Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Idol


__ADS_3

Bu guru tiga puluh tahunan masuk ke kelas 12 IPA-1 beserta seorang siswa berkacamata berambut sangat pendek. Dilihat dari tatapan siswa lain dikelas itu jelas kalau murid yang baru datang itu asing bagi mereka.


Bu Guru berhenti melangkah dan secara tak langsung membuat siswa berkacamata menghentikan langkahnya.


"Perhatian anak-anak! kita kedatangan murid baru," seru Bu Guru, yang lantas berbisik pada siswa berkacamata, "silahkan perkenalkan dirimu." Bu Guru melangkah ke bangkunya.


Siswa baru itu bersiap mengenalkan diri dengan mengedarkan pandangan ke seluruh siswa. Para siswa yang ditatap memperhatikan antusias.


"Selamat pagi semua, saya mau memperkenalkan diri saya. Nama saya Jap Ricardo, salam kenal," ucap Jap dengan tersenyum. Seluruh siswa lain menyahut, termasuk bu guru.


Dari markasnya AJ juga memperhatikan Jap lewat komputer. Sebelumnya ia sudah menyuruh para polisi memasang kamera di banyak sudut ruangan SMA Teratai. Jap sendiri merupakan tangan kanannya selama ini. Selain Jap, AJ juga mengirim Hengs ke SMA Teratai, namun sebagai guru.


Di lain tempat. Frans dan Karma yang menaiki mobil, baru tiba di parkiran sebuah apartemen. Keduanya keluar dari mobil dan sesaat menengadah memperhatikan bangunan tinggi apartemen yang berwarna putih, sebelum melangkah memasuki gedungnya.


"Aku benar-benar tidak sabar menemui Yuke-chan." Frans menampakan wajah semringah.


"Apa dia cantik?"


"Dia itu Idol, pastilah cantik."


Setelah melewati lobi, koridor, lift dan koridor lagi keduanya tiba di depan sebuah pintu kamar bernomor 222. Frans menelepon.


"Hallo!"


"..."


"Kami dari kepolisian, kami sudah di depan kamar nona Yuke."


"..."


"Oke, oke." Frans menutup teleponnya. Tak lama pintu kamar terbuka dan tampaklah wanita tigapuluh tahunan berambut sebahu dan berponi.


"Selamat datang," ucapnya dengan tersenyum ramah. Frans membalas senyum dan mengangguk.


"Apa kau nona Yuke?" tanya Karma.


Wanita itu agak tertegun. "Ah tentu bukan, nama saya Wina, saya asisten nona Yuke," jelasnya, "apa kau tidak mengenal nona Yuke? Dia orang terkenal loh?"


"Dia ini tidak punya tv di rumahnya jadi wajar saja tidak tahu," timpal Frans yang sudah tak sabar bertemu Yuke.


"Oh pantas saja, ya sudah ayo masuk." Ketiganya masuk. Baru beberapa langkah Wina menyuruh Frans dan Karma menunggu di ruang pertama. Wanita itu kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan lain.


Karma dan Frans menatap sesaat ruangan sebelum pada mendudukan tubuh mereka pada Sofa-sofa putih yang teramat empuk.


"Sedari keberangkatan kau tampak semangat sekali Frans?" kata Karma.


"Tentu saja. Yang bakal kita temui ini artis terkenal. Aku akan meminta tanda tangannya."


Beberapa langkah ringan tapi cepat mulai terdengar. Karma mengedarkan pandangannya ke arah lorong ruangan lain. Aroma parfum yang sangat wangi menyeruak. Tak lama munculah Wina dan seorang gadis ramping duapuluh tahunanan berwajah jepang. Gadis itu berkulit putih dan berambut panjang bergelombang. Pakaiannya modis dan terlihat mahal. Frans menganga dengan mata berbinar. Dialah Yuke Amane, aktris yang tengah naik daun.


"Jadi kalian polisinya?" ucap Yuke dingin. Ia mendudukan diri di sofa. Wina juga duduk.


"Benar," jawab Frans tersenyum, "nama saya Frans, dan ini Karma."


Yuke menatap Karma. "Kau masih muda, pasti pengalamanmu juga kurang kan?" Sinisnya. Karma tidak menjawab karena apa yang dikatakan Yuke memang benar.


"Aku membayar mahal pada kepolisian, tapi yang mereka kirim cuma polisi amatir," lanjut Yuke.


"Nona Yuke, meskipun Karma baru tapi dia punya kemampuan yang hebat," jelas Frans.

__ADS_1


"Aku tetap ragu."


Karma menatap Yuke dalam. Mulut wanita ini tidak bisa dijaga menurutnya.


"Aku minta dia diganti," ucap Yuke lagi. Frans dan Karma tercengang.


"Tidak bisa begitu. Ini sudah prosedur kepolisian. Karena selain menjaga nona Yuke kami juga ditugaskan mencari dalang dari masalah ini," jelas Frans.


"Aku tetap mau agar pemuda ini diganti. Atau aku akan melarang kepolisian melanjutkan penyelidikan masalahku. Aku tahu betapa pentingnya masalahku ini untuk kalian, benarkan?"


Frans gusar. Karma menatap Yuke tajam. Arogan sekali si Yuke ini menurutnya.


"Apa yang kau ragukan dariku?" tanya Karma.


"Semuanya," jawab Yuke sengit, "dengar aku ini seorang aktris terkenal, jadi wajar aku minta hal yang sempurna dari pelayanan kepolisian. Aku tidak mau karena hal sepele seluruh karir yang selama ini aku rintis hancur."


Semua yang ada di ruangan itu terdiam. Sebelum Karma bangkit dan menghampiri kehadapan Yuke. Karma menatap Yuke tajam. Meski bingung Yuke juga membalas tatapan Karma tak kalah tajam.


Lingkar mata aktris itu melebar ketika Karma menodongkan pistol ke kepalanya.


"Arogan sekali kau jadi wanita," kata Karma tegas. Wina setengah berteriak.


"Karma! Apa yang kau lakukan," bentak Frans bangkit.


"A-apa-apaan kau," cemas Yuke.


Frans menarik Karma cepat hingga pemuda itu terduduk kembali di sofa.


Frans menghela napas. "Maafkan perlakuan Karma. Nanti aku akan berbicara pada atasanku jika nona Yuke tak suka pada Karma," jelasnya, "tapi untuk hari ini tolong biarkan dia menjalankan tugasnya dulu, dan nona Yuke mau membantu kami menuelidiki masalah nona."


Yuke tak langsung menjawab, terlihat wajahnya pucat dan tangan gemetar. "Baiklah." Karma menatapnya puas.


"Biar aku yang menjelaskan," kata Wina. Ia mulai menjelaskan yang kurang lebih seperti ini:


Dua minggu lalu Yuke menerima sebuah surat dari alamat yang tidak diketahui, yang berisi kalau artis itu akan jadi korban Puisi Hitam berikutnya. Awalnya keduanya menduga kalau itu cuma ulah Haters saja, jadi mereka tak terlalu menanggapi. Seminggu setelahnya terdapat nomor tak dikenal yang menghubungi Wina, ia mengangkatnya. Karena dugaannya itu adalah nomor dari orang yang mau menawari nona Yuke pekerjaan. Tapi ternyata bukan. Orang itu bilang kalau nona Yuke sebentar lagi akan meninggal. Setelah itu setiap pagi keduanya selalu mendapati surat dibawah pintu yang entah siapa yang mengirim surat itu.


"Ini surat itu!" Wina menyodorkan enam pucuk amplop pada Frans, "kami belum pernah membukanya karena takut."


Karma mengambil sebagian surat dari tangan Frans dan memerhatikannya. Tangannya bersiap membuka amplop.


"Jangan dibuka dulu!" larang Frans. Karma melirik Frans dan mengurungkan niatnya.


Berarti pagi ini juga ada yang mengirim?" tanya Frans pada Wina.


"Iya."


"Kenapa Yuke sampai bisa diincar oleh Puisi Hitam?" tanya Karma sambil menatap Yuke.


"Kami sendiri masih tidak tahu," jawab Wina dengan wajah cemas.


"Oh ya, orang yang menelpon sambil mengancam tadi laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan," jawab Wina. Frans mengangguk.


"Aku harap kalian berdua bisa menangkap penjahat itu biar nona Yuke bisa hidup tenang lagi."


"Akan kami usahakan. Oh ya berarti mulai saat ini kami akan menjaga kalian berdua, dan menguntit kalian kemanapun, semoga kalian tidak keberatan."


"Kami malah akan sangat senang," balas Wina.

__ADS_1


Karma menatap Yuke dengan tersenyum. Sementara Yuke membalas tatapan Karma dengan menyipitkan mata.


*****


Saat jam istirahat, Jap berkeliling ke beberapa tempat di SMA Teratai: Perpus, ruang UKS, ruang komputer dan laboratorium.


Ketika di laboratorium Frans memperhatikan anak-anak yang ternyata merupakan tim Olimpiade Sains sekolah. Mereka tengah melakukan praktek fisika.


Ia berbalik melangkah keluar. Saat langkahnya tiba di ambang pintu, tak sengaja ia bertabrakan dengan seorang siswi hingga siswi itu terjatuh.


"Gue minta maaf," kata Jap kemudian membantu siswi itu bangun.


"Iya gue juga minta maaf," kata siswi itu tersenyum sambil mengusap-usap pakaiannya. Jap memperhatikan name tag nya. Siswi itu bernama Raisa Adinda.


"Mau kemana?" Tanya Jap.


"Ke sini." Menunjuk ke laboratorium.


"Kau anggota tim olimpiade juga?"


"Benar," Raisa tersenyum lagi, "aku masuk dulu ya." Raisa melewati Jap. Jap menatap punggung gadis itu sesaat sebelum ia melanjutkan langkahnya.


Saat jam istirahat kedua, Jap menerima telepon dari AJ. Jap disuruh menanyai siswa kelas XII IPS-1 yang bernama Heri Permana. Anak itu kebetulan adalah anak yang menyaksikan kematian langsung teman sebangkunya Riko Revaldi setelah membaca puisi.


"Gue sebenarnya gak mau ngungkit-ngungkit masalah itu lagi, soalnya gue sedih jika inget Riko," kata Heri setelah Jap bilang kalau ia berasal dari kepolisian. Keduanya kini berada di bawah pohon mahoni dekat lapangan. Kebetulan di sini terdapat tempat duduk yang memang disediakan untuk bersantai. Heri menatap Jap lagi.


"Tapi kau benar dari kepolisian?"


"Benar."


"Saat itu gue dan Riko baru habis istirahat. Masuk ke kelas seperti biasa. Bu guru masuk dan pelajaran akan dimulai. Riko mengambil bukunya di kolong meja, tapi seketika keheranan karena terdapat surat diatasnya. Riko membaca surat itu yang merupakan sebuah puisi dan hal yang mengerikan itu kemudian terjadi."


"Apa sebelum kematiannya Riko punya musuh atau kau pernah lihat ia menyakiti seseorang?"


"Riko anaknya memang badung, suka malak siswa lain, jadi tak heran jika dia punya banyak musuh."


"Kalau dengan perempuan, apa ia pernah punya masalah?"


Heri tak menjawab, ia malah menatap Jap.


"Kenapa?"


"Tapi tolong lo jangan ceritakan ini pada siapapun,"


"Iya."


"Beberapa hari sebelum kematiannya Riko memang pernah mencoba melakukan hal yang tak senonoh pada seorang siswi."


"Siapa?"


"Aku tidak tahu nama lengkapnya, yang pasti namanya Rena," wajah Heri tiba-tiba menunjukan keterkejutan, "nah itu anaknya." Heri menunjuk ke arah lapangan. Pada dua siswi yang tengah berjalan sambil mengobrol ria. Yang satu memakai kerudung dan yang satu tidak.


"Itu yang memakai kerudung. Dia Rena."


Jap menatap Rena sesaat sebelum beralih pada teman Rena yang menarik lebih perhatiannya. Teman Rena sendiri adalah siswi yang bertabrakan dengan Jap tadi di pintu ruang laboratorium.


"Raisa Adinda."


TBC_

__ADS_1


__ADS_2