Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Es dan Api


__ADS_3

"Aku tidak habis pikir dengan mereka. Yang mengatas namakan dirinya Puisi Hitam. Orang bodoh yang sudah menilai nyawa itu tak lebih berharga dari baju di pasar malam." Aktris itu bersuara lantang di atas sebuah podium di acara talkshow sebuah televisi swasta.


AJ mematikan televisi. "Berani sekali si Yuke ini."


"Atau tidak punya pikiran," sindir Karma.


"Dia tidak tahu bahayanya puisi hitam. Anak muda memang suka tak memperhatikan berharganya nyawa mereka," kata AJ.


"Atau sebenarnya ia tak peduli," sahut Alena yang tengah duduk di kursi depan komputer."


"Mungkin saja. Anak itu kulihat tidak punya semangat hidup," cerocos Karma.


"Nampaknya aku harus melakukan tindakan sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya," kata AJ. "Karma, pergilah ke apartemen Yuke. Jaga dia malam ini."


Karma mengernyitkan dahi. "Bukannya aku tidak mau, kau tahu sendiri Yuke tidak mau di jaga olehku," jelas Karma yang malas berurusan dengan Yuke lagi.


"Aku tidak peduli soal itu, pergilah," titah AJ, dan Karma tidak bisa menolak.


Acara Talkshow berakhir. Rating acara yang di hadiri Yuke benar-benar tinggi. Terlepas dari waktu acaranya yang tayang saat prime time, pesona Yuke memang luar biasa. Gadis itu memang punya karisma: muda, cantik, lincah, cerdas.


Tidak salah memang ia mengundurkan diri dari girlband Kitsune 46 dan melakukan solo karir. Karena kepopulerannya malah semakin meningkat setelah itu.


Yuke, Wina dan Frans tiba di parkiran. Frans membukakan pintu belakang mobil untuk Yuke. Pria keturunan Batak itu benar-benar sudah seperti sopir pribadi sekarang. Sebuah mobil sedan berhenti di dekat mereka. Dan keluarlah 4 pria berpakaian polisi. Frans langsung menghampiri dan berbicara dengan mereka sesaat.


Pintu depan mobil terbuka. Frans duduk di kursi kemudi.


"Siapa mereka Frans?" tanya Yuke sembari memperhatikan keempat pria tadi."


"Mereka polisi yang dikirimkan oleh atasanku untuk mengawal kita Nona," jawab Frans, "pakai sabuk pengaman Nona." Mobil kemudian melaju dan mobil yang ditumpangi 4 polisi mengikuti menuju apartemen Yuke.


Ketiganya tiba di pintu apartemen Yuke. Di sana Karma ternyata telah menunggu sambil berdiri bersender pada tembok. Yuke langsung menyipitkan mata mengetahui keberadaan pemuda tersebut.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Yuke dengan tak ramah.


"Aku ditugaskan menjagamu," jawab Karma malas.


"Kan sudah aku bilang aku tidak mau dijaga olehmu."


"Aku juga mana mau menjagamu. Namun ini perintah atasanku. Dan aku tidak mau berdebat sekarang."


"Nona Yuke, mending langsung istirahat," pinta Wina yang baru membuka pintu. Yuke mengiyakan dan tidak mempermasalahkan lagi kehadiran Karma. Ia sudah cukup lelah juga untuk berdebat memang.


"Kalian tunggu di ruang depan dulu ya. Kami mau mandi." Kata Wina.


"Kami tunggu di luar saja soalnya mau merokok," ujar Frans.


"Ya sudah." Wina masuk dan menutup pintu.


"Karma kau punya rokok?" tanya Frans kemudian. "Rokokku habis." Karma menyodorkan rokok. Frans menerima dan mulai merokok.


"AJ bilang ia juga mengirim polisi untuk menjaga Yuke?" tanya Karma.


"Mereka di parkiran." Frans meniupkan asap dari mulutnya.


Teringat sesuatu Karma lantas mengambil ponsel dari sakunya. Sitt! Ada panggilan tak terjawab dari Krina. Nampaknya tunangannya itu menelpon saat ia diperjalanan menuju ke mari tadi. Karma menelpon Krina.


Frans agak memperhatikan sembari menghisap rokoknya.


"Frans!" ucap sebuah suara dari earpiecenya yang tak lain suara AJ.


Frans menekan earpiecenya agar suara AJ terdengar lebih jelas. "Ada apa AJ?"

__ADS_1


"Aku dapat laporan, kalau ada kematian tiba-tiba di sebuah kafe tak jauh dari tempatmu sekarang. Pergilah sekarang bersama polisi yang aku kirimkan tadi."


"Baik." Sambungan lalu terputus. Frans lantas menatap Karma yang masih sibuk menelepon.


"Karma. Matikan ponselmu," suruh Frans kemudian. Karma melirik sesaat kemudian menuruti perintah koleganya itu. Frans lantas menceritakan perintah AJ.


"Aku saja yang ke sana Frans. Aku tidak mau memgurusi si Yuke itu sendirian."


"Dasar. Tugas ini nantinya adalah tugas penyelidikan. Kau belum punya ilmu soal penyelidikan. Di sini saja turuti perintah AJ."


Karma menghela napas dalam. "Ya sudah apa boleh buat." Frans menggeleng kemudian melangkah pergi.


Berpikir akan lama menunggu Yuke dan Wina mandi, Karma langsung duduk diambang pintu. Dan dugaannya benar barulah satu jam kemudian akhirnya pintu terbuka.


"Lama sekali kau mandi," sindir Karma pada Yuke. Ia lantas masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju sofa untuk merebahkan diri.


"Mana Frans?" Yuke menengok ke lorong mencari-cari keberadaan Frans.


"Dia ada tugas dari atasan." Mendengar penjelasan Karma, Yuke langsung menutup dan mengunci pintu.


"Hey kenapa tiduran. Kau kan di suruh untuk menjagaku," bentak Yuke memandang tak suka Karma.


"Hanya sebentar," ucap Karma malas.


"Dasar polisi malas. Padahal Frans selalu patuh padaku. Ingat Karma aku sudah membayar kalian mahal untuk tugas ini jadi seriuslah."


Telinga Karma tiba-tiba terasa panas sekarang. Anak itu selalu saja membuatnya kesal. Karma bangkit. "Berisik sekali kau ini, aku selalu menjalankan tugas seratus persen."


"Hah. Payah." Yuke terlihat menahan kantuk.


"Tidurlah nona Yuke," ucap Wina yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. "Karma akan melakukan sebaik mungkin, percayalah padanya."


"Tidurlah sana, berisik sekali jadi manusia," gerutu Karma kemudian dengan wajah kesalnya. Baru kali ini ia menemukan aktris sesongong Yuke. Padahal ia cuma aktris pendatang baru.


Wina duduk di sebelah Karma. "Tolong maafkan Nona Yuke, tuan Karma."


"Tolong jangan panggil aku tuan, aku masih muda Wina."


"Baiklah, Karma, tolong maafkan nona Yuke."


"Kau masih ingat namaku?"


"Tentu saja. Kau juga masih ingat namaku."


"Wina, siapa yang punya ide pidato tadi. Yuke sendiri kah atau ia disuruh oleh mereka."


"Itu ide Yuke sendiri."


"Untuk apa?"


"Kata nona Yuke ia peduli pada korban-korban puisi hitam, makannya ia ingin mengajak masyarakat melawannya."


"Yuke bodoh. Bagaimana orang-orang akan melawan. Polisi saja hingga kini tidak bisa melawan. Atau Yuke cuma mau mencari kepopuleran? Agar orang-orang jadi makin mengenalnya."


"Entah. Mungkin juga kau benar. Yang jelas aku jadi makin cemas sekarang. Takut-takut ancaman puisi hitam akan datang lagi." Keduanya terdiam sesaat sebelum Karma memulai lagi.


"Yuke itu ada hubungan saudara denganmu?"


"Tidak ada. Aku mengenal nona Yuke saat ia masih jadi anggota Kitsune46. Kedekatan kami terjadi saat aku melihat banyak bakat saat dia di sana. Dan aku langsung mengusulkan agar dia bersolo karir saja, karena kuyakin karirnya akan lebih bagus. Dan dugaanku tidak salah. Semenjak Yuke bersolo itulah aku mulai jadi asistennya." Karma sedikit mengangguk.


"Karma, kulihat kau benar-benar benci nona Yuke?" tanya Wina.

__ADS_1


"Aku tidak membenci siapapun. Aku hanya tidak suka watak arogannya."


"Kalau kau lebih mengenal nona Yuke pasti kau akan paham kenapa nona Yuke sampai berprilaku seperti itu. Setiap hal selalu punya alasan Karma."


"Apa alasannya?"


"Nona Yuke itu adalah korban broken home. Kedua orang tuanya berpisah saat ia masih berusia lima tahun. Ayahnya katanya dulu sering berlaku kasar pada mamahnya bahkan padanya. Alasan itulah kenapa nona Yuke kurang menyukai lelaki. Ia nampaknya trauma." Wina berhenti sesaat. "Asal kau tahu, nona Yuke belum pernah pacaran hingga saat ini."


Hening beberapa saat lagi. Wina terlihat tertunduk tengah berpikir dan wajah yang tiba-tiba muram. Ia menengadah. "Satu lagi, saat waktu kau mengacungkan senjata ke kepala nona Yuke. Kau tahu kan nona Yuke setelah itu cuma diam saja. Ketahuilah saat itu dia trauma. Aku mau menegurmu waktu itu sebenarnya, tapi aku menghormati kepolisian dan niat baik kalian, jadi aku biarkan saja."


Kini giliran Karma yang tertunduk muram. "Hah maafkan aku. Aku terbawa emosi waktu itu."


"Tidak apa-apa. Namun kuharap kau mau menebus kesalahanmu." Karma melirik Wina dengan menautkan alis.


"Maksudnya?"


"Karma, tolong bantulah aku agar nona Yuke tidak menjaga jarak dengan lelaki lagi. Aku takut karena traumanya ini ia jadi tidak mau menikah. Tolong buatlah ia melihat sisi lain dari lelaki, sisi baik. Buatlah ia merasakan jatuh cinta dan kasih sayang."


"Kalau seperti itu kau juga bisa."


"Tidak, aku tidak pernah bisa, meski berapa kalipun mencobanya. Cuma kau yang bisa." Karma tak menyahut, cuma menatapnya; tak paham dengan maksud perkataan Wina.


"Karma. Nampaknya cuma kau yang bisa membuat Yuke jatuh hati."


Langsung saja nyawa Karma serasa mau keluar dari tubuhnya. Lelucon apa ini, pikir Karma.


"Jelas-jelas ia membenciku. Lagipula Wina, kau harus tahu kalau aku ini sudah punya tunangan."


"Setidaknya buatlah ia paham arti cinta."


"Dan setelah itu dia akan merasakan kekecewaan setelah tahu kalau aku punya tunangan. Ini sama saja bohong."


"Kurasa tidak akan begitu akhirnya. Kumohon Karma, Yuke cuma butuh sosok yang bisa menyayanginya. Dia pasti tidak akan peduli soal perpisahan nanti."


Karma menggeleng. Omonga Wina benar-benar ngawur menurutnya.


"Karma, ku yakin Yuke menyukaimu."


*****


Saat Frans dan keempat polisi tiba di kafe yang di maksud AJ, kafe itu sudah dipasangi garis polisi. Beberapa polisi juga tengah menanyai beberapa orang; sepertinya pengunjung, dan penjaga kafe.


"Inspektur Frans," sapa salah seorang polisi paruhbaya bertubuh gendut dan berwajah kemerah-merahan. Nampak ia keturunan cina. Mereka kemudian berbicara beberapa hal. Sebelum Frans menuju ke dalam Kafe.


Sebuah Kafe modern, dengan hiasan elegan disana sini, beberapa diantaranya adalah lukisan abstrak dan sketsa kota Jakarta. Memang serasi juga dengan lingkungan Jakarta yang modern. Lampu masih menyala memenuhi ruangan, nampak sengaja untuk tidak di matikan. Kursi dan meja juga masih berada di tempat semestinya.


Frans dan si gendut tadi melangkah menuju ke salah satu meja. Mereka berhenti di dekat sebuah kursi yang di bawahnya sudah tergeletak mayat seorang pria dengan mata masih terbuka.


Frans berjongkok dan mengusap matanya hingga tertutup.


"Nampaknya ia terkena serangan jantung," kata si Gendut.


"Mayat ini sudah kau periksa sebelumnya Fury?"


"Iya. Aku juga temukan kertas putih kosong di sebelahnya tadi."


"Mungkinkah puisi Hitam?"


"Entah."


TBC_

__ADS_1


__ADS_2