Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Topeng Iblis belum retak


__ADS_3

"Kapolri ditemukan meninggal dunia semalam di rumahnya, diduga karena serangan jantung. Polisi belum bisa memastikan apakah ini ada kaitannya dengan Puisi Hitam." Reporter di salah satu stasiun televisi itu menuturkan.


Wina langsung mematikan televisi. Yuke yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponsel seketika melirik padanya.


"Kenapa dimatikan Wina?"


"Ngeri Nona. Saya jadi khawatir dengan Puisi Hitam itu lagi. Ngomong-ngomong tidak ada lagi kabar dari Karma. Apa mereka sudah menyelesaikan tugas mereka?" Wina dan Yuke belum mengetahui kalau AJ meninggal. Pihak kepolisian dan Tim Inu tidak memberitahukan hal ini pada mereka. Dilain hal, Yuke sudah tidak membutuhkan penjagaan lagi. Menurutnya selama ini polisi-polisi itu malah merepotkan, dan ia tidak peduli lagi dengan keselamatan nyawanya.


Seharian itu berita kematian Kapolri jadi berita utama di berbagai media dalam negeri. Bahkan hingga ke luar negeri. Di kolom berita luar negeri malah langsung dituliskan kalau Kapolri tewas karena Blackpoem atau Puisi Hitam, dituliskan lengkap juga tentang apa itu Blackpoem. Namun yang mereka ketahui tentang Blackpoem hanya sebatas Puisi yang bisa membunuh orang, belum mengetahui kalau dibalik Blackpoem terdapat organisasi kejahatan yang ingin membuat dunia baru.


Karma memarkirkan motor ducati monster-nya di halaman Polda Metro Jaya. Setelah turun tubunya langsung mematung ketika mendapati kehadiran mobil Alena. Ia memperhatikan sampai mobil itu terparkir sempurna.


"Kau dipanggil juga?" Karma langsung bertanya ketika Alena sudah dihadapannya setelah sebelumnya turun dan menuju kearahnya.


"Iya," keduanya ... ah tidak, tapi sebenarnya ketiganya--termasuk Jap--sebelumnya ditelepon oleh Muhiso untuk pergi ke Markas Tim Inu. Masih belum tahu apa yang ingin Muhiso sampaikan, tapi mereka duga ini jelas ada hubungannya dengan kematian AJ. Karma dan Alena sejurus kemudian bergerak ke dalam gedung sembari sesaat memperhatikan suasana Polres yang murung dengan berdiri banyak bendera Indonesia setengah tiang.


Ketika tiba di Markas, Karma dan Alena langsung disambut dengan sapaan hangat dari Muhiso yang tengah duduk di salah satu kursi dalam ruangan. Di samping Inspektur Jendral tersebut, berdiri tiga polisi dan seorang detektif yang tak lain adalah Jap. Jap sebelumnya datang semenit lebih awal dari Karma dan Alena.


"Maaf jika terlambat." Karma berujar.


"Tidak terlambat," jawab Muhiso sambil bangkit.


"Turut berduka atas kematian Kapolri," kata Alena.


"Turut berduka juga atas kematian AJ." Muhiso membalas. "Kalian sudah berkumpul jadi aku akan langsung memberi tahu alasan kenapa menyuruh kalian kemari. Semoga kalian dapat menerimanya dengan lapang dada. Ah ada hubungannya dengan kematian AJ." Muhiso berhenti membuat AJ, Karma, dan Alena menunggu.


"Maaf yang sebesar-besarnya, aku terpaksa membubarkan Tim Inu."


Mata ketiga anggota Tim Inu seketika melebar.


"Karena kurasa tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari kalian. Kekuatan tim Inu ada pada AJ, dan tanpa AJ di tim ini, kalian tidak akan dapat menyelesaikan permasalahan Puisi Hitam lagi."


Suasana ruangan hening sejenak. Sebelum Jap berbicara:


"Tapi AJ berpesan pada kami untuk melanjutkan misi ini. Dan ia sudah mempercayai kepemimpinan Inu padaku."


Muhiso menoleh pada Jap.


"Sebelum kematiannya, AJ menyampaikan pesan ini pada Memori di topengnya. Kemarin aku mencoba memakai topang tersebut dan langsung kudapati pesannya."


"Ah maaf Jap, meskipun AJ bilang begitu tapi ini sudah jadi keputusan kepolisian. Tim Inu akan tetap dibubarkan."

__ADS_1


"Yang boleh membubarkan tim Inu cuma Kapolri atau Wakilnya," tegas Karma.


"Dan besok aku akan dilantik jadi Kapolri, jadi aku berhak membubarkan kalian." Muhiso mengeluarkan selembaran kertas yang menunjukan kalau memang ia akan dilantik jadi Kapolri dan surat itu resmi bertanda tangan Presiden.


Muhiso menatap Karma dengan tajam. "Tim Inu detik ini juga aku bubarkan. Kemasi barang kalian yang masih ada di sini."


Karma, Alena dan Jap, sesaat saling tatap. Lalu dengan terpaksa menuruti perintah Muhiso. Karma dan Alena mengambil barang-barang pribadi juga beberapa barang milik AJ dan Frans. Jap sendiri langsung mencoba mensave data dari komputer. Namun langsung saja ia tercengang ketika tidak mendapati satupun data tersimpan di komputer tersebut. Ia tadinya ingin mengatakan ini pada Karma dan Alena, tapi seketika mengurungkannya ketika melihat wajah Muhiso yang tersenyum licik padanya.


"Ada sesuatu Jap?" tanya Muhiso.


"Tidak." Jap kemudian langsung mengambil beberapa barangnya. Hanya sedikit barang yang ia taruh di kantor. Tak seperti Karma yang seolah menjadikan Markas atau Kantor serasa kamarnya sendiri. Bahkan sepatu futsal Karma juga berada di sini.


*****


Di parkiran Karma langsung memasukan semua barangnya ke passanger seat mobil Alena.


"Tak sekalian saja kau bawa kasurmu ke kantor kemarin," Alena menyindir Karma secara halus sembari menatap passanger seatnga yang penuh oleh barang Karma.


"Tadinya ada rencana begitu, tapi AJ melarang," jawab Karma. Alena terperangah.


"Jadi sebelumnya kau memang mau membawa kasur?"


"Iya, Markas itu sebenarnya tempat yang bagus untuk dijadikan kamar hotel. Pemandangan dari atas sana juga bagus." Karma menengadah menatap ke jendela Markas yang mungkin tidak akan pernah jadi Markasnya lagi, dan ia jelas akan merindukan tempat itu.


"Kau kenapa Jap?" Alena bertanya kemudian.


"Data-data di Komputer hilang."


"Apa?!" ucap Alena dan Karma bersamaan dengan penuh keterkejutan seperti induk burung yang kehilangan anaknya yang baru menetas.


"Bagaimana bisa?" Alena melanjutkan, yang tahu sandi itu kan cuma Aku, Kau dan AJ."


"Aku ragu. Dari awal mereka telah mempersiapkan komputer untuk kita bukan. Jadi bukan tidak mungkin mereka tahu juga sandi tersebut meskipun sandi yang kita gunakan berbeda," kata Jap.


"Kau menduga kepolisian yang menghapus data tersebut?"


"Mungkin."


"Tapi tetap sandi itu jelas tidak akan mudah dibuka."


Jap menghela napas dalam. "Entah. Mungkin kepolisian juga punya hacker handal."

__ADS_1


"Yang jadi pertanyaan, untuk apa kepolisian menghapus data jika selama ini mereka juga yang menginginkan data soal Puisi Hitam tersebut?" Tanya Karma yang keheranan.


"Tidak semua polisi kurasa menginginkan data tersebut. Atau itu cuma dugaanku. Aku menduga sebagian Polisi selama ini juga ikut andil dalam kejahatan Puisi Hitam ini."


"Jangan cepat menuduh Jap!" Alena menegur dengan menatap Jap dalam.


"Aku tidak asal menuduh. Selama ini aku dan AJ memang mengawasi beberapa Polisi. Kecurigaan kami awalnya didasari dari sulitnya detecktif-detectif sebelum tim Inu dalam mencari tahu bukti soal Puisi Hitam. Dan saat Tim Inu dibentuk, kita hanya menerima sedikit data dari kepolisian soal Puisi Hitam. Kalian harus tahu kalau detektif-detectif sebelum tim Inu juga bukan detectif biasa, mereka memang bisa dibilang tak seahli dan secerdas AJ, tapi mereka tidak bisa diremehkan dalam mencari data. Jadi dari awal aku dan AJ merasa ada kejanggalan dibalik semua ini."


"Jadi kau menduga ada persekongkolan antara Puisi Hitam dan pihak kepolisian?" Tanya Karma.


"Hanya dugaan. Lebih baik kita bicarakan ini lagi nanti."


Alena menutup pinyu passanger seat dengan keras. Membuat Karma memperhatikannya karena terkejut.


"Aku sedang PMS, maaf!" Kata Alena dengan sedikit tersenyum canggung, merasa agak bersalah telah membuat Karma terkejut. "Sekarang setelah Tim Inu bubar kalian berdua mau pada kemana?"


"Aku akan menikah dengan Krina. Setelah itu mencari kerja," jawab Karma enteng.


"Bukannya mencari kerja dulu baru menikah?" Alena bertanya.


"Uang pesangon kita cukup untuk membuat pesta pernikahan mewah. Selagi aku punya uang lebih, dan nikah itu harus disegerakan bukan kalau sudah mampu?"


"Terserah kau saja." Alena menghela napas dalam. "Ah kalau aku akan coba cari kerja di dekat pantai saja. Entah itu dalam bidang komunikasi atau perhotelan, yang jelas dekat pantai. Biar aku bisa terus mendengarkan deruan ombak atau suara burung camar. Atau melihat sunset."


"Menarik sekali rencana kalian berdua. Namun kurasa batalkan rencana tersebut karena aku minta kalian berdua menyelesaikam kasus ini.


"Apa maksudmu?" tanya Karma.


"Karma! Alena!" Jap mengambil topeng AJ dari dalam pakaian detectifnya dan mengangkat sedada seolah menyuruh Alena dan Karma memperhayikan topeng tersebut. "Di sini AJ berpesan untuk menyelesaikan kasus ini. Dia percaya padaku kalau aku bisa menyelesaikannya. Aku akan menggunakan topeng ini dan jadi AJ yang baru atau Aj berikutnya. Jadi tidak ada lagi Jap di dunia ini.


"Dia hanya mempercayaimu bukan aku dan Alena?"


"Mungkin benar. Dia memang bilang hanya mempercayaiku. Namun aku membutuhkan kalian berdua untuk menyelesaikan kasus ini."


"Aku sudah muak sebenarnya dengan kasus seperti ini, dan aku ingin segera menikah dengan Krina. Namun aku juga tidak bisa membiarkan kejahatan Puisi Hitam ini terus berlanjut."


"Aku juga. Seindahnya pantai, laut dan ombak tidak akan terasa indah jika pikiranku masih di ganggu dengan Puisi Hitam." Alena menyahut.


Jap tersenyum. "Itu berarti Tim Inu belum bubar. Dan tujuan menumpas komplotan Puisi Hitam tetap berlanjut?"


Alena dan Karma mengangguk pelan dengan kedua sudut bibir mengembang. Di atas, tak jauh dari mereka bendera-bendera setengah tiang kelabakan diterpa angin yang tiba-tiba berhembus agak kencang.

__ADS_1


TO BE CONTINUED ... BLACKPOEM.


__ADS_2