Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Pengeroyokan di Stasiun


__ADS_3

Frans berbalik dan keluar. Memperhatikan keseluruh orang di sekitar sini. Telah banyak wartawan di sini. Dan orang-orang nampak sibuk. Perhatiannya terpatri pada seorang pria yang tengah diwawancarai inspektur lain. Frans mendekat.


"Dia saksi?" tanya Frans pada si inspektur.


"Benar," jawab si Inspektur.


Frans menatap si saksi. "Aku ingin dengar kesaksianmu," pintanya.


"Hah aku sudah bercerita tadi padanya, kau bisa dengar dari teman polisimu itu. Aku benar-benar ingin pulang sekarang," keluh si saksi sembari menghela napas berat.


"Kau tidak akan bisa cepat pulang. Cepat ceritakan lagi," kata Frans tegas. Tanpa tegas beginipun, wajah Frans sebenarnya juga sudah tegas. Si Inspektur tadi tersenyum, kemudian menepuk pundak Frans dan mengeloyor pergi. Memang Frans perlu langsung melakukan penyelidikan pada saksi. Ia tidak bisa hanya mendengar dari Inspektur lain, karena laporan yang ia dapat ini nantinya untuk penyelidikan tim INU yang hanya khusus pada masalah Puisi Hitam.


"Aku tadi duduk di dekatnya. Dia sedang minum kopi dengan tenang. Lalu tiba-tiba mati. Hanya itu yang kulihat. Biar jelas kenapa kau tidak lihat CCTV saja?" jelas si Saksi.


"Tanpa kau suruhpun akan kami lakukan. Kami butuh keterangan yang lebih detail." Frans mengeluarkan buku catatan kecil dari sakunya. Buku catatan yang selalu ia bawa kemanapun. Ia mulai mencatat.


"Sebelum kematiannya apa ada yang kau lihat darinya selain ia minum kopi?" tanya Frans lagi sambil melirik sesaat.


"Ada seorang gadis bermasker mendekatinya dan memberi surat, mereka berbicara sebentar ... aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan."


"Gadis bermasker," pikir Frans. Ia bertanya lagi. "Kau ingat ciri-cirinya?"


"Rambutnya lurus sebahu, bercelana jeans biru dan memakai sweater kelabu," ucapnya. Frans jadi ingat lagi dengan gadis bermasker yang muncul di cerita kasus-kasus sebelumnya. Tapi yang ia tahu rambutnya lurus panjang. Ah, bukankah rambut bisa di potong.


"Kau ingat ciri-ciri lainnya?"


"Apa ya. Hanya itu yang aku ingat."


"Ya sudah."


"Jadi aku boleh pulang sekarang?"


"Kami minta alamatmu dulu dan KTP. Kau akan kami butuhkan lagi."


"Ah merepotkan," keluh si saksi lagi, tapi ia memberitahukan alamatnya dan memberi KTP nya. Frans memberi surat kepolisian, sebagai jaminan KTP.


"Kau boleh pergi sekarang." Dan saksi itu pergi. Frans memperhatikan kesekitar lagi. Lalu pada gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya yang megah dan memiliki banyak kaca.


Dua polisi bermasker datang kedekatnya. Yang satu berpostur tinggi dan yang satunya pendek. Keduanya langsung melayangkan tatapan tajam pada Frans.


"Kenapa kalian?" heran Frans karena keduanya cuma diam. Ia memperhatikan pakaian polisi keduanya. Pangkatnya inspektur, tapi jika diperhatikan keduanya masih sangat muda. Jelas ada yang tidak beres. Jangan-jangan? Frans langsung waspada.


"Kami ingin memberi tahu sesuatu Inspektur Frans," ucap polisi yang kurus tinggi, atau tepatnya polisi gadungan, atau bisa jadi keduanya adalah penjahat.


"Katakan?" ucap Frans tenang, tetapi tangannya sudah ia siagakan untuk mengambil pistol dari ikat pinggangnya.


"Kami berdua kiriman tuan AJ. Untuk membantumu melakukan penyelidikan," ucapnya.


"AJ mengirim orang lagi?"


"Benar."


"Sebentar, aku perlu memastikan." Frans mencoba menghubungi AJ lewat earpiece. Tapi tidak tersambung. Kenapa ini, pikirnya. Biasanya selalu tersambung.


"Bagaimana?" tanya polisi satunya lagi.

__ADS_1


"Aku belum tahu. Tidak tersambung pada AJ."


"Percayalah, kami tangan kanan AJ juga."


Frans kembali memperhatikan keduanya. "Ya sudah. Kalian baru datang atau sudah dari tadi?" Frans mencoba menghilangkan kecurigaan, meski ia masih mencoba waspada.


"Sudah dari tadi. Kami mencari bukti di belakang tadi. Dan lewat CCTV."


"Bagaimana? Dapat sesuatu." tanya Frans.


"Sudah. Kita bicarakan di mobil saja." Kedua polisi bermasker itu hendak berbalik.


"Mobil?"


"Ya. Kau tak perlu melakukan penyelidikan lagi. Kami sudah mendapat banyak bukti. Kini tinggal mengejar penjahatnya saja," sahut si pendek.


Frans kembali dihinggapi keraguan pada mereka. Tapi Frans ikut juga. Ia tidak takut, kalaupun seumpamanya keduanya penjahat, ia ingin tahu sampai sejauh mana mereka bertindak. Ketiganya menuju ke mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari sana. Kemudian masuk dengan Frans duduk di kursi belakang sendirian. Mobil melaju.


Tak ada yang bicara. Frans masih mengawasi keduanya dengan waspada.


"Mau ke mana memang kita?" tanya Frans kemudian. Salah satu polisi yang tak menyetir atau si tinggi berbalik menatapnya.


"Stasiun Gambir. Kami mencurigai gadis pemberi surat tadi bergerak ke stasiun." Ia berbalik lagi.


"Bagaiman kau tahu gadis pemberi surat. Ah kau lihat CCTV ya," ucap Frans tangannya sudah memegang gagang pistol.


"Benar. Kami curiga dia ke sana. Hanya dugaan sebenarnya."


Frans mencoba menghubungi AJ lagi, tetapi tetap tak bisa. Dan perjalanan di mobil itu berlalu penuh dengan ketegangan.


"Masihkah ada kereta yang berangkat?" tanya Frans basa-basi. Ia memperhatikan rel kereta yang tersinari cahaya temaram dari lampu tiang.


"Tidak ada sepertinya," jawab si pendek. Ia berhenti, temannya juga berhenti dan Frans ikut berhenti. Suasana hening dan remang menguasai.


Angin berhembus, tapi sama sekali tak terasa dingin. Hawa di sini panas, dan ketegangan ini membuat Frans bercucuran keringat.


"Sebenarnya kalian mencari apa?" tanya Frans.


"Tentu saja mencari gadis bermasker itu." Si pendek berputar memperhatikan ke seluruh area.


"Kenapa kau bisa yakin dia ada di sini?" tanya Frans lagi.


"Karena dia yang menyuruh kami ke sini." si Pendek kemudian melepaskan masker dan menunjukan smirknya. Temannya menganggkat pistol dan mengarahkannya pada Frans.


Dorrr!!


Polisi yang hendak menembak tadi atau si jangkung rebah ke tanah. Frans mendahuluinya menembak.


"Kalian pikir aku polisi sembarangan," ucap Frans dengan tersenyum sambil mengarahkan pistolnya pada si pendek. Polisi gadungan itu mulai terlihat panik.


"Siapa kalian?" tanya Frans. "Jawablah atau kau aku tembak." ancamnya kemudian.


Dengan cemas dan ketakutan si Pendek perlahan mundur. "A-aku cuma disuruh, to-tolong jangan tembak aku."


Dari arah loker keluar para petugas stasiun yang nampak terkejut dengan suara tembakan tadi. Frans memperhatikan mereka sesaat. "Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Frans kemudian.

__ADS_1


"Gadis bermasker."


"Siapa dia?"


"Aku tidak tahu siapa dia."


"Jangan berbohong!"


"A-aku benar-benar tidak tahu. Aku cuma di bayar."


Dorr!!


Terdengar letupan lagi. Namun kali ini bukan berasal dari pistol Hengs, tapi dari pistol lain yang mengenai si Pendek tadi hingga tewas dan tergeletak tak jauh dari rekannya tadi.


Frans agak terkejut. Siapa yang menembak, pikirnya. Ia berbalik mencari-mencari si penembak. Para petugas stasiun terlihat pada makin terkejut, beberapa langsung berbalik ke dalam.


Mata Frans melebar ketika melihat seseorang gadis bermasker melangkah ke arahnya dengan sebelah tangan memegang pistol. Dan pakaiannya, persis sama seperti yang disebutkan saksi di kafe tadi. Bercelana jeans biru dan sweater kelabu.


Frans mengarahkan pistol kearahnya. "Berhenti!" suruhnya. Namun gadis itu tak mempedulikan. Ia melangkah layaknya seorang yang tak memiliki urusan dengan apapun, seolah tak peduli peluru tengah mengancamnya. Frans memperingatkannya sekali lagi, tapi gadis itu tetap tak mempedulikan. Ia malah mengancam:


"Aku membawa bom di tubuhku. Berani menembakku maka seluruh stasiun ini akan hancur dan nyawa para penumpang di kereta yang sebentar lagi akan tiba juga bisa mati." Gadis itu mengarahkan pistol pada Frans. Frans mulai ragu menembak. Ia bimbang apakah omongan gadis ini harus ia percayai atau tidak. Gadis itu menembak dan mengenai tangan kanan Frans hingga pistol yang ia pegang terjatuh.


"Sit!" Frans menahan rasa sakit pada tangannya. Darah segar mengucur perlahan. Gadis itu makin mendekat, langkah ringannya terdengar mengerikan dalam kesunyian. Udara tiba menghembuskan rambut lurus sebahunya, dan matanya yang kecoklatan sudah bisa terlihat jelas sekarang.


"Jangan coba-coba mengambil pistol itu atau kau aku tembak." Ancam gadis itu makin mendekat. Dan akhirnya ia tiba di hadapan.


"Siapa sebenarnya kau?" tanya Frans tenang sambil menatap wajah gadis bermasker itu dengan dalam. Tangannya bergetar sekarang karena ngilu dan panas.


"Aku yang sudah membunuh rekanmu Aditia juga orang itu ... ah aku lupa namanya."


"Hengs!"


"Benar Hengs, dan sekarang aku akan membunuhmu."


"Untuk apa?"


"Karena kalian sudah coba-coba menghalangi jalan kami."


Frans menyipitkan mata dan ia menendang. Tepat kena tangan gadis itu hingga pistol yang di pegangnya terlepas. Frans sekali lagi menendang dan mengenai perutnya. Gadis itu terjatuh.


Frans mendekat untuk menahannya, tetapi gadis itu cepat bangkit, bahkan mengeluarkan sebuah pisau dari jaketnya dan langsung mencoba menyerang Frans. Untunglah Frans cepat menghindar.


"Haha nampaknya kau takut sekarang," ucap Frans. Tak disahut, gadis itu nampak melirik ke arah pistolnya yang jatuh.


Dengan segera Frans melompat ke arah pistol itu dan meraihnya dan denga cepat langsung menembak ke arah kaki gadis itu dan kena. Gadis itu terjatuh.


Frans mendekatinya dengan tetap waspada.


"Sudah kubilang aku bawa bom," ucap Gadis itu nampak menahan rasa sakit.


"Aku tidak peduli. Bahkan aku berharap kau meledakannya, karena dengan begitu kejahatan puisi hitam ini berakhir. Dan lagi mana mungkin aku akan percaya kalau sebentar lagi ada kereta yang akan datang. Kereta terakhir tiba jam 10 tadi. kau pikir aku tidak tahu jadwal kereta di sini."


"Keparat!" Teriak Gadis itu sembari melompat mencoba menusuk Frans.


TBC_

__ADS_1


__ADS_2