
"Apakah aku pantas di sebut sampah dari pada seseorang yang tidak tau diri, dan merebut suami orang lain? Aku tidak habis pikir, orang sekarang lebih tidak punya etika, dari pada yang aku bayangkan. Punya pendidikan tinggi pun hanyalha untuk gelar. Jika aku sampah, lalu apakah mengemis bukan lebih sampah dari ku?"
Lora menghentikan langkah kakinya. "Iya ampun, siapa dia? Apakah dia punya peyakit, sampai bernai melawan gadis seorang pengusaha? Oh my God, apa-apaan ini?"
"Hmm, aku tidak bisa percaya orang miskin pun bertindak dengan sesukanya. Lihat saja kamu, dasar breng**k." Lora yang merasa emosional itu menghampiri wanita itu kembali, dan ingin menjambaknya.
"Eitsss, please dont touch me! Kamu tidak punya hak untuk menyentuku!" Jawab karywan tersebut dengan tegas. Dia kembali duduk ke meja kerjanya. Karywan lain hebo lalu berbisik-bisik. Lusi yang melihat hal itu terkekeh dan tidak ingin melihat Lora.
Dia duduk di tempat kerjanya, dan mengerjakan pekerjaan kantor. "Wanita yang manis. Bahkan berani melawan Lora. Aku mendukungmu." Bicara dalam hati, lalu melihat wanita itu, dan mengedipkan matanya pada wanita tersebut.
Lora yang melihat reaksi karywan di sana, membuat dia semakin kesal. Dia berteriak dan menghentakkan kakinya dengan kuat. "Hwaaa....."
Lora menjambak rambut karywan tersebut. Karywan lainnya panik, dan berusaha melepaskan mereka. Wanita itu tidak mau mengalah, dan menjambak kembali rambut Lora.
Pintu lift terbuka, Barry dan Lyman keluar dari dalam. Mereka terkejut melihat hal itu. Lyman menyuruh untuk tidak berantem, dan berusaha keras melepaskan Lora dari karywan itu.
Setelah lepas, Lora menangis dan bermanja pada Lyman. "Adek ipar lihat lha dia! Karywan rendah ini berani menghinaku. Bahkan memukulku dengan keras."
Karywan lain tercengang "Apa? Bukankah sebaliknya?"
Lyman meminta maaf, dan menyuruh wanita itu untuk meminta maaf juga pada Lora. Karywan itu menolak untuk meminta maaf.
"Lihatlha! Bahkan meminta maafpun tidak mau? Bagaimana perusahaan kita akan memelihara orang seperti ini?"
Lusi Jane, mendekati Lora dan menatapnya. "Apakah ada yang bisa saya bantu? Mengapa anda tidak melapor terlebih dahulu ke bagian umum? Datang dan membuat keributan bukanlha hal yang kami inginkan di perusahaan ini!"
"Lusi apakah kamu berpihak sama wanita bodoh ini?" Tanya Lora dengan kesal. Lyman tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Dia menyuruh Lora untuk bicara di ruanganya. Lalu menyuruh karywan itu untuk ikut.
"Kamu juga! Ikut denganku!"
"Tidak mau. Apa kamu pikir saya akan meminta maaf dengan wanita rendah seperti dia?"
"Apa yang kamu katakan? Apakah kamu bisa menjaga etikamu?"
"Sangat membosankan, wanita gila seperti dia sungguh ingin menunggu perminta maafan dariku?"
Lyman terlihat kesal dengan karywan tersebut. Karywan lain bengong dan merasa kaget melihat keberanian karywan tersebut.
"Kak Lusi apa yang terjadi?" Tanya Barry.
"Wanita ini, dia ingin menghancurkan rumah tangga seseorang sehingga karywan malang itu merasa marah." Bisik Lusi pada Barry.
Lyman tidak tau bahwa wanita yang di sampingnya adalah Lora. Sehingga dia merasa begitu malu, sebagai atasan di perusahaan itu.
"Siapa namamu? Apakah kamu tidak punya pendidikan? Bagaimana bisa perusahaan ini merekrut karywan sepertimu?" Tanya Lyman mulai kesal.
"Jika aku punya pendidikan mungkin aku tidak akan berusaha untuk merebut suami orang lain, dan hidup hanya untuk mengencani orang kaya." Jawab karywan itu. Lusi dan yang lainnya terkagum dengan karywan tersebut.
"Wah, wanita ini benar-benar menarik. Dia masih berusaha mengatakan seperti itu. Bukankah itu tusukan untuk Lora?"
"Aku tidak ingin melihatmu satu menit kedepannya! Kemasi barang-barangmu dan segeralha pergi! Gajimu tidak akan di bayar." Lyman yang merasa kesal memecat wanita itu begitu saja.
"Hmm, dasar atasan sendiri tidak punya tanggung jawab sama sekali. Sungguh menjijikan." Karywan tersebut mengomel sembari mengemasi barang-barangnya.
Lyman menoleh wanita itu, dan benar-benar tidak bisa di mengerti.
Sebuah perjalanan yang begitu sangat jauh. 5 jam sudah berlalu sejak Gavin pergi dari perusahaan. Dia menyuruh Noris untuk mengantarkanya ke daerah terpencil itu. Mereka terkena macet selama dua jam di perjalanan.
"Noris, apakah kamu membawa barang-barang yang aku minta?"
"Tentu aku membawanya. Aku juga membawa perlengkapan persalinan untuk nyonya. Whehehh"
Gavin yang mengantuk, mendengarkan hal itu langsung duduk dengan tegak. "Mengapa kamu membawa barang untuk persalinan?"
"Aku pikir itu sangat bagus, lagian nyonya muda juga sedang mengandung. Dan di daerah terpencil itu sulit menemukan barang-barang seperti ini."
"Aihzzz, bukankah aku sudah katakan? Aku kemari untuk menjemputnya, bukan untuk menyuruhnya tinggal di tempat ini."
"Aku rasa tuan tidak bisa membawa nyonya kembali ke rumah."
Mereka sampai di daerah tersebut. Mereka masih harus menempuh perjalanan selama 1 jam. Gavin menyuruh Noris untuk memanggilkan sesuatu yang bisa mengantarkan mereka ke tempat tersebut.
"Noris, aku tidak akan bisa melakukan perjalanan sejauh ini."
"Jika begitu, tuan bisa pulang ke kota!"
"Apa kamu bercanda? Aku sudah berusaha untuk bisa kesini dan pulang begitu saja?"
Sedangkan Eunha berada di pasar. Dia membeli beberapa bahan makanan.
Dia melihat seekor anak anjing. Dia berniat untuk memeliharanya.
"Wah,,, sangat manis. Bagaimana bisa aku memelihara nya di dalam hutan?"
Seorang wanita parubaya tersenyum melihat Eunha yang berbicara pada anak anjing itu.
"Apakah kamu ingin memeliharanya?"
"Ahh,,, bukan. Aku hanya ingin melihatnya. Wheheheh."
"Kamu bisa memilikinya! Kebetulan sekali aku tidak bisa memelihara seekor anjing. Aku mendapatkanya dari jalanan. Aku ingin menjualnya, tapi jika kamu berniat memeliharanya, maka bawah saja secara gratis!"
Anak anjing itu melihat Eunha dengan ke imutan. Eunha semakin suka dengan anak anjing tersebut.
Setelah beberapa menit Eunha pun membeli bahan makanan lainnya, dan mengendong anak anjing tersebut. Dia pergi ke toko yang menjual makanan untuk peliharaan.
Dia tampak sedikit pucat. Dia merasa kurang enak badan dan cepat-cepat membayarkan belanjaanya. "Apakah anda baik-baik saja?"
Tanya seseorang karywan yang ada di toko tersebut. "Aku pikir begitu. Wheheeh." Jawab Eunha dengan santai.
Karywan tersebut mengambil segelas air hangat lalu memberikanya pada Eunha.
"Silahkan anda minum ini dulu! Mungkin anda sedikit kelelahan."
Eunha pun tidak menolaknya. Setelah itu, dia ingin kembali ke rumahnya. Di perjalanan dia istirahat setelah berjalan beberapa langkah.
Gavin terlihat begitu kelelahan, dan kepanasan, lalu membuka kancing kemejanya.
"Apakah masih jauh?" Tanya Gavin pada Noris.
Noris tersenyum, dan terengah-engah.
"Aku rasa kita sudah sampai. Tapi mengapa rumahnya tidak terlihat? "
Noris menginggat bahwa rumah yang sedang di depan mereka itu sangat berbeda, dengan rumah yang dia lihat satu bulan lalu.
"Bagaimana ini tuan? Sepertinya kita sudah tersesat." Menoleh ke arah tempat Gavin duduk, kosong melompong.
"Ehh, kemana tuan muda?"
Gavin masuk ke dalam rumah itu, dia memanggil Eunha tapi tidak ada yang menyahutnya. Dia melihat sekeliling ruangan itu.
"Dia membuka jendela depan dan berteriak memanggil Eunha. Noris yang meyadari bahwa Gavin sudah masuk ke dalam rumah itu.
"Astagah. Apa yang sedang dia lakukan di rumah orang?"
Noris segera menghampiri Gavin, dan menyuruhnua untuk tidak berteriak.
"Tu...tuan. Kita salah rumah. Ini bukan rumah yang ingin kita kunjungi."
"Bodoamat. Aku ingin melihat istriku. Dimana dia? Apakah hewan buas telah memakannya hidup-hidup?"
"Hah?" Noris kaget mendegarkan perkataan Gavin.
Gavin berlari ke belakang, dan depan rumah tersebut.
"Eunha....?" Gavin dan Noris terlihat sibuk mencarinya.
Belum sampai 5 menit mereka sudah memikirkan hal yang aneh-aneh. Gavin menangisi, pakaian Eunha yang ada di jemuran.
Noris juga ikut menangis. "Mengapa kamu menangis?" Tanya Gavin.
"Aku bahkan belum pernah mencicipi masakan nyonya. Dan sekarang dia telah tiada. Hiksss."
"Ini semua gara-gara kamu. Mengapa kamu menyuruhnya tinggal di tengah hutan seperti ini." Jawab Gavin dengan sedih.
"Hah? Bukankah tuan yang memerintahku?" Tanya Noris dalam hati.
__ADS_1
"Kita tidak bisa diam saja disini. Sekarang sudah pukul 19:32 Pm. Kita harus mencarinya, dan kita harus memanggil orang-orang dari desa! Mungkin mereka akan bisa membantu kita menemukanya." Perintah Gavin dengan tegas.
Disisi lain. Eunha tidak mampu untuk melanjutkan perjalananya. Dia terlihat melemah, dan wajah yang begitu pucat.
"Bagaimana ini? Sudah gelap aku tidak membawa alat pencahaya."
Eunha memaksakan dirinya untuk tetap melanjutkan perjalanannya.
Gavin dan Noris berjalan terburu-buru, untuk meminta bantuan pada warga. Gavin melihat menerangi jalannya dengan bantuan pencahayaan ponsel.
"Noris? Apakah kamu tidak merasa ada yang aneh?"
Ketakutan, dan tidak ingin pergi melanjutkan perjalanan.
"Iya. Aku mendengarkan suara orang sedang kesakitan." Noris merinding dan tidak ingin jalan di belakang.
"Tunggu! Apa jangan-jangan itu suara setan?" Tanya Noris.
"Apa kamu sudah gila? Sepertinya itu bukan suara setan. Tapi bagaimana pun lebih baik kita cepat bergegas ke tempat keramaian!" Gavin tidak ingin berhenti mencari Eunha.
Suara itu semakin dekat. Semakin Gavin dan Noris melangkahkan kakinya, maka semakin terdengar dekat suara seorang wanita yang sedahg kesakitan itu. "Aduh,,, aiskkk."
"Noris, apakah kita perlu memeriksa suara itu?" Tanya Gavin, walaupun dia dalam keadaan ketakutan.
"Apakah tuan, telah bosan untuk hidup?" Noris menempel pada Gavin dengan ketakutan, dan gemetaran.
Noris merasa bahwa dirinya telah menginjak sesuatu. Dia segera melompat pada Gavin ternyata itu hanyalha kayu kecil.
"Sssss." Suara tiupan angin. "Ngyek,,,ngyekk,,,," Suara gesekan pepohonan.
Noris menginjak sesuatu lagi dan melompat. Mereka berdua berteriak, dan melompat-lompat menjauhi tempat itu.
"Kenapa melompat seperti itu?" Tanya Gavin lalu menghela napas.
Eunha yang mendengar suara laki-laki itu. Langsung diam. Dia takut, jika orang-orang tersebut adalah perampok di malam hari.
"Bagaimana ini? Jika aku minta tolong, apakah mereka akan menolongku dengan kebaikan, atau sebaliknya dan membunuhku?"
Eunha bicara dalam hati. Dia sudah tidak tahan, dan memegangi perutnya.
"Oh Tuhan, jangan biarkan aku mati dan bayiku! Aku belum siap untuk hal itu."
Berdoa dalam hati.
Air mata Eunha mengalir dari kedua sudut matanya. Dia berusaha untuk tetap jalan. Tapi tidak mampu, dan duduk kembali.
Noris dan Gavin melanjutkan perjalanannya. Noris dan Gavin berjalan berdempetan, dengan pencahayaan dari ponsel. Eunha meyadari, bahwa mereka semakin dekat. Eunha bersembunyi di rumput-rumput pingir jalanan. Dia meninggalkan barang belanjaanya di sana.
"Ehhh, apa ini?" Tanya Gavin, setelah melihat belanjaan di jalan itu.
Anak anjing yang bersama Eunha menggong-gong, di saat melihat mereka.
"Kaing... kaing..." Eunha menutup mulut anak anjing tersebut. Noris memeriksa dan terkejut di saat melihat wanita yang duduk menunduk dengan rambut panjang.
"Arghhh....." Teriak Noris ketakutan. Eunha merasa ketakutan dan meminta mohon untuk tidak membunuhnya.
"Tolong jangan bunuh saya!"
"Ehh? Mengapa membunuhmu?" Garuk kepala.
Gavin segera bergegas, dan melihat siapa wanita itu.
"Eunha?" Tanya Gavin.
Noris terbelengu, dan kaget di saat mengetahui orang tersebut adalah Eunha.
Eunha menganggkat pandanganya, dan melihat dengan tajam. Gavin terkejut dan terjatuh ke belakang.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Eunha dengan nada yang lemah.
"Nanti akan kita bicarakan. Lebih baik sekarang kita pergi dari sini dulu!"
Gavin mengulurkan tanganya pada Eunha.
"Aku tidak ingin melihat pria brengsek ini. Tapi aku tidak bisa mati disini. Kali ini aku harus menurut." Eunha mengulurkan tanganya, dan berdiri.
Gavin memberikan punggungnya. Eunha diam dan memegang perutnya, yang mulai membuncit. Gavin baru menyadari, dan mengendong Eunha dengan kedua tanganya.
"Noris bawah, berikan aku ponselmu untuk menerangi jalan!"
Segera memberikanya, lalu buru-buru mengandeng semua belanjaan, dan memasukkan anak anjing tersebut kedalam salah satu kantong plastik yang berisi bahan makanan.
Eunha merasa bersyukur, karena ada orang yang menolongnya. Setelah dua puluh menit lebih mereka tiba di rumah tersebut. Gavin membaringkan Eunha di kamarnya. Badan Gavin memerah karena kecapean dan ke panasaan.
"Kamu tidak usah bergerak! Aku akan mengambilkan air hangat untukmu."
Gavin bernajak dari tempat itu, dan mencari tempat untuk memasak air. Sebelumnya dia belum pernah pergi ke dapur.
"Noris! Bantu aku membuatkan makanan!" Pintah Gavin dengan cepat, tanpa kenal lelah.
"Sepertinya, nyonya membeli beberapa bahan makanan."
Noris mencarinya, dan merasa kesal dengan diri sendiri, karena memasukkan seekor anak anjing ke dalam bahan makanan.
"Aiszzz bagaimana ini? Aku tidak mungkin memberikan tuan dan nyonya memakan kuman." Segera membuang diam-diam, ke samping pot bunga di depan rumah.
"Mengapa mereka kesini?" Tanya Eunha dalam hati. Dia kwatir dengan kedatangan Gavin.
Setelah lima menit Gavin membawakan segelas air hangat, dan memberikannya pada Eunha. "Minumlha! Aku akan membuatkan semangkok soup untukmu!"
"Tidak perlu repot-repot! Cukup katakan apa tujuan Anda kemari!"
"Gavin menoleh ke Eunha, dan mendekatinya. "Apakah hal itu penting saat ini? Kamu harus menjaga kesehatanmu. Kita akan membicarakan hal ini ketika kamu sudah baikan."
"Aku tidak sakit. Dan aku tidak ingin Anda memperdulikan saya!"
"Bagaimana aku tidak peduli?" Gavin merasa sedih dengan cara Eunha bicara terhadapnya.
"Aku sedang membuat soup. Aku akan memeriksanya dulu."
"Aku sudah katakan tidak usah repot-repot!" Nada yang keras, dan melemparkan gelas yang berisi air tersebut, ke arah Gavin.
Eunha melakukanya dengan ketakutan. Tapi jika dia tidak melawan, dia lebih takut mereka akan membunuhnya. Gavin kaget melihat hal itu. Eunha menangis, dan penglihatanya mulai samar-samar.
"Aku tidak akan mengganggumu. Kamu tidak perlu kwatir! Aku datang untuk... untuk...aku datang untuk minta maaf. Aku tau, semua yang aku lakukan ini tidak adil untukmu, tapi aku punya alasan melakukannya. Untuk itu maafkan aku!"
Gavin menoleh ke Eunha. Tidak di sangka bahwa Eunha telah pingsan.
"Eunha? Apa kamu baik-baik saja?"
Pagi hari
Gavin tidur di kursi panjang yang ada di kamar Eunha. Dia tidak mandi, bahkan tidak mengganti pakaian. Dia terlihat begitu tidur nyenyak .
Eunha bangun dan melihat Gavin yang tertidur dengan posisi kedinginan.
"Mengapa dia terlihat lebih kurus?" Bicara dalam hati, sembari memperhatikan Gavin dengan teliti.
"Untuk apa aku peduli? Orang seperti ini tidak perlu di pedulikan. Bahkan jika dia sakit parah pun aku tidak akan merawatnya. Aku ingin melihatnya mati, dengan tersiksa."
Eunha yang merasa kesal, mengatakan hal itu dengan pelan. Dia beranjak dari tempat tidurnya, tapi wajahnya berubah seakan merasa sedang kesakitan. "Ahhh."
Eunha duduk, di kasurnya dan melihat panik di saat melihat tetesan darah di kasurnya. "Arghhhh, ada apa ini?"
"Apa yang terjadi?" Gavin terkejut, dan bangun.
"Da...darah." Eunha gagap bicara, dan menangis. Gavin tidak mengerti apa yang terjadi. Dia menghampiri Eunha, dan berteriak memanggil Noris.
"Noris! Apa yang kamu lakukan cepat kemari!"
Di ruangan lain, Noris menarik kembali selimutnya, dan tidur kembali. Dia tidak mempedulikan Gavin yang memanggil dirinya.
"Noris...!"
"Aiszzz, mengapa dia jadi berubah begitu kejam?" Noris merasa kesal, karena tidurnya terganggu.
Gavin memeriksa pakaian Eunha. Tapi tidak ada bekas darah. Dia menggendong Eunha dan membaringkanya di sofa ruang tamu. Lalu menyingkirkan Noris dari sana.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa tenang? Apa aku akan memotong gajimu lagi?"
"Bu...bukan begitu tuan." Berdiri dengan semangat, dan melihat Gavin dan Eunha. "Ada apa tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong kamu panggilkan dokter!"
"Ada apa? Bukankah nyonya sudah baik-baik saja?"
"Noris, apa kamu tidak lihat keadaanya? Bahkan di tempat tidur ada darah."
Noris merasa lucu, dan tersenyum sembari melirik Gavin dan Eunha. Pikiranya merasa lega, di saat merasa itu hanyalha lelucon. Eunha memegangi perutnya, dan kesakitan. Wajahnya memerah, menahan rasa sakit.
Gavin panik, tidak tau apa yang ingin dia perbuat. "Noris, cepat panggilkan dokter! Ini akan berakibat buruk jika sesuatu terjadi pada bayinya."
"Di tempat tidur bukankah, itu darah dari luka di tangan tuan?"
"Hah?" Gavin baru ingat, kemarin malam di saat dia membersihkan serpihan pecahan gelas tersebut melukai jarinya dan berdarah. Dia tidak langsung membungkusnya, dan duduk di samping Eunha sembari menatapi wajah Eunha.
"Tapi, kenapa dia kesakitan?"
"Bukankah, tuan pernah belajar tentang kedokteran? Mengapa tidak mencoba memeriksa keadaan nyonya? Ke desa pun, akan memakan waktu selama satu jam, dan aku rasa tuan harus memeriksa nyonya, untuk pertolongan pertama."
"Tapi ini berbeda. Ini soal kandunganya."
Noris mengabaikan perkataan Gavin, dan melangkahkan kakinya.
"Aku akan menggambilkan beberapa alat yang di vutuhkan, kebetulan aku membawa barang-barang yang akan di gunakan ibu hamil, disaat genting."
Eunha tidak bisa berbuat apa-apa. Dia ingin menghindar dari Gavin. Namun Gavin menahannya, untuk di periksa kondisi bayi yang ada di perutnya. Gavin mencoba menenangkan Eunha, dengan mengelus-elus lembut perut Eunha.
"Kamu tidak usah kwatir! Kamu akan baik-baik saja. Ayah di sini bersamamu."
Eunha yang mendengar hal itu, terdiam dan tidak tau mau bicara apapun.
Dia membiarkan Gavin mengelus perutnya untuk sementara. Dan dia merasa lebih baik, tenang.
"Aku ingin menghentikan waktu saat ini." Eunha bicara dalam hati dan matanya mulai berkaca-kaca ingin menangis.
Gavin menyuruh Noris, untuk membuatkan semangkok soup, dan beberapa makanan yang bergizi. Noris pun melakukan perintah tuan Gavin tersebut.
"Apakah, kamu merasa lebih baik?" Tanya Gavin pada Eunha.
Eunha menganggukkan kepalanya dengan mata yang sedang membendung air mata. Gavin tersenyum dan menyisihkan rambut Eunha. Dia mengusap perlahan pipi Eunha. "Maafkan aku." Tersenyum dengan raut wajah merasa peyesalan. Eunha tersadar, dan menginggat semua kejadiaan dimana dia mendengarkn kata-kata yang tidak seharusya dia dengar, bahkan di buang ke tengah hutan.
Eunha memalingkan wajahnya, dan menyisihkan tangan Gavin dari wajahnya. Dia tidak ingin hal seperti itu terulang kembali.
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Eunha pada Gavin.
Gavin merasa sedih, namun semua adalah kesalahan yang telah dia perbuat.
Dia ingin memperbaiki semuanya dari awal. Tapi kelihatanya itu akan sulit untuk di lakukan.
"Katakanlha keinginanmu! Aku tidak ingin orang lain mengganggu hidupku."
Eunha menanyakan keinginan Gavin untuk datang ke tempat itu. Gavin tidak bisa menjawabnya, dan diam.
"Jika kamu tidak punya keinginan, kamu bisa pergi!"
"Aku ingin membawamu kembali."
Jawab Gavin dengan cepat dan tegas. Eunha yang mendengarkan hal itu terkejut. Tapi dia sudah merasa bahwa itu akan berakhir dengan kepedihan seperti dulunya. Dia berusaha untuk tidak tergoda dengan kata-kata manis yang di ucapakan Gavin.
"Bisakah, kamu kembali bersamaku?" Tanya Gavin dengan gugup.
"Aku tidak punya keluarga yang akan di kunjungi. Dan tempat ini lebih aman dan damai. Aku tidak ingin kembali ke dalam lautan Neraka itu."
Rumah White
Lyman yang terburu-buru keperusahaannya karena telat bangun. Dia selalu menginggat waktu di saat kuliah, dan tidak ingin telat. Dia meyetir mobil, tanpa menyuruh supir pribadinya. Ini adalah pertama kali baginya mengendarai mobil, dan berkecepatan tinggi. Tanpa di sadari, mobilnya mogok di tengah jalan.
"Aihhh, sial banget sih?" Keluar dari dalam mobil, dan memeriksa bagian mana yang rusak.
Seorang wanita yang sedang mengendarai motor, sembari mendengarkan lagu melalui Handshetnya. Dia tidak memperhatikan jalanan dan melaju dengan kecepatan tinggi.
"Nananana ." Wanita itu terkejut di saat melihat mobil yang berhenti di depanya. Dia pun berusaha untuk menghentikan motornya.
Lyman terkejut, dan menoleh ke belakangnya, dan berdiri ketakutan sembari berteriak lebih keras. "AHHHH."
"Cikeeyykk." Mengerem dengan dalam.
Badan Lyman hampir tersentuh dengan motor tersebut. "Apa aku sudah mati?" Tanya Lyman dengan pelan, dan ketakutan.
Wanita itu turun dari motornya, dan menyilangkan kedua tanganya di depan dada. "Cihh,, dasar pria penakut."
Lyman yang menyadari bahwa dirinya masih hidup dan dia merasa lebih baik. Dia berdiri dan mengomeli wanita itu "Apakah kamu sudah gila? Mengendarai motor begitu tidak berhati-hati dan ugal-galan."
"Yang penting kamu tidak mati. Aku akan pergi dulu." Jawab wanita itu dengan sinis dan dingin.
"Ehhh, mau kemana kamu? Apakah kamu tidak ingin bertanggung jawab padaku?" Tanya Lyman dengan kesal.
"Untuk apa aku bertanggung jawab? Bukankah kamu sendiri yang salah menyetir? Membawa mobil ugal-ugalan, dan menyalahkan orang yang tidak secara sembarangan. Jika aku membawamu kepihak hukum, maka kamu salah besar. Dasar pria aneh, tidak bertanggung jawab dengan perbuatan sendiri."
"What? Kamu bilang apa?" Lyman merasa kesal dengan perkataan wanita itu.
"Apakah kamu akan berdiri di sana? Bukankah kamu ingin ke kantormu?"
"Bukan urusanmu. Lebih baik kamu pergi saja."
"Benarkah? Aku pikir kamu bukan tipe orang yang suka telat. Tapi ternyata masih sama, tidak bisa bertanggung jawab."
"Wanita ini, mengapa dia mengatakan hal tidak bertanggung jawab?" Apakah dia mengenalku?
Wanita itu naik ke atas motornya, dan menyalahkan motor tersebut. Lyman yang mengingat pekerjaan kantor pun menyuruh wanita itu untuk mengantarkannya.
"Ehh,, tunggu dulu! Bisakah aku meminjam waktumu?"
"Waktuku tidak muda di pinjam. Dan menginggat kebodohanmu, membuatku sedikit kesal. Tapi aku rasa, kali ini aku akan memaafkanmu."
Lyman pun naik ke atas motor wanita itu. "Pakailha helm ku!" Membuka helm miliknya, dan memberikanya pada Lyman.
"Berpegangan! Karena aku tidak suka seseorang di belakangku. Tapi hari ini aku melakukan hal bodoh itu, dan tidak ingin menganggap seseorang sedang duduk disana."
"Brummmmmm. Tinnn...tin...."
Lyman ketakutan karena wanita itu mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan yang tinggi. Bahkan tidak mempedulikan kendaraan yang lain, dan melewatinya dari sela-sela mobil.
"Apakah kamu sudah gila?" Teriak Lyman dengan ketakutan. Seorang yang sedang mendorong gerobak sedang menyeberangi jalan tersebut.
"Ahhhhhhh. Awas ada orang!"
"Brumm.....brummmm." Wanita itu melompati gerobak tersebut. Orang yang melihatnya heran dan terpaku.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Wheheeh. Dasar pria penakut."
Setelah beberapa menit mereka tiba perusahaan Trowa. Lyman merasa gemetaran, dan tidak mampu berdiri dengan benar.
"Apakah kamu kerja disini juga? Mengapa bisa mengetahui tempat kerjaku?" Tanya Lyman dengan gemetaran.
"Aku tidak ingin menjawabnya. Kembalikan helmku! Aku tidak ingin orang lain menahan barang-baragku."
Lyman pun membuka helm tersebut dan melihat wanita itu. Dia kaget, ternyata wanita itu adalah karywan yang dia pecat kemarin. "Ka...kamu? Dasar wanita yang tidak punya etika sama sekali."
"Aku tidak peduli. Tapi aku ingatkan agar kamu menjaga saudaramu yang bernama Gavin! Sebelum dia di rebut dengan rubah licik itu! Kamu bisa-bisa menyesal, karena membantunya lho. Papay pria aneh."
"Bruummmm."
Lyman tidak bisa berkata-kata melihat tingkah wanita itu. Dia bingung dengan keberanian wanita yang mengatakan hal seperti itu pada orang terpandang.
***
"Aku tidak ingin membuat masalah ini semakin rumit." Bisik Billy yang sedang memegang ponselnya, dan merasa kwatir. Dia menyadari bahwa Kai, telah mengirim sebuah file rahasia pada perusahaan Trowa.
Dia takut, xxxx mengetahuinya, dan membunuh Kai karena sudah melakukan kesalahan. Walaupun selama ini dia tidak begitu peduli dengan Kai tapi dia tidak ingin melihat anakknya itu disakiti orang lain.
"Apa yang harus aku lakuakan?"
__ADS_1
Seorang pengawal datang menghadap ke Billy, dan membisikkan sesuatu. "Tuan sepertinya pria itu sedang mencari Kai." Melirik xxx yang datang dengan langkah yang begitu dingin. Billy takut, dan menyuruh pengawalnya untuk membawa Kai pergi dari tempat itu.