Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Goodbye AJ


__ADS_3

"Tim INU akan berakhir di sini, Jap." Raisa menodongkan pistol pada Jap.


"Hebat sekali aktingmu Rai selama ini," ucap Jap tenang dengan sedikit tersenyum.


Raisa menarik pelatuk. "Kau yang teralalu payah, Jap. Oh ya terimakasih atas hari-harimu bersamaku selama ini. Itu benar-benar hari yang menyebalkan karena aku harus terus-terusan berbohong. Selamat tinggal Jap.


DOOOR!!!!


Pistol yang dipegang Raisa terpental karena seseorang menembaknya, yang tak lain adalah Karma dari kejauhan sana. Karma bahkan langsung menghujani peluru pada mereka dan berhasil mengenai bahu Sinyo.


"Lari ke arah trotoar!" Suruh Sinyo pada Ruru dan Raisa dengan setengah berteriak. Mereka bertiga dengan menyandra Jap bergerak ke tempat yang di singung Sinyo tadi melewati pagar yang telah pada rusak.


Karma mencoba mengejar mereka, tetapi orang di dalam truk kontainer tadi berusaha menahannya dengan terus menghujani tembakan. Bersamaan truk bergerak mundur nampak mencari jalan untuk kembali melaju menghindari mobil AJ yang sudah jadi rongsokan.


Tak jauh dari sana, AJ masih berusaha menghindari serangan pengendara mobil sedan yang nampak sangat lihai mengendarai mobilnya. Dari caranya menyetir AJ menduga orang ini adalah seorang freestyler.


Mobil kembali berusaha menabrak AJ, tetapi dengan sigap AJ melompat ke atas mobil dan menempelkan sesuatu yang berkedip-kedip di sana, dan dengan segera ia turun.


Ia kemudian berlari dengan cepat ke arah pagar atau mengejar anggota Puisi Hitam yang menyandra Jap. Di belakangnya pengendara sedan mencoba mengarahkan mobil kembali padanya dan langsung mengejar. Namun baru beberapa beberapa meter melaju mobil itu langsung meledak. Benda berkedip yang AJ tempelkan tadi merupakan bom.


AJ terus berlari mencoba menyusul Jap dan Anggota Puisi Hitam. Karena kecepatannya tak perlu waktu lama untuk menemukan kembali keberadaan mereka. Dari kejauhan terlihat Sinyo yang sedari tadi berusaha kabur malah berbalik arah dengan senjata api telah siap ditembakan di tangan. Sementara Ruru dan Raisa terus berlari sembari menyandra Jap--dengan penuh kesusahan tentunya.


AJ mengambil pistol dari balik jaketnya dan langsung menembakannya ke arah Sinyo. Pemuda itu langsung menghindar. AJ tahu kalau Sinyo tidak terlalu ahli menggunakan senjata api, bisa dilihat dari cara pemuda tinggi itu mengambil kuda-kuda. Dan baru diserang satu tembakan Sinyo nampak langsung kewalahan dan mencoba kembali untuk kabur. Namun sayang ia mencoba kabur dari orang yang salah, AJ bukanlah orang yang mudah melepas targetnya begitu saja.


Satu tembakan lagi dari AJ dan langsung membuat Sinyo terjatuh. Pemuda itu langsung meringis kesakitan sembari menahan sakit baru di kakinya, padahal sakit dibahunya saja masih terasa menyakitkan.


Di depan sana Raisa dan Ruru langsung dibuat gelisah.


"Sudah selesai Rai," ujar Jap. Raisa yang sedari tadi mencoba menyeret Jap akhirnya berhenti. Membuat Ruru yang tangannya masih terborgol juga berhenti. Raisa langsung kembali menodongkan pistol pada Jap.


"Kalian yang selesai!" teriak Raisa. Ia kemudian melepaskan genggamannya dari Jap. Memasukan pistol kembali kedalam celananya dan berbalik menuju AJ dan Sinyo. Ruru heran dengan apa yang akan dilakukan adik angkatnya tersebut. Jap juga heran karena gadis itu malah melepaskan sandranya sendiri.


"Rai, mau kemana?" Tanya Ruru.

__ADS_1


"Mau menyelesaikan permainan ini," jawab Raisa sembari terus bergerak dengan menunjukkan tatapan nanar.


"Jikininki!" panggil Raisa.


"Selalu bersamamu nona." Jawab Jikininki yang tiba-tiba sudah berada di samping Raisa dengan langsung melangkahkan kakinya mengikuti gadis tersebut.


"Aku ingin kau membunuh orang bertopeng bernama AJ, sebagai gantinya kau boleh mengambil jiwaku."


"Ah, Nona tidak perlu sampai melakukan itu."


"Tidak, aku perlu melakukannya. Kita akan kalah dan rencana kak Raka selama ini bisa hancur kalau aku tak melakukan itu. Soalnya musuh kita kali ini bukan orang sembarangan."


Jikininki nampak termenung sesaat. "Nona benar-benar mau melakukannya? Nona memang sudah tidak mau melihat dunia ini lagi?"


"Aku sebenarnya masih ingin melihat dunia ini dan masih ingin bersama kak Ruru, kak Raka dan kak Sinyo. Aku ingin melihat dunia ideal yang kita idam-idamkan terwujud, dunia tanpa kebencian, keserakahan dan cuma ada cinta." Airmata bening lolos dari kedua mata Raisa. "Tapi semuanya butuh pengorbanan kan Jikininki?"


Jikininki tak menjawab.


"Ini itung-itung rasa terimakasihku pada kak Raka yang telah menyelamatkanku dari kekejaman dunia dulu. Itung-itung pembuktian cinta ku padanya juga. Semoga dengan pengorbananku ini impian kak Raka bisa terwujud."


"Berhenti di sana!" AJ memperingatkan Raisa.


Dengan kuku tajamnya Jikininki menusuk telapak tangan Raisa hingga berdarah. Sesaat Raisa mengerang menahan rasa sakit sembari menggigit bibir bawah.


Jikininki kemudian menghisap darah Raisa yang tertempel di kukunya, dan tiba-tiba matanya berubah jadi merah. Ia kemudian membacakan mantra aneh yang hanya ia sendiri atau makhluk-makhluk sejenisnya yang tahu.


AJ terpaksa melayangkan tembakan ke kaki Raisa dan gadis itu langsung duduk terjatuh. Rambutnya sesaat terurai menghalangi wajahnya sebelum ia kembali menyibakannya dan menunjukan wajah yang dihiasi senyuman aneh. Sesaat AJ merasa heran padanya.


Di belakang sana Ruru memperhatikan dengan cemas.


"Nampaknya kalian sudah menyerah," ujar Jap. Ruru menoleh padanya.


"Tidak, AJ akan mati," Ruru kemudian bergumam menyesali sesuatu. "Kenapa kau mau melakukan ini Rai?"

__ADS_1


Jap yang merasa omongan Ruru cuma bentuk rasa putus asa langsung tak menghiraukan.


Raisa menengadah menatap langit yang biru cerah di sana. Benar-benar biru dan tanpa awan. Ia merasakan angin berhembus menerpa wajahnya. Ingatannya melayang ke masa kecilnya dimana ia masih bersama kedua orangtuanya, lalu kemudian keduanya berpisah dan memiliki keluarga masing-masing. Disaat itu dunianya terasa seperti neraka.


"Dengarlah deruan ombak di sana, dan rasakan anginnya." Itu merupakan ucapan pertama Kak Raka padanya di saat pertemuan tak sengajanya di pantai.


"Tidak ada yang spesial," balas dirinya waktu itu.


"Sayang sekali. Berarti ada sesuatu yang menghalangimu menikmati keindahan di sekitarmu. Kau nampaknya punya masalah."


Bahkan cuma dengan satu kalimat yang keluar dari mulutnya, kak Raka bisa paham dengan perasaannya. Dari sanalah Raisa mulai menggantungkan hidup dan mimpinya pada Raka.


"Dia adalah Dewa bagiku. Pelindungku. Dan kuharap dia akan jadi pelindung bagi orang-orang malang sepertiku," ucap Raisa dalam hati. "Aku mencintaimu kak Raka. Selamat tinggal dan sampai jumpa di keabadian sana." Langit yang dipandang Raisa kemudian terlihat memerah, seluruh inderanya serasa matirasa.


AJ agak terkejut melihat darah segar keluar dari hidung Raisa dan gadis itu langsung terbaring tak berdaya. Belum sempat memikirkan apa yang terjadi pada Raisa, keterkejutannya kemudian jadi berkali lipat ketika mendapati sosok makhluk seram di dekat gadis itu tengah menatap dalam ke arahnya.


"Ken Ricardo!" ujar makhluk tersebut yang tak lain adalah Jikininki. AJ tercengang, bagaimana ia bisa tahu nama aslinya--nama yang sudah tak ia pakai semenjak 20 tahun lalu atau saat usianya 6 tahun.


"Nona Raisa ingin kau mati. Dan kau akan mati segera. Terbangalah nanti bersama bunga-bunga higanbana." Makhluk itu kemudian menghilang, dan AJ tiba-tiba merasakan sakit yang teramat di jantungnya. Sesaat ia mendengar sebuah suara, yang juga pernah ia dengar sebelumnya saat mencoba membaca tulisan di buku tulis yang adiknya (Jap) temukan di SMA Teratai.


"Puisi hitam, puisi indah bukanlah cinta, tapi untaian mantra."


Dunia AJ memerah.


Jap tercengang melihat AJ rebah ke tanah. Apa yang sebenarnya terjadi? pikirnya. Ia kemudian berlari menghampiri. Ruru memperhatikannya dengan menghela napas, menyesali kematian Raisa.


"Kau menang Raka," gumamnya.


Jap tiba di dekat tubuh AJ. Namun borgol ditangannya masih menghalangi untuk menyentuh tubuh kakaknya. Lantas ia mengambil pistol AJ dan menembakkan ke borgol, hingga borgol di tangannya itu terlepas.


"AJ!" Seru Jap menggoyang-goyangkan tubuh AJ. Tak ada respon. Jap meraih lengan AJ dan memeriksa urat nadinya, mata Jap seketika memeram nampak merutuki kenyataan.


Tiba-tiba dibenaknya terlintas ingatan akan perkataan AJ, yang mengatakan kalau ia akan bisa melihat wajahnya saat kematiannya tiba. Tak disangka ucapan itu malah jadi kenyataan.

__ADS_1


Jap melepaskan topeng AJ, dan wajah kakak yang sedari kecil tak pernah dilihat adik kandungnya sendiri itupun terlihat. Wajah seorang indo keturunan asia timur, tak beda jauh dengan Jap. Hanya saja wajahnya lebih tegas dan memiliki kumis yang tak terlalu panjang. Sekilas wajahnya sangat indah seperti rembulan.


Jap memperhatikan topeng iblis yang selalu di pakai AJ.


__ADS_2