
AJ dan Karma menuju ke kediaman Raisa. Ketika keduanya tiba, rumah itu tengah dikerumuni banyak orang dan sebuah mobil pemadam kebakaran sudah ada di sana. Rumah itu sudah habis terbakar.
Karma terpaku sesaat melihat rumah kecil yang sudah jadi puing-puing gosong dan rata dengan tanah tersebut.
AJ mendekat ke arah rumah. Seorang pemadam langsung menghentikan langkahnya. Namun kemudian diijinkan lewat setelah ia memberitahu kalau ia dari pihak kepolisian. Karma mengikuti.
Dengan berhati-hati keduanya melangkahi puing. Telapak kaki serasa panas, menandakan kalau api tak lama padam.
"Apa maksudnya ini AJ?" tanya Karma masih melangkah mengikuti AJ yang mondar-mandir seperti tengah mencari sesuatu di tanah.
"Mereka membakar rumah ini karena sengaja mau melenyapkan bukti."
"Untuk apa? bukankah sudah jelas mereka penjahatnya."
AJ berhenti melangkah. "Entahlah. Mungkin mereka mau merencanakan sesuatu." Ia kemudian berjongkok mengambil sesuatu sesaat. Lantas bangkit dan memperhatikan dengan seksama benda yang baru saja diambil; sebuah medali.
"Apa itu?" tanya Karma.
"Medali juara lomba puisi. Nampaknya milik Raisa." AJ memberikannya pada Karma. Ia melangkah lagi mencari barang lain.
Pandangan Karma juga mengedar kesekitaran. Ia memperhatikan bekas dapur. Ia melangkah ke arah sana.
Setelah agak lama melakukan pencarian tidak ada barang yang menarik perhatian bagi AJ selain medali tadi. Ia lantas memanggil Karma. Yang dipanggil langsung mendekat.
"Aku menemukan sebuah foto," ucap Karma sambil memberikan sebuah foto berukuran sedang. AJ menerima dan langsung memperhatikan. Foto itu merupakan foto keluarga bergambar seorang anak gadis yang tengah digendong seorang perempuan dan di sampingnya seorang pria. Anehnya foto wajah kedua orang dewasa itu dicoret dengan tinta hitam.
AJ dengan seksama memperhatikan wajah gadis tersebut.
"Ayo kita ke markas," ujar AJ. Dan keduanya menuju markas.
Tidak ada Alena ketika keduanya tiba di markas. AJ menghubungi Alena.
"Di mana dia?" tanya Karma sambil membukakan jendela dan ruangan yang tadi gelap seketika cerah.
"Di perpustakaan katanya," jawab AJ sambil bergerak menuju komputer.
"Aku khawatir terjadi apa-apa pada Jap," kata Karma melangkah mendekati AJ.
"Semoga saja dia akan baik-baik saja."
Sekitar 15 menit kemudian Alena kembali ke markas dengan membawa sebuah tas. Ia langsung mendekat ke arah meja komputer.
"Aku menemukan sebuah buku sejarah yang menarik. Mungkin hampir mirip dengan kasus Puisi Hitam," jelas Alena sembari membuka resleting tas dan mengambil sebuah buku.
Alena berujar lagi, "aku mendapat informasi dari seorang teman lamaku soal buku ini. Kuharap buku ini membantu." Gadis berambut lurus itu langsung menaruh buku di meja.
AJ dan Karma langsung memperhatikan buku tersebut. Sebuah buku yang nampak sudah lawas bersampul didominasi warna hijau dengan judul Mantra.
"Sastro Tomo." ucap AJ membaca sebuah nama kecil di bawah sampul. "Apa dia penulisnya?"
"Kata temanku dia penulisnya. Aku baca sekilas, dan aku pikir isi dari buku ini hampir sama dengan kejadian puisi Hitam," terang Alena.
AJ membuka halaman pertama dan membacanya. Kemudian halaman kedua dan seterusnya. Di bagian-bagian awal menjelaskan apa itu mantra menurut bahasa dan istilah. Kemudian lanjut soal asal-usul mantra menurut sebuah prasasti di Gunung Kumbang.
"Mantra adalah sesuatu yang diciptakan makhluk-makhluk tua, makhluk yang sudah ada sebelum manusia pertama diturunkan ke bumi. Yang bernama Jikininki. Berdasarkan prasasti kuno di sebuah gunung Kumbang di dekat perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat. Yang dituliskan ulang pasukan kerajaan Galuh pada abad 13 ...."
AJ terus membuka dan membaca dengan seksama.
"Mantra dulu digunakan untuk menyerang orang tanpa menyentuh. Tapi sebelum bisa menggunakan mantra seseorang harus melakukan perjanjian dengan Jikininki ...."
AJ terus membaca, jika dipersingkat mungkin seperti ini penjelasanya:
Orang-orang dulu banyak melakukan perjanjian dengan Jikininki untuk mendapatkan keuntungan pribadi maupun kelompok. Tapi penggunaan mantra untuk keuntungan kelompok sangat jarang ditemui. Satu yang bisa ditemui adalah saat Abad 13 pada masa kerajaan Galuh masih berdiri. Ketika seorang pemuda bernama Banga Aria menggunakan Mantra untuk membentuk sebuah pasukan pemberontak karena merasa tak puas dengan kehidupan kala itu dan ingin meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Galuh. Banga Aria mengancam kerajaan dan menakut-nakuti rakyat akan di mantra jika mereka masih setia pada kerajaan dan tidak ikut jadi pengikutnya. Namun setelah usahanya yang panjang ia dan kelompoknya cuma menemui kegagalan karena kekuatan Mantra bisa dikalahkan oleh para Ulama jaman dahulu yang menggunakan doa sebagai penangkal.
Kemudian AJ melanjutkan membaca soal Jikininki.
Jikininki makhluk tua yang dulunya menjaga tempat-tempat di Bumi. Dia makhluk baik yang menjaga alam sekitar dan menjaganya agar selalu dalam kemurnian dan keindahan. Setelah manusia datang. Dan kemudian dosa tercipta dan menyakiti para Jikininki. Hingga para Jikininkipun mulai berubah tak terkendali.
Mereka mulai menghasut beberapa manusia untuk menggunakan kekuatannya. Semuanya sebenarnya cuma untuk menghukum para manusia yang telah melakukan banyak dosa.
AJ berhenti membaca.
__ADS_1
"Jikininki!" gumam AJ.
"Apa ini ada hubungannya dengan puisi Hitam?" tanya Karma.
"Mungkin ada." AJ bangkit. "Alena, kerja bagus, kau mendapatkan sesuatu yang menarik. Setelah ini carilah apakah puisi Hitam ini ada kaitannya dengan mantra atau tidak. Dan telusuri soal buku itu dan penulisnya, apakah ini cuma cerita dongeng atau memang sebuah buku yang diciptakan dari hasil riset yang benar. Jika benar kau dan Karma akan aku tugaskan pergi ke tempat itu. Gunung Kumbang."
"Memang gunung itu ada?" tanya Alena.
"Ada, dan memang letaknya sesuai, dekat perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat," jelas AJ.
"Bagaimana dengan Jap, apa kita cuma akan diam saja?" kata Karma.
"Aku sudah mengirimkan beberapa polisi untuk mencarinya dan keberadaan anggota Puisi Hitam itu. Namun aku mengira tanpa mencarinyapun mereka tak lama lagi akan menghubungi kita."
"Apa sesuai dugaanku?" ujar Karma lagi.
"Benar. Mereka bisa saja membunuh Jap di toko tersebut. Namun mereka ingin menggunakan Jap sebagai alat agar mereka bisa membebaskan Ruru," jelas AJ.
"AJ aku merasa kita mulai menemukan jalan mengakhiri Puisi Hitam ini," sambung Alena. "Mereka makin terpojok bukan."
"Aku awalnya juga berpikir begitu. Namun setelah melihat langkah-langkah sembrono mereka akhir-akhir ini pikiranku jadi mulai terganggu. Entah karena mereka mulai ceroboh atau mereka tengah menyiapkan rencana lain."
"Rencana seperti apa? Kurasa dengan terbongkarnya identitas mereka. Mereka akan mudah ditangkap polisi." Karma berasumsi.
"Karma, kejahatan Puisi Hitam ini sudah lebih dari satu tahun. Selama itu kupikir mereka banyak melakukan sesuatu tanpa kita ketahui. Namun kuharap aku salah."
"Kau seperti mencemaskan sesuatu AJ?" terka Alena.
"Aku akui kasus ini adalah kasus tersulit yang pernah aku tangani, dan aku sangat yakin ada otak yang cerdas dibalik semua ini," kata AJ.
Ruangan hening sesaat sebelum AJ melangkah ke arah luar.
"Jangan terlalu dengar soal kecemasanku." ucapnya. Karmandan Alena saling bertatapan sesaat.
Karma juga melangkah, sementara Alena terdiam menatap foto almarhum ayahnya.
"Alena! Kau tidak ikut?" seru Karma. Yang dipanggil menoleh lalu melangkah mendekat.
Pintu kantor ditutup, keduanya bergegas mengikuti AJ.
"Sebenarnya AJ mau kemana?" tanya Alena. Karma menggeleng kepala.
"Alena, melihat wajahmu aku jadi ingat Frans."
"Kurasa aku tidak mirip dengan ayah."
"Memang agak beda. Aku ingat Frans selalu memanggilku Bangkong saat aku baru masuk tim INU." Karma terkikih.
"Ayah memang humoris. Namun ia orang yang tegas."
*****
Mobil tiba di depan salah satu rumah di sebuah komplek perumahan kecil. Ketiganya turun.
"Rumah siapa ini?" tanya Karma pada AJ.
"Salah satu guru SMA Teratai," jawab AJ.
Karma memperhatikan sesaat tampilan AJ yang masih tetap menggunakan topeng dan berpakaian detektip.
"Hah apa tak sebaiknya kau buka topengmu AJ kalau bertemu orang. Maksudku agar orang yang kau temui merasa nyaman." saran Karma sambil memutar bola mata.
AJ menoleh padanya. "Identitasku harus dijaga kerahasiaannya."
"Ya terserah kau saja."
Ketiganya melangkah ke arah beranda rumah. Karena sudah dihubungi AJ sebelumnya sang pemilik rumah yang merupakan wanita berkacamata tigapuluh tahunan keluar sebelum ketiganya mengetuk pintu. Dan ia langsung mempersilahkan ketiganya duduk di kursi kayu di beranda.
"Kopi atau teh atau Jus?" tanya wanita itu yang diketahui bernama Bu Guru Eli.
"Jus," jawab Karma.
__ADS_1
"Oke." Eli hendak berbaik namun ia urungkan. "Kau kenapa belum melepas topengmu?" tanyanya kemudian.
"Aku tidak akan melepas topengku" jawab AJ. Eli kemudian mengeloyor dengan membawa keheranan.
Dengan agak kesal Karma menghela napas, "sudah kubilang kan kau harusnya membuka topengmu."
Eli kembali dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat satu poci berisi jus jeruk dan tiga gelas. Ia menaruh poci dan gelas itu ke meja, kemudian menuangkan jus ke dalam gelas.
"Aku tidak akan minum," ucap AJ. Ketiga orang di sekitarnya langsung keheranan. Karma baru sadar kalau ia selama ini memang tidak pernah melihat AJ makan maupun minum. Totalitas sekali ia sebagai detektip. Jadi makin penasaran Karma dengan wajah AJ. Apakah ia tua, muda, ganteng, atau jelek. Eli tetap mengisi ketiga gelas.
"Siapa tahu kau tiba-tiba haus tuan ..." Eli nampak lupa nama AJ.
"AJ. Namaku AJ."
"Ah iya tuan AJ, jelas itu bukan namamu kan?"
"Tentu saja," jawab AJ. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, tepatnya sebuah medali yang ia temukan sebelumnya. Medali itu ia taruh di meja.
Eli menydlidik medali itu sesaat sebelum mengambil dan memperhatikannya.
"Medali lomba puisi tingkat kabupaten." Eli nampak keheranan. "Punya siapa ini?"
"Salah satu muridmu mungkin," kata AJ.
"Beberapa muridku pernah menjuarai lomba puisi di kabupaten."
"Raisa Adinda?"
"Ya dia pernah juara ...." Eli seketika menghentikan ucapannya karena keheranan hadir lagi, "ah sebenarnya kalian ke sini mau membicarakan tentang apa? Apa ini ada hubungannya dengan Raisa? Kalau ada memang kenapa anak itu?"
"Kami hanya menduga kalau ia terlubat sesuatu, tapi kami tidak akan memberitahumu dulu. Tolong ceritakan dulu Raisa di matamu."
"Bisakah kau ceritakan dulu muridku Raisa terlibat apa?"
"Tidak. Maaf kami tidak bisa memberitahumu."
"Ah baiklah. Raisa ya." Dan kemudian Eli menceritakan soal Raisa.
Menurutnya Raisa selama hampir tiga tahun sekolah adalah anak yang baik dan taat aturan. Ia juga salah satu siswi tercerdas di sekolah.
"Bagaimana dengan sifatnya?" tanya AJ.
"Dia anaknya mudah bergaul, toleran dan ramah. Dia murid impian setiap guru, percayalah. Andai semua murid seperti dia pasti kami tidak akan capek memikirkan kenakalan para murid."
"Orang tuanya? Apa ada yang tahu."
"Raisa, yang aku tahu orang tuanya telah berpisah dan ia cuma tinggal bersama kakaknya."
"Sesuai dengan data yang kita terima AJ," kata Alena.
"Tapi aku ragu kalau data itu benar." AJ mengambil barang lain dari sakunya, yaitu sebuah foto yang Karma temukan sebelumnya. Ia menaruhnya di meja. Semua mata langsung tertuju pada foto tersebut.
"Foto siapa ini?" tanya Eli.
"Aku menduganya itu foto Raisa dan kedua orang tuanya," jawab AJ.
"Apa kau yakin? Harusnya ada Ruru di sana," kata Karma.
"Makannya, alasan kenapa aku kurang yakin dengan data sebelumnya karena Ruru tidak ada di foto ini. Aku ragu kalau keduanya kakak beradik."
"Kau bisa yakin ini foto Raisa, AJ?" tanya Alena.
"Tentu saja. Mudah bagiku. Hanya dengan melihat matanya aku bisa menduga kalau anak yang ada di foto ini adalah Raisa."
"Lalu apa gunanya kalau keduanya memang bukan saudara. Keduanya tetap penjahat bukan," kata Karma. Eli langsung membuka matanya lebar. Alena langsung mencubit Karma hingga pemuda itu kesakitan.
"Penjahat Apa?" heran Eli.
"Bukan apa-apa." kata Alena dengan wajah dinginnya.
"Kita masih belum mengetahui motif mereka Karma. Untuk apa semua ini dilakukan." Bisik AJ.
__ADS_1
TBC__