
Sembari terus melangkah Alena sesekali menengadah memperhatikan banyak foto dan hiasan unik pada menempel di tembok rumah Karma. Sebuah rumah yang besar dan mewah.
"Silahkah duduk," pinta Karma pada Alena dan Jap. Kedua temannya itu kemudian duduk di sofa putih nan empuk, bersamaan Karma memanggil seseorang, yakni pembantunya yang merupakan wanita paruh baya. Karma langsung menyuruh pembantunya membuatkan minuman.
"Tidak usah canggung, anggap saja rumah sendiri." Karma berujar sembari mendudukkan diri di sofa.
"Ibu mu dimana?" tanya Jap pada Karma.
"Pergi keluar sepertinya. Jap, sekarang ceritakan apa wasiat yang AJ berikan di topeng itu." Sebelum kemari Jap memberitahu Alena dan Karma kalau AJ ternyata memberi wasiat di topengnya.
Jap menaruh topeng AJ di bangku kaca. Alena dan Karma langsung memperhatikan topeng tersebut. Sesaat ingatan akan AJ kembali di benak ketiganya. Sangat disayangkan AJ mati secepat ini.
"Pertama AJ berpesan jika dirinya mati Tim INU tidak boleh bubar, dan aku yang akan melanjutkan kepemimpinannya. Itu pesan pertama," jelas Jap. Jap kemudian menceritakan pesan-pesan AJ yang lain diantaranya:
Tim INU tidak akan bisa mengalahkan Puisi Hitam selama Tim INU tidak mengetahui betul siapa atau apa Puisi Hitam itu sendiri. Untuk sementara ini memang Tim INU sudah tahu kalau Puisi Hitam itu adalah organisasi yang kejahatan yang ingin mengubah tatanan dunia. Namun mereka belum mengetahui apapun soal cara Puisi Hitam bekerja.
Lalu setelah membaca buku tentang Mantra yang dibawa Alena. AJ menemukan bukti kalau kejahatan Puisi Hitam besar kemungkinan ada hubungannya dengan kejahatan Mantra di Abad 13. Jadi AJ berpesan kalau mereka sebaiknya pergi ke tempat yang di maksud di buku agar mereka menemukan bukti lagi tentang apa itu Puisi Hitam.
Jika kasus ini memang terbukti ada hubungannya dengan sejarah itu, bisa jadi makhluk pembuat onar yang dulu disebut Jikininki sudah bangkit lagi.
"Apa itu Jikininki?" tanya Karma memotong penjelasan Jap.
"Entah, mungkin saja monster," Jap menjawab.
"Absurd sekali jika kasus ini disebabkan oleh monster."
"Bukan monster." Alena menyahut. "Jikininki itu makhluk tua, lebih tua dari kehidupan umat manusia. Mereka dulunya baik ... sebelum manusia terus melakukan dosa dan membuat mereka jadi makhluk mengerikan. Kasus ini mungkin, mungkin tak lain adalah pembalasan alam sendiri pada manusia." Alena berhenti sesaat. "Aku tahu dari buku itu sendiri."
"Kasus ini makin buatku pusing," keluh Karma yang pada dasarnya tidak mempercayai hal-hal mistis.
"Memang akan sulit dipercayai oleh akal Karma. Namun kematian yang disebabkan oleh puisi, itu sudah menunjukan kalau dari awal kasus ini ada kaitannya dengan hal mistis," kata Alena.
"Semoga kita akan mengetahuinya di sana." Jap mengambil gelas berisi jus yang sebelumnya sudah diantarkan oleh pembantu Karma. Ia minum.
"Kapan kita akan pergi?" Tanya bertanya.
"Besok," jawab Jap. "Jadi kemasi beberapa barang kalian karena mungkin kita akan lama di sana."
"Berapa lama?"
__ADS_1
"Tergantung kita menemukan bukti. Kalau kita tak menemukan bukti sampai 7 hari, kita akan pulang."
Karma menghela napas. 7 hari adalah waktu yang singkat, tapi serasa akan jadi waktu yang lama karena ia akan meninggalkan Krina.
Sore berlalu jadi malam, dan malam tertelan oleh fajar. Mentari perlahan naik menunjukkan hangatnya. Jap, Karma dan Alena akhirnya memulai perjalanan panjang mereka menuju ke Gunung Kumbang yang terletak di sekitaran perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah menggunakan mobil sedan milik Jap.
Mobil terus melaju menyusuri jalanan biasa hingga masuk tol, dan gedung-gedung pencakar langit nan megah milik Ibukota tak terlihat lagi oleh pandangan. Kini yang bisa Karma lihat dari passanger seat hanya bangunan pendek dan bukit-bukit dipinggiran tol. Dan tentunya langit biru yang tengah cerah di atas sana.
Alena yang berada di kursi depan menyambungkan ponselnya ke peralatan audio mobil via bluetooth, lantas memutar playlist mp3 nya. Sejurus kemudian terdengar lagu Mahadewi milik band Padi.
"Coba lagu Linkin Park," ujar Karma.
"Tidak, itu berisik, tidak cocok untuk saat ini," balas Alena.
"Ah, ayolah."
".... kutatap bintang-bintang angkasa, hanya satu bintang yang kupuja. Anda ." Alena terus bersenandung mendengar lagu-lagu dari band favoritnya. Sementara Karma terlelap tidur mendengarkan lagu yang menenangkan tersebut.
*****
Kalau bukan karena macet di salah satu pintu tol, mereka mungkin bisa datang ke Wilayah Gunung Kumbang dengan cepat.
Suasana di sini berbanding terbalik dengan di Ibukota. Jika di Jakarta ramai maka di sini sepi, jika di Jakarta panas, di sini sangat sejuk dan dingin. Untuk sesaat Karma menyesal tidak mengajak Krina kemari, mungkin tungannya itu bakal suka menulis di tempat seperti ini.
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan kayu yang bertuliskan penginapan. Karma awalnya heran kenapa di tempat seperti ini ada penginapan, dan lagipula siapa yang menginap. Namun setelah Jap menjelaskan kalau penginapan itu di kususkan untuk para pemburu akhirnya Karma paham.
Ketiganya turun dari mobil lantas mendekati penginapan yang tampak sepi seolah tak ada penghuni di sana. Mereka berhenti di dekat beranda.
"Permisi!" Karma berseru keras. Namun tidak ada jawaban. Pemuda itu kemudian berseru lagi beberapa kali.
"Guk, Guk, Guk, Guk!" Rongrongan anjing dari arah belakang mengagetkan ketiganya. Mereka berbalik dan mendapati seekor anjing liar hitam yang diikat rantai dan seorang pria kekar berwajah bengis.
"Ah tuan, permisi." Jap menyapa sopan.
"Ada keperluan?" Tanya pria tersebut. Anjingnya menggonggong.
"Kami mencari penginapan di sini."
Pria itu tak menjawab hanya melayangkan tatapan dingin ke arah tiap anggota tim INU.
__ADS_1
"Tunggu di sini." Pria itu melenggang menuju ke samping rumah.
"Kita cari penginapan yang lain saja. Aku tidak suka pada anjing," kata Alena.
"Sulit mencari penginapan lain," jelas Jap.
Tak lama pemuda berwajah seram tadi kembali dengan seorang pria dan wanita sangat tua. Mungkin sekitar tujuh puluh tahunan jika dilihat dari kukit yang sudah mengeriput dan punggung yang agak bungkuk. Namun keduanya nampak masih terlihat segar dan sehat.
Karma memperhatikan sesaat pada mulut si wanita tua yang bergoyang-goyang tengah mengunyang sesuatu. Ah jelas itu daun sereh.
Pria berwajah bengis berbicara dalam bahasa sunda pada kedua orang tua itu, yang Karma bisa memahami maksudnya. Pria itu bilang kalau anak-anak ini mau menginap.
Kakek dan Nenek itu kemudian menanyakan asal usul anak-anak tim INU dan apa tujuan ketiganya di sini.
Setelah Jap menjelaskan ingin mencari tahu soal Jikininki kedua orang tua itu kemudian menyuruh mereka mengikuti keduanya.
Keduanya berjalan melewati samping rumah penginapan. Si Nenek memberitahukan kalau tenpat menginap bagi pendatang jauh bukan di bagian ini.
"Baru kalian yang menanyai soal Jikininki itu pada kami. Ah tidak kalian orang kedua. Yang pertama itu waktu aku masih sangat muda. Seorang mahasiswa menanyai soal Jikininki, katanya ia ingin mengetahui Jikininki untuk keperluan bukunya. Namanya aku lupa."
"Apa legenda Jikininki terkenal di sini Kek?"
"Tidak, orang-orang masa kini sudah pada sibuk dengan dunianya. Mereka sama sekali buta sejarah. Jangankan mencari tahu. Jika diberitahupun mereka pastinya tidak akan peduli dan tidak akan mempercayai."
Mereka semua berhenti di sebuah rumah berukuran kecil.
"Ini tempat kalian berdua menginap? Untukmu." Si Kakek menatap Alena. "Ada tempat lain lagi."
"Boleh kami lihat tempatnya dulu Kek?" Tanya Jap yang ingin memastikan dulu kalau tempat di sini layak huni dan nyaman.
"Ah silahkan," ujar si Kakek.
Jap masuk ke dalam rumah. Karma dan Alen hanya mematung.
"Apa ini karena Puisi Hitam makannya kalian kemari?" ujar sebuah suara dari arah lain yang ternyata berasal dari seorang pria berkulit kecoklatan berkacamata yang tengah duduk di kursi kayu di warung kopi. Dari fisiknya ia terlihat seperti berasal dari Maluku atau Papua.
Karma dan Alena memperhatikan Pemuda itu sesaat. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku Detective juga, teman lama AJ." Pria itu bangkit dan mendekati Karma juga Alena, lantas berhenti di hadapan keduanya dan mengukurkan tangan mengajak salaman. "Namaku Andi Kalsaba, lebih dikenal dengan nama AK."
__ADS_1
TBC ...