Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 22


__ADS_3

"Aku tidur dengan nyenyak. Aku akan menyiapkan serapan untuk tuan."


"Aiszzz, apakah masakan pelayan itu kurang tepat?"


Gavin berdiri dan mendudukkan Eunha di meja kerjanya. Mereka begitu sangat dekat, sampai Eunha terlihat sangat ketakutan. Gavin tersenyum pada Eunha, dan mengatakan "Selamat pagi istriku."


Gavin mencium kening Eunha dengan penuh cinta. Jantung Eunha berdetak begitu sangat cepat. Ini pertama kali baginya merasakan kehangatan tersebut. 


Eunha menatap Gavin. Tatapan yang begitu penuh tanya dan penuh kebahagiaan. Gavin tersenyum dan beranjak dari tempat tersebut.


"Hari ini aku akan pulang lama. Aku akan menyuruh sekretaris Lusi untuk  menemanimu berbelanja."


"Apa?" Tanya Eunha dengan terkejut. Gavin membalikkan badanya dan melihat Eunha lalu mendekatinya. "Baiklha, jika kamu tidak senang dengan sekretaris Lusi, aku akan usahakan untuk pulang lebih awal."


Gedung Besar.


"Kamu urus semua dokumen yang aku kirimkan kemarin malam!"


Seorang pria yang bicara melalui ponselnya. Dia berdiri dengan ketampanan yang begitu mempesona.


Pria itu sangat terkenal di negara bagian Eropa. Seorang pengusaha dengan kesuksesan yang bertahap serta di juluki seorang pengusaha berhati lembut, dan pengusaha muda. Tapi sejak kejadian di masa lalunya, membuat dirinya ingin membalaskan dendam. Dan ingin merebut kembali kebahagiaan yang harus keluarganya miliki.


Dia meletakkan ponselnya dan pergi keruang ganti. Dia mengganti pakaian yang begitu sangat menarik perhatian. Ruangan yang penuh dengan berbagai jenis jas, dan kemeja. Serta perlengkapan untuk dipakai, seperti sepatu dasi dan berbagai jenis jam tangan yang sering dia gunakan saat berpergian.


Terlihat dia bukanlha hanya seorang pengusaha biasa. Bahkan gedung itu di awasi oleh beberapa pengawal yang sangat kuat. Di umur yang muda, membuat dirinya sedikit kesulitan untuk memiliki seorang kekasih. Dia belum pernah merasakan jatuh cinta dengan seorang wanita.


Setelah beberapa menit, dia turun dari gedung itu dan menuju ke sebuah mobil mewah yang sedang menunggunya. Seorang pengawal, membukakan pintu mobil tersebut. Dia masuk ke dalam mobil dan merpikan dasinya.


"Bawah aku ke tempat pertemuan!" Perintah pria itu pada supirnya.


Apartemen Lusi Jane.


Lusi Jane terburu-buru untuk pergi ke tempat kerja. Dia berdiri di depan apartemenya, menunggu seseorang yang akan menemuinya. Dia ingin menemui seorang pria yang sudah kencan buta denganya 1 hari yang lalu.


"Aihhh, mengapa dia lama? Dia mengatakan mobilnya berwarna hitam."


Bicara sembari melihat sekelilingnya. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Dia merasa sedikit kwatir dengan waktunya.


"Itu dia!" Tersenyum sembari melambaikan tanganya pada mobilnyang sedang berjalan mendekatinya. Dia segera masuk dan merapikan pakaiannya "Mengapa kamu begitu lama? Aku sudah menunggu 15 menit lebih. Hah, kamu benar-benar pria yang tidak tepat waktu."


Duduk dan melihat pria tersebut. Dan menyuruh supir tersebut untuk menyetir lebih cepat. Lusi tersenyum pada pria itu dan meyodorkan tanganya untuk menyalam pria tersebut.


Pria itu hanya diam, dan tidak memberikan salam. Lusi pun merasa cangguh, dan menarik kembali tanganya.


"Hmmm, kamu kenapa begitu jadi pendiam? Bukankah kamu begitu terlihat cerewet melalui We-chat?" Tanya Lusi.


Supir tersebut memperhatikan Lusi dari spion mobil. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu meyetir dari jalan ini? Ini kan bukan jalur ke tempat kerjaku."


Lusi yang bicara tanpa henti, dan menggambil ponselnya lalu menelpon salah satu karywan di perushaan.


Setelah beberapa menit Lusi ngomel-ngomel pada supir tersebut karena membawanya semakin jauh dari tempat kerjanya. Pria di sebelahnya menghela napas dan menyuruh supir tersebut untuk menghentikan mobilnya.


"Hentikan!"


"Kenapa malah berhenti? Aku akan telat."


"Keluar!"


Lusi terkejut mendengarkan perkataan pria itu, dan menatapnya. Pria itu menyilangkan tanganya dengan sikap dinginnya.


"What? Bukankah kamu sudah janji akan mengantar dan menjemputku?"


"Apakah aku kurang jelas bicaranya?"


Lusi keluar dari dalam mobil tersebut dan, Lusi menendang ban mobil tersebut dan meneriaki pria tersebut. Pria itu memperhatikan dari kaca spion mobil. Dan tersenyum melihat tingkah Lusi.


"Dasar pria brengsek, gak bertanggung jawab. Cihh,,, aku sungguh bodoh mau melakukan kencan buta denganya."


Ponsel Lusi berdering. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan dari orang yang kencan buta denganya. "Lusi maaf, aku sedikit telat datang. Aku sudah berada di depan apartemenmu. Cepatlha turun! Kamu akan terlambat nanti." Lusi mengerutkan dahi, dan merasa bersalah sendiri.


Perusahaan Gavin


Gavin duduk di kursi kerjanya, dan melihat beberapa dokumen yang dikirimkan secara rahasia. Dokumen tersebut dikirim dari sebuah perusahaan yang ada di negara bagian barat.


Ponsel Gavin berdering, dan dia segera mengangkat ponselnya. "Tuan, nyonya Eunha pergi keluar sendiri. Kami tidak bisa menghentikan beliau."


Suara seorang pelayan dari rumah white. Gavin merasa sedikit kesal dengan sifat keras kepala Eunha.


"Kemana dia pergi? Suruh Noris mengikutinya, jika terjadi sesuatu pada Eunha kalian tidak akan bisa melihat dunia ini!"


"Ba,,,ba,,,baik tuan."


Gavin menyimpan dokumen tersebut, dan segera beranjak pergi dari ruanganya. Dia menemui Lusi yang sedang mengerjakan pekerjaan kantor. "Sekretaris Lusi, aku ingin pulang lebih awal. Aku percayakan pekerjaan perusahaan padamu."


Lusi membungkukkan badanya, tanda mengiakan dan tersenyum hangat pada Gavin. Dia adalah kepercayaan Gavin di dalam perusahaanya.


Sebuah ruangan yang tersembunyi. Eunha pergi kesana, dan pengawal yang berjaga di tempat itu membawa Eunha untuk menemui seorang pria yang telah menyuruhnya ke tempat tersebut.


Eunha memperhatikan ruang yang penuh galeri. Dia menuju ke ruangan yang begitu sangat tertutup, dan memperhatikan punggung pria yang sedang berdiri menatap sebuah lukisan kehidupan alam. Eunha merasa tidak asing dengan lukisan tersebut.


Pria itu menyadari keberadaan Eunha. Dia langsung membalikkan badanya dan tersenyum. Dia ingin meneteskan air matanya, disaat melihat Eunha. Dia menyuruh Eunha untuk duduk.


"Mengapa kamu menyuruhku datang kemari?"


"Apakah aku tidak bisa menyuruhmu untuk menemuiku? Ahh, itu sedikit keterlaluan."


"Kamu bisa bicara langsung ke intinya! Aku tidak mengenal mu dan sekarang aku masih ada urusan."


"Baiklha, aku hanya ingin memberitahumu sesuatu yang penting."


Eunha mengerutkan dahi, dan tidak mengerti apa yang di inginkan pria tersebut. Dia pun duduk untuk mendengarkan.


"Apakah kamu ingat ilmuan yang bernama ilmuan yang bernama Dolce Sun?"


Eunha mendengar pria itu menyebut nama ayahnya. Bahkan tidak ada yang tau nama Dolce selain istri dan kedua anaknya.


"Aku tidak mengenal Dolce Sun. Dan aku tidak pernah dengar nama itu"


Pria tersebut menggambil sebuah buku gambar kecil yang sudah terlihat lama. Dan memperlihatkanya pada Eunha, lalu menyuruhnya untuk membuka apa yang ada di dalam buku gambar tersebut.

__ADS_1


Eunha membuka buku gambar tersebut dan lebih terkejut. Dia ingat bahwa buku gambar itu, adalah milik saudaranya Abian.


"Siapa kamu? Mengapa buku gambar milik Abian ada bersamamu?"


"Disaat malam dimana orang tuamu meninggal Abian memberikanku buku gambar tersebut, dan memberitahuku semuanya. Dia memintaku untuk menolongmu, tapi tidak seperti apa yang aku bayangkan. Semuanya berubah, dan Abian memintaku untuk menemukan orang yang dia lihat di tempat kejadian tersebut. Aku berjanji, karena aku tau bagaimana perasaan anak itu pada saat itu. Bahkan aku membuat janji untuk membelaskan dendamku pada orang tersebut bahkan semua keluarganya akan aku hancurkan layaknya seperti yang aku lihat dengan kepala mataku sendiri."


Eunha meletakkan buku tersebut, dan duduk menangis mengingat malam kejadian itu. Pria itu mendekatinya dan menenagkan Eunha dengan kehangatan.


"Lalu apakah kamu sudah menemukan orang itu?"


"Iya, aku sudah menemukanya. Tapi sulit bagiku untuk melakukanya."


Eunha menatap pria tersebut. "Mengapa sulit?"


"Aku tidak bisa melakukanya seorang diri."


"Kamu tidak akan seorang diri. Aku akan membantumu, katakan siapa orang yang telah membunuh mereka?"


"Benarkah kamu akan membantuku? Oh iya, kamu bisa panggil aku dengan Xxxx! Aku tidak punya nama, dan aku sangat suka dengan sebutan tersebut. Soal siapa orangnya aku rasa kamu tidak perlu mengetahuinya!"


"Mengapa?"


"Kamu hanya perlu membantuku dengan cara, menjauh dari negara ini!"


"Apa kamu sudah gila?"


"Karena mereka pasti berpikir bahwa kamu sudah meninggal, dan disaat mereka mengetahui bahwa kamu masih hidup itu akan mengancam keselamatanmu. Jadi pergilha, aku akan mempersiapakan semuanya, dan jangan beritahu siapapun bahwa kamu akan pergi dari kota ini!"


"Aku tidak bisa melakukanya."


"Mengapa? Apakah kamu tidak berpikir apa yang telah dilakukan pada keluargamu? Bahkan kau telah hidup dengan kesulitan selama ini. Dan kamu harus tau, bahwa kamu punya perusahaan di luar sana. Orangtuamu meninggalkan mu dengan kehidupan yang begitu baik, tapi mereka menghancurkanya."


"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan, aku akan pergi."


"Baiklha, aku akan memberikanmu waktu selama 1 minggu untuk memikirkanya."


Eunha keluar dari tempat itu. Xxxx mengantarkanya, dan menyuruh salah satu pengawal untuk mengantarakan Eunha. 10 menit lalu Gavin telah menunggu dan ingin melihat apa yang dilakukan Eunha. Dia begitu marah, disaat melihat Eunha keluar dari gedung itu dengan seorang pria. Bahkan Eunha tersenyum pada pria tersebut. Gavin mengepalkan tanganya dengan wajah yang terlihat begitu marah.


Rumah white.


Lyman dan Barry bermain game dengan semangat. Sejak pulang dari luar negri Lyman menghabiskan waktu di rumah dan ditambah dengan kepergian kedua orangtuanya, membuat dia tidak bisa berpikir lebih baik. Hanya Barry yang bisa menemaninya untuk menghabiskan setiap hari-hari yang di lewati Lyman.


"Ahhhh." Teriak Barry dengan keras dan merasa kesal di saat kalah dalam permainan.


"Hahahah, oke aku akan mendapat traktiran lagi."


"Kamu sangat licik. Lihat harusnya aku yang memenangkan permainan ini."


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang sanagat keras. Lyman dan Barry sama-sama menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata Gavin yang melangkah dengan hentakan yang keras, bagaikan seorang yang sedang marah besar. Lyman dan Barry saling menatap, dan menaikan bahu.


"Mungkin dia di kecewakan oleh wanita yang bernama Lora itu." Kata Lyman pelan pada Barry.


Tidak lama kemudian Eunha tiba di rumah white. Lyman dan Barry menatap Eunha dengan penuh pertanyaan. Eunha merasa aneh dengan Lyman dan Barry. "Mengapa kalian berdua menatapku seperti itu?"


"Ahh, ti...tidak ada. Lyman, ayo kita makan! Karena kamu sudah menang maka aku akan mentraktirmu. Wheheheh." Beranjak pergi dan meragkul Lyman. Barry melirik Eunha, dan melihat bahwa Eunha baik-baik saja.


Eunha mendorong pintu kamarnya, dan berbaring di tempat tidur. Dia menoleh kemeja kerja Gavin dan melihat Gavin yang duduk dengan segelas wine di tanganya.


Eunha menghampiri Gavin dan ingin mengatakan tentang pria aneh yang di jumpai.


"Aku ingin membicarakan sesuatu. Apakah bisa aku membicarakanya sekarang?" Tanya Eunha.


Gavin menekan gelas winenya sampai pecah di tanganya. Telapak tanganya berdarah. Eunha kaget, dan berusaha untuk menahan darah di telapak tangan Gavin. Namun Gavin dengan emosi mendorong Eunha, dan mengatakan.


"Jangan sentuh aku! Wanita kotor sepertimu tidak pantas meyentuhku."


"Ga...Gavin? Ada apa? Apakah ada masalah yang terjadi di perusahaan?"


Eunha begitu kwatir, dia merasa sedih mendengarkan Gavin di saat mengatakan hal yang sama seperti beberapa bulan yang lalu.


"Apakah kamu masih kekurangan pria? Tidakkah cukup seorang pria untukmu? Atau apakah aku tidak pernah membuatmu merasa puas?"


Teriak Gavin dengan keras, dan mendekati Eunha. Dengan wajah yang sangat emosional. Eunha tidak tau, mengapa Gavin mengatakan semua kata-kata yang tidak di mengerti sama sekali oleh Eunha.


"Apa yang kamu katakan?" Berdiri dan kembali mendekati Gavin. Gavin menghancurkan barang-barang yang ada dimeja kerjanya. Salah satu pelayan datang dan berusaha menghentikan Gavin.


"Tuan, tenangkan dirimu!"


"Bagaimana bisa aku tenang, disaat melihat wanita ini tersenyum dengan pria lain."


"Tuan ini bisa di bicarakan dengan baik-baik."


Menyuruh Gavin untuk duduk. Eunha hanya berdiri ketakutan melihat sikap Gavin. Namun pelayan itu tidak bisa menenagkannya. Gavin mendekati Eunha, dan menekan mulutnya, dan mendorong ke tempat tidur.


Pelayanya begitu sangat panik. Dan Eunha hanya bisa menangis, dan tidak mampu mendorong Gavin. Wajahnya begitu sangat meyedihkan, dan berusaha melepaskan diri dari Gavin. Pelayan tersebut berteriak keras pada Gavin.


"Tuan, hentikan! Nyonya sedang mengandung, bagaimana jika bayinya terluka?"


"Aku tidak peduli. Dan bayi itu bukanlha anakku. Tapi anak dari pria lain."


Setelah beberapa menit Lyman yang datang untuk mengambil ponselnya mendengar keributan tersebut, dan segera masuk ke kamar Gavin. Dia pun memukul Gavin dengan sangat keras.


"Apakah kamu sudah gila? Bagaimana kamu bisa berbuat kasar pada wanita yang sedang mengandung?"


Gavin merasa kesal dan memukul adiknya Lyman. "Jangan ikut campur dengan urusanku!"  Lyman memukul balik  dan mengatakan "Aku tidak ikut campur, tapi aku tidak ingin melihat wanita di sakiti."


Setelah beberapa menit kemudian Gavin dan Lyman lelah, lalu berhenti untuk saling memukul. Barry yang melihat hal itu, membawa Eunha ke kamar lain, dan segera memeriksa keadaan Eunha. Untungnya Eunha dan bayinya tidak ada yang terluka. Barry menghela napas dan merasa tenang, dia melihat Eunha.


"Eunha, kamu istirahtlha! Jangan pikirkan apa yang barusan terjadi! Semuanya akan baik-baik."


"Terima kasih Barry!"


Barry meninggalkan ruangan tersebut, dan merasa cemas dengan Eunha. Entah mengapa perasaan cemas itu selalu mencul pada Barry.


Eunha megelus-elus perutnya. Air matanya mengalir dari kedua sudut matanya. Dia merasa begitu sedih, dan tidak mengerti dengan kehidupan yang selalu dia hadapi.


Sehari telah berlalu. Eunha dan Gavin tidak bicara, bahkan Gavin tidak kembali kerumah selama semalam. Gavin menyuruh Noris untuk membeli rumah di daerah terpencil.


Noris pun menemukan sebuah rumah minimalis di tengah-tengah hutan. Rumah itu dijual karena pemiliknya ingin pindah ke luar negri. Pemiliknya sangat suka dengan alam sehingga membangun rumah tersebut di tengah-tengah hutan. Selain daerah terpencil, rumah itu berada di tengah-tengah hutan, dan tidak memiliki tetangga.


Gavin berpikir untuk menempatkan Eunha di rumah tersebut. Agar Eunha tidak bisa keluar sembarangan. Bukan karena pria, namun akhir-akhir ini Gavin mendapat pesan dari orang yang tidak dia ketahui. Dan pesan-pesan yang mengancam keselamatan keluarganya. Tidak tau mengapa Gavin tidak ingin membiarkan Eunha berada di tempat yang sedang tidak baik itu.

__ADS_1


Malam hari


Gavin membawa juice Eunha, dan memasukkan sesuatu ke dalam juice tersebut. Lalu memanggil pelayannya "Bibi, aku rasa dia tidak akan mau menghabiskannya jika aku yang memberikan." Pelayan tersebut menggambil juice itu dari tangan Gavin.


5 menit kemudian Gavin memasuki kamar Eunha, dan mendekatinya. Eunha tertidur pulas, dengan obat yang sudah di masukkan Gavin pada juicenya. Dia mengelus wajah Eunha, dan memegang perut Eunha.


"Aku tidak tau apa yang sedang terjadi, tapi aku percaya bahwa kamu adalah bayiku. Kamu harus baik pada ibumu, sampai kamu lahir ke dunia ini! Aku akan berusaha keras untuk bisa melihat mu setelah lahir ke dunia ini. Maafkan aku telah bersikap dengan kekerasan padamu dan ibumu!"


Mencium perut Eunha, lalu mencium kening Eunha. Dia memegang tangan Eunha dengan erat, dan meneteskan air mata. "Aku tidak bisa membiarkanmu tersenyum dengan pria lain. Dan jika anak ini bukan anakku, maka aku akan berusaha menerima kenyataan. Maafkan aku, aku hanya tidak ingin membuatmu tersiksa di sampingku. Tetap lha tersenyum walaupun kamu akan berjuang sendiri!"


Gavin menyuruh Noris untuk membawa Eunha ke daerah terpencil tersebut. Daerah itu dapat di tempuh selama 4 jam perjalanan dengan mengemudi di ketinggian yang cepat.


Gavin melakukan hal itu dikarenakan tidak ingin melakukan kekerasan pada Eunha. Dia belum bisa menerima Eunha sebagai istrinya, dan membuat Eunha tinggal jauh darinya.


Gavin meraih ponselnya dan menelpon Lyman. Dia menyuruh Lyman untuk menemuinya di ruangan kerja almarhum Tuan Firtz. Tidak seperti biasanya dia menyuruh Lyman untuk menemuinya, dan bertemu di ruangan kerja almarhum ayahnya.


Setelah beberapa menit mereka tampak mengobrol dengan serius. Gavin menyuruh Lyman untuk menjalankan perusahaan mereka yang ada di Eropa.


"Lyman aku percaya, bahwa kamu sudah dewasa dan sudah waktunya untuk melakukan pekerjaan."


"Tentu, aku memang sudah dewasa. Semua tau akan hal ini, tapi aku rasa soal pekerjaan itu tidak bisa aku lakukan."


"Lyman apakah kamu akan membiarkan usaha dari ayah selama ini, hancur dalam sekejab? Apa kamu tidak berniat sedikit pun untuk mengatur waktu, dan belajar kembali untuk menangani masalah yang akan kita hadapi suatu saat nanti."


"Aku sudah bosan mendengar kata-kata itu. Apakah kamu tidak akan membiarkan ku untuk tumbuh tanpa perusahaan yang menyebalkan itu? Sejak aku umur 17 tahun, ayah selalu mengasingkanku dan menyuruhku terus-menerus untuk belajar mengenai bisnis. Walaupun nyatanya aku tidak pernah menyukai bisnis. Bahkan aku tidak pernah mendapat dukungan seperti apa yang kamu dapatkan selama ini."


"Lyman, itu semua demi kebaikanmu! Dan semua tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku juga tidak pernah mendapat kasih sayang yang sesungguhnya dari ayah, tapi aku mendapat tekanan untuk tetap melakukan bisnis di umur yang muda, bahkan aku tidak punya teman selain diriku sendiri. Aku menghabiskan waktu liburku dengan membaca buku-buku bisnis di ruangan itu, bahkan aku tidak punya waktu untuk menghirup udara segar. Namun walaupun begitu, sudah saatnya kita melakukan apa yang harus kita lakukan! Aku percaya untukmu, jika kamu ingin menolak akan hal ini. Maka aku tidak bisa menghalangimu."


Gavin merasa sedih dengan jawaban Lyman. Dia tidak menyangka bahwa ayahnya dulu pernah melakukan hal yang sama dengan Lyman. Dia pikir Lyman melakukan study di luar negri, dengan penuh kebahagian, dan punya waktu untuk berlibur. Dan semua itu hanyalha di luar dugaan, merek berdua mengalami hal yang sama.


Lyman duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Dia menginggat semua hal yang telah dia lalui di saat orang-orang ayahnya menyuruh dirinya secara paksa, untuk mempelajari hal yang tidak pernah di sukai Lyman. Sejak kecil Lyman hanya ingin menjadi seorang musisi, dan hidup dengan kesederhanaan tanpa bisnis.


Ponsel Gavin berdering, dia melihat pesan dari Noris. "Tuan, semuanya sudah beres."


Gavin tersenyum, dan merasa lebih baik. Tidak tau apa yang dia pikirkan sehingga mengirimkan Eunha ke daerah terpencil, dan membiarkan wanita hamil, tinggal di tengah-tengah hutan. Tidak tau, itu adalah ide baik, atau buruk. Gavin hanya tidak ingin menyakiti Eunha sehingga menjauhkan Eunha dari sisinya, dengan cara yang begitu tidak dapat di mengerti.


Pagi harinya.


Eunha membuka matanya perlahan, dan melihat langit-langit ruangan tersebut. Dia tersenyum mendengar suara kicauan burung, dan angin yang berhembus. Dia duduk dan tiba-tiba terkejut, disaat melihat tempat yang berbeda. Dia berdiri, dan membuka jendela yang ada di ruangan itu. Dia tercengang di saat melihat hanya ada pepohonan.


Eunha pun keluar dari ruangan itu, dan melihat rumah tersebut dari halaman. Dia melihat sekelilingnya yang penuh dengan pepohonan, dan sebuah jalanan kecil untuk kekota. Dia berteriak histeris, melihat hal tersebut. Dia berpikir bahwa dirinya sedang bermimpi, dan menepuk-nepuk kedua pipinya.


"Arghhhhhhh..........."


Suaranya membuat burung-burung di hutan tersebut berterbangan. Eunha masuk ke dalam ruangan tersebut dan mencari ponselnya. Dia tidak menemukan ponselnya selain sebuah kertas yang bertulis


" Tetaplha tinggal di tempat itu! Kamu akan terbiasa, dan aku akan mengirimkan kebutuhanmu setiap bulannya. Kamu jangan kwatir, aku melakukakan ini demi kebaikanmu. Aku harap kamu bisa hidup dengan kebahagiaan. Kamu tidak usah takut, karena kamu bisa pergi membeli kebutuhanmu, dengan menempuh jarak selama 1 jam untuk pergi ke kota. Dan jaga dirimu baik-baik! Aku akan menemuimu,Sudah bisa menerima kenyataan. " 


*Gavin Firtz*


Eunha merasa sedih dan kesal. Dia menggengam kertas itu sampai mengecil, lalu melemparkanya. Dia menangis tak henti, jelas-jelas dia tidak pernah hidup di tempat yang tidak ada orang lain.


Dia melihat sebuah black card di meja tersebut. Dia melemparkannya dengan kekesalan. "Aku tidak membutuhkan semua ini, arghhhhh... pria pengecut, tidak bertanggung jawab. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Hikssss,,,,hiksss,,,"


Sebulan telah berlalu. Semua berlalu dengan hidup yang tidak bisa di mengerti. Eunha sudah mulai terbiasa tinggal di tempat tersebut. Dia juga menghabiskan waktunya untuk menanam berbagai macam bunga. Di taman yang ada di tempat itu.


Tidak terasa, dia juga sudah mengandung selama 4 bulan. Dia terlihat lebih ceria, dan melakukan pekerjaan tanpa bantuan dari siapapun. Dia membersihkan rumahnya.


*****


Hidup,


Tidak ada yang akan pernah tau,


Bagaimana cara kita untuk menjalaninya.


Menangis, tidak akan memberikan perubahan yang lebih baik.


Tersenyum,


Adalah hal yang lebih baik


Menghadapinya, adalah ujian yang harus kita perjuangkan.


Mengeluh, hanya berujung dengan kegagalan.


Tidak ada arti dari sebuah kata Cinta


Tanpa sebuah kepercayaan


Menyakitkan jika di ingat kembali,


Tapi menyulitkan jika di lupakan selamanya.


Jalani hidup ini!


Karena tidak ada yang akan tau,


Sampai kapan hidupmu,


Harus menjalani ke kejaman dunia


Bahakan orang yang kamu cintai,


Mungkin sibuk dengan dunianya,


Tanpa memberikan sebuah semangat,


Karena dari lahir,


Semangat mu tidak akan muncul dari orang lain,


Tapi akan muncul dari dirimu sendiri.


Jalani hidup ini,


Dan lihat sesuatu yang lebih indah.


Lupakan kekerasan di dalam hidupmu,


Dan ingat masa depan yang akan menunggumu.

__ADS_1


__ADS_2