Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 9


__ADS_3

Sebuah restoran.


Gavin dan Krystal  duduk di sudut restoran. Mereka memesan tempat duduk yang terpisah dari pengunjung lainnya.


"Silahkan di pilih pak!"


Seorang pelayan pria yang mengantar daftar menu. Gavin dan Krystal pun memesan minuman penyegar. Setelah beberapa menit pesanan mereka tiba.


Krystal menggambil sebuah amplop dari dalam tasnya. Lalu menyodorkannya ke depan Gavin.


"Apa ini?"


"Itu hal tentang Eunha. Aku mencari tau, bahwa  orangtua Eunha masih hidup.


Dia juga memiliki 2 saudara."


"Apa kamu tidak salah? Jelas-jelas wanita itu tinggal dengan sepupunya sejak kecil."


"Apa kamu tidak mempercayaiku? Aku mendapatkanya tentang wanita itu dari sahabatku Grisha."


"Mana mungkin wanita sebodoh dia, bisa berbohong?"


"Aku juga merasa seperti itu. Tapi aku juga mendengarkan hal yang begitu tidak masuk akal. Grisha beberapa kali mendapati Eunha jalan dengan pria tua."


"Aku akan menanyakan hal itu. Hal ini juga lebih baik. Kita bisa membuat satu keluarga itu menderita. Mereka akan menebus segala kejahatan yang mereka perbuat pada William."


"Baiklha, aku setuju dengan hal itu. Dan satu lagi! Kamu harus memastikan wanita itu masih gadis atau tidak! Jika kita lebih banyak mengetahui kebusukanya, maka itu akan lebih baik!"


Gavin terkejut mendengar perkataan Krystal. Tapi menurut dia juga hal itu tidak sulit. Bagaimana pun bagi Gavin, kehilangan William adalah hal yang menyakitkan bagi keluarga Firtz. Walaupun orangtuanya, tidak berniat untuk mencari siapa dalang dari semua pembunuhan itu.


Krystal tersenyum jahat. Dia begitu bangga pada dirinya telah mempermainkan Gavin. Dia juga merasa senang jika Eunha, dirusak oleh Gavin. Karena dia begitu jijik melihat Eunha yang masih suci, dan banyak di kagumi oleh orang-orang.


"Aku tidak sabar mendengarkan apa reaksi Gavin, saat mengetahui Eunha sudah tidak suci lagi. Pffff."


Apartemen Gavin


Gavin masuk ke dalam apartemen. Dia melihat ke arah dapur dan tidak menemukan apa pun. Biasanya Eunha akan menyajikan makanan di meja makan, walaupun Gavin tidak pernah memakanya.


"Noris?"


" Iya, tuan?" Sembari mendekat ke arah Gavin


"Kemana wanita itu?"


"Nyonya, tidak keluar sejak pagi dari kamarnya tuan."


"Apa? Apa dia anggap dia nyonya di rumah ini?"


Bergegas ke arah kamar Eunha. Dia mendorong keras pintu kamar Eunha, sembari berbicara dengan nada yang besar.


"Hey! Apakah kamu sudah gila?"


Eunha, tidak bicara. Dia hanya terbaring di tempat tidur. Hal itu membuat Gavin kesal, dan menarik paksa Eunha.


"Apa kamu pikir dirimu seorang putri di sini?"

__ADS_1


Eunha membuka matanya perlahan. Dia ingin bicara, akan tetapi tidak punya tenaga untuk bicara. Dia meminta maaf pada Gavin dengan suara yang serak.


"Maaf, tapi aku lagi tidak enak badan."


"Apa kamu pikir aku akan percaya? Jagan kamu pikir aku orang bodoh yang tidak tau, apa yang sedang kamu lakukan!"


"Aku benar-benar tidak enak badan. Aku tidak berbohong. Kamu juga tidak akan menyentuh makanan jika aku sajikan. Jadi kamu bisa pergi seperti biasanya."


Gavin merasa tidak terima Eunha mengatakan hal yang membuatnya marah besar. Dia pun menarik paksa Eunha dan mendorongnya ke lantai dengan tenaga yang kuat.


"Hah."


"Apa kamu sudah tidak sabar menunjukkan sifat aslimu?"


"Aku akan menunggumu kebawah, dalam 15 menit! Dan makanan harus sudah tersedia di sana!"


Gavin pergi meninggalkan ruangan itu. Eunha meneteskan air matanya sembari tersenyum pahit. Di satu sisi dia bahagia, karena Gavin menyuruhnya untuk menyajikan makanan.


"Walaupun aku dalam keadaan sakit, tapi aku tidak akan keberatan membuatkanmu makan malam. Ini pertama kalinya dia menyuruhku menyajikan makanan.


Eunha berusaha keras untuk membuatkan makan malam. Dia terlihat begitu sangat pucat dan lemas. Tapi mendengar perkataan Gavin untuk menyajikan makanan, membuatnya semangat kembali.


Setelah beberapa menit Eunha menyajikan makan malam yang sederhana.


Dia duduk di ruang makan menunggu Gavin. Karena tak berdaya dia menundukkan kepalanya ke atas meja. Sembari menunggu Gavin.


Gavin menuruni tangga, dan melihat Eunha.


Dia tidak mempedulikan Eunha. Dia berencana pergi makan malam dengan Lora.


Dia meraih ponselnya, dan menelpon Lora.


"Apakah kamu gila? Aku hanya ingin mengajakmu makan malam."


"Benarkah? Klo begitu aku akan memesan restoran terbaik."


Lora tersenyum merasa bahagia. Dia pun mengirimkan story di media sosialnya.


"Akhirnya, aku di ajak orang terkenal makan di restoran bintang lima terbaik di negara ini."


Dia selalu membuat teman-temanya iri pada dirinya. Tetapi dia tidak pernah menyadari, bahwa hal yang dia lakukan tidak lha baik. Dia hanya peduli dengan kekayaan.


Pagi hari


Gavin tidak kembali ke apartemen. Dia tidur di hotel bersama Lora. Tetapi disaat dia bangun dia tidak melihat Lora disana. Dia di tinggal kan Lora, dan meninggalkan sebuah pesan.


"Aku ada keperluan mendadak. Jadi aku pergi tanpa memberitahumu."


Ponsel Gavin berdering dan melihat 15 panggilan masuk dan 5 pesan dari Noris.


Dia kebingungan disaat melihat panggilan sebanyak itu. Dia mengerutkan dahinya, sembari melihat pesan dari Noris pengawalnya.


"Tuan, cepatlha pulang! Nyonya muda masuk rumah sakit."


Gavin melemparkan ponselnya ke tempat tidur. "Untuk apa dia melapor hal yang tidak penting begini? "

__ADS_1


Rumah sakit


Eunha terbaring di tempat tidur. Nyonya Firtz berdiri di sampingnya, sembari menatap Eunha dengan wajah yang merasa sedih. Dia menggengam tangan Eunha, dan menginggat di saat dia mengalami hal seperti Eunha.


"Aku yakin, kamu akan jadi wanita yang tangguh dan hebat."


Seorang dokter dan dua orang perawat datang. Perawat itu menyuruh Nyonya Firtz untuk menunggu di luar dalam beberapa menit. Karena mereka perlu memeriksa keadaan Eunha kembali.


Tiba di luar ruang rawat. Nyonya Firtz menyuruh Noris si pengawal itu untuk menyiapakan pakaian Eunha. Dia berpikir, untuk membawa Eunha beberapa hari tinggal di rumah White.


Nyonya Firtz menelepon Gavin. Dia menempelkan ponselnya ke telinga.


"Gavin, kamu ada dimana?"


"Ada apa ibu? Tentunya aku ada di kantor."


"GAVIN?" Memanggil nama Gavin dengan nada yang keeas dan kesal. Orang yang ada di dekat nyonya Firtz, melihatnya dengan penuh tanya.


Gavin terkejut, dan menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Ada apa ibu?"


"Kamu benar-benar manusia atau apa? Istrimu bahkan terbaring di rumah sakit. Kamu masih santai bertanya ada apa?"


"Tapi dia hanya demam biasa kan? Aku punya banyak kontrak yang harus di tandatangani ibu."


"Ibu tidak mau tau. Eunha akan menginap selama beberapa hari di rumah White."


"Lha. Kenapa harus menginap disana? Bukankah apartemen bebitu luas tempatnya ibu?"


"Diam kamu! Ibu malas berdebat denganmu."


Tut,,, tut,,,tut.


"Halo? Ibu?"


Gavin terlihat kesal. Dia merasa begitu tertekan karena ibunya selalu berbuat baik pada Eunha. Dia semakin sulit untuk melakukan balas dendam.


Rumah White


Nyonya Firtz menyuruh pelayannya untuk memasak bubur dengan campuran bahan-bahan yang bergizi. Dia memanggil Barry, untuk memeriksa keadaan Eunha. Nyonya Firtz terlihat begitu peduli dengan menantunya itu.


Tuan Firtz pun melihat kondisi Eunha. Dia menyuruh beberapa pelayan untuk menyajikan berbagai makanan yang lebih bergizi. Dia merasa kasihan dengan menantunya yang terlihat kurus.


"Apakah kondisinya sudah lebih baik?"


"Tuan, tidak usah cemas! Nyonya muda hanya perlu istirahat."


"Aku tidak pernah melihatnya sejak menikah. Ini baru kedua kalinya aku melihat menantuku. Tapi aku rasa dia lebih kurus dibanding pertama kali melihatnya."


Barry tersenyum, sembari memeriksa infus Eunha. Nyonya Firtz masuk ke dalam ruangan itu dan membawa semangkok bubur. Tuan Firtz begitu senang melihat istrinya yang peduli pada menantunya itu.


"Dimana anak pembangkang itu?" Tanya tuan Firtz.


"Dia sedang sibuk. Dia juga memintaku untuk membawa menantu kita sementara kesini. Urusan perusahaan begitu menumpuk. Jadi kamu tidak perlu kwatir! Dia juga begitu peduli dengan istrinya."

__ADS_1


Nyonya Firtz tidak ingin memberitahu suaminya kelakuan Gavin. Dia takut kesehatan suaminya terganggu.


~Ingat menggunakan masker di saat bepergian! Dan tetap jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas sembuh, seperti sedia kalah.~


__ADS_2