
Seumur hidupnya Karma tak pernah berpikir akan bertemu dengan hal semacam tadi. Ia pikir sebelumnya soal Puisi Hitam itu cuma berita hoaks yang cuma dibuat agar media masa kembali bergairah.
"Dan apakah mungkin juga benar jika kematian ayah juga karena Puisi Hitam?" Batin Karma.
Ia bangkit dari motor Ducati Monsternya. Menatap Parkiran Rumah Sakit Polri yang seolah meledek kesedihannya. Lantas pada langit yang hampir kehilangan petangnya.
Frans datang dengan langkah berat dan cepat kearahnya.
"Kau mau ikut tidak?" tanya Frans setibanya ia di hadapan Karma. Tangannya kini menjinjing kado milik Aditia.
"Kau benar-benar mau melakukan ini?" Sebelumnya di dalam, Frans bilang akan menghadiri ulang tahun Amel. Ulang tahun anak Aditia tetap harus berlangsung menurutnya meskipun tanpa kehadiran Aditia.
"Tentu saja."
"Ini kejam."
"Dunia detektif memang kejam. Maka biasakanlah. Bagaimana kau mau ikut?"
"Baik aku ikut." Karma memasang helm dan menaiki motornya. Frans mengeloyor menuju mobilnya.
*****
"Ini kejam," kata itu kembali keluar dari mulut Karma ketika melihat Istri Aditia menangis histeris setelah Frans memberitahukan padanya kalau Aditia sudah meninggal. Wanita tigapuluh tahunan itu kini terduduk lemah di bangku tamannya.
Frans menatap Karma, lantas menghampiri pemuda tersebut.
"Bagaimana? Apa kau menyesal jadi Polisi sekarang?" ucap Frans.
"Tidak, sama sekali," jawab Karma datar, "tapi apa itu tidak apa-apa memberitahunya sekarang?"
"Tentu saja tidak. Istri polisi juga harus kuat seperti suami mereka."
"Tapi mereka wanita."
"Itu sudah resiko jika mau jadi istri Polisi."
Setelah Isya, acara ulang tahun di mulai. Hanya acara ulang tahun sederhana di ruangan tengah keluarga. Dan hanya dihadiri beberapa tetangga. Aroma lilin dari kue ulangtahun yang di atasnya terdapat angka 6 itu semerbak mengudara di ruangan ini.
"Dimana Ayah, Mah?" tanya Amel menatap Mamahnya.
Istri Aditia tersenyum simpul, "Ayah masih kerja, nanti bakal datang," ucapnya berbohong. Amel kecewa. Frans tersenyum getir merasa sedih melihat pemandangan ini. Ia berpikiran sesaat jika hal ini terjadi pada keluarganya, dan yang berada di posisi Amel adalah anaknya Alena. Karma sendiri merasa heran kenapa Istri Aditia kuat menahan semua ini, ia bahkan tak menampakan wajah kesedihan. Apa karena Amel?
"Ayo kita nyanyi lagu ulang tahunnya!" ucap salah satu tetangga yang menggendong anaknya yang berusia tiga tahun. Semuanya lalu menyanyikan lagu ulang tahun. Termasuk Karma yang sebenarnya tak kuat dengan suasana seperti ini.
Amel meniup api di lilin dan semua bertepuk tangan.
"Ayo kita buka kado dari Aditia." kata Frans dengan tatapan menatap istri Aditia. Istri Aditia mengangguk lantas mengambil kado merah muda itu dari atas meja dan kemudian membukanya. Semuanya memperhatikan.
Mata istri Aditia berkaca-kaca melihat isi kado untuk Amel yang merupakan boneka unicorn ungu. Amel kini nampak senang dengan hadiahnya.
"Sebelumnya Amel pernah bilang ingin dibelikan boneka baru," ucap istri Aditia pada Frans.
__ADS_1
*****
"Seperti itulah ceritanya," Karma mengakhiri ceritanya soal Amel. Ia kini berada di sebuah Kafe di Kuningan, Jakarta Selatan, bersama tunangannya Krina.
"Kasihan Amel," ucap Krina sedih.
"Kamu juga harus tetap semangat nulis puisinya ya. Aku janji bakal akhiri semua ini, biar puisi-puisi kamu bisa di terbitin lagi." Setelah kasus Puisi Hitam menyeruak di media masa, seluruh hal yang berbau puisi langsung dilarang pemerintah: Buku-buku puisi sudah ditarik peredarannya, baik di perpustakaan maupun toko buku. Sekolah-sekolah juga meniadakan materi soal Puisi. Juga para penulis dilarang menulis puisi lagi untuk waktu yang belum ditentukan. Seperti yang terjadi pada Krina kini.
"Tega sekali memang orang yang mengotori puisi. Segelap-gelapnya puisi pengkritik penguasa juga mengandung cinta disana. Cinta bagi rakyat, negeri, atau bahkan penguasa itu sendiri."Krina merengut menatap Hot Cappucinonya.
Karma meraih tangan Krina dan menggenggamnya lembut. "Senyum dong, kan aku udah janji bakal nyelesein semua ini."
"Iya my detectif."
"Kapan-kapan nulis buku soal detektif ya?"
"Males." Krina terkikih. "Lagipula muka kamu gak ada cocok-cocoknya jadi Detektif."
"Masa sih. Kurang apa emang?"
"Kurang dingin. Kurang serius."
"Emang kamu suka kalo aku jadi bersikap dingin?" Krina tak menjawab cuma tersenyum.
"Kamu hati-hati ya. Aku kini malah takut setelah tahu kamu jadi Detektif. Pekerjaannya terlalu berbahaya."
"Tenang aja. Yang penting kamu doain aku terus biar selamat."
*****
".... Kasus kedua terjadi empat bulan kemudian," lanjut Karma menjelaskan, "Riko Rivaldi seorang siswa kelas XI IPS-3 meninggal usai membaca surat puisi yang ia temukan di kolong bangkunya. Ia meninggal setelah istirahat atau sebelum mata pelajaran dimulai. Teman-teman sekelasnya pada jadi saksi kematiannya." Karma berhenti.
"SMA Teratai yang memiliki kasus Puisi Hitam terbanyak. Dua kasus, tapi sebenarnya bisa dikatakan tiga kasus karena terdapat kasus lain yang tak jauh dari tempat tersebut," jelas Frans.
"Kita akan melakukan penyelidikan lagi disana," kata AJ, "aku akan mengirimkan dua anak buahku untuk memata-matai."
"Anak buahmu?"
"Kau akan tahu nanti." Jemari AJ mengetik keyboard, "Ditambah anak buahku kini berarti anggota INU menjadi lima orang. Tapi itu masih kurang karena posisi yang ditinggalkan Aditia masih kosong. Aku punya orang yang tepat untuk posisinya malah lebih baik."
"Siapa?" Frans penasaran.
"Dia." AJ menoleh pada Frans dengan satu tangan menunjuk pada layar komputer. Frans menatap layar dan seketika terbeliak.
"Jangan bercanda," tegas Frans setelah mengetahui orang yang diinginkan AJ untuk bergabung ke Tim INU adalah putrinya sendiri, Alena, "putriku bukan Polisi, jadi mana mungkin dia paham persoalan Detektif seperti ini."
"Dia akan paham. Alena punya kemampuan meretas luar biasa. Salah satu yang terbaik di Indonesia bukan."
"Untuk apa seorang Hacker di sini? Dan bagimana kau tahu kalau Alena seorang Hacker?"
"Aku seorang pemerhati bakat spesial, bibit emas seperti Alena mana mungkin aku tidak tahu. Aku tahu Alena suka coklat, aku tahu Alena suka warna hijau. Dan saat ini dia tinggal wisuda saja benarkan?"
__ADS_1
"Jadi selama ini kau memata-matai Alena?" Frans geram.
"Bahkan Karma," jawab AJ enteng. Karma menghela napas, merasa lucu juga ada yang memperhatikannya selama ini. Bahkan jangan-jangan AJ ini tahu soal hubungannya dengan Krina, atau soal phobianya pada belalang sewaktu kecil. Siapa sebenarnya AJ ini, si manusia misterius yang tiap hari selalu pake topeng aneh.
AJ berbicara lagi, "kasus ini juga ada hubungannya dengan peretas. Kau ingat kemarin saat alamat Email yang mengirim pesan Puisi Hitam tiba-tiba lenyap seketika setelah Aditia membukanya. Itu ulah Hacker asal kau tahu."
"Jadi dibalik kasus ini adalah seorang Hacker?"
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Penyelidikan yang kalian lakukan selama hampir setahun ini cuma mendapatkan sedikit bukti. Hingga bahkan belum bisa menyimpulkan kejahatan ini dilakukan oleh individu atau kelompok." AJ menempelkan punggungnya pada senderan kursi dan mengangkat kedua kakinya keatas meja.
"Dengar, aku tidak akan membiarkan Alena bergabung disini. Jika kau butuh Hacker masih banyak Hacker lain," tukas Frans.
"Saat kau di tunjuk oleh pak Thirto, itu berarti kau harus tunduk pada pemimpinmu di tim INU bukan. Patuh akan perintahnya."
"Kalau begitu aku lebih baik keluar," ucap Frans.
"Berarti kau mau membiarkan penjahat itu berkeliaran dan membunuh banyak orang lagi?" Desak AJ. Frans mengepalkan tangan.
"Tapi banyak Hacker yang lain bukan?" kilah Frans kesal.
"Aku lebih tertarik pada Alena. Dia akan jadi kunci utama mengungkapkan kebenaran kasus ini."
Frans diam bimbang. Ia ingin kasus ini berakhir tapi ia juga tak ingin melibatkan Alena ke dalam masalah mengerikan ini.
"Aku bakal melindunginya Frans percayalah," jelas AJ, "kau boleh menembak kepalaku jika terjadi apa-apa pada Alena. Frans masih diam mematung. Begitu juga Karma yang sedari tadi masih khusuk memperhatikan.
"Baiklah, Alena boleh bergabung, tapi dia masih di London," kata Frans akhirnya.
"Dia sudah di Jakarta. Tadi dia menelponku."
"Bagaimana bisa?" Frans kembali heran.
"Sebenarnya aku sudah menghubungi Alena dari semalam. Dia juga sudah setuju bergabung dengan tim INU."
"Keparat kau memang AJ. Lalu untuk apa kau membicarakan putriku sebelumnya.
"Biar kau tidak terlalu kaget nanti." AJ tertawa kecil.
"Lalu apa tugas kami berdua, aku merasa belum mendapat tugas di sini?" tanya Karma.
AJ memutar kursinya hingga menghadap Karma, "kebetulan sekali, pagi tadi aku mendapat laporan ada seorang penyanyi muda bernama Yuke Amane, katanya ia diteror oleh Puisi Hitam."
"Yuke Amane mantan idol itukah?" Frans terkejut tapi wajahnya tampak semringah.
"Kau tahu."
"Tentu saja, dia dulu anggota girlband Kitsune 7. Haha aku suka sekali lagu-lagu mereka dan saat mereka menari." Karma mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa orang seumuran Frans tahu soal girlband, sementara dirinya saja tidak tahu apa-apa.
"Baguslah kalau tahu, kalian berdua jagalah dia. Mungkin kalian akan dapat menemukan bukti disana," ucap AJ.
TBC_
__ADS_1