Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Surat Tantangan


__ADS_3

"Siapa mereka?" cemas AK sambil menatap pengendara-pengendara itu yang kesemuanya memakai helm full face.


Pengendara-pengendara itu berhenti menerjang, hanya saja bergerak memutari AK dan Jap. Kini keduanya--yang saling memunggung dengan pistol telah siap di tangan--berada dalam kepungan para pengendara.


"Siapa kalian?!" Tanya AK setengah berteriak. Namun tidak ada jawaban dari para pengendara.


"Nampaknya mereka dari Puisi Hitam," bisik Jap.


Pengendara-pengendara itu pada berhenti dan mematikan mesin motor. Lantas pada turun dan mulai melangkah mendekati Jap dan AK.


"Berhenti disana!" seru AK sambil menodongkan pistol ke salah satu pengendara. Bukannya takut para pengendara itu malah berlari ke arah AK dan Jap, mencoba untuk menyerang. Dan perkelahian antara mereka dengan AK dan Jap dimulai.


Jap terjerembab setelah mendapatkan tendangan dipunggungnya. Kemudian ia harus menerima lagi tendangan ke arah wajahnya. Hingga langsung keluar darah segar dari hidungnya.


AK yang mencoba berusaha menolong disulitkan oleh pengendara-pengendara lain yang terus mencoba menghajarnya.


"Dasar curang, beraninya main keroyokkan!" teriaknya sambil menendang perut satu pengendara hingga pengendara itu terpental.


Jap ditarik paksa untuk berdiri oleh dua pengendara dan tangannya langsung dikunci. Dari depan, pengendara lain langsung memukul dan menendang perutnya secara brutal.


"Sialan!" kesal AK kembali memukul keras perut salah satu pengendara.


Di lain tempat, Karma yang tengah duduk termenung-- menunggu Alena mencatat apa yang ada di laptopnya-- dikejutkan oleh Pak Tua pemilik penginapan yang tiba-tiba menepuk pundaknya.


"Maaf mengejutkanmu, aku dapat surat dari seseorang katanya untukmu," ujar Pak Tua sambil menyodorkan sebuah amplop.


"Dari siapa, Kek?" tanya Karma sambil menerima amplop.


"Dari seorang Pria yang aku tidak mengenalinya. Saat kutanya dia siapa, dia cuma bilang dari teman lamamu."


Karma dan Alena saling bertatapan.


"Oh, ya sudah terima kasih, Kek."


Si Kakek kemudian berbalik dan pergi, sementara Karma dan Alena menatap serius pada amplop. Karma lantas menyobek amplop, mengambil secarik kertas terlipat di dalamnya dan membukanya. Ia hendak membaca sebelum Alena menutup lembar kertas itu dengan sebelah telapak tangannya.


Karma menoleh pada Alena. "Kenapa?"


"Hati-hati, siapa tahu Puisi Hitam."


"Iya, dulu AJ bukankah pernah memperingatkan soal ciri-ciri Puisi Hitam. Jadi tenang saja, aku akan berhati-hati membacanya."


Alena mengangguk dan menarik tangannya. Karma mulai mencoba membaca. Setelah membaca semuanya matanya terbeliak.


*****

__ADS_1


Jauh dari tempat Karma dan Alena sekarang. Raka membaringkan dengan pelan tubuh Krina di sebuah kasur putih besar nan empuk. Ia lantas mengusap lembut pipi gadis itu sembari memperhatikan wajahnya yang cantik.


Di dekatnya Ruru memperhatikan dengan bersila tangan.


"Setelah ini apa yang mau kau lakukan pada gadis ini?" Ruru bertanya.


"Membiarkan dulu dia tinggal di apartemen ini."


Ruru menghela napas, bingung dengan jalan pikiran Raka. Raka melangkah ke arah jendela yang masih tertutupi tirai. Lantas membuka tirai tersebut hingga membiarkan cahaya masuk ke dalam ruangan. Di luar sana terlihat gedung-gedung pencakar langit indah milik ibu kota. Raka memandangi pemandangan tersebut dengan khidmat.


"Setelah kau abadi, dia tidak berguna untukmu nanti-" tutur Ruru yang sudah ada di belakang Raka. Raka berbalik dan menoleh Ruru.


"-saat kau akan tetap dalam kemudaan, gadis itu akan tua nanti. Dan mungkin kau tidak akan menyukainya lagi nanti."


"Kenapa kau berpikiran seperti itu. Aku tidak peduli pada gadis ini sama sekali."


"Kalau kau tidak peduli untuk apa membawanya kesini."


"Hanya untuk iseng."


"Tidak mungkin iseng."


Raka mendekat ke arah Ruru selangkah dan memegang kedua bahu dengan kedua tangannya. "Ah Ruru, setelah kematian AJ akhir-akhir ini kehidupan serasa membosankan, tidak ada tantangan sama sekali." Raka melepaskan tangannya dari Ruru dan melangkah melewatinya.


"Tanganku ini sedang ingin menghajar banyak orang. Dan yang paling ingin aku hajar saat ini adalah tunangan dari Krina. Itulah alasan aku menculik Krina, agar pemuda itu mencari Krina."


"Aku akan berduel dengan Karma satu lawan satu, hanya ingin membuktikan siapa yang paling kuat dan paling berhak menjaga Krina."


"Bodoh, kalau kau kalah rencana awal kita akan rusak."


"Aku tidak akan kalah!" Raka berteriak sambil menendang lampu tidur di atas meja, hingga benda tersebut jatuh ke lantai dengan keras dan membuat kepingan kacanya berserakan.


Ruru agak dibuat kaget. Ia menatap wajah Raka yang tampak tengah menahan emosi.


"Sebenarnya kau ini kenapa? Akhir-akhir ini kau bertingkah aneh sekali, tidak seperti Raka yang selama ini yang sangat tenang."


Ruru menatap Krina. "Apa karena dia?"


*****


"Kau tidak apa-apa?" tanya AK pada Jap dengan napas ngos-ngosan. Terlihat bibir atas AK sedikit berdarah.


"Tidak." Jap kini membungkuk sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Di depan keduanya kini, tengah berdiri membelakangi, seorang pria paruhbaya berwajah bengis bersama seekor anjing hitam (Pria dan anjing yang sama dengan yang Jap temui saat pertama kali datang ke penginapan). Pria itu sendiri kini tengah menatap nanar pada para pengendara motor tadi yang pada ketakutan karena habis di hajarnya.


"Tuan Sinbe, terimakasih telah datang menolong," kata AK pada Pria Paruhbaya tersebut.

__ADS_1


"Bilang terimakasihnya nanti saja setelah mematahkan semua tulang orang-orang ini," jawab Sinbe dengan suara basnya. Ia melirik anjingnya. "Kau masih ingin menggigit bukan Sion?"


Anjingnya menggonggong kemudian menggeram dengan menampilkan tatapan nanar pada para pengendara.


"Kami tidak ada urusan denganmu!" teriak salah satu pengendara, dari gesturnya ia nampak waspada. Mungkin karena takut akan diserang Sinbe dan Sion lagi.


"Mereka berdua adalah tamuku, jadi ini jelas adalah urusanku. Dan siapapun yang beraninya mengusik tamuku, aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran pada mereka."


Para pengendara itu saling menatap. Mereka lalu berbicara dengan nada agak pelan, hanya saja masih bisa terdengar oleh Sinbe, AK dan Jap.


"Kita mundur saja," kata salah satu dari mereka, "lagipula uangnya juga sudah ditransfer."


"Kita bisa dapat masalah nanti," sahut yang lainnya.


"Tidak peduli. Daripada kita mendapat masalah disini."


AK menyipitkan mata. "Hoy siapa yang menyuruh kalian?" tanyanya kemudian dengan nada tegas.


"Puisi Hitam," jawab salah satu pengendara, lantas mereka langsung pada berbalik menuju motor masing-masing kemudian pada pergi.


Sinbe, AK dan Jap memperhatikan kepergian mereka sampai tak terlihat lagi dari pandangan. Sinbe menatap AK dan Jap.


"Sudah kuduga dari awal kalau nampaknya kedatangan kalian kemari untuk sesuatu yang penting," tutur Sinbe pada AK dan Jap.


"Sangat penting. Ini untuk keselamatan banyak nyawa," kata Jap.


"Harusnya dari awal cerita padaku agar aku bisa membantu," ucap Sinbe lagi.


"Kami sangat berhati-hati untuk mempercayai seseorang," sahut AK.


"Jadi Puisi Hitam ya," ucap Sinbe teringat perkataan terakhir para pengendara tadi.


"Benar, kejahatan ini seolah tak terbendung dan korban terus-menerus bertambah. Bukan tidak mungkin akan banyak korban lagi kalau kita tidak segera bertindak menghentikannya," kata Jap.


Di penginapan Karma tengah memasukan seluruh baju dari lemari ke tasnya dengan cepat. Rencananya ia akan kembali ke Jakarta saat ini juga meskipun tugasnya di Gunung Kumbang belum selesai. Semuanya gara-gara surat tadi.


"Kita tunggu Jap dan AK kembali Karma."


"Tidak ada waktu, nyawa Krina bisa terancam." Ucapan Karma berubah jadi gumanan. "Kenapa harus Krina, sial." Ia menoleh pada Alena.


"Setelah mengetahui kalau aku anggota tim INU, apa mereka juga langsung mencari tahu tentangku juga."


"Tentu saja. Mereka kurasa orang-orang yang cerdas juga. Dan sepertinya mereka kini ingin menghabisi seluruh anggota Tim INU tanpa tersisa satupun."


Karma menghela napas dan kembali mengemasi barangnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2