Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Puisi Tidur


__ADS_3

Di atas sebuah bangku kayu putih di sebuah taman. Gadis berambut panjang lurus dengan pakaian hodie putih menatap sayup kolam agak besar di depannya. Gadis yang tak lain adalah Krina, menatap pada angsa yang tengah asik berenang juga merpati-merpati yang mencari makan di tepiannya.


Pandangannya beralih pada ponsel yang sedari tadi digenggamnya. 10.30 harusnya dia datang sekarang.


"Apa aku terlambat?" ucap sebuah suara bariton dari belakang Krina.


"Tidak. Kau dari dulu tidak pernah terlambat, dan kali inipun kau masih tidak suka membuat orang lain menunggu bukan?" jawab Krina tanpa menoleh.


"Ternyata kau masih ingat tentangku."


Krina menengadah menatap si asal suara yang kini sudah duduk disebelahnya yang tak lain adalah Raka.


"Ada apa sampai harus mengirim surat segala untuk bertemu disini. Kau kan bisa langsung berkunjung ke rumah." Krina berhenti sejenak. "Atau kau masih takut pada ayahku."


"Aku tidak pernah takut pada siapapun. Bahkan pada ayahmu yang seorang jendral."


"Lalu kenapa tidak datang ke rumah?"


"Karena ada yang ingin aku bicarakan denganmu dan hanya kita berdua yang tahu."


Krina sedikit tersenyum keheranan. "Nampak penting sekali?"


"Tentu saja."


Angin berhembus menyibakan rambut lurus keduanya.


"Bicaralah, kau mau apa?"


"Mau memuji kecantikanmu." Kedua sudut bibir Karma mengembang. Nampak ia ingin bercanda dengan Krina.


Krina menghela napas. "Seriuslah. Aku sudah tidak punya waktu untuk main gombal-gombalan seperti SMA dulu."


"Aku serius kalau kau tambah cantik."


"Aku sudah tunangan Raka. Dan kau tahu itu."


"Aku tahu." Raka menatap cincin di jari manis kiri Krina. "Aku cuma bercanda.


Keduanya berhenti bicara beberapa saat. Sibuk menatap seluruh apa yang ada di taman siang ini.


"Kau sebenarnya cuma ingin bertemu denganku, kan? tidak ada hal serius yang ingin kau bicarakan?" Krina melemparkan senyuman manis.


"Tidak juga. Ada satu hal yang ingin aku tanyakan, yaitu soal perasaanmu pada Karma."


Senyum Krina seketika memudar. "Tidak ada yang perlu ditanyakan dengan soal seperti itu."


"Tentu saja ada."


"Apa?"


"Kau berbohong pada dirimu sendiri. Kau, tidak menyukai pemuda itu."


Krina memicingkan mata. "Alasan aku tunangan juga karena aku menyukai Karma."


"Aku ragu."


"Terserah." Krina mengalihkan pandangan dari Raka pada ponselnya lagi. Suasana kembali hening beberapa saat.


"Oh ya, siapa pacarmu sekarang?" tanya Krina.


"Entah."


"Entah, kau punya pacar atau tidak sih?"

__ADS_1


"Buat apa pacaran. Buang-buang waktu saja."


Krina mendeham. "Jadi kau tidak punya pacar?"


"Hatiku dari dulu cuma buat satu orang, yaitu Krina," balas Raka dengan tatapan sayup. Keduanya bertatapan beberapa saar sebelum Raka melepas pandangan.


"Berhentilah memikirkanku Raka."


"Bukankah dulu kau yang menyuruhku untuk jangan melupakanmu?"


"T-tapi itukan dulu."


"Ingat Krina, hubungan kita tidak pernah berakhir."


"Dengar a-aku jadi tunangan Karma itu berarti hubungan kita sudah berakhir."


"Tidak, kenyataannya hatimu masih berharap dan mencintai diriku."


"Tahu dari mana? Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu." Krina mulai meninggikan suaranya. Perasaannya jadi kalut.


"Kau berbohong."


Mata Krina berkaca-kaca. "A-ku berbicara ju-"


Raka menaikan kedua alis. Krina melengos dan menghela napas.


"Aku berbicara jujur."


Kedunya kembali terdiam. Tak jauh dari keduanya, di bawah sebuah pohon Ruru memperhatikan.


"Jangan sampai dia nanti menghalangi rencana awalmu Raka." gumam Ruru.


Raka mengeluarkan sebuah bulpoin dan buku kecil dari sakunya.


"Heem."


"Aku ingin membuatkannya lagi untukmu. Seperti waktu dulu." Karma tersenyum.


Krina menatap Karma sesaat lantas menoleh ke arah danau dan tersenyum. "Buatkan, tapi yang bagus."


Karma mengangguk lalu mulai menulis. Krina menunggu sambil memainkan ponsel. Ruru memicingkan mata, bingung dengan apa yang mau Raka lakukan. Apa anak itu mau menulis Puisi Hitam untuk Krina.


"Sudah." Karma menyodorkan hasil tulisannya pada Krina. Dan Krina membaca dengan seksama. Di belakang sana Ruru mulai waspada.


Krina manggut-manggut dan tersenyum sehabis membaca puisi dari Karma.


"Puisimu selalu indah Raka," puji Krina. "Hanya saja kenapa judulnya putri tidur?"


"Karena kau akan tidur beberapa saat."


Krina tak paham dengan apa yang diucapkan Raka, tapi ia tak peduli. Yang jelas ia merasa sangat senang karena orang yang dulu pernah dekat dengannya kembali membuatkan puisi untuknya.


Tetiba mata Krina terasa berat dan kepalanya juga agak pusing.


"Kau kenapa?"


"Kenapa tiba-tiba ngantuk begini." Pandangan Krina memudar, wajah Raka yang tadi jelas kini cuma tinggal bintik-bintik buram, dan kemudian penglihatannya.


Krina terjatuh ke arah tubuh Raka. Ruru yang melihatnya langsung melompat berlari ke arahnya.


"Kau akan jadi putri tidurku beberapa saat." Raka berbisik pada telinga Krina.


"Apa yang kau lakukan?" Ruru bertanya setibanya ia dihadapan Raka.

__ADS_1


"Aku hanya membuatnya tidur untuk beberapa saat."


"Untuk apa?"


"Untuk jadi bagian kita." Raka bangkit sambil memangku tubuh Krina.


Ruru menatap Raka sesaat. "Dengar Raka, kuperingatkan, jangan sampai gadis ini menghalangi rencana kita."


"Tidak akan." Raka menatap wajah cantik Krina yang tersinari mentari. Sudah lama ia tidak memperhatikan wajah gadisnya ini. Gadisku? Kau memang akan selalu jadi gadisku.


*****


"Resmi, Indonesia punya kapolri baru."


Tulisan itu hari ini banyak terpampang di banyak media. Muhiso secara resmi langsung dilantik mengisi jabatan Kapolri yang sudah kosong selama belasan hari.


Tim INU jadi dibuat cemas dengan berita ini. Mereka khawatir kejahatan Puisi Hitam jadi makin sulit diredam. Terlebih setelah kembali mendengar berita kalau Sinyo Harahap kembali dibebaskan kepolisian karena tidak ada bukti kalau ia terlibat dengan Puisi Hitam.


Di warung kopi, Karma tengah kesal dan cemas. Berpuluh-puluh kali ia mencoba menghubungi Krina, tapi tak sekalipun ia mendapat jawaban.


"Mungkin dia sedang sibuk Karma," ucap Alena, lantas ia menyeruput susu hangatnya.


"Kalau ada mesibuk, ia biasanya akan mengabariku dulu. Aku takut terjadi sesuatu padanya."


"Ya sudah hubungi orang tuanya."


Pembicaraan keduanya terjeda ketika ibu pemilik warung mengantarkan sate ayam pesanan pada keduanya.


"Sudah, tapi tidak ada jawaban. Kedua orang tua Krina itu orang sibuk. Ayahnya Seorang TNI berpangkat, sementara mamahnya juga Dosen. Sangat susah untuk dihubungi. Jika sudah mendapat banyak bukti sebaiknya kita segera pulang dari desa ini." Karma mengambil satu tusuk sate dan mulai memakannya.


"Oh ya kemana Jap dan si Andi Kalaba alias AK itu?" tanya Karma.


"Kembali ke gunung lagi untuk meneliti prasasti terakhir."


"Hacuhhh!"


Dari balik helm, AK bersin. "Nampaknya ada yang tengah membicarakanku?" AK dan Jap baru sampai di Prasasti terakhir dengan menggunakan motor cross sewaan. Keduanya melepas helm dan menaruh di stang motor.


"Aku penasaran dengan tokoh bernama Banga itu, terutama alasan kenapa ia menginginkan kerajaan Abadi," gumam Jap.


"Yang aku pelajari tentangnya, nampak kalau ia kecewa dengan kehidupan di masa itu. Ia ingin menciptakan kedamaian baru, tapi dengan cara yang salah."


AK dan Jap menatap batu prasati yang ditumbuhi lumut. Tulisan di Prasastinya juga nampak sudah tak jelas.


Jap membungkuk di depan batu lantas menempelkan tangannya ke permukaan prasasti. Matanya terbeliak. Sesuatu yang aneh menjalar ditubuhnya dan tetiba terlintas bayangan-bayangan aneh di benaknya. Jap kemudian melepas tangannya.


"Apa ini?" ucap Jap keheranan.


"Kau merasakannya? Merasakan keanehan di Prasati itu? Kata juru kunci beberapa orang bisa melihat bayangan kejadian di masa Banga lewat prasasti ini. Namun hanya orang-orang tertentu. Aku pernah mencobanya tetapi gagal, nampak aku memang bukan orang yang spesial. Tapi siapa tahu kau bisa melihatnya Jap. Cobalah pegang prasasti itu lagi."


Jap mencoba kembali menempelkan telapak tangannya di prasasti sebelum suara bising mengurungkannya.


"Suara apa itu?" tanya Jap.


"Suara motor."


Lama kelamaan suara motor itu makin terdengar jelas. Dan kemudian nampaklah asal suaranya; enam pengendara motor cross yang pada menuju ke arah mereka dengan kecepatan lumayan tinggi-- meliuk-liuk melewati semak dan pepohonan--dan langsung mencoba menerjang Jap dan AK. Untunglah AK dan Jap sigap menghindar.


"Siapa mereka?" cemas AK sambil menatap pengendara-pengendara itu yang kesemuanya memakai helm full face.


Pengendara-pengendara itu berhenti menerjang, hanya saja bergerak memutari AK dan Jap. Kini keduanya--yang saling memunggung dengan pistol telah siap di tangan--berada dalam kepungan para pengendara.


To Be Continued ...

__ADS_1


__ADS_2