
"Setelah mengetahui kalau aku anggota tim INU, apa mereka juga langsung mencari tahu tentangku juga."
"Tentu saja," balas Alena, "Mereka kurasa orang-orang yang cerdas juga. Dan sepertinya mereka kini ingin menghabisi seluruh anggota Tim INU tanpa tersisa satupun."
"Sialan memang."
"Cek dulu kebenarannya, siapa tahu itu cuma surat jebakan."
"Iya."
Setelahnya Alena dan Karma menunggu Jap dan AK kembali.
Yang pada ditunggu akhirnya kembali dari gunung satu jam kemudian. Wajah keduanya dibuat keheranan melihat tampilan Karma yang seperti orang yang hendak berpergian jauh dengan pakaian tebal plus ransel yang sudah menempel di punggung.
"Ada apa ini?" tanya AK.
"Karma mendapat surat dari anggota Puisi Hitam. Tunangannya diculik," jelas Alena.
"Aku harus segera pergi," ucap Karma.
"Coba aku lihat suratnya!" pinta Jap. Karma langsung mengambil surat itu dari saku jaketnya lantas memberikannya pada Jap. Jap langsung membaca surat tersebut.
Selesai membaca Jap mengangkat kepala kemudian. "Apa kau sudah menghubungi Krina?"
"Sudah, ia tidak aktif beberapa hari ini. Aku juga sudah menghubungi orang tuanya, dan memang Krina menghilang dari rumah."
"Orang tuanya sudah melaporkan ke kepolisian, bukan?"
"Iya, tapi kau sudah baca sendirikan di surat tersebut, kalau nyawa Krina bisa melayang kalau aku tidak datang."
"Ini nampaknya jebakan untukmu."
"Aku tidak peduli, yang penting Krina selamat."
__ADS_1
"Kau akan pergi denganku," kata AK sambil membakar ujung rokok yang sudah tercapit dimulutnya dengan korek api persegi empat bergambar tengkorak. Ia mendekat pada Karma dan menawarinya sebatang rokok.
"Kau perlu ini untuk menenangkan pikiranmu. Karena saat kau dikuasai emosi, musuh akan mudah mengalahkanmu."
Karma menatap wajah AK, sebelum ia mengambil rokok dari tangan AK.
Usul AK disetuji Jap, juga Karma sendiri. Setengah jam kemudian Karma dan AK akhirnya pergi kembali ke Jakarta menggunakan motor harley milik AK. Sementara Jap dan Alena masih akan menelusuri sejarah Mantra.
Malamnya Jap diantar Alena ke rumah juru kunci Gunung Kumbang. Ingin menanyakan soal prasasti terakhir yang memiliki keanehan juga soal cerita Mantra jaman dahulu.
Setelah bersua, Jap langsung menceritakan soal bayangan aneh ketika pertama kali ia meraba prasasti tersebut. Ia tidak menceritakan soal pengendara yang menyerang mereka. Jap hanya menceritakan ia tidak bisa lagi menangkap bayangan setelah menempelkan tangan untuk kedua kalinya.
"Prasasti terakhir itu memang mengandung misteri. Jiwa seseorang kadang bisa terhubung dengan prasasti tersebut. Kata bapak saya dulu Prasasti itu merupakan wasiat Pangeran Nara, seorang Pangeran yang juga merupakan ksatria hebat. Seseorang yang bisa menghentikan kekuatan mengerikan milik Banga. Sebelumnya tak kuceritakan Nara pada kalian." Pak Tua juru kunci menjelaskan.
"Banga dan Nara," kata Alena pelan. "Di buku Mantra juga mengungkit seorang bernama Nara. Sahabat kecil Banga. Sayang buku itu tidak menampilkan lengkap keseluruhan kisah soal kejadian karena Mantra dulu. Buku itu malah cuma menampilkan soal ambisiusnya Banga dalam menciptakan kerajaan baru. Tidak dijelaskan kalahnya Banga disana. Kekalahan Banga hanya dituliskan dalam satu kalimat di bab terakhir dan tulisan terakhir. Kalau Banga akhirnya kalah oleh dirinya sendiri."
"Karena memang tidak ada yang tahu jelasnya akhir dari kisah Banga. Bapak saya saja hanya mendapat sekilas bayangan dari prasasti tersebut. Orang biasa susah untuk bisa terhubung dengan prasasti terakhir. Kata Bapak dulu, hanya orang yang memiliki hati yang tulus yang bisa."
Pak tua lalu menyuruh lagi Alena meminum teh hangat dan pisang yang tersedia di meja. Alena tersenyum mengangguk sambil berterima kasih. Sementara Jap termenung kembali memikirkan keanehan saat pertama kali menyentuh prasasti tersebut.
"Saya sudah tahu. Kalian ingin menghentikan kejahatan Mantra ini lagi."
"Mantra? Yang kami kenal kalau kejahatan ini disebabkan oleh Puisi."
"Sama saja. Semua karena Jikininki. Mantra memang sudah melemah dan tersegel, sehingga Jikininki tidak punya cara untuk mengaktipkan kekuatannya lagi. Namun, Jikininki sepertinya sudah menemukan kembali cara agar kekuatannya bisa kembali."
Jap dan Alena agak terkesiap. "Dengan Puisi," gumam Alena.
"Pada dasarnya Puisi dan Mantra, sama-sama berasal dari kata-kata yang diciptakan oleh pemikiran dan perasaan."
Sekarang Jap semakin yakin kalau antara kasus Mantra jaman dulu dan kasus Puisi Hitam saling berhubungan.
"Kakek," sapa Alena, "Di buku Mantra diceritakan kalau Jikininki melakukan kejahatan mantra untuk menghukum manusia karena dosa mereka yang terlampau banyak. Apakah itu benar?"
__ADS_1
"Benar. Jikininki adalah roh penjaga bumi, semua yang ada di bumi, binatang, tanaman, gunung dan laut. Dahulu mereka adalah makhluk yang baik sebelum manusia-manusia terus melakukan dosa dan akhirnya menyakiti mereka."
Suasana hening sesaat sebelum Juru Kunci kembali melanjutkan.
"Kita harus ingat, setiap dosa yang kita ciptakan itu juga menyakiti makhluk dan alam yang ada disekitar kita."
*****
Jam dinding kuning bulat bermotif bunga matahari menunjukkan pukul sepuluh malam. Jarum panjangnya terus bergerak menciptakan suara yang teratur hingga tak membiarkan keheningan hinggap di kamar kecil Jap. Detective muda itu--yang kini memakai kacamata--kembali membacai hasil penelitian prasastinya yang sudah disimpannya di file laptop. Ia mencoba mencocokkan hasil risetnya itu dengan tulisan di buku berjudul Mantra karya Sastritomo juga dengan apa yang selama ini didengar dari juru kunci. Jap berpikir.
"Tujuan Jikininki membalas dendam pada manusia karena telah melakukan banyak dosa dan menyakiti mereka. Atau nampaknya menyakiti kehidupan mereka."
"Banga melakukan semuanya karena kecewa pada aturan dunia dan ia ingin menciptkan kerajaan sekaligus tatanan dunia baru."
"Keduanya bekerja sama. Dan tujuannya nampak agar manusia berhenti melakukan dosa."
Jap menggaruk kepala.
"Mana bisa begitu. Dosa itu sudah jadi bagian dari manusia."
"Masih membingungkan apa yang mau Jikininki dan Banga lakukan setelah tujuan mereka terwujud."
"Sekarang Jikininki jelas sudah kembali, lalu siapa yang berperan sebagai Banga disaat ini? Ruru? Sinyo? atau Raisa? Atau ada tokoh lain lagi dibalik mereka bertiga. Sial saat dulu aku diculik sedikitpun aku tak mendapat informasi lain selain ketiganya."
Jap mengacak-ngacak rambutnya kasar, masih bingung juga dengan apa yang terjadi. Tangannya lantas bergerak memegang mouse, menggerakan dan mengkliknya, hingga tampilan layar dilaptop beralih ke menu utama. Di sana terpampang foto AJ dengan topeng iblis hitamnya.
"Apa yang sedang kau lakukan di alam sana AJ? Mungkin disana kau bisa tahu inti permasalahan ini," gumamnya.
Paginya Jap ditemani Alena dan Sinbe juga Sion--anjing hitam besarnya yang selalu menampilkan wajah galak--Pergi kembali ke Prasasti terakhir. Jap meminta Sinbe mengawalnya karena cemas para pengendara suruhan Puisi Hitam kembali menyerangnya.
Sekitar pukul delapan Ketika ketiganya sampai di hutan tempat Prasasti terakhir, dan suasana disana masih teduh, dingin dan berkabut. Dedaunan hijau dari rumput dan tanaman liar saja masih pada terbasahi embun.
Jap berjongkok di depan Prasasti, sementara Sion dan Alena cuma memperhatikan.
__ADS_1
"Hanya orang-orang yang memiliki hati yang baik yang bisa terhubung dengan prasasti ini." Ucapan Pak Tua juru kunci tiba-tiba terlintas di pikiran Jap. Semoga ia adalah termasuk orang baik agar bisa terhubung ke Prasasti. Entah bayangan apa kemarin, samar dan tidak jelas. Meski begitu Jap meyakini kalau bayangan itu sangat penting untuk menyelesaikan kasus Puisi Hitam.
TBC_