sudut manapun. Bukan tidak mungkin kan di antara mereka ada yang ahli sniper. Atau jika tidak ada mereka bisa saja menyewanya.
Dalam keheningan yang terasa mencekik tersebut tiba-tiba ponsel Karma berdering. Pemuda itu dengan segera melihat layarnya untuk mengetahui siapa peneleponnya. Seperti yang ia duga, panggilan masuk itu berasal dari Puisi Hitam.
"Keluarlah kalian," ucap Karma yang sudah kesal.
"Kalian keluarlah dulu, kami ingin melihat apakah kalian benar-benar membawa Ruru."
"Kalian keluar duluan, kami ingin kalian juga benar-benar membawa Jap."
"Kau ingin Jap mati?"
"Kalian juga ingin Ruru mati?"
"Kan aku sudah bilang kalau kami sudah tidak peduli pada Ruru."
"Brengsek."
"Tenang saja Karma, kami benar-benar membawa Jap."
Sambil mendengrkan, AJ mempelajari suasana diluar, melihat ke beberapa sudut gedung untuk mencari apakah ada penembak yang bersembunyi di sana. Dengan menggunakan alat canggih di topengnya yang merupakan gabungan kamera jarak jauh dan pemindai suhu tubuh dengan cepat ia menemukan keberadaan beberapa orang di dalam gedung. AJ melihat Jap juga ada di sana dengan tangan terborgol dan disebelahnya ada dua orang yang ditangannya membawa pistol. AJ mengira dua orang itu adalah Raisa dan Sinyo.
"Bagaimana sekarang AJ?" tanya Alena.
"Kita ikuti kemauannya," jawab AJ.
__ADS_1
"Bagaimana kalau ini perangkap?"
"Bukan, atau tepatnya belum. Kita keluar sekarang." AJ keluar yang lain segera mengikuti. Mereka kemudian berdiri di depan mobil.
Angin berhembus kencang menerbangkan debu-debu disekitaran. Juga menyibakan rambut-rambut mereka, terutama rambut Alena dan Ruru yang panjang. Di langit biru sana, awan sama sekali tak terlihat. Nampak enggan menutupi mentari siang ini.
Sekitar setengah menit kemudian dari dalam gedung keluar tiga orang. Yakni Jap, Raisa dan juga Sinyo. Dengan berjalan agak lambat ketiganya menuju arah AJ dan lainnya.
AJ masih mencari-cari keberadaan satu orang lagi yang merupakan si penelepon. Jelas yang menelepon tadi bukan Sinyo karena AJ melihat saat telepon tadi tersambung sinyo sama sekali tak menggunakan ponsel atau alat komunikasi lain.
"Dimana dia?"
Jap, Raisa dan Sinyo tiba di hadapan mereka. AJ memperhatikan sementara kondisi Jap, syukurlah anak itu nampak baik-baik saja.
Karma dan Alena siaga dengan mengeluarkan pistol.
"Kalian tidak membawa polisi kan?" Tanya Sinyo dengan tegas.
"Tentu," kata AJ.
"Bagus, tapi jangan pernah coba berbohong pada kami. Kau sudah tahu kalau aku seorang peretas sekaligus mata-mata terbaik bukan?" jelas Sinyo.
"Tidak diragukan lagi," puji AJ yang memang kagum dengan kemampuan meretas Sinyo dalam kejahatan ini.
"Tidak usah banyak omong sekarang serahkan Jap pada kami," kata Karma.
"Tidak secepat itu, permainan belum dimulai," ucap Raisa dengan smirk anehnya.
"Permainan apa?" Balas Karma.
Terdengar suara mesin. Yang berasal dari truk kontainer yang melaju ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
Alena dan Karma lengah hingga Ruru berhasil lepas dari genggaman keduanya.
"Sial!" kesal Karma. Ia melihat anggota Puisi Hitam berjalan agak menjauh sambil tetap menyandra Jap.
"Menjauh dari mobil, truk itu tampaknya tidak akan berhenti." AJ memperingati Alena dan Karma. Ketiganya kemudian setengah berlari menjauhi mobil, soalnya kalau memasuki mobil pasti keburu tak sempat untuk menghindar. Dugaan AJ benar truk itu memang sengaja ditabrakan ke mobil AJ.
Mobil AJ terpental dan langsung ringsek.
AJ sendiri tak mempermasalahkan mobil tersebut, ia lebih mengkhawatirkan kondisi Jap yang tengah disandra.
"Karma, kau bisa menembak dua anggota Puisi Hitam itu?" ucapnya.
"Tentu saja." Di tempat yang lapang seperti ini dengan target yang dekat jelas bukan hal yang sulit bagi Karma untuk menembak. Ia sudah sering dilatih di Densus 88 dulu, dan ayahnya dari kecil juga sering mengajarinya menembak.
Karma kemudian bersiap menembak, matanya sudah terfokus pada Raisa dan Sinyo, tapi dari dalam kontainer seseorang mencoba mengganggunya dengan menghujani Karma dengan tembakan. Beruntunglah semua tembakan orang itu meleset.
Alena membalas tembakan orang tersebut. Namun pelurunya nampak belum mengenainya.
AJ segera berlari ke arah Jap dengan cepat.
Jap yang melihat AJ berlari ke arahnya langsung terkesiap.
"Jangan kemari AJ, ini perangkap." Teriak Jap sembari melihat satu mobil sedan yang memang sedari tadi ada dibelakang kontainer. Mobil itu memang sengaja bersembunyi untuk merencanakan sesuatu. Tepatnya mengincar AJ.
Mobil sedan itu mengarah cepat ke arah AJ berusaha menabraknya. AJ dengan sekuat tenaga menghindar. Namun mobil itu terus saja mencoba menabrak AJ.
"Tim INU akan berakhir di sini, Jap." Raisa menodongkan pistol pada Jap.
"Hebat sekali aktingmu Rai selama ini," ucap Jap tenang dengan sedikit tersenyum.
__ADS_1
Raisa menarik pelatuk. "Kau yang teralalu payah, Jap. Oh ya terimakasih atas hari-harimu bersamaku selama ini. Itu benar-benar hari yang menyebalkan karena aku harus terus-terusan berbohong. Selamat tinggal Jap.
DOOOR!!!!