
Karma dan Alena memperhatikan Pemuda itu sesaat. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku Detective juga, teman lama AJ." Pria itu bangkit dan mendekati Karma juga Alena, lantas berhenti di hadapan keduanya dan mengulurkan tangan mengajak salaman. "Namaku Andi Kalsaba, lebih dikenal dengan nama AK."
Karma menerima jabatan AK lantas memperkenalkan dirinya dilanjutkan Alena memperkenalkan diri.
Jap kembali dari dalam dan ia langsung mendekati AK.
"Lama tidak berjumpa, Jap," AK berujar dengan senyuman.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Jap.
"Seperti yang sedang kalian lakukan, mencari informasi tentang Puisi Hitam."
"Untuk keperluan apa?"
"Tentu saja untuk menyelesaikan semua permasalahan ini." AK mengambil rokok dari saku celananya.
"Kau bergerak atas perintah siapa?"
"Atas kehendakku sendiri." AK menyapit rokok dengan bibir lantas membakar ujungnya dengan korek gas. Sepersekian detik asap mengepul dan aroma tembakau tercium kesekitaran. "Udara dingin di sini membuat rokok jadi terasa nikmat." Gumam AK kemudian.
"Bagaimana penginapannya?" Tanya si Kakek pemilik penginapan pada Jap.
"Bagus Kek, kami akan menginap di sini kurang lebih tiga minggu," jawab Jap. "Namun di mana kamar mandi dan WC nya."
Si Kakek awalnya hendak menjawab sebelum AK memotong, "kamar mandi di sana, di dekat kolam ikan. WC umum kau bisa pilih, mau yang di atas kolam ikan atau lebih enak di sungai sana."
Alena terkesiap. "Jadi kamar mandinya terpisah dengan penginapan?" tanya Alena entah pada siapa yang jelas ia nampak tak senang.
"Biasakan dirimu untuk hidup di desa gadis cantik," ujar AK.
"Sial, nampaknya aku akan tersiksa di sini," celetuk Alena merutuki nasib. "Apa bisa lebih buruk dari ini?"
"Tentu saja." AK kembali menjawab, "Disini sinyal ponsel jelek, ku sarankan kalau ingin main ponsel atau laptop pergi saja ke desa lain." Alena langsung memutar bola mata malas dan menghela napas dalam.
"Mari ikut kami untuk melihat kamarmu nanti Nona!" pinta si Kakek pemilik penginapan. Alena mengiyakan dan kemudian mengikuti kedua orangtua pemilik penginapan tersebut. Jap, Karma dan AK memperhatikan langkah mereka sebelum kembali melanjutkan obrolan.
"Nampaknya kau sudah lama tinggal di sini?" tanya Jap.
"Baru seminggu, ini juga atas perintah AJ. Tapi beberapa hari ini aku tidak mendapat kabarnya lagi. Ah apa dia ikut bersama kalian?"
"Tidak, AJ sudah meninggal beberapa hari lalu."
Ada hening sejenak.
"Begitu ya, pantas saja."
"Kau sudah mendapat informasi selama di sini?" tanya Jap.
"Sedikit. Besok kuajak kalian ke Gunung jika ingin tahu dulu asal-usul Puisi Hitam. Sekarang kalian sebaiknya istirahat dulu."
"Aku ingin mengetahuinya sekarang. Waktu di situasi seperti ini jadi sangat berharga."
"Jangan terlalu memaksakan tubuhmu. Namun jika kalian memaksa aku akan antar."
"Sebaiknya kita makan dulu Jap. Perutku sudah lapar, dan tubuhku juga lengket ingin mandi," usul Karma.
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan Karma." AK menyahut. Jap mengiyakan.
Selesai makan dan mandi Jap, Karma dan Alena langsung bergerak mengikuti AK ke sebuah rumah yang setelah diketahui rumah itu milik kuncen Gunung Kumbang. Setelah selesai diberi doa dan pesan dari Kuncen, keempatnya langsung bergerak ke arah Gunung.
"Kenapa tidak langsung saja bergerak ke gunung, menemui kuncen itu sangat menghabiskan waktu," kesal Karma yang tak senang karena waktu sudah hampir pukul setengah lima dan mereka baru akan bergerak ke arah gunung. Dilain sisi ia juga kesal karena AK masih percaya dengan hal berbau dukun semisal Kuncen tadi. "Ini zaman modern, kau masih percaya saja dengan hal-hal seperti kuncen?"
"Bukan aku percaya, hanya tidak sopan saja jika kita langsung masuk gunung tanpa izin dulu pada orang sekitar. Lagi pula kan kalau semisal ada apa-apa pada kita, mereka bisa tahu dan bakal langsung mencari kita. Intinya kita tidak boleh seenaknya berada di sini, karena bagaimanapun tanah ini adalah milik mereka," jelas AK.
"Kukira kau memang orang paling berpikiran pendek diantara kita Karma," sindir Alena. Karma tak menjawab hanya menyipitkan mata kesal.
Keempatnya terus melangkah, meninggalkan rumah-rumah menuju ke perkebunan warga. Jalanan setapak dilintasi perlahan makin mendaki dan kebun-kebun akhirnya sepenuhnya berganti jadi hutan dengan pepohonan tua dan besar.
Sinar mentari sore masih bisa masuk ke celah-celah dedaunan, namun perlahan sinar-sinar itu memudar bersamaan begulirnya waktu. Suasana tetap tak berubah, hanya hening yang diselingi suara tonggeret dan burung-burung kecil yang hendak beristirahat pada dahan-dahan mereka.
"Sebenarnya kita mau kemana sih?" Tanya Karma yang penasaran dengan apa yang hendak mau AK tunjukkan. AK cuma bilang kalau ia mau menunjukkan sesuatu soal Puisi Hitam tapi tidak jelas yang mau ia tunjukkan itu seperti apa.
"Terdapat sebuah prasasti di beberapa tempat di Gunung Kumbang," jawab AK. "Di Prasasti tersebut menceritakan kejadian abad 13 saat terdapat kekacauan di Kerajaan Galuh. Seorang penulis bernama Sastro Tomo pernah menuliskan dengan rinci keseluruhan tulisan di prasasti tersebut di bukunya yang berjudul Mantra."
"Karena buku itu jugalah yang membuat AJ berpesan untuk menyuruh kami semua kemari," terang Jap.
"Aku membawa buku tersebut sekarang," sahut Alena.
"Lalu setelah tulisan tersebut sudah dirangkum ke sebuah buku, jadi untuk apa kita harus repot-repot memeriksa prasasti tersebut?" tanya Karma heran.
Jap menjawab, "Untuk lebih memperjelas dan siapa tahu kita mendapat bukti lain. Ingat penulis hanya mencari apa-apa yang bagus untuk ditulis, sementara detektip, mereka akan meneliti dengan teliti apa yang mereka cari hingga sampai mendapat jawaban dan keterangan jelas dari apa yang mereka cari tersebut. Sederhananya penulis hanya menuliskan Puzzle yang masih berhamburan. Sementara Detective, mereka akan fokus menyusunnya."
"Sekali saja Karma, gunakan otakmu untuk berpikir, jangan cuma hanya mengeluh dan terus-terusan bertanya hal-hal yang sebenarnya mudah untuk dijawab." Alena kembali menyindir.
"Iyaaaa, aku akui kalau otakku ini memang tidak secerdas kalian."
"Otak manusia normal sebenarnya sama saja. Aslinya kau cuma malas berpikir saja. Otak itu harus dibiasakan berlatih," sindir Alena lagi.
"Nah itu tahu," balas Alena santai. Karma menghela napas, percuma berdebat dengan seorang perempuan, pikirnya.
Sekitar pukul 5 mereka tiba di Prasasti yang dimaksud AK. Prasasti batu berwarna putih dengan aksara sunda yang menempel di sana. Keempatnya langsung memperhatikan prasasti tersebut, kecuali Karma yang sibuk memperhatikan ke semak belukar serta pepohonan. Ia khawatir ada **** Hutan ditempat seperti ini.
Alena mengeluarkan buku Sastro Tomo yang berjudul Mantra dari tas. "Tulisannya sama dengan yang ada di halaman awal buku," ujarnya. "Prasasti ini menceritakan pemuda bernama Banga di masa lalu yang terobsesi menggulingkan kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara."
*****
Di sebuah perumahana elit. Di halaman salah satu rumahnya, seorang gadis lima tahunan tengah asyik bermain dengan sepeda roda tiganya. Ia mengelilingi halaman berumput dengan riang gembira.
Kegiatannya kemudian ia hentikan ketika mendapati seorang pria pengendara motor vespa berhenti tak jauh darinya.
Pengendara itu--dengan pakaian seperti seorang tukang pos dan mulut tertutupi masker--menghampiri si gadis kecil. Lantas berhenti dan langsung membungkuk ketika sampai di hadapan.
"Kau anak Wakapolri kan?" tanya pria tersebut kemudian membuka maskernya hingga terpampanglah senyumnya yang indah. Pria itu tak lain adalah Raka.
Si gadis kecil mengangguk.
"Bisa kau berikan surat ini untuk ayahmu?" Raka memberikan sebuah amplop putih kecil dari tas pada si Gadis kecil. Gadis kecil itu menerimanya.
Raka kembali tersenyum. "Terimakasih gadis manis."
Gadis kecil itu membalas senyuman. "Iya Kak."
Raka berbalik kembali ke motor. Setelah sampai di atas motornya ia memperhatikan gadis kecil tadi yang kini berlalu memasuki rumah, meninggalkan sepedanya yang tergeletak tersinari cahaya mentari yang mulai memerah.
__ADS_1
"Mudah sekali memasuki perumahan elit." Raka menyalakan motor dan kemudia melajukannya.
Di dalam rumah Wakapolres. Si Gadis kecil tadi berlarian mencari ayahnya sembari memanggil-manggil namanya. Salah satu saudaranya yang tengah main playstation membentaknya karena merasa adiknya itu berisik.
"Kakak dimana ayah?"
"Di atas. Prili jangan teriak-teriak lagi."
"Iya, Kak." Prili merapatkan mulutnya seolah ingin menunjukkan pada kakaknya kalau ia tak akan berteriak-teriak lagi.
Gadis kecil itu kemudian kembali melanjutkan pencariannya, berlari melewati tangga.
"Ayah!" Sapa Prili ketika gadis itu masuk ke kamar orangtuanya dan mendapati ayahnya yang tengah mengetikan sesuatu di laptop.
"Prili, apa sudah bermainnya?" ucap ayah Prili yang tak lain adalah Wakapolri.
"Sudah Ayah. Tadi ada yang kasih Prili ini." Prili menunjukkan amplop yang di berikan oleh Raka. Untuk sesaat pak Wakapolri tertegun.
"Dari siapa?" Pak Wakapolri mengambil amplop kecil tersebut.
"Dari Om-om ganteng."
Wakapolri menyipitkan mata, lantas membuka amplopnya. Di dalam amplop tersebut terdapat secarik kertas. Wakapolri membacanya:
'Puisi Hitam.'
'Puisi indah bukanlah cinta, tapi untaian mantra.'
'Dan kata-kata ini adalah jalan ke alam baka.'
'Jikininki adalah iblis, ia teman si gadis.'
'Dia suka si gadis seperti sukanya pada kelopak lili.'
'Pada tanduk domba hitam juga.'
'Dan pada daging atau darah.'
"Surat apa ini?" gumam Wakapolri kemudian sembari memasukan kembali suratnya ke dalam amplop.
Udara di sekitar menjadi sangat dingin dan angin tetiba berhembus kencang hingga menyibakkan jendela kamar dengan keras.
"Anginnya kencang sekali ayah," ujar Prili.
Wakapolri bangkit mencoba menutup jendela namun tiba-tiba penglihatannya memburam jadi merah dan samar-samar melihat sosok makhluk besar mengerikan dengan tatapan menyala merah merintangi jalannya.
"S-siapa kau?" Wakapolri bertanya cemas pada makhluk tersebut.
"Ayah itu apa?" ujar Prili ketakutan dengan tatapan fokus pada Jikininki.
Wakapolri dan Jikininki menatap pada Prili. Ingin sekali Wakapolri meraih Prili dan keluar cepat dari kamar, tetapi anehnya kakinya serasa mati rasa.
"Tak heran jika anak kecil dapat melihatku," ucap Jikininki. Ia kembali menatap Wakapolri kemudian menggerakan sebelah tangan kurusnya yang memiliki kuku-kuku tajam ke arah jantung Wakapolri.
BLACKPOEM
RAKAPUNZEL
__ADS_1
TBC__