
"Aku tidak peduli. Bahkan aku berharap kau meledakannya, karena dengan begitu kejahatan puisi hitam ini berakhir. Dan lagi mana mungkin aku akan percaya kalau sebentar lagi ada kereta yang akan datang. Kereta terakhir tiba jam 10 tadi. kau pikir aku tidak tahu jadwal kereta di sini."
"Keparat!" Teriak Gadis itu sembari melompat mencoba menusuk Frans. Tapi dengan sigap Frans menghindar. Bahkan menyerang balik hingga mengunci tubuh gadis itu.
"Sialan!" Teriak gadis itu mencoba berontak. Tubuhnya kini sudah tengkurap di tanah dengan Frans menahannya diatas. Frans mengambil borgol dan mengunci kedua lengan gadis itu.
"Haha, akhirnya, kau tertangkap juga." ucap Frans bangga.
Suara sirine terdengar makin mendekat. Nampaknya itu mobil polisi yang dipanggil para petugas stasiun tadi. Frans memperhatikan gadis itu lagi. Memperhatikan wajahnya yang tertutupi masker dan helaian rambutnya hitam pendeknya. Diakah yang selama ini membuat keonaran, diakah yang menulis puisi hitam selama ini, pikirnya. Ia berencana membuka maskernya. Dan Frans membukanya. Tapi sayang ia tidak kenal. Yang jelas ia bukan gadis yang selama ini dicurigai, semisal Raisa, Rena ataupun si MC Rere.
"Siapa kau ini?" tanya Frans sembari mengatur jam tangan ke mode kamera. Dan ia memotret wajah gadis itu.
"Aku adalah calon dewa di dunia ini haha," jawab gadis itu tenang.
"Dasar gila."
Suara sirine berhenti terdengar. Dan beberapa saat kemudian sekitar empat polisi mendekat. Salah satu polisi yang berkumis tebal menjabat tangan Frans. Keduanya berkenalan dan mengobrol sesaat. Polisi yang lain membangunkan gadis itu.
"Jadi begitu," ucap si Kumis manggut-manggut. Apakah ia penjahat sebenarnya?"
"Entahlah."
Mata Frans membeliak ketika mendapati kehadiran AJ. Ia hampir-hampir tak terlihat karena pakaian hitamnya yang berwarna seiras dengan kegelapan. Yang jadi pertanyaan kenapa ia di sini.
"Kerja bagus Frans," ucap AJ ketika sampai di hadapannya.
"Kenapa kau bisa di sini?" balas Frans.
"Kau sulit di hubungi. Makannya aku mencarimu."
"Oh begitu ya. Aneh memang kenapa bisa ya earpiece kita rusak?"
"Ada yang menyadap. Kau ingat soal E-mail yang menewaskan Aditia waktu itu. Bukankah itu menunjukan kalau diantara mereka ada seorang hacker?"
"Benar aku baru ingat."
"Ya sudah ayo."
Mereka bergerak ke salah satu mobil polisi. AJ membukakan pintu belakang mobil dan salah satu polisi memasukkan si Gadis bermasker. Setelahnya AJ dan Polisi itu sendiri juga masuk menggapit si Gadis bermasker. Frans dan salah seorang polisi lain duduk di kursi depan. Mobil itupun melaju hingga keluar dari stasiun dan memasuki jalanan Ibukota yang ramai.
Mobil terus bergerak, hingga beberapa menit tak ada yang berbicara. Frans merasa aneh. Ia menengok ke arah AJ.
"Kenapa kau diam saja AJ, setidaknya pujilah aku lagi haha. Bukankah ini prestasi?" ucapnya.
AJ mengangguk dan tertawa kecil. Si Gadis juga tertawa kecil membuat Frans keheranan.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Frans pada gadis itu. "Ceritamu sudah berakhir di sini."
"Haha benarkah. Kau yang sudah berakhir di sini Frans," ucapnya. Frans makin keheranan. Ah tapi mungkin ini hanya karena gadis itu sudah frustasi dan bicara sekenanya.
"Haha. Dasar. Mungkin otakmu tidak waras gadis cantik."
"Dia tidak salah Frans. Kau yang sudah berakhir," kata AJ. Frans menyipitkan mata. Ada yang berbeda dari AJ. Tubuh AJ perasaan lebih kecil sekarang.
"Apa maksudmu AJ?"
"Aku bukan AJ, aku hanya menyamar jadi AJ." Mobil berhenti dan keheningan seketika tercipta.
__ADS_1
AJ langsung menodongkan pistol pada Frans. "Katakan selamat tinggal."
Dorrr!!!
Polisi atau polisi gadungan yang tadi menyetir tiba-tiba tergoler tewas terkena peluru dari luar sana yang menembus kaca depan. Frans terkejut. Mungkin semua yang ada di mobil juga terkejut.
Tembakan terus mengarah ke dalam mobil dan seluruh yang berada di dalam mau tak mau untuk tiarap menghindar.
"Ini kesempatanku untuk kabur," pikir Frans. Ia membuka pintu mobil dan keluar. Suara tembakan terus terdengar memekakan telinga. Frans merangkak di tanah dan berusaha terus menjauh dari mobil.
Terdengar pintu mobil terbuka. Frans menoleh. Si Gadis dan polisi gadungan juga pada keluar, dan merangkak.
Suara langkah kaki berat makin mendekat. Refleks Frans menoleh keasal suara. Dilihatnya seorang berpakaian serba hitam dan bertopeng. Berjalan tegap dengan terus menembakkan senjata M16. Seorang yang sudah tak asing di mata Frans, yaitu AJ. Tapi apakah yang ini AJ asli, bukan palsu seperti yang di dalam mobil tadi.
Tembakan berhenti ketika AJ ini berdiri di dekat Frans. "Bangunlah Frans, cepat kejar mereka."
Ingin sebenarnya Frans menanyakan dulu apakah ia AJ asli. Namun semua kecurigaan dan keraguan seketika menghilang ketika teringat beberapa kejadian janggal sebelumnya. Frans bangkit dan langsung berlari mengejar si gadis dan polisi gadungan tadi. Si AJ yang baru datang langsung mengejar AJ palsu.
Kesempatan menangkap penjahat puisi hitam sudah berada dihadapan. Dan seluruh misteri puisi hitam ini sebentar lagi bisa terungkap. Frans tak mau kesempatan langka dan penting ini menghilang. Ia menambah kecepatan larinya ketika gadis dan polisi palsu tadi juga mencoba berlari untuk kabur.
Beberapa Mobil yang berlalu lalang dan gedung-gedung pencakar langit jadi saksi bisu aksi kejar-kejaran ini.
Si Gadis dan polisi palsu itu naik ke jembatan penyeberangan. Sambil terus mengejar Frans mengeluarkan pistolnya dan mencoba menembak. Dan ia menembak. Namun hingga tiga kali, tembakannya meleset.
Kini ia tiba di atas jembatan. Dan Frans berhenti ketika dua orang yang tengah dikejarnya pada berhenti. Entah mungkin karena kelelahan atau mau melawan.
"Berhentilah dan serahkan diri kalian. Itu jika kalian berdua masih sayang dengan nyawa kalian. Dengar! Aku tidak segan-segan membunuh para pembunuh seperti kalian," Frans menggertak. Napasnya sedikit tersengal.
"Haha apa kau yakin bisa membunuh kami?" Beo si gadis. Rambut sebahunya bergoyang-goyang diterpa angin. Polisi palsu mengeluarkan senjata, tapi senjata itu seketika jatuh karena Frans menembaknya.
Mata si gadis melebar dan ia berbalik melanjutkan larinya. Frans berlari lagi mencoba mengejarnya.
Gadis itu menuruni tangga jembatan. Ketika berada di tengah-tengah ia berhenti karena seseorang pemuda di sana menghalangi jalannya. Seseorang itu adalah Karma.
"Sekarang kau sudah terkepung brengsek," ucap Karma. Ia sudah siaga menembak. Matanya agak melebar, ia seperti pernah bertemu dengan gadis ini. Namun ia lupa di mana. Gadis itu menatap kesana kemari seperti kebingungan.
"Karma bagaimana kau bisa di sini? Kau harusnya jaga nona Yuke?"
"Yuke sudah ada polisi yang menjaga. AJ tadi mengajakku untuk mencarimu, karena katanya ada yang tidak beres. Lebih baik kita ngombrolnya nanti saja setelah menangkap penjahat ini." Karma menatap si gadis dalam.
"Hah sialan." Gadis itu mengangkat tangan. "Aku menyerah." Karma dan Frans saling menatap sesaat. Karma dan Frans mendekat perlahan, keduanya harus waspada jika-jika gadis ini membawa senjata lainnya. Namun hingga sudah dekat dan memborgolnya gadis itu tidak melakukan hal apapun. Karma membawa gadis itu kebawah. Sementara Frans berbalik untuk menahan polisi palsu tadi.
Kedua penjahat itu sudah dimasukkan ke dalam mobil. Kini di luar mobil keduanya mencoba menghubungi AJ dan kantor polisi di sekitar untuk membantu.
"Ada apa Karma?" ucap AJ lewat earpiece.
"Dimana kau?" tanya Karma.
"Aku mencari penjahat lainnya, tapi aku gagal menangkapnya."
"Jangan risau, kami berdua sudah menangkap penjahat lainnya."
"Bagus, aku segera ke sana." Sambungan terputus. Karma langsung memperhatikan Frans yang bersender pada mobil. Sedikit senyumnya mengembang di bibirnya.
"Hebat kau Frans," ucap Karma.
"Hebat apanya, aku terlalu ceroboh, dan hampir mati tadi kalau AJ tidak datang."
__ADS_1
"Maksudku hebat karena kau masih hidup. Bukan karena berhasil menangkap mereka." Frans mengernyitkan dahi lalu menggeleng.
"AJ bilang ada yang meretas sambungan komunikasi kita, jadi ia merasa ada yang tidak beres. Dan dugaannya benar. Mereka tampak memang ingin mengincarmu," jelas Karma.
Frans menatap ke dalam mobil. "Mereka! Apa tujuan mereka melakukan semua ini?"
Tak lama polisi wilayah sini datang, dan AJ juga datang tak lama kemudian. Mereka mengobrol beberapa saat.
"Kalian mengirimkan polisi ke stasiun tadi?" tanya Frans. Salah satu polisi mengangguk.
"Mobil polisi yang kalian sebelumnya dibajak oleh mereka. Para penjahat puisi hitam ini," jelas AJ.
"Sebenarnya siapa mereka?" tanya polisi sebelumnya.
"Masih belum tahu. Dan tujuan mereka juga. Kami sedang berusaha mencari tahu," kata AJ.
"Semoga dengan tertangkapnya kedua orang di dalam mobil ini semuanya bisa cepat terungkap.
*****
Karena kejadian semalam. Jap diberi libur mengawasi Raisa. Raisa selama ini juga tidak pernah menunjukan hal mencurigakan lagi. Karma tetap mengawasi Yuke sementara AJ dan Alena masih mengawasi dari balik layar.
Frans sendiri juga diberi libur sehari, dan langsung ia gunakan untuk beristirahat total. Barulah saat jam 12 siang ia benar-benar membuka matanya. Ia melangkah menuju ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Setelah itu ke ruang makan untuk sarapan.
Frans mengambil piring, lalu roti dan susu kotak dari kulkas.
"Aku masakan dulu ya Frans kalau kau lapar?" ucap Istrinya yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
Frans menoleh dan menutup kulkas. "Aku mau sarapan saja, sayang," jawabnya. Ia melangkah ke meja makan. Duduk. Dan mulai makan.
Frans berhenti mengunyah ketika merasa istrinya memperhatikannya.
"Ada apa, Mah?" tanya Frans.
"Kau kelihatan tua Ayah, kelopak matamu sudah menghitam dan berkantung-kantung. Kau pasti kelelahan dengan tugas di kepolisian akhir-akhir ini."
"Tidak apa-apa. Ini resiko ayah sebagai polisi. Harus bersedia seratus persen melayani rakyat." Istri Frans atau ibu Alena ini duduk di dekat Frans.
"Mamah juga khawatir dengan Alena nanti. Nampak ia bekerja terlalu keras."
"Dia harus belajar keras sebagai anak muda. Biar ia kuat nantinya. Mamah jangan terlalu bersikap lemah pada anak."
"Bukan lemah, tapi mamah sayang sama dia." Frans mengangguk-ngangguk kecil dan mulai menyantap sarapannya lagi.
"Mah, nanti Ayah sore mau ke kuburan Aditia. Mamah mau ikut?"
"Ah maaf, Yah. Mamah ada janji sama para tetangga. Mereka ada acara katanya."
"Oh ya sudah, benar-benar Mamah harus jadi tetangga yang baik."
Dan setelah waktu ashar Frans berangkat ke kuburan Aditia. Tak sampai 15 menit ia sudah sampai. Entah karena apa ia tiba-tiba ingin datang kemari. Frans berdoa sesaat dan berbicara pengalamannya di Tim INU setelah kematian Aditia dulu.
"Padahal tadinya aku menginginkan kau tetap hidup hingga kasus ini selesai. Namun Tuhan punya renacan lain ternyata." Frans menabur bebungaan di Atas makam Aditia.
Tak terlalu jauh dari Frans, dari balik pohon kamboja, seorang tengah mengawasi; seorang gadis bermasker dengan rambut panjang. Tatapannya dingin dan dalam, juga penuh kebencian.
TBC_
__ADS_1