
Jap dan Raisa berada di toko sayuran yang pengunjungnya sangat sepi atau tepatnya cuma mereka yang hadir. Hari ini kebetulan libur sekolah. Dan Raisa memilih mengisi liburannya dengan belanja bahan masak yang memang sudah menipis.
Jap memperhatikan daging sapi segar yang ternyata harganya cukup mahal. Raisa memperhatikan pemuda itu sesaat.
"Kenapa? Kau ingin daging sapi?"
"Tidak. Hanya terkejut dengan harganya."
"Memang, orang-orang sepertiku akan berpikir dua kali untuk membelinya. Dunia ini memang tidak adil ya Jap."
"Tidak kurasa."
"Tidak bagaimana, lihatlah!" Raisa menunjuk ke arah luar, pada wanita tua penjual gorengan keliling, yang tengah duduk beristirahat di bawah pohon mahoni. "Menurutmu penghasilannya sehari cukup untuk membeli daging ini?"
"Aku paham maksudmu Rai. Namun inilah dunia semua juga butuh keseimbangan."
"Tapi aku tidak suka."
"Dunia ini sementara, wajar kau tak suka, sekarang mending kau fokus kejar akhiratmu. Di sanalah kehidupan yang lebih utama."
Raisa menatap Jap sesaat. "Kau percaya akhirat itu ada?" ucap Raisa sambil memilih ikan mujair.
"Sebagai orang yang beragama tentu saja."
"Aku juga percaya. Namun seseorang pernah bilang di dunia ini kita juga harus membuat cerita sendiri, untuk mengetahui tujuan hidup."
"Pilih yang matanya masih putih," potong Jap. "Tujuan hidup? Bukankah tujuan kita ini untuk ibadah."
Raisah mengambil dua ikan mujair dan menaruhnya ke timbangan, pemuda penjaga yang sedari bermain ponsel lantas bangkit untuk melayani Raisah.
"Iya, tapi dia bilang juga lebih dari sekedar ibadah."
"Aku agak kurang paham. Siapa memang orang yang bilang itu padamu?"
"Kak Raka, kau ingat kan kak Raka yang datang ke rumah waktu itu."
"Iya, aku ingat."
"Aku sangat menghormatinya Jap, soalnya kak Raka punya pemikiran yang luas dan cerdas. Aku juga menyukainya sebenarnya." Raisa tersenyum-senyum seperti tengah memikirkan sesuatu."
"Kak, ini ikannya cuma ini," sela si pelayan. Raisa mengangguk.
"Setengah kilo, jadi 16.000," kata pelayan lagi. Ia lantas mengambil ikan dan menaruhnya ke kresek kecil, kemudian memberikannya pada Raisa.
Keduanya lalu melangkah mencari bahan yang lain.
"Aku boleh tahu siapa Raka?"
"Dia itu Dewa bagiku."
"Dewa?"
"Jap, kalau tanpa kak Raka, aku dan kak Ruru mungkin sudah jadi gelandangan sekarang. Dialah yang selama ini membantu kami."
Jap mencerna ucapan Raisa. "Apa pekerjaannya?"
"Dia guru honorer di SMA, guru IPS, soalnya dia memang pernah ambil kuliah jurusan sejarah. Oh ya ngomong-ngomong kapan kapan kau akan berhenti mengawasiku, bukankah sudah terbukti aku ini tidak bersalah."
Jap tak menjawab, suasana jadi hening dan keduanya jadi saling tatap.
"Nanti mungkin sebentar lagi." jawab Jap kemudian. "Rai aku heran di mana Ruru sekarang."
"Dia mungkin ada lembur lagi di hotelnya."
"Dia sudah mengabarimu?"
"Belum, biasanya kalau ada pekerjaan tambahan ia akan menghubungi. Ini sudah dua hari padahal, aku jadi cemas."
Raisah mendekat ke tempat buah-buahan. Ia mengambil beberapa apel ke keranjangnya.
"Ah Jap, bisa kau ambilkan minyak goreng."
"Tidak bisa karena tugasnya aku tidak boleh lengah mengawasimu."
"Hah sudah kuduga kau akan bicara seperti itu lagi." Raisa tiba-tiba terdiam. "Kenapa orang itu menatap kita terus Jap." Jap melihat kearah yang Raisa lihat. Pada seorang pria bertubuh tinggi tegap berkacamata hitam. Pikirannya langsung melayang saat AJ memperingatkan soal ciri-ciri tubuh Sinyo Harahap. Si Hacker yang selama ini dicurigai terlibat dengan Puisi Hitam.
Perasaan Jap berubah cemas.
__ADS_1
"Orang itu mengerikan, lebih baik ayo kita pergi Jap." Raisa bergerak ke arah kasir. Jap terus mengikuti.
"Kami mau bayar Kak," ucap Raisa pada petugas kasir yang merupakan seorang pemuda bertopi. Jap tetap waspada dengan lelaki berkacamata tadi. Apa mungkin lelaki itu Sinyo.
"Dia memang Sinyo, Jap." ucap kasir. Jap langsung menatapnya dengan agak tercengang. Kasir itu tersenyum padanya, dan dengan perlahan membuka topinya.
"Kau!" ucap Jap setelah menyadari kalau dia adalah Raka. Dan Jap paham situasi yang tengah mengancamnya sekarang. Dan benar, Raisa sudah menodongkan pistol ke arahnya. Sejak kapan gadis itu membawa pistol, heran Jap.
"Kau tembak aku kejahatanmu akan terbongakar, dan kau hanya akan jadi kejaran polisi setelahnya," ancam Jap.
"Aku tidak peduli Jap, aku tidak peduli jika aku ditangkap polisi. Yang aku peduli jika Puisi Hitam bisa menguasai negeri ini dan merubah dunia."
Jap sesaat memperhatikan suasana toko, ia baru menyadari sesuatu, kalau tulisan di toko ini sebenarnya tutup. Jadi ini memang sudah dipersiapkan. Tapi kemana para pekerja atau pemilik toko ini, apa anggota Puisi Hitam ini sudah melakukan sesuatu pada mereka.
"Apa itu tujuan kalian?"
"Haha nampaknya kau sangat penasaran," kata Raka. "Jap, kau cerdas dan aku sebenarnya tertarik menjadikanmu bagian dari kami."
"Bagian kejahatan?"
"Kami bukan orang jahat Jap, kami ini yang akan mengubah dunia ke arah yang jauh lebih baik. Ke arah yang diinginkan orang-orang baik. Dunia ideal, dunia tanpa kejahatan," jelas Raka.
Dari belakang Sinyo memukul Jap hingga tersungkur ke lantai.
Suara langkah langsung terdengar; langkah dari Raka yang mendekati tubuh Jap.
"Cuma dengan Puisi Hitam kalian tidak akan mampu mengubah dunia ini," kata Jap. Raka tertawa keras sejurus kemudian ia terdiam dengan menampilkan wajah kebencian. "Kau terlalu meremehkan Puisi Hitam. Kau terlalu meremehkanku, aku tidak suka ada yang menganggapku lemah." Raka berjongkok dan langsung memukul wajah Jap. Darah segar langsung keluar dari hidung Jap.
"Tuan Raka, jangan mengotori tangan sucimu. Biar aku saja yang melakukannya," kata Sinyo.
"Tidak Sinyo, sudah lama memang aku tidak menghajar orang."
Jap memperhatikan Raisa sesaat, gadis itu tampak tenang-tenang saja. Luar biasa sandiwaranya selama ini hingga ia susah mencurigainya.
"Kalian akan membunuhku bukan,"
"Mungkin," kata Raka sambil sekali lagi memukul wajah Jap.
"Permintaan terakhirku, aku hanya ingin tahu alasan kenapa kalian melakukan ini," lirih Jap nampak kesakitan.
"Haha sederhana Jap, aku ingin membuat keadilan di dunia ini yang seadil-adilnya."
"Ada. Aku cuma harus membuat organisai Puisi Hitam milikku ini jadi lebih besar. Aku cuma butuh para pengikut yang satu pemikiran denganku."
"Siapa?"
"Orang-orang yang selama ini hidup dalam keputus asaan. Mereka yang di dunia ini cuma dianggap budak, yang tidak pernah merasakan yang namanya keadilan. Namun budak-budak inilah yang nantinya akan menjatuhkan para raja-raja bodoh dan membuat dunia yang seadil-adilnya."
"Kukatakan kau akan gagal, tidak dengan cara membunuh orang jika ingin mengubah dunia."
"Dengan cara apa lagi Jap?"
"Aku belum tahu, tapi kuyakin ada."
"Haha, aku sudah berpikir selama ini Jap. Dan cuma Puisi Hitam cara terbaik yang aku temukan."
Sinyo menyuntikan sesuatu ke tubuh Jap. Dan tak lama Jap tak sadarkan diri.
Ketiga anggota Puisi Hitam itu menatap tubuh Jap sesaat, sebelum Sinyo memanggulnya.
"Tuan, apa langkahmu selanjutnya?" tanya Sinyo.
"Jadikan dia sandra."
"Lalu kita akan menukarnya dengan kak Ruru?" tanya Raisa.
Raka tersenyum. "Benar."
"Tapi kedokmu bisa terbongkar Tuan Raka. Cukup kami saja yang berkorban," ucap Sinyo.
"Tentu tidak Sinyo. Aku juga tidak akan membiarkan satupun anggotaku ditangkap oleh mereka."
"Lalu apa yang akan kau lakukan Raka? Sejauh ini rencanamu tidak berjalan dengan semestinya. Tim INU telah membuat penyok tamengmu." Tanya Jikininki yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.
Raka memejamkam mata sesaat. Ia tiba-tiba teringat Krina.
"Aku akan pikirkan. Kita bawa dulu Jap ke tempatku, tapi periksa dulu apakah di tubuhnya ada alat pelacak." Dan langsung saja Sinyo memeriksa seluruh tubuh Jap; ia melepaskan earphone dan ponsel.
__ADS_1
"Kak Raka, bagaimana dengan pekerja di sini yang kita sekap? Dan anak yang kita suruh jaga ikan tadi?" tanya Raisa.
"Kita telepon polisi nanti."
"Aku mengerti."
*****
AJ dan Karma baru masuk ke markas, mereka terburu-buru setelah Alena memberi kabar kalau Jap tidak bisa dihubungi.
"Sinyal terakhir dari Jap di mana?" tanya AJ melihat layar komputer.
"Di sebuah toko sayuran tigakilo dari kediaman Raisa." jawab Alena sembari menunjuk ke satu titik di layar.
"Raisa mungkin terlibat," terka Karma.
"Bisa saja," jelas Alena, "setelah data yang kucari soal Ruru, ternyata gadis yang kita tangkap itu memang adalah Ruru kakak dari Raisa."
"Tapi untuk apa Ruru memberi tahukan identitasnya, bahkan tujuannya?" Heran Karma.
"Ada yang ingin Ruru sembunyikan, " kata AJ.
"Bukankah ini malah membukakan adanya penjahat lain?"
"Karma, aku sudah menangani banyak kasus dan menyelidiki banyak tersangka. Sebagian dari mereka banyak yang berbicara soal kejahatan mereka, dan mengakui merekalah tersangkanya. Tapi kenyataannya mereka cuma sedang menyembunyikan tersangka utamanya."
Mata Karma sedikit melebar, "jadi Ruru cuma bawahan maksudmu."
"Benar, kalau ia atasan, ia tidak mungkin sampai turun kelapangan cuma untuk membunuh Frans."
"Ah kau benar." Mata Karma membeliak teringat Raka. "AJ!"
"Kenapa?"
"Aku baru teringat sesuatu soal Ruru." Dan Karma kemudian menceritakan pertemuannya dengan Ruru waktu itu. "Mungkin Raka terlibat."
"Kita jangan terlalu terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Setiap dugaan itu kadang jauh dari kebenaran."
"Tapi kita harus menyelidikinya bukan. Tunanganku pasti mengetahui siapa Raka, karena ia pernah satu sekolah dengannya bahkan pernah pacaran."
"Haha nampaknya kau membencinya karena ia mantan dari Krina?"
"Tentu saja tidak."
"Sudahlah, sekarang ayo kita cari Jap," ajak AJ.
"Bagaimana dengan Raka?"
"Nanti, kau bisa tanyakan pada Krina nanti. Alena kami pergi dulu." AJ melangkah dan Karma mengikuti.
*****
AJ dan Karma tiba di toko sayuran yang sebelumnya di kunjungi Jap. Telah banyak polisi di sana. Dan toko juga dipasangi garis polisi. AJ langsung menanyai salah satu Inspektur.
"Ada apa ini pak Inspektur?" tanya AJ.
"Tadi ada penyekapan di sini. Untunglah tidak ada korban."
"Pagi-pagi begini ada penyekapan?" heran Karma yang ikut mendengarkan obrolan mereka.
"Benar." kata Inspektur. "Tapi dari korban yang disekap tak satupun tahu siapa pelakunya karena mereka memakai topeng. Katanya dua orang pria yang membawa pistol dan keduanya ahli beladiri."
"Pria?" gumam AJ sembari berpikir sesaat. "Kalian menemukan sesuatu?"
"Iya ada. Sebuah earpiece kepolisian kita." Inspektur memanggil salah satu polisi bawahannya. Polisi yang dipanggil mendekat. Kemudian menunjukkan sesuatu didalam plastik putih, tak lain sebuah earpiece.
AJ mengangguk. "Jap nampaknya ditangkap."
"Siapa Jap?" tanya Inspektur.
"Salah satu anggota kami." AJ kemudian melangkah menjauh dari Inspektur ke dekat jalan raya. Karma mengikutinya.
"Aku takut sesuatu hal buruk terjadi pada Jap," kata Karma.
"Berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa."
"Aku mulai jengah AJ dengan mereka."
__ADS_1
"Tenangkan dirimu. Ingatlah Tuhan bersama orang-orang baik."