Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Gadis Poni, Ruru


__ADS_3

"Padahal tadinya aku menginginkan kau tetap hidup hingga kasus ini selesai. Namun Tuhan punya renacan lain ternyata." Frans menabur bebungaan di Atas makam Aditia.


Tak terlalu jauh dari Frans, dari balik pohon kamboja, seorang tengah mengawasi. Seorang gadis bermasker dengan rambut panjang. Tatapannya dingin dan dalam dan penuh kebencian.


*****


Di meja kerjanya, Alena terus mencari data soal Sinyo Harahaf si hacker. Soal kenapa semalam earpiece Frans tidak tersambung ke Markas atau AJ. Ia menduga Sinyo sudah menggunakan alat penyadap, entah alat seperti apa.


Alena menghela napas, terus berada di markas tim INU kadang memang terasa membosankan. Terlebih AJ juga tidak ada sekarang, karena tengah meninterogasi kedua orang yang ditangkap semalam. Juga menyelidiki dua orang polisi gadungan yang tewas oleh ayahnya semalam. Ia bangkit dan merenggangkan otot-ototnya. Lalu melangkah menuju jendela dan membukanya. Seketika cahaya mentari masuk dan menerangi ruangan itu. Di luar sana gedung-gedung pencakar langit nampak megah dan kokoh.


Alena kembali bergerak, menuju dispenser untuk membuat kopi. Lantas membuatnya.


Diaduknya perlahan dengan sendok setelah ia menambahkan air panas ke cangkir gelas. Ia mencoba meminumnya, tapi diurungkan karena nampak masih panas. Alena menaruhnya lagi di dekat dispenser. Ia melangkah berbalik untuk pergi ke kamar mandi.


Kempring!!!


Alena berbalik lagi dan dilihatnya kini cangkir miliknya telat pecah di tanah. Ia tertegun sesaat, kenapa bisa pecah, pikirnya benar-benar heran. Ia mendekat; berjongkok dan membereskan pecahan gelasnya. Saat gadis itu mengambil pecahan terbesar jemarinya tak sengaja tergores dan membuatnya berdarah.


"Ish kenapa ceroboh sekali aku ini," gumam Alena kesal sembari memperhatikan darah segar yang keluar dari jemarinya.


Cuaca memanas ketika Frans berada di sebuah trotoar. Kini ia menunggu bus yang mau pergi ke daerah Depok; berencana melihat turnamen burung kicau. Sudah lama ia tidak melihat turnamen itu lagi. Hobi Frans dulu memang memelihara burung kicau, jenis apa saja: Love Bird, Jalak, Kacer, Cucak ijo, Kenari, Kolibri hingga Burung Kacamata. Ia dulu juga sering ikut turnamen ini dan memenangkan kejuaraan.


Bus berukuran kecil datang beberapa saat kemudian. Frans naik lewat pintu depan. Tanpa sepengetahuan Frans gadis bermasker yang tadi memperhatikannya di kuburan ikut naik lewat pintu belakang.


Suasana bus lengang. Frans duduk di jajaran tengah dekat jendela. Gadis bermasker tiba-tiba duduk di sampinya. Frans memperhatikannya sejenak, heran kenapa ia duduk di sampinya padahal banyak kursi kosong lain. Frans lalu tak mengacuhkan, memang apa salahnya juga duduk dengannya, pikirnya mencoba berpikir tenang. Bus masih mengetem menunggu penumpang lain.


"Liburan, Paman?" tanya gadis itu pada Frans. Lingkar mata gadis itu sedikit menyipit. Nampak di balik maskernya ia tengah tersenyum.


"Benar," jawab Frans ramah. "Kau sendiri mau kemana, Nak?"


"Berkunjung ke rumah Teman," jawab gadis itu dengan suara lembutnya.


Lima menit kemudian bus melaju. Frans menguap. Dari semalam ia belum tidur.


"Paman kalau ngantuk tidur saja. Nanti aku kasih tahu kalau paman sudah sampai, tapi sebelumnya paman ini sebenarnya mau ke mana?" Dan Frans menceritakan tujuan ia pergi.


"Terima kasih ya." Frans menguap.


"Iya Paman nanti saya bangunkan."


"Kamu memang anak baik," kata Frans mememperhatikan sesaat gadis di sebelahnya dengan tersenyum. Ia kemudian menutup mata dan tertidur.


"Tidurlah sampai kau tidak bisa membuka matamu lagi," gumam gadis itu pelan.


Diperhatikannya langit biru di luar sana. Lalu pada Frans. Gadis itu lantas mengeluarkan ponselnya. Ia membuka voice recorder; menyetel dan mendekatkan ponselnya ke telinga Frans.


"Saat tidur pendengaran masih tetap terjaga dan pendengaran juga adalah indera yang terakhir berfungsi saat menjelang kematian manusia. Ah, nampaknya sudah selesai." Gadis itu menarik ponselnya lagi dan memasukannya ke dalam tas.


Frans tiba-tiba membuka mata dan ia langsung memegang jantungnya karena merasa sakit. Kenapa ini, pikirnya. Ia kembali teringat di mimpinya tadi soal seseorang yang membacakan puisi hitam.


"Kenapa, Paman?" tanya si gadis.


Frans menoleh perlahan. "Ja-jantungku sakit, tolong aku." Pandangan Frans memburam. Dalam samarnya Frans melihat gadis itu membuka maskernya. Di belakangnya berdiri sosok makhluk seperti monster besar dan bungkuk. Dan semua jadi terasa menyakitkan dan hitam.


Gadis itu mengenakan maskernya lagi, dan lantas bangkit. Sesaat menatap tubuh Frans yang kini sudah jadi mayat sebelum ia melangkah untuk turun dari bus.


Alena tengah makan siang ketika AJ datang ke arahnya dengan terlihat terburu-buru. Gadis itu menghentikan aktivitasnya ketika AJ tiba di hadapan.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Alena menengadah.


"Selesaikan dulu makanmu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."


"Kenapa tidak bicara sekarang saja?"


"Sudah selesaikan dulu makanmu." Dan Alena menuruti perintah AJ. Setelah selesai barulah AJ memberitahukan apa yang ingin dibicarakan. Yaitu soal kematian Frans. Wajah Alena yang putih anggun seketika nampak merah muram.


*****


Pemakaman Frans benar-benar dihadiri banyak orang dan hampir semuanya berpakaian hitam. Sangat muram dibawah suasana yang tengah cerah. Alena nampak bisa tegar dengan kematian ayahnya, bahkan ia tetap tenang saat peti jenajah dimasukan ke liang lahat. Berbanding terbalik dengan bundanya atau Istri Frans yang jatuh pingsan.


Di sudut agak jauh. Terlihat Karma, AJ, Yuke dan Wina. Wajah mereka juga terlihat masam, kecuali AJ yang tak terlihat karena masih mengenakan topeng iblisnya.


"Sialan, akan aku bunuh penjahat-penjahat itu," umpat Karma benar-benar kesal. AJ tak acuh cuma menatap pemuda itu sesaat.


"Bukankah katamu penjahatnya sudah tertangkap Karma? Kenapa Frans masih bisa terbunuh? Apa kalian salah tangkap?" Yuke memberondong dengan pertanyaan.


"Penjahatnya tak cuma satu Yuke," sahut AJ, "entah penjahata ini bersekongkol atau bekerja sendiri-sendiri."


"Aku ingin lihat penjahat yang kita tangkap waktu itu," kata Karma menatap mata AJ.


AJ tak langsung menjawab. Ia menatap Yuke. "Yuke, aku akan kirimkan polisi untuk menjagamu sebagai pengganti Karma." Ia menoleh pada Karma. "Karma, Ayo ikut." Lelaki itu lalu melangkah, Karma mengikuti. Angin agak kencang berhembus menabrak rambut dan pakaian Yuke dan Wina hingga terkibas. Bunga kamboja berjatuhan dan daun-daun keringnya melayang terbawa angin.


AJ dan Karma kini berada dalam mobil di perjalanan ke Kantor Polisi Jakarta Selatan. Suasana jalanan ramai lancar dan cuaca masih tetap cerah dengan langit biru tanpa awan.


"Aku ingin tahu siapa yang waktu itu kita tangkap." ucap Karma sambil menyetir mobil.


"Dua polisi gadungan yang mati karena Frans tembak aslinya adalah para pekerja proyek. Mereka cuma suruhan." AJ berhenti sesaat. "Satu polisi gadungan yang tertangkap juga teman mereka. Tidak pernah ada rekam jejak kejahatan dari mereka sebelumnya, mereka melakuakan kejahatan ini karena sedang butuh uang."


"Gadis bermasker yang kami tangkap itu?"


"Kenapa kalian tidak memaksanya?"


"Jangan buru-buru."


"Kalau tidak buru-buru korban akan makin banyak berjatuhan."


"Karma, yang aku rasa Feby adalah bagian penting dari kejahatan mereka. Jadi aku akan lihat reaksi penjahat yang lain dulu. Penyerangan pada Frans membuktikan kalau mereka sudah mulai panik dan ceroboh, dan aku rasa ini ada hubungannya karena tertangkapnya gadis bermasker yang bernama Feby itu."


Mobil berhenti di parkiran kantor polisi Jakarta Selatan. AJ dan Karma turun dan langsung bergegas ke tempat dua penjahat itu ditahan sementara. Ke tempat khusus pengintrogasian.


AJ dan Karma tiba di ruangan yang mereka tuju. Dua orang polisi langsung membawa Feby yang kedua lengannya terborgol juga ke ruangan itu. Mereka menyuruh duduk Feby disebuah kursi dekat meja, berhadapan dengan AJ dan Karma. Kedua polisi itu langsung undur diri.


Feby mengenakan pakaian tahanan berwarna biru. Kepalanya tertunduk hingga poni nya menghalangi hampir separuh wajahnya.


"Perlihatkan wajahmu," suruh Karma. Feby cekikikan.


"Untuk apa?" Feby balik bertanya. Karma bangkit dan mendekati Feby. Ia langsung menggengam dagu gadis itu dan membuat kepala gadis itu menengadah. Setelah wajah Feby terlihat Karma agak tercengang.


"Aku serasa pernah bertemu gadis ini. Tapi aku lupa dimana," kata Karma.


"Kuharap kau benar-benar pernah bertemu dan membuat karangan," ucap AJ.


"Entahlah." Karma juga ragu apakah ia pernah bertemu dengan gadis ini. Ia memperhatikan wajah Feby sekali lagi dan mengingat-ingat. Ia terbeliak.


"Aku pernah bertemu dengannya AJ. Dia gadis yang aku temui dan tunanganku di Kafe. Teman dari mantan pacar tunanganku." karma mengingat-ingat lagi. "Tapi aku lupa namanya."

__ADS_1


"Kau salah orang kali ****," ucap Feby.


"Raka!" gumam Karma setelah mengingat-ingat nama mantan Krina. "Kau teman pemuda yang bernama Raka itu."


"Siapa Raka?" tanya AJ.


"Manatan pacar tunanganku."


Feby tiba-tiba tertawa. "Iya benar, aku memang pernah bertemu denganmu Karma, waktu itu rambutku masih panjang kan? Dan ketahuilah namaku adalah Ruru bukan Feby. Dan aku adalah dalang di balik seluruh Puisi Hitam." AJ dan Karma menatap Feby dalam.


"Untuk apa kau melakukan ini?" tanya karma.


"Tentu saja untuk membuat dunia yang lebih baik, dunia tanpa makhluk kotor dan serakah."


"Benarkah begitu."


"Tentu saja. Aku akan menciptakan dunia ideal yang hanya ada kebahagiaan, tanpa kesedihan, tanpa air mata."


"Tidak ada dunia yang seperti itu."


"Tentu saja ada. Aku yang akan yang menciptakan dan memimpinnya. Dengan Blackpoem semua akan tunduk padaku. Kalian yang mencoba melawan hanya akan berurusan dengan kematian. Dan ketahuilah dunia idealku sebentar lagi akan terwujud. Sebentar lagi."


"Sebentar lagi kau hanya akan mendekam dipenjara," kesal Karma.


"Haha benarkah. Kau terlalu meremehkan kekuatan Puisi Hitam. Dengar! Tak lama lagi anak buahku akan datang kemari menyelamatkanku." Karma mencengkaram erat kerah baju Feby atau Ruru. Ia menatap gadis itu nanar. Feby membalas dengan tersenyum meremehkan.


"Lepaskan dia Karma. Ucapan gadis itu belum tentu benar."


"Ucapanku benar AJ," ucap Ruru. Yang membunuh Aditia lewat email itu aku, yang membunuh Hengs di gudang juga aku. Dan kematian Frans juga atas perintahku. Kalian berdua tak lama lagi juga akan mati. Oh iya, teman kalian yang kini menjaga adikku juga, aku lupa namanya."


"Jap."


"Iya Jap. Haha sebentar lagi dia juga akan mati." Ruru menyipitkan mata. "Karma. Kematian ayahmu dulu juga karenaku." Ruru tersenyum jahat.


Tubuh Karma melemas dan perlahan ia melepaskan cengkramannya. Pemuda itu mengepalkan tangannya.


"Karma tenang, dia cuma sedang mempermainkanmu," ucap AJ. Karma menghela napas.


"Aku masih ragu kau dibalik semua ini," ucap AJ.


"Apa yang kau ragukan AJ?" Ruru tertawa keras.


"Jika kau memang dibalik semua ini sekarang aku ingin tahu bagaimana Puisi Hitam itu bekerja."


"Haha sudah kuduga kau penasaran soal Puisi Hitam."


"Apa ini sihir."


"Bisa dibilang seperti itu."


"Ceritakan apa itu Puisi Hitam."


"Untuk apa aku menceritakannya."


AJ mengeluarkan pistol dari dalam pakaiannya. "Dengar Ruru, aku bisa saja membunuhmu kapanpun aku mau, dan tidak akan ada akibat bagiku jiga melakukannyapun."


"Kau pikir kau bisa mengancamku AJ. Dengar aku tidak peduli jika aku mati. Yang aku peduli jika dunia ideal yang aku inginkan akan bangkit sebentar lagi. Kalaupun aku mati masih ada Ruru lainnya yang akan menggantikanku." Ruru terkikih. "Hah tapi tenang saja, dengan senang hati aku akan menceritakan apa itu Puisi Hitam, asal-usul dan tujuan. Biar kau tidak mati penasaran nanti karena teman-temanku akan kemari sebentar lagi dan membunuh kalian berdua."

__ADS_1


TBC_


__ADS_2