Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Dugaan


__ADS_3

Wakapolri dan Jikininki menatap pada Prili. Ingin sekali Wakapolri meraih Prili dan keluar cepat dari kamar, tetapi anehnya kakinya serasa mati rasa.


"Tak heran jika anak kecil dapat melihatku," ucap Jikininki. Ia kembali menatap Wakapolri kemudian menggerakkan sebelah tangan kurusnya yang memiliki kuku-kuku tajam ke arah jantung Wakapolri.


Tangan itu lantas tembus ke jantung Wakapolri. Bersamaan Wakapolri merasakan sakit yang teramat dan semua jadi gelap. Ia rebah ke lantai dengan darah segar mengalir dari mulutnya.


Prili yang menyaksikan cuma tertegun dengan air bening mengalir dari mata indahnya.


"Perintah tuan Raka sudah terpenuhi." Jikininki berujar sembari menatap Prili. Ia kemudian berbalik dan menghilang memudar.


Prili mendekati jasad ayahnya dan mencoba membangunkannya.


"Ayah, ayah!" Tak ada jawaban dari ayahnya. Wajah Prili perlahan memberengut.


"Wakapolri ditemukan tewas dikediamannya sore tadi, entah apa penyebab kematiannya, polisi masih menyelidiki. Untuk dugaan sementara ia terkena serangan jantung." Ujar seorang reporter di televisi. Jap, dan Karma saling bertatapan.


"Apa ini ulah Puisi Hitam?" tanya Karma.


"Mungkin saja."


Suara derit pintu terdengar. Dan masuklah seorang pria yang tak lain adalah AK dengan menenteng laptop di sebelah tangannya.


Pintu ditutupnya. "Ada orang penting yang mati ternyata."


"Pergerakan Puisi Hitam jadi makin meresahkan," kata Jap.


Karma menghela napas. "Ini pasti ada hubungannya dengan si Raka itu, aku sangat yakin."


Jap melirik Karma sebelum pandangannya beralih pada AK yang duduk di sebelahnya dan membuka laptop.


"Pesankan aku kopi Karma!" ucap AK.


"Siapa kau berani menyuruh-nyuruhku?" kesal Karma.


"Aku tamumu sekarang."


"Lakukan saja apa yang diperintahakan AK, Karma, lagipula dia punya data yang mungkin akan sangat membantu penyelidikan kita selama ini."

__ADS_1


"Iya, iya," ucap Karma sembari bangkit. "Kau sekalian juga Jap?"


"Teh manis anget saja." Jawab Jap.


"Kau mau kopi apa?"


"Kopi hitam," jawab AK tanpa menoleh.


Karma kemudian keluar. Bersamaan AK menyalakan laptopnya.


"Aku penasaran selama ini kau bergerak dimana saja. Dan apa untungnya bergerak sendiri?" Jap bertanya sambil mematikan televisi.


"Kebanyakan menyelidiki para korban. Siapa mereka dan profesi mereka. Hampir sama dengan apa yang dilakukan tim INU, hanya saja disini aku lebih melihat ke arah pola yang dibuat pembunuh dari awal hingga kejadian terakhir."


"Pola?" ujar Jap seolah bertanya pada dirinya sendiri.


"Iya."


AK berhenti untuk mengetikan sesuatu di laptopnya, lantas melanjutkan. "Pola tentang kasus kematian beberapa polisi: kematian Thirto ayah Karma yang juga petinggi Polisi, kematian Kapolri dan terakhir Wakapolri ...."


"Apa itu?" sela Jap.


"Puisi Hitam nampaknya ada kaitannya dengan kedudukan jabatan di negeri ini, terutama jabatan di kepolisian. Makannya selama ini aku memperhatikan beberapa orang penting di negeri ini. Apakah mereka terlibat dengan Puisi Hitam atau tidak."


"Begitu."


"Kejahatan Puisi Hitam terorganisir dan sulit untuk dipecahkan, bukan tidak mungkin ada campur tangan orang-orang penting tertentu untuk menutupinya. Dan aku sangat curiga pada kepolisian itu sendiri."


"AJ juga menyadari akan hal itu."


"Iya aku memang sudah menduganya, dan ia lebih cerdas dariku."


"Lalu Polisi mana yang kau curigai, AK?"


"Beberapa polisi yang aku curigai akhir-akhir ini setelah kematian Kapolri. Namun dua nama yang menurutku punya potensi yakni Wakapolri dan Kapolres Metro Jaya, Muhiso. Dua nama yang juga berpeluang Jadi Kapolri." AK membuka file di laptopnya dan kemudian tertera satu foto di layar laptop. Jap memperhatikan foto tersebut dengan seksama, sebuah foto yang menunjukkan kalau Muhiso tengah berada di sebuah meja restoran mengobrol dengan dua pemuda, yang tak salah lagi kalau keduanya adalah Raka dan Ruru.


AK lantas melanjutkan.

__ADS_1


"Aku telah menguntit kedua polisi itu. Dan hanya mendapat sedikit bukti. Namun kurasa itu cukup untuk menunjukan kalau memang benar kalau kepolisian terlibat dengan Puisi Hitam."


"Ruru, dia terlibat memang dengan Puisi Hitam, tapi soal orang bernama Raka kami masih belum mengetahuinya," Jap menuturkan.


"Awalanya aku kesulitan mencari tahu kedua pemuda ini. Sebelum akhirnya aku bertanya pada AJ beberapa hari lalu."


"Aku paham, apa alasan AJ menyuruh kami kemari juga agar bisa bertemu denganmu?"


"Nampaknya."


"Jadi Raka juga ada hubungannya?" ucap sebuah suara yang berasal dari arah pintu yang tak lain adalah milik Karma. "Sudah kuduga ia terlibat. Brengsek memang dia."


"Jangan cepat menyimpulkan. Lebih baik kau bawa kopinya kemari."


Karma menghela napas. Ia berharap sekali kalau Raka memang ada hubungannya dengan semua ini, biar dia nanti bisa membuktikan pada Krina kalau mantannya itu bukan orang yang baik seperti yang selalu dikatakannya. Panas sekali tiap Krina menceritakan soal Raka padanya. Krina juga malah sering mengatakan kalau Raka jauh lebih baik dari dirinya sendiri. Meski itu cuma candaan tetap saja selalu membuat hatinya cemburu.


*****


Hari-hari berlalu dengan cepat. Tim INU terus mempelajari soal prasasti. Juga sejarah jaman dulu soal kejahatan Mantra. Mereka menyimpulkan sementara kalau Mantra pada dasarnya sama dengan Puisi. Keduanya merupakan kata-kata yang dibentuk dengan perasaan. Dan jika kasus puisi Hitam memiliki motif yang sama dengan kasus Mantra jaman dulu, bisa disimpulkan kalau tujuan kejahatan sekarang tak jauh berbeda dengan dulu. Tujuan kejahatan Mantra dulu adalah ingin membentuk sebuah kerajaan baru dengan aturan kehidupan yang serba baru. Tulisan Jikininki dalam Puisi Hitam memperkuat kalau kedua peristiwa ini berkaitan.


"Dulu pemuda bernama Banga ingin membentuk kerajaan baru dibawah kekuasaannya. Kerajaan kuat yang bisa memakmurkan kehidupan. Sebuah kerajaan tak masuk akal bernama kerajaan Abadi." ucap Lelaki sangat tua yang merupakan Juru Kunci gunung Kumbang. Kini tim INU kembali berkunjung ke rumahnya ingin mengetahui soal Sejarah Kejahatan Mantra.


"Maksudnya dengan Abadi?" tanya Jap.


"Ah sebaiknya aku ceritakan soal kekuatan dan perjanjian dengan Jikininki dulu." Pak Tua mengambil napas. Karma menguap, merasa akan membosankan mendengarkan hal-hal berbau mitos seperti ini.


"Kata legenda orang yang melakukan perjanjian dengan Jikininki nantinya akan mempunyai kekuatan tak terbatas, atau, lebih tepatnya mengerikan. Sama seperti Banga dulu yang punya kekuatan mengerikan dan tubuh awet muda."


Pak Tua terus menceritakan soal sejarah Banga dan peristiwa Mantra dulu. Lumayan panjang, lambat dan detail. Sampai Karma harus menguap hingga puluhan kali karena merasa bosan. Hingga akhirnya mereka semua menajamkan pendengaran ketika sampai pada cerita bagaimana kalahnya Banga.


"Di ceritakan kekuatan Mantra hanya bisa kalah oleh kekuatan doa dari orang-orang yang tulus. Itulah bagaimana cara dulu Mantra bisa dihentikan."


AK menyilangkan tangan berpikir. "Doa ya."


"Mungkin Puisi Hitam juga bisa kalah dengan doa."


TBC__

__ADS_1


__ADS_2