Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Karma


__ADS_3

"Yang paling dicurigai awalnya adalah Rere Utami, yang saat acara perpisahan di SMA Teratai menjadi MC, dan ia juga yang memberikan surat pada Purnomo, korban pertama dalam kasus ini. Tapi setelah melakukan pemantauan dan bahkan penyelidikan kami tidak menemukan bukti apapun. Hingga akhirnya kami melepaskannya dari daptar orang yang dicurigai." Frans berhenti sesaat sebelum melanjutkan lagi.


"Tapi dari semua kasus itu, kebanyakan para saksi menyebut pemberi surat itu adalah seorang gadis SMA berambut lurus panjang dan mengenakkan masker. Kata mereka mata gadis itu sangat dingin dan berambut lurus panjang. Tinggi gadis itu kurang dari 160 centimeter."


Gubrak! Gubrak!


Suara keras gebragan pintu terdengar beberapa kali. Bersamaan dari baliknya, seseorang berteriak-teriak agar pintu dibukakan. Frans mendengus sebal.


"Siapa orang bodoh di luar sana itu hah?" ucap Frans berjalan melangkah ke arah pintu, lantas memutar kunci dan menarik gagang. Dan setelah pintu terbuka terlihatlah tiga orang yang tengah bergumul: Dua polisi tadi melawan seorang pemuda tampan berpakaian rapi--dengan jas dan celana berwarna navy serasi--yang menutupi kemeja putih dan dasi merah. Frans terbeliak.


"Hentikan Karma!" bentak Frans pada pemuda itu yang kini tengah menindih salah satu polisi dan mencoba memukul wajahnya.


Karma menoleh lantas mengurungkan pukulannya dan bangkit mendekati Frans. Rambut lurus pemuda itu kini acak-acakan. Ia menatap Frans dengan tatapan lekat.


"Pemuda sinting," cerca salah satu polisi sembari mencoba membangunkan temannya yang terkapar di lantai tadi.


Karma menoleh sesaat. "Seperti inikah perlakuan kalian pada calon detektif terbaik di dunia?" Sebelah sudut bibirnya mengembang.


"Kau lebih cocok jadi bangkong daripada Detektif," ucap Frans.


"Terserah kau paman, mana AJ yang katanya detektif terbaik sedunia itu?" tanya Karma.


"Mau apa kau?"


"Aku mau bertemu dengannya." Karma mencoba masuk ke ruangan, namun segera Frans menghadangnya. Karma yang niatannya dihalangi langsung memutar bola mata malas.


"Kau tidak diundang, pergilah, atau kau mau aku hajar," ujar Frans lagi.


"Siapa dia, Frans?" Tanya AJ yang sudah berada di belakang Frans dan membuat pria blasteran itu agak terkejut.


"Bukan siapa-siapa dia cuma anak sinting," jawab Frans. Karma mencoba menatap AJ.


"Apa kau yang bernama AJ?" tanya Karma.


"Iya, tapi itu bukan nama asliku, aku sendiri hampir lupa dengan nama asliku."


"Ijinkan aku bergabung dengan Tim INU, aku mohon."

__ADS_1


Frans mengernyitkan dahi. "Jangan bercanda, anggota INU adalah mereka yang memiliki pengalaman dan kecerdasan tinggi. Kau mungkin pintar-aku tahu itu karena ayahmu sering menceritakan dirimu-tapi pengalamanmu kurang."


"Ayolah, pengalaman tidak penting, aku punya tekat kuat dan aku juga lulusan AKPOL*."


"Lulusan AKPOL lebih cocok bekerja di kantor," tukas Frans lagi.


"Jadi kau perwira?" ujar AJ.


"Bukan sembarang perwira, selama setahun ini setelah lulus dari AKPOL aku juga ikut pelatihan kusus di Tim Gegana dan Densus 88. Melatih bela diri dan menembak. Aku akui salah masuk saat seleksi jadi Polisi, harusnya aku masuk Bintara, bukan malah Perwira. Kukira tadinya di Polisi tidak ada pembagian seperti itu, meskipun ayahku adalah seorang anggota polisi tapi dulu aku sama sekali tidak tertarik jadi Polisi. Jadi ....."


Frans menggeleng-gelengkan kepala, benar-benar lucu pikirnya anak ini, atau tepatnya ****.


AJ manggut-manggut. "Aku paham, dari tampangmu saja kau tidak ada cocok-cocoknya di dunia kemanagerialan. Kau cocok bekerja di lapangan. Kau boleh bergabung dengan INU."


Karma semringah, sementara Frans ternganga.


"AJ kau jangan main-main," ujar Frans.


"Aku tidak main-main, dan aku tidak pernah main-main. Apa kau meragukkan kepemimpinanku Frans?" Frans mematung. AJ tiba-tiba nampak jadi mengerikan dimatanya. Tidak, dia sudah nampak mengerikkan sedari kehadirannya tadi, tapi ia tidak terlalu memperhatikannya: dingin, tegas, tenang dan misterius. Sebenarnya siapa pria ini. AJ, dia muda atau tua? Aj, pria yang telah memecahkan banyak kasus penting di seluruh dunia. Harusnya Frans sadar sedang bekerja dengan siapa. Dia harus sebisa mungkin mematuhi AJ.


AJ berbalik. Frans juga berbalik dan dilihatnya Aditia juga sudah sedari tadi di belakangnya dan mungkin juga mendengar semua percakapan tadi. Frans berbalik lagi sesaat menatap Karma yang hendak masuk ke ruangan dengan wajah semringah. Pintu kembali dikunci oleh pria blasteran itu.


AJ duduk di kursi sebelumnya. Aditia juga. Frans enggan duduk begitu juga Karma.


"Karma, kau anak dari Thirto kan?" tanya AJ. Thirto, ayah Karma adalah mantan Irjen Polisi atau Kepala Polisi Metro Jaya yang memiliki pangkat bintang dua. Sebelum dirinya ditemukan tewas diduga karena Puisi Hitam.


Frans tercengang. AJ sepertinya tahu banyak hal tentang kepolisian di sini, bahkan keluarga mereka. Mungkin dia juga selama ini memperhatikan kepolisian di Metro Jaya ini. Dan Frans semakin yakin kalau AJ bukan orang biasa.


"Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau selama ini mengawasiku?" tanya Karma heran. AJ tak menjawab.


Suara dering tetiba terdengar dari komputer. "Ada E-mail masuk!" seru Aditia langsung memposisikan tangan kanannya ke mouse.


"Dari Kepolisiankah?" tanya Frans.


"Bukan, tapi dari, Ji-ki-nin-ki. Oh susah sekali mengejanya." Aditia membuka Email, hingga terbukalah Email tersebut. Ia membaca bagian tulisan paling atas Email tersebut yang bertuliskan Puisi Hitam. Karma, Frans dan AJ seketika mendekat.


"Apa ada Kepolosian yang iseng?" tanya Frans.

__ADS_1


"Apa Email ini dari si pelaku?" tanya AJ.


"Email kita cuma pihak kepolisian yang tahu, nampaknya ini bukti baru dari kepolisian." jelas Aditia. Aditia mulai membaca tulisannya dengan nada perlahan, yang lain mendengarkan.


'Puisi Hitam.'


'Puisi indah bukanlah cinta, tapi untaian mantra.'


'Dan kata-kata ini adalah jalan ke alam baka.'


'Jikininki adalah iblis, ia teman si gadis.'


'Dia suka si gadis seperti sukanya pada kelopak lili.'


'Pada tanduk domba hitam juga.'


'Dan pada daging atau darah.'


Udara dingin tetiba berhembus disekitaran mereka. Karma yang memakai jas pun harus menyilangkan tangan sembari mengelus-elus bahunya.


"Apa ini puisi?" ucap Aditia menatap kearah AJ dan Frans.


"Benar," jawab AJ.


Aditia menghela napas, tapi tetiba matanya membeliak karena merasa sakit yang luar biasa di dadanya. Tangan kirinya meremas dadanya yang sakit. Seluruh pandangannya perlahan memburam. Dan tubuhnya terasa lemas. Ia melihat Kado untuk Amel. Mencoba untuk meraihnya sekuat tenaga dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Kenapa ini? pikirnya, kenapa dengan jantungnya. Aditia meraih kado untuk Amel tapi setelah itu semua gelap. Tubunya jatuh kelantai dengan darah keluar dari hidung dan mulutnya. Kado yang sempat ia raih juga ikut jatuh dan tergoler tepat disampingnya.


AJ, Frans, dan Karma terkejut bukan main, mereka bingung apa yang terjadi dengan Aditia. Frans langsung berjongkok ke arah tubuh Aditia. Sementara AJ mencoba cepat melirik apa yang ada di Komputer. Email tadi tiba-tiba menghilang dan komputer dengan sendirinya kembali ke tampilan utama.


AJ dengan cepat membuka Email: kembali menyelidiki Email terakhir yang berasal dari Jikininki. Ia ingat nama itu, nama yang sulit memang bagi yang baru mendengarnya, tapi ia sudah mendengar nama itu sebelumnya. Mata AJ membeliak ketika Email dari Jikininki sudah tidak ada.


Frans memeriksa urat nadi Aditia. Ia memejamkan mata karena temannya sudah tewas.


Karma yang tak paham cuma terkejut keheranan.


TBC_


*AKPOL : Akademi Polisi untuk Perwira. Cuma ada satu di Indonesia yaitu di Semarang.

__ADS_1


__ADS_2