
AJ bangkit. "Kemarilah, Alena! Duduklah di kursi ini," pintanya. Alena mendekat, menatap topeng AJ sesaat sebelum duduk menghadap komputer.
"Ini tempat kerjamu sekarang," lanjut AJ, "dan komputer ini milikmu. Komputer yang bukan sembarang komputer, dan bukan orang sembarangan yang boleh menggunakannya. Itu kata ayahmu."
"Sudahlah. Serahkan padaku AJ. Dan kau akan lihat bagaimana seorang hacker bekerja," ucap Alena dengan percaya diri.
"Baguslah. Tapi hati-hatilah. Aku ingatkan kau satu hal. Jangan baca e-mail yang bertuliskan puisi hitam," kata AJ. Frans menatap Alena cemas.
"Bagaiman aku tahu nanti kalau e-mail itu nanti puisi hitam?" tanya Alena dengan menengadah pada AJ.
"Hampir semua puisi hitam memiliki judul 'puisi hitam' itu memudahkan kau membedakannya. Sementara untuk puisi hitam yang tak berjudul kau bisa mengetahuinya dengan beberapa kalimat awal tulisan tersebut. Jika kalimat itu puitis dan memiliki kata-kata aneh kemungkinan besar itu puisi hitam. Maka jangan coba-coba kau membacanya sampai selesai atau kau bisa mati."
"AJ, ingat akan janjimu sebelumnya," sahut Frans, "kau boleh aku tembak jika terjadi apa-apa pada Alena, benarkan?"
"Benar," jawab AJ santai.
*****
Seminggu sudah Frans dan Karma menjaga Yuke. Seminggu juga Jap dan Karma mengawasi Raisa dan Rena. Dan seminggu sudah juga Hengs mengawasi beberapa anak SMA Teratai. Tapi tidak ada tanda-tanda dari Puisi Hitam, kasus ini seolah menghilang ditelan bumi.
"Tidak ada kasus atau bahkan hal-hal mencurigakan setelah tertangkapnya peneror Yuke," ucap Karma pada AJ. Keduanya dan Alena kini tengah berada di Markas. Ketiganya tampak bersantai di kursi masing-masing.
"Apa pria yang kutangkap itu adalah dalang dari semua ini?" lanjut Karma.
"Entah. Tapi bisa saja." jawab AJ.
"Memangnya apa Background dari orang itu?" tanya Karma.
"Seorang karyawan pabrik, namanya Candra, berumur 30 tahun, memiliki seorang istri dan dua orang anak. Ia kena PHK beberapa waktu lalu. Jadi ia menganggur sekarang," jelas AJ, "ia mengatakan tertarik jadi pesuruh puisi hitam."
"Apa ia bicara jujur. Dan keyakinanmu sendiri tentangnya?" tanya Karma. Ia sudah jadi seorang wartawan sekarang. Kasus ini membuatnya pusing karena penasaran.
"Kurasa ia bicara jujur. Aku juga ragu kalau dia pelakunya. Karena aku punya alasan, yaitu dari tulisan tangannya yang aku periksa di rumahnya. Jelas beda dari yang menulis puisi hitam." AJ bangkit. "Ada tempat yang harus aku kunjungi."
"Aku ikut. Aku merasa bosan di sini," sahut Alena.
"Di sini saja Alena. Kau belum menyimpan data orang-orang yang kita curigai bukan?" ucap AJ.
Alena menghela napas. "Hah baiklah. Aku harap akan ada hal menarik selain menelusuri data-data."
"Kau punya tugas baru yaitu melakukan pekerjaanku. Mengawasi orang-orang lewat CCTV," ucap AJ lagi.
"Nah itu baru menarik." Alena sedikit tersenyum. Aku merasa akan jadi Detective sekarang.
"Karma kau ikut aku sekarang. Tugasmu menjaga Yuke sudah selesai. Biar itu jadi tugas Frans saja."
"Memang mau kemana kita?" tanya Karma.
"Ketempat yang sudah lama aku curiagai," jelas AJ.
*****
__ADS_1
Raisa tiba di ruang BK. Wajahnya nampak agak terkejut ketika melihat Jap telah ada di ruangan itu, tengah duduk menghadap Pak Hengs dengan tas bersandar di pangkuannya. Raisa kemudian duduk di sebelah siswa berkacamata itu.
"Hey! Lo yang nabrak gue waktu itu kan? Lagi ngapain di sini?" ucap Raisa.
"Kamu bisa tanyakan pada pak Hengs," jawab Jap datar. Raisa menatap Hengs.
"Raisa. Kamu pasti tahu bukan kasus Puisi Hitam yang beberapa bulan belakangan ini tenar?"
"Tahu pak. Memang kenapa?" kata Raisa.
"Kamu jadi orang paling dicurigai saat ini." kata Hengs. Ia menatap Jap sesaat.
"Bagaimana bisa?" tanya Raisa.
"Kami sudah mengawasi kamu seminggu terakhir ini. Alasannya karena buku yang Aku temukan di perpustakaan," sahut Jap.
"Itu bukan buku gue," kata Raisa, "lagian apa-apaan sih, kalian lagi pada bercanda kan, lagi pada ngerjain gue ini ya. Pak Hengs bicarain apa sih." ucap Raisa dengan wajah kebingungan.
"Raisa kami berdua adalah Polisi atau Detective." Hengs menunjukkan lencananya.
Wajah Raisa nampak makin menunjukan keheranan. "Ini beneran? Kalian lagi bercanda kan? Lagi ngeprank nih pasti."
"Kami serius. Terserah kamu percaya atau tidak, yang jelas kami atau cuma Jap sebenarnya yang akan mengawasimu mulai saat ini, kemanapun kamu pergi," jelas Hengs. Raisa kembali menatap Jap lagi sesaat.
"Sekarang kembalilah ke kelas. Dan Jap akan bersamamu mulai saat ini jadi biasakanlah," lanjut Hengs. Jap segera berdiri.
"Ayo!" ucap Jap.
Di luar Raisa menanyai Jap lagi, seolah ia keheranan dengan apa yang terjadi.
"Ikuti saja apa yang kami perintahkan," kata Jap.
"Tapi gue bener-bener gak tahu apa-apa, kok bisa-bisanya sih kalian nuduh. Dan emangnya kalian ini Detective beneran?" Jap tak menjawab, ia masih terus khusuk melangkah di koridor ini.
"Temen sebangku kamu tidak masuk hari ini bukan?"
"Lo kok tahu?"
"Kami yang nyuruh. Demi proses penyelidikan dan pengawasan pada kamu. Aku akan jadi teman sebangkumu sekarang."
"What?"
Keduanya tiba di bangku Raisa. Raisa, teman-teman sekelasnya, hingga Pak Guru yang tengah mengajar menatap Jap keheranan. Jap menanggapi biasa saja.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Pak Guru pada Jap.
"Tanyakan saja nanti pada pak Hengs, pak!" jawab Jap.
"Dia disuruh pak Hengs, Pak!" sahut Raisa.
"Oh ya sudah kita mulai lagi pelajarannya." kata Pak Guru.
__ADS_1
Jap mengambil sebuah buku tulis dari tasnya lantas menyodorkannya pada Raisa. Raisa melebarkan lingkar matanya. Ia menerima buku iti.
"Ini buku gue. Kenapa bisa ada di ...." kata Raisa dengan nada pelan hampir seperti berbisik.
"Gue ambil beberapa hari lalu buat penyelidikan. Soal tulisan tangan lo, apakah sama dengan buku yang aku temui di perpus waktu itu atau tidak."
"Beda kan?"
"Beda."
"Terus ngapain lo masih nyelidikin gue?" Jap tak menjawab. "Satu lagi tolong kalo ngomong jangan pakai aku-kamu tapi gue-lo aja." Jap kembali tak menanggapi.
Bel pulang sekolah berbunyi. Raisa membereskan buku-bukunya ke dalam tas.
"Lo pulang sama gue," ucap Jap sembari membereskan bukunya juga. Raisa kembali menampakan wajah herannya.
"Maksudnya?" Raisa menghentikan aktivitasnya.
"Kan pak Hengs udah bilang tadi kalau gue bakal ngikutin lo kemana aja termasuk ke rumah lo."
"Ih gila lo ya. Gak mau gue. Tadi pak Hengs juga gak bilang kayak gitu perasaan."
"Cuma beberapa hari. Kalo kamu gak kebukti seharusnya bukan masalah buat kamu kan?"
"Masalah lah, soalnya lo bakal ngerepotin hidup gue."
"Lo bukan dibalik kasus Puisi Hitam kan?"
"Ya iyalah."
"Kalo gitu kamu pengen kan kasus ini selesai?"
"Ya iya pengen, tapi kalo gue yang dituduh ya ngerepotin itu."
Jap selesai membereska bukunya, ia lantas bangkit. "Cuma beberapa hari, kalau kamu tidak terbukti bukan di balik kasus ini, kamu akan kami kasih seperti uang ganti karena telah mengganggu,"jelas Jap. Raisa terdiam.
"Berapa?"
"Cukup untuk membeli sebuah motor scoopi keluaran terbaru." Raisa nampak berpikir.
"Kenapa mikir? Kamu tidak mau karena takut kejahatanmu terbongkar."
"Apaan sih, enggak lah. Gue bukan di balik kasus ini. Gue bakal buktiin. Nanti janji ya mau kasih uang ganti seharga motor itu."
"Iya."
"Tapi berapa hari lo bakal nyelidiki gue?"
"Tidak lebih dari sebulan. Tapi bisa lebih, bisa juga kurang. Kalau penjahat sebenarnya bisa tertangkap cepat. Mm misal penjahat itu tertangkap besok, aku juga akan langsunf berhenti menguntitmu seketika itu juga."
"Hah baik-baik." Raisa memasukan buku terakhir ke dalam tasnya.
__ADS_1
TBC_