Blackpoem/Puisi Hitam

Blackpoem/Puisi Hitam
Yuke Lover


__ADS_3

Malam itu juga, Karma dan Frans langsung diperintahkan menjaga Yuke dan asistennya lagi. Yuke nampak masih tak senang dengan kehadiran Karma. Perlakuan padanya siang tadi menurutnya benar-benar tak sopan.


"Makasih Nona Yuke, aku akan menyimpan ini baik-baik, nanti aku laminating." Frans semringah setelah diberikan tanda tangan oleh Yuke.


"Sama-sama." Yuke menatap Karma. "Kau tidak mau tanda tanganku?" Tanyanya pada pemuda itu kemudian.


"Untuk apa?" Karma balik bertanya dengan nada malas.


"Aku ini artis terkenal, jadi wajar mungkin kalau kau mau tanda tangannku," ujar Yuke.


"Ahh dia ini tidak punya tivi, jadi wajar dia tidak tahu Nona Yuke,"sela Frans, "ya sudah mari kita berangkat." Yuke menatap Karma sesaat sebelum mengiyakan ucapan Frans. Frans, Yuke dan Wina akhirnya melangkah keluar.


"Tidak ada yang menarik di televisi sekarang Frans." Karma mengikuti dengan malas dari belakang. Keempatnya kini akan menghadiri meet and Great Yuke.


Mobil mereka berhenti di di halaman depan sebuah Kafe yang lumayan besar. Dari dalam mobil Karma membeliak melihat banyak kerumunan anak muda disana nampak pada bersorak dan berteriak bahagia. Menyeru-nyeru nama Yuke. Mereka memegang tongkat yang diujungnya terdapat hurup Y. Diatas kepala merka terpasang bando dengan bertelinga musang. Pandangan Karma paling terpatri pada seorang lelaki bertulang lunak yang berteriak paling semangat diantara kerumunan.


"Mereka adalah Y-Lovers. Para penggemar setia dan fanatik nona Yuke," jelas Frans.


"Aku tidak peduli siapa mereka Frans, yang jelas mereka aneh. Apalagi yang banci itu," timpal Karma.


"Kalau kau tahu lagu-lagu nona Yuke kau pasti akan suka dia." Frans mengambil sesuatu dari dasbor. "Ini Karma pakai." Frans menyodorkan bando seperti yang digunakan Y-Lovers. Karma sontak mengernyitkan dahi.


"Tidak-tidak." Karma menolak dengan tangan sembari memundurkan tubuhnya hingga menempel ke pintu mobil. "Aku tidak mau jadi orang aneh. Membayangkannya saja sudah mengerikan Frans, apa lagi memakainya.


Frans mengenakan salah satu bando. Dan ia terlihat aneh sekarang dimata Karma. "Lihat, ini keren." Frans mengepalkan kedua tangannya dengan wajah penuh semangat. "Ye, Ye, Ye kita adalah Y-Lovers."


Karma mengernyitkan dahi lagi. "Frans martabatmu sudah jatuh sumpah. Kau tidak ada keren-kerennya lagi sekarang."


Frans menyodorkan bando lagi pada Karma. "Pakailah, ini sebagai penyamaran kita," suruh Frans.


"Tidak-tidak, sampai dunia kiamatpun aku tidak akan pernah memakainya." Karma merasa tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Entah padahal cuma sebuah bando, tapi kenapa jadi seperti barang mengerikan sekarang.


Ponsel berdering dari saku celana Frans. Sang pemilik mengambilnya.


"Hallo AJ."


" .... "


"Oh ya ya, ini ada telepon dari AJ." Frans menyodorkan ponsel pada Karma. Karma menerimanya.


"Iya kenapa."


" .... " Karma mendengarkan dengan seksama ucapan AJ dan ia terbeliak.


"Tapi ... Tapi," protes Karma. Telepon terputus. "Ah sialan."


"Kenapa?"


"AJ menyuruhku memakai bando."

__ADS_1


"Sudah kubilangkan. Sekarang patuhi perintah AJ." Frans menyodorkan lagi dengan bandonya. Karma menatap bando itu sesaat, lalu tangannya mencoba menggapai dengan ragu dan gemetar.


*****


Setelah keluar dari mobil, Yuke dan Wina berjalan dengan tersenyum di antara seruan-seruan Fansnya. Karma dan Frans langsung menghampiri keduanya untuk memberi pengawalan. Mata dari Y-Lovers terlihat berbinar-binar bahkan ada yang berkaca-kaca. Karma memerhatikan kesekitaran, masih nampak keheranan dengan Y-Lovers. Apa sebenarnya yang mereka idolakan dari seorang wanita seperti Yuke, wanita bodoh yang angkuhnya luar biasa.


Karma memegang-megang bandonya lagi. Sungguh memalukan pikirnya. Kalau Krina melihatnya dengan tampilan seperti ini, tunangannya itu pasti akan menertawakannya. Mata Karma terbeliak ketika mendapati beberapa orang yang dipundaknya membawa kamera video atau camcorder menyorot ke arah mereka.


"Apa ini diliput acara televisi?" cemas Karma pada Frans.


"Tidak. Cuma streaming," jawab Frans.


Karma menghela napas. "Syukurlah." Ia merenung, semoga Krina bukan termasuk Y-Lovers juga.


Keempatnya memasuki ruangan Kafe. Dinding dan langit-langit tempat itu kini telah terpasangi banyak hiasan pita dan balon warna-warni. Juga bacaan-bacaan indah bertuliskan Meet and Greet Yuke. Di sana juga kursi-kursi besi telah berjejer rapi menghadap sebuah panggung pendek. Dua orang: satu pria dan satu wanita yang duduk dikursi besi di atas panggung langsung menyambut kedatangan Yuke lewat mikrofon. Y-Lover bersorak.


Yuke menaiki panggung. Sementara Wina, Frans dan Karma duduk di kursi paling depan yang sudah di persiapkan. Kedua orang diatas panggung tadi yang ternyata adalah pembawa acara, langsung membuka acara.


"Ini pekerjaan polisi yang paling menyenangkan seumurku beetugas Karma," kata Frans dengan wajah semringah. Karma menggeleng. Ia berrncana berniat melepaskan bandonya karna sudah tak nyaman. Tangannya sudah memegang bando tersebut dan hampir melepaskannya sebelum terdengar suara entah dari mana.


Karma celingak celinguk mencari asal suara misterius tersebut.


"Karma ini aku AJ." ucap suara misterius lagi.


"AJ."


"Jangan lepas bandomu. Bando itu sudah dilengkapi alat komunikasi seperti earpiece."


"Apa ada lagi hal meyebalkan setelah ini?" gerutu Karma. Seseorang pria paruh baya pendek dengan mata sipit duduk di kursi sebelah Karma dan langsung memberikan jabatan tangan. Sebelah tangan pria itu membawa handycam.


"Hay, tuan nama saya Wan," ucapnya dengan tersenyum, "itu nama cina, nama indonesianya Suparto. Saya adalah wartawan atau para pencari berita." Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Karma. "Berita gosip." Bisiknya memudian.


"Iya, pasti menarik ya menarik ya mencari bahan gosip." Karma basa-basi.


"Tentu saja. Ah alasan saya mendatangi tuan juga karena gosip. Sebelumnya nama tuan siapa?"


"Karma."


"Tuan Karma ini pacarnya nona Yuke pasti."


"Ngarang."


"Lalu kenapa tadi beriringan dengan nona Yuke?"


"Aku ini ditugaskan menjaganya," jelas Karma mulai dingin. Ia nampak sudah tahu arah pembicaraan ini akan kemana.


"Yah. Aku kira pacarnya. Padahal kalau kau adalah pacarnya aku bisa dapat berita yang bagus. Dan dapat uang banyak tentunya." Wan atau Suparto berhenti sesaat sebelum kembali melanjutkan. "Kau cobalah jadi pacarnya." Karma mengernyitkan dahi.


"Kau bisa bekerja sama denganku membuat gosip yang heboh atau sebuah polemik." lanjut Suparto, "kau bisa terkenal setelahnya dan jadi artis. Jadi tidak perlu lagi jaga-jaga nona Yuke segala. Bagaimana."

__ADS_1


"Maaf aku tidak tertarik. Dan sekarang lebih baik pergi dari sini." Karma menyenderkan punggung ya pada kursi.


"Ta .... " ucapan Wan terpotong Karna Karma memberi isyarat dengan tangannya.


"Pergilah Wan, kau tidak akan dapat apapun dariku."


Wajah Suparto memberengut. "Ayolah tuan Karma." Wan menurunkan tubuhnya dari kursinya dan memohon-mohon pada Karma dengan memeluk kakinya. Karma dan Frans menatap lelaki itu dengan keheranan. Sementara Wina cuma tersenyum geli, ia sudah biasa mendapati hal semacam ini. Dari atas panggung Yuke juga sesaat melirik Karma, dalam hatinya ia benar-benar puas melihat polisi kurang ajar itu di ganggu oleh Wan.


*****


Selama perjalanan pulang Karma beberapa kali mengeluh didalam mobil, hingga bahkan ia tidak fokus selama menyetir.


"Sekarang kau menyesal jadi polisi haha," ledek Frans. Ia memegang-megang wajahnya yang saat di Meet and Greet tadi jadi Sukarelawan saat acara Make-up.


"Tidak. Aku cuma menyesal bertemu si Yuke itu. Tapi syukurlah  semuanya akan berakhir besok. Aku tidak perlu bertugas menjaga Yuke lagi bukan."


"Kata siapa? kita tunggu keputusan AJ."


"Tapi Yuke jelas bilang kalau ia tidak mau dijaga olehku."


Frans melengos. Menatap belakang mobil Yuke di depan sana.


Setibanya. Yuke menjatuhkan diri di sofa putih apartemennya. Ia menatap jam dinding. Pukul 11.30. Ia lantas menatap Wina, Frans dan Karma yang pada mematung menatapnya.


"Kenapa kalian masih berdiri di sini. Pulanglah!" suruh Yuke pada Frans dan Karma.


"Kami ditugaskan untuk menjagamu malam ini," jelas Frans.


"Begitu ya. Ya sudah kalian jaga aku di luar kamar ku saja." timpal Yuke. Ia bangkit.


"Aku akan jaga di balkon," Kata Frans, "Karma diruang ini, sekaligus mengawasi lewat kamera."


"Balkon?" sahut Wina, " itukan dingin,"


"Tidak apa-apa," balas Frans.


"Karma di luar saja, aku tidak mau anak ini ada di apartemenku." ucap Yuke sambil menatap Karma.


"Anak?" kata Karma, ia melangkah mendekati Yuke hingga keduanya saling berhadapan dan bertatapan, "aku lebih tua darimu Yuke.


Yuke mendorong tubuh Karma keras, lantas ia pergi ke kamarnya, "aku mau tidur. Wina mengikutinya.


"Aku jaga di luar saja Frans, malas satu apartemen dengannya." Karma hendak melangkah keluar tapi ditahan Frans.


"Kau di sini saja. Laksanakan saja apa yang disuruh AJ. Ingat Karma, masalah kita ini masalah besar, jangan sampai kau menyerah cuma gara-gara ketidak sukaanmu pada sikap Yuke." Keduanya saling bertatapan sebelum Karma melengos.


"Baik Frans." Karma duduk di sofa dan menaruh tasnya disana. Lantas ia mengambil laptopnya dari dalamnya. Melihat suasana dibalik pintu lewat kamera. Sebelumnya, siang tadi Frans telah memasang beberapa CCTV di sekitaran kamar aparteman Yuke.


Frans mengeloyor keluar ke arah balkon.

__ADS_1


TBC_


__ADS_2