
Mobil Karma dan AJ tiba di tempat yang mereka tuju.
"Sialan macet, kita jadi terlambat," gerutu Karma, "pasti Hengs sudah menunggu lama." AJ dan Karma melepas sabuk pengaman lantas keluar dari mobil. Keduanya lekas bergegas ke mobil Hengs.
Karma mengintip lewat kaca ke dalam mobil.
"Tidak ada orang AJ," ujarnya kemudian. AJ agak keheranan, lantas ia berjongkok mengintip juga. Setelah mengetahui tak ada tangannya menggapai gagang pintu.
"Pintunya tak di kunci," gumam AJ. Ia segera melirik ke arah gedung. "Hengs nampaknya masuk ke gedung itu. Padahal aku sudah bilang di sini saja." AJ melangkah bergegas. Karma mengikuti.
Keduanya memasuki gedung yang gelap tersebut, melangkah berhati-hati sembari memperhatikan keseluruh arah dengan waspada. Keduanya lalu berhenti ketika menemukan sosok pria tergoler diam di lantai. AJ dan Karma berjongkok.
"Sialan, kita benar-benar terlambat," ucap AJ setelah menyentuh leher Hengs memastikan apakah ia masih hidup atau tewas. Karma bergegas mengeluarkan pistolnya. Sementara Hengs mengeluarkan senter dan kaca pembesar.
Pria bertopeng itu menyoroti lantai di sekitar tubuh Hengs.
"Kita akan melakukan penelusuran di tempat ini dulu." AJ kemudian melakukan penelusuran untuk mencari bukti. Sementara Karma hanya mengawasi, berjaga-jaga juga jika pembunuh Hengs masih ada di sekitar mereka. Sekitar hampir satu jam keduanya lantas keluar. Dua mobil polisi dan satu ambulnce kemudian tiba. Polisi-polisi ini sebelumnya dihubungi AJ, untuk mengurusi mayat Hengs.
AJ berbicara sesaat dengan beberapa polisi. Sementara Karma, dengan perasaan kesal terus mengawasi gedung yang ia masuki tadi. Ia berharap penjahat keparat itu menampakkan hidungnya. Ia sudah tak tahan ingin menghabisi penjahat tersebut. Pertama Aditia, sekarang Hengs.
Dengan perasaan mendung. AJ dan Karma bergerak kembali ke markas.
"Kau sudah dapat gambaran AJ soal pembunuh Hengs?" tanya Karma yang menyetir dengan tak tenang.
"Sudah. Dari jejak kaki yang aku selidiki bisa kusimpulkan kalau pelakunya memakai sepatu perempuan. Juga masih terdapat bau parfum melati di beberapa benda, akibat gesekan pakaiannya kuyakin," jelas AJ.
"Berarti pelakunya perempuan seperti yang memang sudah diyakini sebelumnya?"
"Iya 90%."
"Wanit macam apa dia, wanita iblis kah, dan aku masih heran untuk apa sebenarnya ini."
Malam itu juga seluruh anggota tim INU berkumpul di Markas. Raut kecewa terpampang jelas dari semuanya, kecuali AJ tentunya karena memakai topeng. Yang paling kesal pastinya Jap, karena sudah lama ia menjadi kolega Hengs.
"Jadi Raisa tak perlu dicurigai sekarang? Soalnya sedari tadi aku bersamanya."
"Tetap awasi. Karena kita belum tahu di balik kejahatan ini adalah individu atau kelompok," ucap AJ.
"Sialan memang dia, dia telah merenggut Aditia juga," kesal Frans. Yang lain memperhatikan Frans.
"Ada Email masuk," kata Alena tiba-tiba. Ia memperhatikan layar komputernya. "Dari ...."
"Dari siapa Alena?" tanya Frans.
"Puisi Hitam," jawab gadis itu kemudian. Keempat koleganya mendekat dan memperhatikan komputer juga.
"Hati-hati Alena," cemas Frans. Alena membuka Email-nya.
"Biar aku yang baca," ucap AJ. Dan ia membacanya.
"Permainannya kurang seru AJ. Kalian terlalu payah sebagai detektif. Aku akan membunuh kalian satu persatu karena berusaha menghalangi impianku." baca AJ. Dengan cepat jemari Alena mengetikan tombol di keyboard.
"Aku dapat alamat di mana pengirimnya!" seru Alena cepat. "Sudah terkunci." Alena menyebutkan nama alamatnya.
"Frans kau temani Alena di sini. Karma, Jap ikut aku." ucap AJ bergegas keluar. Karma dan Jap langsung mengikuti. Setelah di parkiran Mabes Polri, AJ menyuruh Karma menggunakan motornya. Sementara Jap ia suruh menggunakan mobil yang sebelumnya dikendarai Karma. Ketiganya lantas berangkat dengan AJ membonceng bersama Karma. Melalui earpiece Alena memberitahukan ketiganya jalan tercepat. Alena dan Frans kini fokus menatap layar komputer, pada titik merah di peta.
"Tempat apa itu Alena?"
"Hotel."
Berkat bantuan Alena, AJ dan Karma sampai ditempat yang mereka tuju. Sebuah gedung apartemen.
Karma memarkirkan motornya dan melepaskan helm lantas menaruhnya di spion seperti yang dilakukan AJ.
"Jap, setelah kau sampai, kau tetap di luar saja," ucap AJ lewat earpiece. Jap mengiyakan. AJ dan Karma lantas bergegas memasuki Hotel.
__ADS_1
"Kamar nomor 478, lantai 6." kata Alena. AJ mengiyakan. Setelah bertanya di lobi, keduanya kembali bergegas.
AJ dan Karma menunggu lift terbuka beberapa saat. Dan tak lama lift terbuka. Keluarlah seorang pemuda bertopi dengan penampilan urakan dan postur tinggi tegap. Dipunggungnya tergendong sebuah tas. Sebelum masuk ke lift Karma memperhatikan pemuda tersebut sesaat.
"Siapa tadi nama pemilik kamar tersebut?" tanya Karma setelah memencet tombol.
"Sinyo Harahaf."
"Apa kau bilang Sinyo Harahaf?" sahut Alena diseberang sana. Ia seperti kenal nama itu, tapi dimana, pikirnya.
"Benar. Cari informasi tentangnya," kata AJ. Lift terbuka, keduanya segera bergegas ke kamar 478 dengan arahan Alena. Alena tiba-tiba ingat nama itu.
"AJ, sebelumnya aku pernah mengetahui sedikit tentang nama itu."
"Siapa?"
"Sinyo Harahaf pernah ikut jadi bagian di komunitas peretas Elit Asia. Aku pernah sekali bertemu dengannya saat pertemuan."
"Apa Sinyo yang ini sama?" tanya AJ.
"Entah. Mungkin nama itu banyak. Tapi mungkin juga ia. Karena kupikir selain teman polisi kita, cuma peretas yang bisa mengirim e-mail ke komputer kita."
Keduanya akhirnya tiba di kamar 478 dan tanpa banyak basa-basi Karma langsung mengambil ancang-ancang mendobraknya. Padahal pintunya sama sekali tak di kunci, hingga akhirnya ia terjengkang dan mencium lantai. AJ menggeleng karena kecerobohan Karma ini.
"Kalau aku punya anak gadis, dan kau melamar anak gadisku itu aku jelas langsung akan menolakmu Karma. Kelakuanmu bodoh sekali," ucap AJ.
Karma bangkit dan langsung mengusap-usap pakainnya. Baik AJ dan Karma langsung memperhatikan kamar tersebut yang nampak masih gelap.
Karma bergerak mencari saklar. Setelah ketemu lampu langsung menyala. AJ bergerak mencari hal-hal yang menarik perhatiannya. Salah satunya sebuah foto yang berdiri dengan tumpuan diatas meja. Foto pemuda tengah tersenyum.
"Sial. Jadi pemuda yang keluar dari lift tadi adalah dia," kata AJ. Karma mendekat menatap foto. Ia mengepalkan tangan.
"Sekarang jelas sudah kalau dibalik puisi hitam ternyata lebih dari satu orang. Hanya saja apakah mereka bekerja sama atau tidak," ucap AJ.
"Alena!" lanjut AJ sembari mengarahkan jam tangannya pada foto, jam tangan AJ ini memiliki kamera yang dapat tersambung ke komputer Alena. "Apa ini Sinyo yang kau maksud?"
"Pantas saja komputer kami bisa diretas," kata AJ.
"Jika ia bisa meretas komputer kita. Maka mungkin ia juga sudah tahu soal seluk beluk tim INU. Dan mungkin ia sudah memata-matai pergerakan kita juga. Siapa tahu kan," terang Alena.
"Tidak salah." Seketika itu juga Alena dan AJ merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Siapa tahu juga ia sudah mengetahui kau sudah bergabung. Tapi mungkin belum. Karena pasti ia takkan seceroboh ini meninggalkan jejaknya di komputer." AJ berpikir.
"Atau mungkin ia sengaja," kata AJ lagi. Ia memperhatikan seluruh ruangan dan menajamkan pendengaran. "Karma jangan bergerak dan diam. Karma memaruhi perintah AJ. AJ mendengarkan lagi. Ia mendengar sesuatu seperti bunyi tit, tit. Ia bergegas kearah suara yang terdengar samar-samar itu yang berada di dalam laci. Dan seketika ia terbeliak ketika melihat bom yang tinggal 4 detik lagi.
"Karma ada bom, cepat keluar!" teriak AJ sambil mulai berlari. Karma bergegas. Dan tak lama.
Bumm!!
Suara ledakan keras terdengar. Membuat terkejut banyak orang, terutama disekitaran hotel. Tak terkecuali Jap yang baru tiba di parkiran hotel. Dilihatnya kini pada satu kamar yang terbakar. Ia menghubungi AJ dan Karma melalui Earpiece, tapi tak terhubung.
Karma perlahan membuka mata. Tubuhnya terbaring dilantai luar kamar dan terasa sakit. Ia bangkit. Dilihatnya AJ berada disampingnya juga tengah duduk.
"Hampir saja." Kata AJ. Ia bangkit, Karma juga bangkit. Karma langsung mendengar tawa kecil AJ.
"Kenapa tertawa?" tanya Karma heran.
"Kita menang besar akibat kecerobohannya. Dia gagal membunuh kita," kata AJ, "sekarang dia sendiri yang membuka jalan terang pada kita dalam memecahkan kasus ini."
"Sinyo Harahaf, tak lebih dari pria naif dan ceroboh sepertimu Karma," kata AJ lagi.
"Jadi bocah naif itu tidak salah AJ," bela Karma.
"Memang haha, malah menarik buatku. Banyak kasusku yang terpecahkan gara-gara kenekatan polisi naif dan bodoh. Mereka pada mati dengan meninggalkan bukti buatkku. Aku yang selalu diuntungkan haha."
__ADS_1
"Ck, aku tidak akan mudah mati," kata Karma.
Setelah keluar dari hotel AJ memerintahkan polisi pusat untuk segera mencari keberadaan Sinyo Harahaf. Karma langsung ikut mencari atas kemauannya sendiri, tangannya sudah gatal ingin menyelesaikan masalah ini.
Pikiran Jap sendiri masih melayang pada Raisa. Di perjalanan kembali ke markas, tepatnya di dalam mobil, ia meminta pendapat pada AJ soal pengawasannya pada gadis itu.
"Kenapa. Kau tinggal mengawasi gerak-geriknya saja bukan?" ucap AJ," atau ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?"
"Benar. Gerak-gerik Raisa sama sekali tidak membuatku curiga," jawab Jap fokus dengan setir mobilnya.
"Hati-hati, beberapa orang pintar menyembunyikan perasaan dan emosi mereka. Tidak usah terlalu dipikirkan Jap. Kita tunggu setelah Sinyo tertangkap."
"Mudah-mudahan segera tertangkap."
*****
Hingga tiga hari berikutnya Sinyo belum tertangkap. Bahkan jejaknya saja tidak ada. Kini AJ mulai kembali mengakui kehebatan kemampuan para penjahat puisi hitam itu dalam menghilangkan jejak.
Jap masih sibuk mengawasi Raisa. Gadis itu nampak tak terlalu risih jika diawasi. Malah ia selalu berlaku ramah ketika Jap mengawasi dirumahnya. Jap dan Raisa kini makan siang bersama lagi. Gadis itu kali ini memasak opor ayam.
Aroma melati menyeruak ketika Ruru keruangan tersebut. Ia sudah berdandan rapi lagi hendak berangkat kerja.
"Kak, makan dulu," pinta Raisa.
"Kakak hampir terlambat. Kakak makan di tempat kerja saja." Ruru melangkah hendak keluar.
"Yah. Akhir-akhir ini kakak jarang makan di rumah," lirih Raisa. Ruru tak menyahut; cuma membalas adiknya dengan senyuman. Lalu ia pamit.
Jap menyuap. "Kau pintar masak?" pujinya pada Raisa.
"Tentulah. Itung-itung belajar jadi istri yang baik."
"Kau punya pacar?" tanya Jap.
"Belum. Tapi cowok yang aku suka ada sih."
"Siapa?"
"Rahasia."
Setelah keduanya selesai makan terdengar pintu rumah diketuk.
"Bisa kau buka kan Jap?" tanya Raisa karena sedang membereskan piring bekas makan keduanya. Jap mengiyakan. Ia bergerak ke pintu dan membukanya. Kini nampaklah orang yang mengetuk pintu tadi. Seorang pemuda: pemuda yang pernah ditemui Karma sebelumnya di Kafe, tepatnya Raka; temannya Ruru atau mantannya Krina.
"Siapa kau?" tanya Raka dingin pada Jap.
"Aku teman sekelas Raisa," jawab Jap. Raka langsung masuk tanpa meminta izin, dan ia langsuk duduk di sofa yang sebelumnya Jap duduki.
"Kak Raka!" ucap Raisa semringah setelah kembali dari dapur. Raka menoleh pada Raisa dengan memberi senyum. Raisa langsung menghampiri pemuda itu dan memeluknya.
"Kakak kenapa jarang kemari sih?"
"Kakak sibuk Rai. Dia pacar kamu?" ucap Raka menatap Jap yang masih berdiri di ambang pintu.
"Bukan!" jawab Raisa cepat.
"Kenapa berduaan?" tanya Raisa lagi.
"Dia cuma lagi main. Emang kenapa? kaka cemburu ya," goda Raisa.
"Gak. Cemburu karena apa?" jawab Raka tenang.
"Kirain." Raisa sedikit cemberut. Raka yang melihatnya langsung terkikih.
"Ih malah ketawa." Raisa melengos.
__ADS_1
Raka menatap Jap lagi dalam, begitupun sebaliknya.
TBC_