
Hingga Karma dan AK tiba di Jakarta, keduanya belum mendapat kabar dari puisi hitam lagi.
Di sofa ruang tamunya kini Karma tengah melamun sembari memegang keningnya yang agak pusing. Di depannya AK dengan santai menyeruput teh hangat yang tadi dibikin oleh pembantu Karma. Tangan kanannya kemudian mengambil kue di piring lantas memasukan ke dalam mulut. Ia mengunyahnya dengan lahap.
"Kue ini enak sekali, sama enaknya dengan kue buatan almarhum istriku," ucap AK. Karma langsung meliriknya.
"Istrimu sudah meninggal?" tanya Karma ingin lebih memastikan.
"Heem, dia wanita yang cantik dan baik." Ucapannya terjeda karena AK kembali menyeruput teh hangat. "Rambutnya hitam pendek sebahu, matanya tajam dan tegas, tubuhnya ramping dan bibirnya indah. Aku bahkan bisa membayangkannya sekarang dengan jelas. Dia berdiri di belakangmu Karma."
"Aku bukan bayangan almarhum istrimu. Aku pemilik rumah ini. Karina, ibu dari Karma," ucap wanita yang dikira AK adalah bayangan istrinya.
AK agak terkejut. Karma sendiri melirik sesaat ke arah ibunya sebelum kembali menatap AK.
"Memangnya istrimu meninggal karena apa?" tanya Karina sembari melenggang untuk duduk di samping Karma.
"Sakit."
"Apa ia benar-benar mirip sepertiku?"
"Sama cantiknya denganmu Nyonya."
Obrolan keduanya serasa tak nyaman ditelinga Karma. Obrolan orang dewasa yang nampak punya maksud untuk saling mengenal secara dalam.
Setengah jam berlalu, Karma mulai dihinggapi kantuk sampai beberapa kali menguap. Hingga kantuknya hilang setelah ponsel di saku celananya tiba-tiba berbunyi, lantas memerikasa penda pipih tersebut dan mendapati sebuah pesan dari puisi hitam:
"Karma turuti kemauanku jika kau ingin Krina selamat. Pergilah sendiri ke dermaga 2 pelabuhan sekarang juga. Aku tunggu."
"AK mereka memberi pesan lagi." Karma memberikan ponselnya pada AK. Lantas AK membaca pesannya.
"Buru-buru sekali mereka, tak membiarkan kita istirahat sedikitpun," ujarnya.
"Aku harus segera pergi," Karma bergegas bangkit, bersamaan Karina dan AK memperhatikannya.
"Pergi kemana? Baru juga datang dari perjalanan jauh, istirahat dulu," ucap Karina.
"Ada tugas penting, mah."
"Tugas kepolisian lagi? Bukannya kau sudah keluar dari kelompok itu?"
__ADS_1
"Tidak, Mah. Tim INU akan tetap ada sampai kejahatan Puisi Hitam benar-benar lenyap dari bumi ini. Dan Karma akan menyelesaikan semua ini sekaligus membalaskan dendam atas kematian ayah."
Karina bangkit, dan langsung memeluk putranya sesaat. "Kalau begitu hati-hati, restu dan doa mamah selalu menyertaimu Karma."
Karma mencium kening Mamahnya. "Terimakasih Mamah."
Sejurus kemudian Karma dan AK langsung bergegas keluar. Keduanya kembali menaiki motor gede Karma, untuk kali ini menuju ke Pelabuhan. Di awal keberangkatan AK menyinggung soal kecantikan mamah Karma. Karma tak terlalu menanggapi, ia hanya memperingatkan AK untuk jangan coba-coba mendekti mamahnya. Karena ia tak suka jika AK jadi ayah tirinya nanti.
Langit di kota cerah, hanya saja kerlip bintang tersamarkan oleh pancaran cahaya dari lampu-lampu gedung pencakar langit. Udara lembab. Sementara jalan ibukota yang dilalui Karma dan AK ramai lancar. Namun kekhawatiran tak membiarkan perasaan Karma
untuk tenang.
"Krina, dimana kamu?"
Pukul 3 pagi Karma tiba di tempat yang sudah ditentukan oleh Puisi Hitam. Yakni di sebuah lapangan peti kemas pelabuhan, tepat pinggir dermaga. Ia melihat isi pesan terakhir Puisi Hitam di layar ponselnya yang bertuliskan ucapan terima kasih karena telah menuruti perintah dengan baik.
Karma memasukkan ponselnya lagi ke saku celana. Angin sepoi-sepoi dingin dari arah laut menyibakkan sedikit rambut dan kemeja putihnya. Ia memperhatikan salah satu kapal peti kemas besar yang bersandar di dermaga, yang didekatnya juga pada menjulang crane-crane biru tinggi nan kokoh. Pandangannya kemudian ia alihkan pada peti kemas beragam warna dan tulisan yang tersusun rapi tak jauh darinya. Suasana sangat sepi.
Samar-samar dari balik sebuah peti kemas, seorang pria yang wajahnya tak terlalu jelas--karena masih tersamarkan kegelapan--berjalan perlahan kearahnya. Yang jelas orang itu memakai hodie warna pink dengan celana jeans hitam.
Makin lama orang itu semakin mendekati Karma. Hingga akhirnya wajahnya yang memakai topeng badut berbola mata merah terlihat dengan jelas. Orang itu berhenti melangkah satu meter di depan Karma.
"Dimana Krina?"
"Tak perlu cemas, dia berada ditempat yang aman."
"Mau apa kau?" Karma kembali memperhatikan penampilan orang di depannya itu dengan seksama. "Kau Raka kan? Bukalah topengmu, jangan jadi pengecut," tuduh Karma kemudian tanpa bukti.
"Haha benar, kau nampak sudah mencurigaiku selama ini." Orang itu melepaskan topengnya dan terlihatlah wajahnya yang masih muda dengan rambut hitam lurus agak acak-acakan. Yang memang benar kalau dia adalah Raka. "Atau kau sebenarnya cuma cemburu hingga menuduhku adalah pelakunya?"
"Bukannya kau yang cemburu karena aku merebut Krina darimu, dan akhirnya kau bergabung dengan Puisi Hitam karena frustasi?"
Lingkar mata Raka menyipit dan ia kemudian terbahak. "Terdengar mengenaskan sekali nasibku. Aku melakukan kejahatan besar cuma karena cinta? lucu sekali ... seolah aku tidak punya harga diri saja."
"Semua kejahatan ini tidak ada hubungan sedikitpun dengan Krina. Aku melakukan semua ini cuma untuk menghilangkan rasa bosan di dunia yang penuh kegabutan ini. Dan bukan seperti dugaanmu yang mengira aku bergabung dengan Puisi Hitam, karena akulah yang menciptakan kelompok puisi hitam itu sendiri. Akulah penyebab semua keonaran ini. Akulah yang nantinya akan menentukan nasib kalian semua."
"Kau benar-benar sudah gila. Untuk apa melakukan hal bodoh seperti itu?"
"Kan sudah aku bilang kalau aku cuma sedang gabut saja." Raka tersenyum miring. "Seseorang yang bodoh pernah bilang padaku, ketika kau punya kekuatan, lakukan hal-hal menarik yang membuat jiwamu puas. Buat permainan, pertarungan, perlombaan. Aku kini sudah punya kekuatan itu dan akan melakukan hal yang ia suruh."
__ADS_1
"Saran dari orang bodoh seharusnya jangan kau dengarkan."
"Hehe, orang bodoh itu adalah calon mertuamu, ayah Krina. Orang paling sombong yang pernah aku temui."
Karma jadi teringat ucapan Krina dahulu kalau ayahnya tak merestui Raka mendekatinya. Apa mungkin Raka sakit hati gara-gara itu?
Raka kembali berujar, "Saat ini aku sedang ingin melakukan pertarungan, dan kau adalah orang yang tepat untuk menjadi lawanku. Buatlah duniaku tidak gabut lagi." Raka melemparkan topeng ditangannya kesembarang arah dan meregangkan tangan dan jemarinya seolah bersiap untuk mulai bertarung.
Karma mengambil pistol dari saku celananya, dan langsung mengarahkannya pada Raka.
"Tangan kosong saja," ucap Raka. "Kalau kau memang seorang lelaki."
Karma menghela napas lantas melempar jauh pistolnya. "Akan sangat mudah mengalahkanmu," ujarnya kemudian.
"Haha kita lihat saja siapa yang akan mati duluan," balas Raka santai.
Di tempat lain. Tepatnya di ruang depan apartemen tempat penyekapan Krina. Krina dan Ruru sudah sedari tadi menonton keduanya lewat monitor.
Semua memang sudah jadi skenario Raka agar Krina menonton pertarungan antara dirinya dan Karma. Jadi sore tadi ia sengaja memasang kamera di beberapa titik yang akan dijadikan arena pertarungan.
Air bening terus mengalir di pipi Krina. Ia benar-benar takut melihat kedua orang yang paling dicintainya akan saling membunuh.
Krina bangkit berniat menghentikan keduanya. Namun langsung saja ia mendapat todongan senjata dari Ruru, yang juga langsung menyuruh gadis cantik berambut lurus itu untuk menonton pertarungan antara Raka dan Karma lagi.
"Raka membolehkan aku membunuhmu jika kau tak menuruti perintahku."
Krina menatap Ruru nanar dengan air mata yang terus mengalir. "Raka tak mungkin mau melihat aku mati!" tegasnya.
"Aku serius dengan ancamanku!" murka Ruru yang langsung menembakan pelurunya ke bahu Krina. Hingga Krina langsung jatuh dan mengerang kesakitan.
Ruru menjambak rambut Krina dan memaksa kepala gadis itu untuk kembali mengarah ke layar monitor. Krina hanya bisa menangis sambil menahan sakit di bahunya yang berdarah.
Raka dan Karma saling berteriak mengambil ancang-ancang untuk kemudian saling mendekat dengan berlari dan kemudian saling memukul wajah satu sama lain. Keduanya sedikit terpental namun masih pada berdiri.
Raka merasakan darah segar sedikit keluar di bibir atasnya. Sementara Karma merasakan hidungnya berdarah dan tanpa ia sadari darah tersebut sudah membuat noda pada kemeja putihnya.
Keduanya saling bertatapan sambil mengatur napas.
TBC
__ADS_1
BLACKPOEM.