
Tik, Tok, Tik, Tok
Cuma suara dari jam dinding yang sedari tadi menemani Karma dengan laptopnya. Hingga kini sudah pukul 3.45 Pagi. Belum ada tanda-tanda seseorang mendekati kamar apartemen Yuke.
Sudah tak terhitung berapa kali ia berangguk-angguk karena rasa kantuk. Karma harap penjahat itu segera menampakan diri, karena ia sudah bosan menunggu. Kalau ketemu ia akan buat penjahat itu remuk hingga penyek. Punggung tanganya menggosok-gosok mata lagi.
Pemuda itu menatap layar laptop yang menampakan gambar luar apartemen. Perlahan pandangannya mulai kabur, ia sudah benar-benar tak kuat menahan kantuknya. Matanya memejam.
Di layar laptopnya terlihat seseorang bermasker berhenti di depan pintu.
"Karma! Karma!" ucap suara AJ dari bando yang dikenakan Karma sebelumnya, "Karma bangun!!! Karma!!!" teriak AJ di seberang sana. Karma membuka mata. Ia terlonjak langsung menatap layar laptop dan ia terbeliak: ketika melihat orang di layar laptop itu berjongkok. Karma lekas berlari ke arag pintu.
Di bukanya pintu dengan keras. Dan tanpa pikir panjang ia todongkan pistol pada orang tersebut. Orang yang ditodong terlihat menengadah dan menatap Karma terkejut.
"Angkat tangan dan Jangan bergerak!" Tegas Karma, sembari memperhatikan rupa pria tersebut yang tak terlihat jelas karena mengenkan masker. Pria itu menuruti perintah Karma. Karma menginjak surat yang tadi dibawa Pria ini.
Pria itu tiba-tiba bangkit dan kemudian berlari terburu-buru. Karma membeliak lantas menyuruhnya berhenti sembari mengarahkan pistol padanyya. Ia menembak. Dan kena tepat di kaki.
Karma sudah berdiri di hadapan pria tersebut yang tengah kesakitan. Ia memukul wajahnya kemudian, hingga darah segar terlihat keluar dari hidungnya membasahi masker yang menutup wajahnya. Karma cepat-cepat menarik masker tersebut. Hingga wajah pria itu yang ternyata masih muda terlihat.
"Siapa kau?" tegas Karma dengan tatapan nanar.
Bahu Karma didorong sedikit seseorang yang tak lain adalah Frans. Frans juga memperhatikan penampilan pria tersebut.
Karma membungkuk menarik kerah baju pria muda itu dengan erat. "Siapa kau? Kau yang selama ini menulis puisi hitam kah?"
Wajah pria muda itu terlihat benar-benar ketakutan. "Aku cuma disuruh, aku mohon jangan tangkap aku."
Yuke dan Wina yang masih memakai baju tidur berhenti di belakang mereka. Keduanya nampaknya terbangunkan karena kegaduhan ini. Beberapa pintu apartemen lain juga terbuka dan penghuninya pada mengintip melongok keluar.
"Kita tanya dia nanti di kantor polisi." Frans membungkuk meraih tangan pria muda itu dan memborgol tangannya. "Bantu aku angkat pria ini, Karma!" Karma menuruti perintah Frans. Yuke mendekat, ia langsung memperhatikan wajah si pria muda dengan menyipitkan mata.
"Kau mengenalnya?" Tanya Frans pada Yuke.
"Tidak!" jawab Yuke singkat. Ia menatap dalam-dalam si pria. Yang ditatap cuma menunduk.
Karma dan Frans memapah pria itu, membawanya ke kantor polisi.
*****
"Aku baru bangun, tapi sudah mendapat kabar menyenangkan Jap." ucap AJ dari telepon, "Karma dan Frans sudah menangkap orang yang selama ini meneror Yuke."
"Apa ia penulis Puisi Hitam itu?" tanya Jap. Ia kini tengah berjalan ditrotoar hendak menuju sekolah.
"Entah, kami belum menginterogasinya. Kau tetaplah jalankan misimu. Awasi Rena dan Raisa."
__ADS_1
"Iya. AJ entah mengapa aku sangat mencurigai Raisa."
"Simpan dulu prasangkamu Jap, kita belum terlalu punya banyak bukti."
Telepon ditutup. Jap memasukan benda pipih itu ke saku celananya. Gerbang SMA Teratai sudah terlihat. Anak-anak satu persatu melewati gerbang tersebut; kebanyakan mengendarai motor. Langkahnya terhenti ketika mendapati pria 30 tahunan berkacamata memakai baju dinas berdiri tenang di kursi trotoar.
"Pagi, Jap!" sapanya.
"Pagi," jawab Jap. Pria didepannya ini adalah Hangs, tangan kanan AJ lainnya.
Mentari meninggi. Di Markas, lewat laptopnya AJ masih memperhatikan gerak-gerik Raisa dan Rena yang kini tengah mengikuti pelajaran sekolah. Sejauh ini masih belum ada tanda-tanda mencurigakan dari keduanya. Selain dari kedua anak itu, AJ sebenarnya mengawasi banyak orang lainnya, salah satunya Rere Utami, si MC perpisahan dulu. Tapi dari semua orang yang dicurigai, Rena dan Raisalah yang paling menarik perhatian AJ.
*****
Krina mengedarkan pandangan ke sembarang sudut kafetaria ini. Yang masih sepi pengunjung. Lantas ke arah luar. Karma belum juga datang. Ini sudah pukul 2 lebih, dan tunangannya itu sudah telat 7 menit. Menyebalkan.
Bibirnya ia biarkan menyeruput Capuccino perlahan. Menaruh kembali gelas ke meja bundar dan lantas menjamah pena dan kertas yang dibawahnya teralasi buku tebal. Sambil menunggu Karma mending ia menulis puisi lagi, sudah lama ia tidak menulis puisi. Gara-gara kasus Puisi Hitam ini, kesenangannya dalam menulis benar-benar jadi terganggu.
"Krina!" sapa sebuah suara bariton yang lantas membuat Krina mendongak. Keterkejutan langsung terlihat di wajah menawannya.
"Raka!" ucap Krina pada pemuda agak kurus berkulit putih pucat, bermata agak sipit dan berambut hitam lurus. Di sebelah pemuda itu juga berdiri seorang gadis muda berambut panjang lurus dan memiliki poni, tatapan gadis itu sangat teduh.
"Lama tak bertemu," lanjut Raka tersenyum. Ia menyodorkan tangan pada Krina. Krina menerima jabatan tangan pemuda itu dengan senyum yang dipaksakan.
"Ini temanku." kata Raka menunjuk gadis disampinya.
"Kenapa sendiri?" lanjut Raka lagi.
"Aku sedang menunggu tu-nanganku," jawab Krina agak ragu. "Kau sendiri sedang apa?"
"Memesan kopi, tapi tidak untuk minum disini," kata Raka.
Seseorang datang kedekat mereka yang tak lain adalah Karma. Karma sesaat beradu pandangan dengan Raka.
"Rak! Ini tunanganku Karma." kata Krina. Raka tersenyum.
"Aku senang bisa menemuimu lagi Krin, ingin mengobrol juga tentang kehidupanmu setelah SMA. Tapi aku sedang buru-buru," jelas Raka. Krina mengangguk. Raka dan Ruru langsung berjalan menuju tempat pemesanan kopi.
Karma duduk disamping Krina. Ia memperhatikan wajah Krina yang tiba-tiba jadi masam. "Maaf terlambat Krin."
"Aku maafkan tapi jangan ulangi lagi."
"Iya." Karma menatap kearah Raka dan Ruru sesaat. "Siapa mereka?"
"Dia Raka. Mantan pacarku di SMA."
__ADS_1
"Mantan yang pernah kamu ceritakan itu ya. Yang punya hobi menulis puisi sepertimu kan?"
"Benar," lirih Krina.
"Kamu nampak masih menyukainya." Karma langsung menerima tamparan buku dari Krina.
"Jangan ngaco."
"Hehe aku bercanda Krin." Karma mengusap-usap kepala Krina dengan kedua sudut bibir mengembang. "Kalo lagi cemberut kamu lucu Krin." Karma melirik Raka dan Ruru lagi. "Andai aku pintar bikin puisi kaya si Raka itu, sekarang aku pasti udah ucapin kata-kata indah buat kamu."
"Gak usah pengen sama deh. Cintai aku dengan cara kamu saja." Krina menulis satu kata di kertas, tapi ia berhenti dan menaruh pena lagi. "Belum ada ide menulis puisi apa. Kemampuanku seperti tak pernah berkembang dalam menulis puisi. Beda dengan Raka yang hebat itu. Dia dengan melihat satu hal menarik disekitarnya saja langsung bisa membuat puisi yang indah."
"Semangat penulisku yang cantik." ucap Karma.
"Penulis amatir." Krina terkikih.
Raka dan Ruru berjalan kembali. Saat melewati Krina. Raka dan Ruru cuma menyapanya lagi dengan hangat. Lalu keluar hingga tak terlihat lagi oleh pandangan.
*****
AJ sudah kembali ke markas setelah selama hampir 4 jam sibuk menginterogasi pria yang ditangkap Karma. Ia duduk menghadap layar komputer yang telah bertuliskan kalimat Puisi Hitam yang ia dapat dari surat-surat yang ditujukan pada Yuke.
Pintu markas terbuka. Masuklah Jap dan Hengs. Diikuti Frans dan seorang gadis yang rambutnya ter-ekor kuda beberapa saat kemudian. AJ memperhatikan serius gadis tersebut, yang ternyata juga memiliki tahi lalat di dekat bibirnya. Sementara gadis itu menatap AJ dengan tatapan tajam.
"Selamat datang Alena!" sapa AJ.
"Jadi kau AJ yang selama ini menghubungiku?" tanya Alena. AJ mengiyakan, lantas memperkenalkan Jap dan Hengs pada Alena dan Frans.
"Anggota INU ada enam orang, satu orang lagi bernama Karma, sedang aku bebas tugaskan dulu untuk hari ini karena sudah berhasil menangkap orang yang bisa dikatakan penting untuk memecahkan kasus ini," jelas AJ menyinggung Karma dan pria yang ditangkapnya subuh tadi.
"AJ apa pria itu adalah orang dibalik kekacauan ini?" tanya Frans.
"Tidak, dia cuma disuruh. Ia disuruh oleh gadis bermasker berambut panjang lurus. Ia sendiri tidak tahu betul siapa gadis itu. Ia meneror Yuke cuma karena diiming-imingi uang semata," jelas AJ lagi.
"Gadis bermasker," gumam Frans, "siapa sebenarnya gadis itu, aku jadi benar-benar makin penasaran."
"Aku bersukur penjahatnya belum tertangkap," sambung Alena, "jadi aku masih punya kesempatan menangkap penjahat itu. Aku ingin jadi tokoh yang berperan penting dalam mengungkap kasus ini."
"Haha menarik," kata AJ, "kau sama saja seperti Karma."
"Jangan samakan anakku dengan bangkong itu," sela Frans.
"Ingat Alena. Jap, Karma, Hengs, aku bahkan ayahmu sendiri ingin jadi orang yang terdepan dalam memecahkan kasus ini. Tapi perlu diingat tentang satu hal yang teramat penting. Kalau kita ini tim, jadi sebisa mungkin harus bekerja sama agar hal-hal buruk tidak terjadi." AJ berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan.
"Ini bukan kasus biasa dan dibalik semua ini ku yakin terdapat orang-orang yang juga tak biasa. Kalau dibalik kasus ini merupakan penjahat amatir sudah dari dulu-dulu kasus ini akan terungkap. Tapi ini sudah satu tahun, detektif-detektif hebatpun masih kesulitan menemukan titik terang semua ini. Bahkan untuk menemukan bukti saja teramat sulit. Sekali lagi Aku meminta kalian semua berhati-hatilah, atau nyawa kalian sendiri yang akan melayang percuma.
__ADS_1
TBC_