
"Nampaknya aku akan ambil resiko," pikir Jap dengan tatapan masih menatap Raisa dan Rena.
"Terima kasih waktumu." ujar kemudian pada Heri sembari bangkit. Heri mengangguk, "aku mohon bantuanmu juga, tolong jangan beritahukan siapapun kalau aku ini polisi. Kau ingin kasus Riko selesai bukan."
"Iya tentu saja." Heri bangkit. Jap mengangguk pelan sebelum melangkah pergi.
Sepulang sekolah Jap pergi ke Rooftop. Menatap pemandangan SMA teratai. Ia menelepon AJ.
"Kenapa Jap?" tanya AJ diseberang sana.
"Tolong beritahu aku daptar siswa yang pernah dicurigai di SMA Teratai."
"Sebentar," ucap AJ. Angin berhembus membuat seragam Jap agak berkelabakan. AJ menghubunginya lagi. AJ menceritakan nama kesepuluh anak yang pernah dicurigai, salah satunya Rena.
"Baik, aku mengingat semua namanya," jelas Jap. Kini tinggal enam dari sebelas anak yang dicurigai yang masih bersekolah di sini. Mata elang Jap menajam ketika dilihatnya seorang siswi berambut panjang lurus berjalan ke arah perpustakaan. Ia mirip Raisa, pikir Jap.
Ia lekas berlari turun dari rooftop. Semenit kemudian tiba di ambang pintu perpus. Lalu mulai melangkah perlahan karena suasana ruangan yang minim pencahayaan. Ia pikir gadis tadi masuk kemari. Tapi untuk apa? Disaat yang lain pulang ia malah masuk ke tempat seperti ini.
Jap mengedarkan pandangan sembarang. Pendengarannya ia juga pasang baik-baik. Langkah kakinya yang lemah terasa berisik dalam kesunyian. Jap mulai melewati jalan diantara rak-rak buku.
Kuprak!
Sebuah suara terdengar tak jauh dari Jap. Jap mempercepat langkahnya dan saat berbelok dilihatnya seseorang gadis tengah menunduk mengambil buku-buku yang tercecer di lantai. Mungkin karena menyadari kehadiran Jap gadis itu menengadah, hingga terlihatlah wajahnya yang tak asing bagi Jap.
"Kau!" kata Jap.
Ia tertawa canggung, "ah kamu anak yang tadi kan?" tanyanya, lantas berdiri.
"Benar, sedang apa?" tanya Jap datar.
"Mencari buku untuk tugas, tadi disuruh kemari oleh bu Guru."
"Kenapa sendiri?"
"Aku orangnya tidak suka merepotkan orang lain. Kamu sendiri sedang apa?"
"Aku juga mencari buku," ucap Jap. Raisa manggut-manggut. Ia tersenyum, "aku pergi duluan ya!"
Jap membalas senyum sambil mengangguk. Raisa kemudian melangkah melewatinya. Sesaat Jap memandang punggung siswi itu. Ia melangkah dan kakinya menendang sesuatu. Jap menunduk dilihatnya sebuah buku tipis. Ia berjongkok sesaat mengambil buku tersebut. Yang ternyata sebuah buku tulis.
Jap mencoba membukanya, tapi ia urungkan. Ia bergegas mengejar Raisa.
"Raisa!" Serunya ketika tiba di lapangan. Yang dipanggil berbalik dan menatap Jap.
__ADS_1
"Ini bukumu bukan?" Jap menyodorkan buku itu pada Raisa.
"Bukan," jawab Raisa dengan wajah heran.
"Benarkah? Tapi ini tadi tergeletak di tempat bukumu jatuh."
"Oh iya, makannya tadi aku juga heran ada buku tulis disana. Aku rasa mungkin punya siswa yang ketinggalan jadi aku tak ambil karena mungkin saja dia bakal kembali ke perpus dan mencarinya."
"Oh begitu." Jap memperhatikan bola mata Raisa yang hitam nan indah.
Raisah mengembangkan sudut bibirnya lagi, "kau bisa kembalikan mungkin pada yang punya, aku pergi dulu ya." Ia hendak berbalik. Namun ia urungkan, "bagaimana kau tahu namaku?"
Jap tertawa canggung dengan tangan menggaruk tengkuk, "tadi saat tabrakan aku melihat nametag-mu. Raisah terkikih, lantas pamit lagi pada Jap sebelum mengeloyor pergi.
Jap menatap buku tulis dilengannya lagi. Kemudian berniat membukanya, tangannya sudah menempel disudut sampul buku itu. Namun ponsel dicelananya tiba-tiba bergetar. Ternyata telepon dari AJ.
"Jangan dibuka!" larang AJ.
"Kenapa?" tanya Jap meski sebenarnya ia tahu alasan AJ melarangnya.
"Gerak-gerik anak itu mencurigakan. Cepat kemarilah, Karma juga sudah dapat beberapa bukti."
"Siapa Karma?" Jap mengedarkan pandangan kesekitar.
"Kolegamu di INU, mungkin kau tidak akan begitu menyukainya nanti. Soalnya ia agak ceroboh."
Dari balik salah satu jendela kelas seorang gadis bermasker menatapnya tajam.
Jap menutup pintu markas. Ia berbalik dan melangkah sembari menatap kedua koleganya di Tim INU. Yaitu AJ dan seorang pemuda tampan berpostur tinggi tegap.
Jap disambut senyumannya ketika tiba dihadapannya, "Karma." Ia menyodorkan tangan.
"Jap." Jap menerima jabatan tangannya.
"Senang bekerja sama denganmu," ucap Karma lagi menggoyang-goyangkan genggamannya. Sebelum ia melepaskannya kemudian, "kau masih sangat muda Jap."
"Ia masih 18 tahun," sahut AJ, "tapi pengalaman detektifnya jauh lebih lama darimu Karma." Karma menoleh AJ.
"Tapi bagaimana bisa?" Heran Karma.
"Lambat laun kau akan tahu," kata AJ lagi, lalu berbalik menatap surat-surat yang ada di mejanya lagi, surat yang Karma bawa dari apartemen Yuke, "kemarilah." Pintanya pada Karma dan Jap kemudian. Yang dipanggil mendekat.
AJ merobek satu amplop hingga surat di dalamnya yang terlipat terlihat. Ia membuka surat itu.
__ADS_1
"AJ tunggu, itu bisa jadi Puisi Hitam," larang Karma cemas sembari melangkah kedepan satu langkah.
AJ mengangkat kepala menatap Karma, "aku tahu, tapi aku akan tetap membacanya."
"Kau gila? Kau bisa mati."
"Kita tidak akan mati setelah membaca Puisi Hitam yang bukan ditunjukkan pada kita," jelas AJ santai.
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku sudah mempelajari banyak kasus Karma. Kau tidak perlu khawatir. Lagipula surat ini belum tentu Puisi Hitam."
Jap mulai membaca dengan pelan. Karma yang mendengar membeliak, yang dibaca AJ adalah Puisi Hitam. Jadi benar Yuke diincar oleh Puisi Hitam.
AJ selesai membaca. Karma menatap AJ cemas takut terjadi apa-apa pada pemimpinnya ini. Tubuh AJ tersentak dan ia terbatuk. Karma langsung bergerak mencoba meraih tubuh AJ, sebelum diurungakan karena AJ memberi isyarat dengan tangannya.
"Dadaku sakit, dan hidungku nampaknya mengeluarkan darah," jelas AJ, "100 persen sama dengan kasus orang yang membaca puisi Hitam tapi tidak mati. Jadi mungkin kemungkinannya benar jika Puisi Hitam hanya ampuh untuk orang yang dituju saja."
"Aku terkesan dengan kenekatanmu, tapi lepaslah topengmu dulu untuk membersihkan darahmu," kata Jap menatap mata AJ dilubang topengnya.
"Haha Jap, dari dulu kau nampaknya sangat ingin melihat wajahku. Tenang saja suatu saat kau akan melihat wajahku. Jika aku mati tapi. Dan aku akan mempercayakan topeng ini padamu."
"Jadi Yuke diincar!?" terka Karma.
"Benar," jawab AJ.
"Tapi untuk apa? Dan untuk apa sebenarnya kejahatan ini dilakukan. Apa untungnya?" heran Karma.
"Kita akan tahu dengan cepat. Tergantung kerja kalian." Jap bangkit. Ia mengelus-elus dadanya. Masih terasa sakit di sana. Ia heran bagaimana sebuah Puisi bisa membuat seseorang langsung kesakitan atau bahkan mati. Apa ada peran sihir dalam kasus ini. Sihir? Di masa kini hal seperti itu bahkan cuma dianggap mitos.
"Jap berikan buku yang kau temukan di Sekolah." Jap segera menuruti perintah AJ. Ia kemudian menyodorkannya pada AJ. AJ mengambilnya.
"Karma bukalah." Suruh AJ. Karma menerima buku itu dengan ragu.
"Apa ini?" tanyanya.
"Bukalah, tapi jika di dalamnya kau menemukan tulisan dengan judul Puisi Hitam, langsung tutup," perintah AJ. Karma melirik AJ lagi lalu perlahan membuka sampul buku. Hingga terlihatlah tulisan di dalamnya. Karma terbeliak dan langsung menutup buku itu.
"Ini puisi Hitam."
AJ dan Jap saling bertatapan.
"Awasi anak itu Jap," suruh AJ
__ADS_1
"Baik."
TBC_