Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Pria bertopeng iblis, AJ


__ADS_3

Di atas kursi tunggu silver empat dudukan itu, Frans nampak sedikit tak tenang. Pria paruh baya keturunan Inggris-Batak itu mengangkat tangan kiri menatap pada arloji lagi. Pukul 4.10. Ia mendecak kesal kemudian menempelkan punggung pada senderan kursi.


Frans memperhatikan lagi lorong koridor di lantai 17 Polda Metro Jaya ini yang benar-benar sangat sepi. 15 menit sudah tidak ada yang lewat, jangankan manusia cicakpun tidak.


Tiba-tiba Suara langkah kaki cepat terdengar dari lorong jauh di sana. Membuat Frans menajamkan seluruh inderanya. Tak lama terlihatlah pria tigapuluh tahunan ramping dan berambut agak gondrong menggenggam sebuah kotak kado berwarna merah muda, ia setengah berlari ke arahnya.


Ia megap-megap sesaat ketika sampai di dekat Frans. Ia menoleh ke arah pintu paling dekat: ruangan yang seharusnya sudah mereka masuki sedari pukul 4 tepat tadi.


"Kenapa kau masih di luar Inspektur Frans?" tanyanya kemudian dengan ekspresi yang tetiba jadi penuh kecemasan, "Apa pertemuannya sudah selesai? apa aku terlambat? Oh terkutuklah aku jika aku terlambat, aku pasti dipecat dari kep ...."


"Tenanglah Aditia!" tegas Frans memotong ucapan Aditia. Aditia seketika mematung. Meski sudah berpangkat AIPDA, Aditia masih saja bersikap konyol, tepatnya mungkin kekanak-kanakan. Frans sendiri heran kenapa Almarhum Pak Thirto memasukannya ke Tim INU dan bersanding dengan para detektif-detektif hebat. Jika ia memang handal dibidang informasi, kan masih banyak juga orang lain yang handal juga dan punya sikap lebih serius tentunya. Ah sudahlah, mungkin Pak Thirto lebih tahu daripada dirinya. Terlebih selama ini Aditia menurutnya juga ulet saat bekerja.


"Maaf kalau begitu," ucap Aditia tersenyum canggung sembari menggaruk-garuk tengkuk. Ia duduk di sebelah Frans. Dan menatap Kadonya lagi dengan wajah semringah.


"Apa itu?" tanya Frans.


"Ah ini kado untuk ulang tahun anak kedua-ku, hari ini ia berumur 6 tahun."


"Maksudmu Amel?"


"Bagaimana kau tahu nama anakku? aku tidak pernah menceritakannya padamu ... Oh ya kau ini kan detektif."


Frans mengernyitkan dahi, "kita sudah lama bersama mana mungkin aku tidak tahu nama anakmu.Dan ini tidak ada urusannya dengan detektif-detektifan."


"Hehe begitu ya. Oh nanti malam kami akan mengadakan pesta kecil-kecilan. Inspektur Frans kau boleh hadir jika mau, akan jadi kehormatan bagiku jika seorang Inspektur mau hadir dan tentunya aku akan senang."


"Sudah sering aku bilang jangan panggil aku inspektur. Umur kita tidak terlalu jauh juga." Frans tersenyum lantas menepuk pundak partnernya itu, "aku pasti datang." Wajah Aditia seketika merekah berbinar.


"Benar ya kau datang?" Frans mengangguk. Aditia meraih tangan Frans dan menyalaminya. "Aku benar-benar terharu Inspektur mau datang."


Keduanya terdiam beberapa saat sebelum Frans kembali berujar, "Aditia, sudah satu tahun kita di tim INU ini, tapi kita tidak pernah menemukan titik terang siapa tersangkanya. Sedikitpun. Aku merasa gagal menjalankan amanah, sementara sekarang korban makin terus bertambah."


"Kita tidak boleh merasa gagal sebelum Tim INU benar-benar dibubarkan. Dan ketua kita yang baru katanya adalah detektif yang handal, salah satu yang terbaik di dunia. Harusnya dari tadi ia sudah datang."

__ADS_1


"AJ yah, aku merasa penasaran dengan wajahnya. Akan sangat menarik kalau wajahnya mirip Sherlock Holmes atau mungkin seperti Sinichi Kudo."


"Dari beberapa kabar yang aku dengar wajah AJ tidak pernah ada yang tahu karena ia selalu memakai topeng."


"Topeng?" Frans menyipitkan sedikit mata.


Aditia mengangguk. "Kita akan tahu nanti."


Lima menit berlalu, belum ada yang melalui koridor itu setelah Aditia tadi. Cicak juga tetap tak berminat menampakan diri. Hingga beberapa langkah berat terdengar dari lorong yang sama saat Aditia muncul tadi. Seperti suara bot-bot yang beradu dengan lantai. Makin lama suara itu makin terdengar jelas. Frans dan Aditia memfokuskan indera mereka.


Dan terlihatlah asal suara itu yang berasal dari tiga pria jangkung: dua Polisi paruhbaya yang bekerja di Polda sini dan satu orang berpakaian serba hitam; pakaiannya agak lebar dan panjang sampai selutut lebih, di baju itu tertambat ikat pinggang silver yang mungkin hanya untuk hiasan. Wajah orang itu tak terlihat karena tertutupi topeng menyeramkan berwarna kelabu: dua bola mata bulat, hidung pesek kecil dan dua taring panjang keluar dari rahang bawah. Rambut orang ini hitam gondrong mengembang acak-acakan dan sedikit di semir kelabu.


Ketika ketiganya tiba dihadapan. Frans dan Aditia bangkit dan menganggukan kepala. Frans mencoba mengukur tinggi badannya dengan AJ. Hampir sama dengannya, AJ juga memiliki tinggi hampir 180 centimeter.


"Mereka anggota INU," kata salah satu polisi pada AJ.


"Kau tuan AJ?" tanya Frans.


"Benar." AJ memberi jabatan tangan pada Frans dan Aditia. Yang disalami memberitahukan nama masing-masing. Dibalik topengnya Frans menduga AJ tersenyum atau hanya dugaannya saja, "maaf karena aku terlambat," lanjut AJ.


"Apa kalian hanya berdua?" tanya AJ pada Aditia.


"Nanti kami ceritakan di dalam," jawab Aditia tersenyum canggung.


Ketiganya masuk meninggalkan kedua polisi yang berjaga di luar. Lampu ruangan dinyalakan, dan terpampanglah dengan jelas ruangan kerja Tim INU selama setahun ini. Tidak ada yang spesial, sama seperti kantor biasa: meja, kursi, komputer, lemari, rak dengan buku dan dokumen. Frans lantas membuka jendela membiarkan sinar senja jingga merangsek masuk. Sementara Aditia mengunci pintu.


AJ duduk di salah satu kursi, mengedarkan pandangannya pada Aditia dan Frans yang menatapnya aneh.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" Tanyanya kemudian.


Kedua inspektur tersentak. "Tidak ada hehe," ucap Frans dan Aditia bersamaan. Keduanya sebenarnya berharap kalau AJ membuka topengnya dan mereka bisa tahu wajah detektif terbaik di dunia itu seperti apa.


"Sekarang bisa jawab pertanyaanku tadi?" tanya AJ.

__ADS_1


"Oh ya. Setelah ketua kami seminggu lalu mengundurkan diri dari tim INU, tiga teman kami memutuskan untuk keluar juga karena mereka merasa gagal."


"Kenapa kalian masih tetap bertahan?"


Aditia dan Frans melirik satu sama lain. "Aku sebenarnya juga ingin mengundurkan diri tapi aku sudah berjanji pada atasanku Almarhum pak Thirto untuk menyelesaikan kasus ini," jelas Aditia.


"Almarhum. Maksudmu Thirto Kapolda itu sudah meninggal?"


"Kau tahu pak Thirto?"


"Tentu saja tahu."


"Iya pak Thirto meninggal juga karena kasus Puisi Hitam ini." Aditia menunduk dan mengepalkan sebelah tangan, teringat kembali kebaikan atasannya itu terhadapnya selama ini, "aku menyesal tidak bisa menyelesaikan kasus ini dengan cepat. Mungkin kalau aku bisa, nyawa pak Thirto bisa tertolong. Orang mana yang menyebabkan semua kekacauan ini? akan aku balas seluruh kematian korban-korban tak berdosa . Kalau sampai tertangkap, aku berjanji akan menembak pembunuh keji itu tepat di kepalanya."


Frans melangkah mendekati Aditia dan kembali menepuk pundak Aditia perlahan, sebelum ia duduk di salah satu kursi.


AJ menggaruk belakang telinganya dengan telunjuk. "Ceritakan hasil penyelidikan kalian selama ini." Aditia langsung duduk di meja dekat komputer, menaruh kadonya dan langsung menyalakan komputer. Jemarinya mulai mengetik lincah diatas keyboard.


"Kasus pertama terjadi di Sekolah SMA Teratai di Jakarta, sekitar 15 bulan lalu, kepala sekolah mereka yang dulu bernama Purnomo tiba-tiba meninggal setelah membaca puisi saat perpisahan kelas 12. Kasus kedua berselang seminggu kemudian, tempatnya tak jauh dari SMA Teratai, korbannya seorang preman. Menurut teman korban, korban meninggal setelah seorang gadis SMA bermasker memberinya sebuah amplop yang di dalamnya terdapat secarik kertas bertuliskan puisi ...."


Aditia terus memberitahukan kasus yang ada kaitannya dengan Puisi Hitam di setengah tahun pertama dengan cepat dan ringkas.


"Sembilan bulan berikutnya kasus meningkat perbulannya jadi dua kali lipat, rata-rata 17 kasus perbulan. Dan bahkan di tiga bulan terakhir sampai 20 kasus lebih perbulan. Totalnya selama 15 bulan ini mencapai 191 kasus."


"Semuanya mati?" tanya AJ.


"Benar, seperti terkena serangan jantung. Itu belum termasuk kasus misterius lainnya seperti orang yang meninggal habis menelepon dan ...." AJ mengangkat tangan memberi isyarat agar Aditia berhenti. AJ merasa cukup mendengar penjelasannya.


"Frans bisa kau bawakan aku barang buktinya?" pinta AJ. Frans lantas menuju ke sebuah loker dan diambilnya beberapa tumpukan kertas disana. Frans mendekat ke arah AJ dan menaruh kertas itu di bangku depan AJ.


"Tidak ada barang bukti lain selain kertas kosong ini," terang Frans. Tangan AJ yang terlapisi sarung tangan hitam mengangkatnya salah satu kertas hingga setinggi wajahnya dan AJ memperhatikan dengan seksama.


"Tidak pernah ada sidik jari di kertas yang kami temukan," ujar Frans, "tapi yang paling menjadi keanehan adalah kertas-kertas itu. Kata para saksi kertas-kertas itu sebelumnya terdapat sebuah tulisan berupa puisi. Entah apakah kami harus mempercayai omongan saksi atau tidak."

__ADS_1


"Siapa orang yang paling kalian curigai sebelumnya?" tanya AJ lagi.


TBC_


__ADS_2