Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 21


__ADS_3

"Karena aku tau, kamu tidak akan bisa hidup tanpa kemewahan yang aku hasilkan. Jadi berhentilha jadi pengecut!"


Kai merasa tidak terima dengan perkataan ayahnya. "Apakah kamu merasa bahagia mengatakaiku sebagai pengecut? Bukankah seharusnya pengecut itu adalah dirimu? Aku sungguh menyesal pernah di besarkan olehmu. Berhenti melakukan hal kotormu! Karena aku tidak akan pernah menghianati keluargaku sendiri, dan Gavin adalah teman kecil yang sudah pernah meyelamatkan hidupku. Bagaimana pun dia lebih pantas jadi keluarga dari pada seseorang yang hanya bisa melakukan hal kotor."


Kai beranjak pergi. Billy melemparkan gelasnya yang berisi wine tersebut. Dia merasa begitu marah mendengarkan perkataan putra kandungnya sendiri. Dia duduk di sofa dengan wajah yang terlihat begitu kesal. Sejak umur 10 tahun Kai di besarakan oleh ayahnya seorang diri. Orangtuanya bercerai dan sejak itu kehidupan keluarga itu berubah jadi kacau.


Kai pergi ke apartemen Krystal. Dia mengajak Krystal untuk bicara. Krystal tersenyum, dan mempersilahkan Kai untuk masuk ke dalam apartemenya.


"Tunggu aku ambilkan segelas air putih!" Kata Krystal dengan hangat. Kai duduk di sofa yang ada di ruangan itu, sembari mengosok-gosokan kedua telapak tanganya. Dia menghela napas, dan memperhatikan ruangan itu.


Krystal menyodorkan segelas air putih pada Kai, dan duduk di sofa yang di hadapan Kai. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"


Kai menatap Krystal, dan meraih tanganya sembari menggengam dengan erat. "Krystal, apakah aku bisa minta sesuatu?"


Krystal tertawa merasa lucu. Dia memperhatikan Kai dengan tatapan penuh cinta. "Ada apa dengan wajahmu? Mengapa terlihat begitu serius?"


"Krystal, bisakah kamu mengikuti perkataanku?"


"Tentu."


"Putuskan kerja samamu dengan orang itu!"


Mendengar hal itu, wajah Krystal berubah seketika dan menarik tanganya. Dia berdiri dan menyilangkan tanganya sembari melihat Kai dengan kesal.


"Apakah kamu bercanda?"


"Krystal. Kamu harus percaya padaku! Mereka akan menghancurkan masa depanmu. Jadi tolong, jangan biarkan hal itu terjadi!"


"Apakah aku akan mempercayai omong kosongmu itu? Aku tidak akan pernah mempercayai omongan yang sangat mengharukan itu. Jika tidak ada yang mau di bicarakan lagi, kamu bisa pergi! Aku tidak bisa menerima tamu sepertimu."


"Krystal, aku mohon! Apakah kamu akan menghancurkan keluarga yang sudah membesarkanmu?  Jika itu masa lalu, maka biarkanlha berlalu. Mengapa kamu tidak ingin mencari kehidupan yang lebih baik?"


Krystal dengan cepat membuka pintu apartemnya, dan mempersilahkan Kai untuk pergi. Krystal begitu kesal di saat mendengarkan perkataan Kai. Pikiranya berubah, dan perasaan sukanya pada Kai semakin buruk.


Rumah White


Eunha membuka matanya perlahan, dan melihat langit-langit ruangan itu. Dia   terkejut di saat melihat Gavin yang berdiri di dekat jendela sembari memperhatikan taman Lavender.


Eunha merasa ketakutan, dia pun segera beranjak dari tempat tidurnya. Gavin membalikkan badanya dan mendekati Eunha. "Apa kamu merasa lebih baik?"


Eunha merasa gugup dan menjawab dengan pelan. Gavin duduk di samping Eunha. "Ada apa? Apakah kamu masih demam?" Meletakkan telapak tanganya di dahi Eunha, dan mengerutkan dahi. Eunha terkejut, dan merasa ketakutan dengan hal yang di lakukan Gavin.

__ADS_1


"Sepertinya sudah tidak demam. Tunggu sebentar aku akan panggil dokter untuk memeriksanya."


Beranjak pergi dari tempat itu. Eunha merasa aneh dengan sikap Gavin. Dia pun hanya diam, dan memperhatikan sikap Gavin, yang tiba-tiba lembut dan perhatian itu.


Setelah beberapa menit, Gavin menyuruh pelayanya untuk membuatkan soup pada Eunha. Dia pun menyuruh beberapa pelayan untuk menyajikan beberapa jenis makanan. Lyman yang melihat sikap Gavin tersebut tertawa.


"Apakah kamu sudah berubah pikiran?"


"Apa yang kamu katakan? Aku hanya ingin merayakan hari ini. Dan jangan lupa mengundang Barry dan Lusi!"


"Baiklha, aku akan melaksanakan perintah konyolmu ini."


Gavin pergi ke kamar Eunha dan membawa segelas juice. Dii meyodorkanya ke hadapan Eunha, dan menyuruhnya untuk segera menghabiskan juice tersebut.


Tanpa ragu Eunha pun meneguk habis juice tersebut. Gavin meletakkan gelas  bekas juice tersebut di meja. Dia menyuruh Eunha untuk mandi, dan menganti pakaiannya.


"Kamu, mandilha! Agar badanmu terasa segar. Dan aku juga sudah menyuruh pelayan untuk meyiapkan pakaian di lemari itu. Pakailha, dan segera turun kebawah! Aku akan menunggumu!"


Setelah satu jam kemudian, Eunha melangkahkan kakinya dan menuruni tanga satu persatu. Dia melihat Gavin, Barry, Lyman dan Lusi yang sedang duduk di ruang makan. Dia berpikir, itu semua karena dia telah menandatangani surat perceraian itu.


Di meja makan begitu banyak jenis makanan, dan pelayan serta pengawal berdiri di ruangan itu. Eunha bagaiakan seorang putri yang sedang mereka tunggu. Setelah kejadian malam itu, pengawal dan keamanan di rumah white di perketat sebaik mungkin.


Setelah makan malam mereka mengobrol. Gavin memperhatikan Barry yang sedari tadi mencuri pandang pada Eunha.


"Jadi apa rencanamu?" Tanya Gavin pada Eunha.


"Hah?" Eunha merapikan rambutnya, dan melihat Lusi, Barry dan Lyman. Dia merasa malu di saat Gavin menanyakan hal itu. Di dalam pikiranya begitu kacau, dia hanya bisa menjawab bahwa dirinya telah menandatangani surat tersebut.


"I.. itu aku sudah menandatanganinya!"


Mendengarkan hal itu, membuat Lyman dan Lusi tertawa terbahak-bahak.


Eunha merasa sangat malu, dan wajahnya memerah ingin menangis. Gavin duduk di sampingnya, dan memegang tangannya, dan tersenyum.


"Apakah kamu bodoh? Tidak ada yang akan bercerai. Mengapa kamu mengatakan hal yang menjengkelkan?"


Eunha tidak mengerti, dia melihat Gavin.


"Ta...tapi itu?"


"Baik-baiklha. Mungkin kamu masih merasa lelah. Ayo aku antarkan ke kamar!" Memapah Eunha ke kamarnya, dan menyuruh Barry, Lusi dan Lyman untuk melanjutkan obrolan mereka.

__ADS_1


Sesampai di dalam kamar, Eunha berbaring di tempat tidurnya. Gavin membuka pakaiannya. Eunha yang melihat hal itu terkejut, dan menyuruh Gavin untuk menjaga sikapnya.


Gavin tersenyum sembari membuka lemari pakaiannya, dan menggambil pakaian tidurnya. "Apa yang kamu pikirkan? Apakah sebagai suami tidak bisa bersikap seperti ini di depan istrinya?"


"Tapi, kita sudah bercerai." Jawab Eunha dengan tegas.


"Berhenti mengatakan hal itu! Tidak ada yang akan bercerai."


"Apa?"


"Hah. Sudah sebaiknya kamu istirahat saja! Aku masih ingin melakukan pekerjaanku."


"Apakah kamu tidur disini?"


"Tentu."


"Kalau begitu, aku akan pindah ke kamar yang lain. " Eunha beranjak dari tempat tidurnya. Gavin menyilangkan tanganya sembari berdiri memperhatikan Eunha.


"Mengapa dia memperhatikan seperti itu?" Tanya Eunha dalam hati.


Gavin menggelengkan kepalanya, dan  segera mengendong Eunha kembali ke tempat tidurnya. Eunha terkejut, dan kebingungan.


"Apakah kamu akan membiarkan suamimu tidur sendirian?" Tanya Gavin pada Eunha.


"Tapi, kita sudah terbiasa tidur terpisah."


"Sekarang kita harus membiasakan tidur bersama, dan berbagi tempat tidur!"


Eunha menurut saja, dan segera tidur. Gavin begitu sibuk melakuakn pekerjaan kantor. Setelah pukul 01: 30 Am, dia baru selesai melakuakan pekerjaanya. Dia pun tertidur di meja kerjanya.


Pagi Hari.


Terdengar suara kicauan burung dan tiupan angin yang mampu mengoyangkan dedauanan di pohon. Eunha bangun dan membuka tirai jendelanya. Dia melihat dari jendela tersebut taman Lavender, yang begitu indah. Dia tersenyum, dan mengikat rambutnya, dan menoleh ke arah meja kerja Gavin. Dia mendekati Gavin yang sedang tidur lelap itu. Dia pun menyelimuti Gavin dan badanya menghindari cahaya yang sedang mengenai Gavin.


Gavin terbangun dan melihat Eunha dengan mata yang sedikit terbuka. Eunha terkejut, dan merasa gugup. Dia segera membalikkan badanya. Gavin menahan tangan Eunha "Ada apa?"


Eunha melihat Gavin yang sedang menahan tanganya itu, dan berusaha menarik tanganya. "Ahh, itu."


"Bagaimana tidurmu?"


~Jangan lupa menggunakan masker, disaat berpergian! Dan tetap jaga jarak. Semoga dunia kita cepat lekas sembuh seperti sedia kala~

__ADS_1


__ADS_2