
Motor Jap tiba di depan rumah Raisa, yang berjarak sekitar 4 km dari Sekolah. Raisa dan Jap turun, lantas menuju ambang pintu.
Jap sesaat memperhatikan rumah Raisa yang kecil, sangat kontras dengan dua bangunan di sebelahnya yang berlantai dua.
"Assalmualaikum, Kakak." seru Raisa ketika ia dan Jap tiba di ambang pintu. Tak berselang lama pintu terbuka dan nampaklah seorang perempuan muda berponi. Yang kita ketahui sebelumnya adalah Ruru. Gadis yang bersama Raka di kafe waktu itu.
Ruru menatap Jap. Raisa menjabat tangan Ruru.
"Temen kamu, Sa?" tanya Ruru.
Raisa tak langsung menjawab. Ia menggaruk tengkuknya. "Gimana ya ngejelasinnya."
"Begini kak, saya ini dari kepolisian, diperintahkan untuk mengawasi Raisa karena dicurigi terlibat dalam kasus Puisi Hitam," jelas Jap.
"Nah begitulah, Kak," timpal Raisa.
"Bagaimana bisa." Ruru nampak kebingungan. Raisa menaikan pundak, ia kemudian memasuki Rumah. Jap mengikuti.
Pandangan Jap langsung ia edarkan keseluruh sudut ruangan. Ruangan yang tampak sempit karena banyak barang. Kursi, lemari, buku-buku.
"Kamu harus menjelaskan nanti secara rinci," kata Riri dengan menatap Jap. Ia kemudian pergi ke ruangan lain. Raisa kini sudah rebahan di sofa. Jap mendudukan tubuhnya di sofa sebelahnya. Beberapa saat hening.
Dengan nanar, Raisa bangkit dan menatap Jap. "Gue benar-benar keganggu."
"Sabarlah ini demi uang seharga motor itu," kata Jap santai.
"Lo gak ain-main sama gue kan?
"Tentu saja tidak."
Raisa berdiri lantas melangkah. "Gue mau makan dulu."
"Gue ikut." Jap bangkit dan langsung dibalas tatapan heran dari Raisa.
"Disini aja, nanti gue juga masakin buat lo kok."
"Gak gue harus ikut."
"Terserah." Raisah mengeloyor, ia pergi ke ruangan lain. Jap mengikuti.
Csssssss
Satu telur lagi yang dijatuhkan Raisa ke teplon berminyak. Tidak hanya memasak telur, Raisa juga tengah merebus mie instan. Jap memperhatikan sembari bersedekap dan menyenderkan tubuh ke meja pendek yang didalamnya berisi piring.
"Kenapa memasak telurnya dipisah, maksudku kenapa tidak direbus saja?" tanya Jap.
"Gue suka jika telurnya digoreng," jawab Raisa.
Jap menghedarkan lagi ke sembarang arah.
"Kau tinggal berdua di sini?" tanya Jap.
"Iya." Raisa menaburkan garam ke telur.
"Orang tuamu kemana?"
"Ibu gue udah meninggal ketika gue berusia tujuh tahun. Sementara ayah gue nikah lagi pas gue berusia lima tahun. Tapi dia juga udah meninggal beberapa tahun lalu.
"Aku turut berduka. Maaf karena telah menyinggung ini."
Raisa membalikan telurnya. Ia tersenyum sesaat ke arah Jap. "Gak apa-apa santai aja."
__ADS_1
Keduanya sudah mengepung meja makan. Bersiap untuk menyantap makanan hangat yang nampak lezat.
"Nanti aku ganti makanan ini," ucap Jap.
"Tidak usah. Ini itung-itung menghormati tamu." Raisah mulai menyuap mie-nya.
Ruru masuk keruangan. Perempuan itu sudah berpakaian kerja dan sangat rapih. Tubuhnya juga sangat wangi. Dari yang Jap perhatikan Ruru nampaknya bekerja di sebuah hotel.
"Kakak berangkat dulu ya!" kata Ruru pada Raisa.
"Iya kak." Ruru langsung keluar.
"Kakak kamu kerja di kafe?" tanya Jap memastikan.
"Benar. Eh makan dulu Jap nanti tanya-tanyanya."
"Iya." Jap mulai makan.
*****
Mobil Hengs tiba di sebuah pekarangan bangunan besar yang sudah tak terpakai. Sebelumnya ia disuruh AJ untuk pergi duluan ke tempat ini. Rencananya Ia, Aj dan Karma akan melakukan investigasi, dengan alasan karena di tempat ini pernah terjadi dua kasus kematian karena puisi Hitam. Detektif sebelumnya sebenarnya pernah memeriksa tempat ini, tapi tidak mendapatkan bukti apapun.
Hengs memperhatikan sesaat bangunannya yang tak berpintu. Didalamnya sangat gelap. Diseketirannya bangunan lain juga sudah ditinggalkan. Sebelumnya di tempat ini memang pernah terjadi sebuah kebakaran besar.
Ponsel Hengs berbunyi. Pria tigapuluh tahunan itu lantas mengambil benda pipih itu dari sakunya. Ia sesaat menatap nomor yg memanggilnya.
"Hallo AJ, kenapa?" ucapnya setelah mengangkat telepon.
"Dimana kau Hengs sekarang?" ucap AJ dari seberang sana.
"Aku baru tiba."
"Cepat juga, aku dan Karma sedang menuju kesana. Pastikan kau jangan masuk sebelum kami datang."
Ia mengambil pistol dari dasbor mobil. Mengedarkan pandangan kembali ke gedung.
Beberapa menit kemudian berlalu. AJ dan Karma belum datang juga.
"Kenapa mereka lama sekali," gumam Hengs. Matanya langsung menyipit ketika melihat sosok wanita di dalam gedung dengan wajah tertutupi masker. Wanita itu menatap Jap.
"Wanita bermasker." Hengs membeliak, jangan-jangan dia. Hengs segera turun tetapi ia berhenti ketika tangannya menyentuh gagang pintu, ia teringat pesan AJ untuk tidak pergi sebelum dirinya datang.
"Aku harus menuruti AJ, tapi kalau begitu penjahatnya bisa kabur. Ini kesempatanku untuk mengakhiri kekacauan ini." Hengs akhirnya turun dari mobil. Ia melangkah bergegas ke arah wanita tadi. Wanita tadi nampak berbalik lantas menghilang diantara kegelapan.
Hengs sudah memasuki gedung. Gelap memang tapi ia masih dapat melihat meskipun tak terlalu jelas. Langkahnya mulai ia lambatkan dan tangannya sudah bersiap untuk menembakan pistolnya. Pendengarannya ia juga pasang baik, baik.
Kuprak.
Hengs langsung mengarahkan pistolnya ke asal suara. Ia menyipitkan mata, ternyata cuma tikus yang menjatuhkan sebuah kaleng.
Ia mengedarkan pendangannya lagi ke sembarang arah.
"Mencariku." Kata suara perempuan agak keras yang asalnya entah darimana.
Hengs makin waspada. "Siapa kau?"
"Aku? Mungkin orang yang kau cari. Kau anggota tim INU kan?" ucap suara itu lagi.
Hengs tercengang. Bagaimana ia tahu tentang tim INU padahal itu adalah tim rahasia.
"Siapa kau, keluarlah!" teriak Hengs lagi, tapi malah dibalas tawa yang keras.
__ADS_1
"Tim Inu memang payah, sampai sekarang belum bisa juga menangkap orang dibalik puisi hitam. Sampai kapan lagi? Aku jadi sangat bosan."
"Tim Inu sekarang dipimpin AJ, penjahat puisi hitam pasti bisa tertangkap dengan cepat," timpal Hengs terbawa emosi, ia tak terima tim INU direndahkan.
"Kau ingin tahu siapa di balik semua ini?"
"Siapa?"
"Aku." Perempuan itu tertawa keras lagi.
"Siapa kau, dan kenapa kau melakukan ini?"
"Cuma untuk bersenang-senang. Tapi aku sudah mulai bosan sekarang. Jadi nampaknya aku akan melakukan hal baru."
"Apa maksudmu."
"Aku akan membunuh satu persatu anggota tim INU yang dipimpin AJ. Mulai dari kau dulu Hengs. Atau nama aslimu Hendrik Murray."
Keringat dingin Hengs mulai keluar, ia baru menyadari kalau perempuan tadi nampaknya bukan orang sembarangan. Bagaiman ia tahu nama aslinya.
"Tidak perlu heran begitu Hengs. Aku tahu ayahmu berasal dari Inggris dan ibumu asli Jakarta."
"Sial," gumam Jap. Ia kemudian berteriak. "Keluarlah akan kubunuh kau. Tak peduli siapapun itu kau."
"Kau harus peduli siapa aku. Karena aku akan jadi Dewa di dunia ini. Aku akan mengubah dunia yang penuh dengan orang menjijikan menjadi dunia ideal. Dunia yang hanya ada kebahagiaan."
"Omong kosong. Tidak akan pernah ada dunia seperti itu. Hanya orang naif tapi bodoh yang berpikiran seperti itu."
"Terserah kau Hengs." Suara letupan terdengar. Dan kemudian.
"Sial!" Hengs meringis karena bahunya terkena peluru. Tangan kanannya tetap siaga dengan pistol. Suara letupan kedua terdengar dan kali ini paha kanan Hengs terkena peluru. Pria itu sudah dalam posisi berlutut dan makin meringis kesakitan. Tubuhnya gemetaran dan penuh keringat sekarang.
"Aku bisa menembak dirimu dalam kegelapan Hengs. Mataku setejam elang." Perempuan itu tertawa lagi.
"Keluarlah brengsek!" Teriak Hengs, ia berharap AJ dan Karma segera datang.
Langkah kaki ringan terdengar, makin lama makin jelas. Hengs sekuat tenaga mengangkat pistolnya. Ia lihat darahnya sudah banyak keluar dan bahu serta pahanya terasa semakin sakit.
Langkah itu masih tetap terdengar bahkan kini sangat jelas. Dan akhirnya asal langkah kaki itu terlihat, yang berasal dari perempuan bermasker berambut panjang. Hengs langsung menembakan pelurunya ke arahnya.
"Ups hampir saja kena," ucap perempuan itu. Ia mengarahkan pistol ke arah Hengs dan langsung menembak. Tangan kanan Hengs kena dan pistol yang ia genggam terlepas.
Perempuan itu berlutut di hadapan Hengs dan mengambil pistol Hengs. Kini di tangannya sudah ada dua pistol. Ia bangkit. Hengs memperhatikan penampilan si Gadis. Ia tampak masih muda. Sayang wajahnya tertutupi masker.
"Kenapa kau melakukan semua kejahatan ini, padahal kau tahu sendiri itu ti-dak baik." Hengs mulai susah bicara. Perempuan itu menendang kepala Hengs hingga pria itu mencium lantai.
"Aku sudah bilang alasannya tadi." ucap perempuan itu. "Tapi ada alasan lain sih, karena puisi Hitam. Puisi Hitam terlalu indah untukku. Kata-katanya dapat mengikat jiwa manusia. Dengar baik-baik ini Hengs, aku akan membacakan Puisi Hitam untukmu, biar kau tahu apa itu keindahannya." Sebelah kaki Gadis itu menginjak tubuh Hengs. Ia berjongkok.
'Puisi Hitam.'
'Puisi indah bukanlah cinta, tapi untaian mantra.'
'Dan kata-kata ini adalah jalan ke alam baka.'
'Jikininki adalah iblis, ia teman si gadis.'
'Dia suka si gadis seperti sukanya pada kelopak lili.'
'Pada tanduk domba hitam.'
'Juga tulang, daging dan darah'
__ADS_1
Mata Hengs membeliak.
TBC_