Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 6


__ADS_3

"Kamu sudah kembali?"


Gavin merasa tidak nyaman, dan magabaikan untuk makan. Dia beranjak pergi ka dalam kamarnya. Eunha menghempaskan napasnya, sembari beranjak pergi ke kamar tamu. Dia tidur disana.


Hari sudah pagi. Eunha seperti biasanya menyiapkan sarapan untuk Gavin. Dia tau Gavin tidak akan memkan Sarapan itu, bahkan menyentuhnya. Tetapi sebagai seorang istri dia sudah seharusnya melakukan itu.


Setelah beberapa menit Gavin melangkahkan kakinya. Wajahnya terlihat begitu kusam, karena baru bangun. Eunha tersenyum, sembari mendekati Gavin. Dia berpikir, untuk lebih mendekatkan diri, agar Gavin bisa menerima dirinya.


"Selamat pagi."


"Apa-apaan dia?" Bicara dalam pikiran dan membalikkan badan.


"Kenapa? Wajahmu terlihat begitu kusam. Aku sudah menyiapkan sarapanmu. Tapi lebih baik kamu bersihkan dulu wajah kusam itu!"


"Apa dia mulai mengaturku?" Bicara dalam hati, sembari merasa aneh dan kebingungan. Gavin beranjak pergi ke dalam kamarnya, dan meraih ponsel miliknya. Dia mengabaikan Eunha, dan terburu-buru untuk mandi, lalu pergi.


Eunha yang melihat hal itu, sudah tidak asing baginya. Dia menatapi sarapan yang telah dia siapkan. Dengan sedih, dia harus menghabiskan sarapan itu sendirian. Jika tidak Gavin, akan mengatakan dia membuang-buang makanan. Dan tidak tau diri sama sekali. Eunha beberapa kali berusaha mendekati Gavin, dan usahanya tidak pernah berjalan dengan baik.


"Noris, malam ini bawah wanita itu ke alamat yang sudah ku kirimkan!"


"Baik bos."


Gavin tampak begitu serius, sepertinya sesuatu terjadi di dalam perusahaan.


Dia pun pergi terburu-buru, dan lupa membawakan ponsel miliknya. Eunha yang melihat ponsel itu, langsung segera mengejar Gavin, tetapi tidak melihatnya lagi.


Eunha berpikir itu adalah kesempatanya untuk pergi ke perusahaan, sambil membawa bekal makan siang untuk Gavin. Dia terlihat begitu semangat melakukan pekerjaan memasak itu, dan setelah beberapa jam dia pun bersiap-siap pergi kesana.


Tak di sangka Eunha, di jaga ketat oleh pengawal di dalam dan di luar apartemen. Tetapi Eunha mengatakan bahwa dirinya di minta Gavin, untuk mengantarkan bekal, sehingga Noris dengan cepat mempersilahkan Eunha masuk ke dalam mobil, dan mengantarkanya.


Gavin duduk di kursi kerjanya, sembari melihat dokumen-dokumen yang dikirim secara berurutan melalui komputernya. Seseorang tiba-tiba membuka pintunya, dan dia melihat ke arah pintu, sembari menghela napas.


"Honey, kamu kenapa tidak mendatangiku tadi pagi? Aku sudah menunggumu, bahkan meneleponmu berkali-kali."


"Lora, aku begitu sibuk. Sesuatu masalah hampir saja terjadi di sini."


Lora duduk di meja kerja Gavin, sembari bermanja dan memegangi dasinya. Lora yang berpakaian sexy itu, tidak sepantasnya melakukan hal itu di depan Gavin. Sebagai lelaki normal, Gavin hampir terpancing olehnya.


"Jangan menyentuhku! Ini di kantor, bagaimana jika da yang salah paham?"

__ADS_1


"Salah paham? Kita sepasang kekasih, bagaimana bjsa mereka akan salah paham? Aku juga ingin mengajakmu, belanja pakaian. Aku lihat di majalah, begitu banyak gaun, dan perhiasan yang baru dan jumlah yang terjangkau."


Lora yang selalu memanfaatkan Gavin. Dia tau, Gavin tidak akan menolak apa pun permintaanya. Gavin begitu mencintai Lora. Sehingga dia tidak pernah mau menolak apa pun, yang di inginkan wanita penjilat itu.


"Tapi aku harus mengerjakan ini semua. Dan aku belum makan sejak kemarin malam, bisakah kamu membantu membeli kan aku makan siang terlebih dahulu?"


Wajah Lora sontak cemberut, mendengarkan perkataan Gavin. Dia berpura-pura tidak peduli, dan memainkan ponsel nya.


"Kamu punya orang yang bisa di suruh selain aku. Kenapa harus menyuruhku?"


Gavin pun menatap Lora, sembari memegang tanganya. Dia mengelus-elus tangan Lora, dan menghela napas. Lalu mengatakan bahwa dia akan menemani Lora. Sontak Lora merasa bahagia, dan mencium Gavin.


"Krik,,,," Suara pintu yang terbuka. Eunha datang dan begitu terkejut melihat Gavin dengan seorang wanita yang tampaknya bermesraan.


Tak lama kemudian Gavin, menyadari keberadaan Eunha. Dia pun tersenyum jahat, dan beraksi lebih panas pada Lora di Hadapan Eunha.


"Aku akan menujukkanmu sesuatu yang lebih baik dan menarik.


Beginikan caranya waktu itu, membuat William patah hati?" Gavin bicara dalam hati.


Jantung Eunha berdebar lebih kencang dua kali lipat dari biasanya. Hati begitu perih di saat melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Bahkan dirinya pun belum pernah di sentuh, atau di ajak bicara sama Gavin.


"Hey! Apa yang kamu lakukan disana?"


"A,,,a,,,aku. Aku tidak sengaja masuk ke sini. Jangan hiraukan aku, aku nggak akan mengatakan apa pun pada orang lain."


"Siapa kamu? Sepertinya bukan karywan disini. Apakah kamu pelayan di rumah keluarga Firtz?"


"Deg." Entah mengapa mendengarkan perkataan dari wanita itu, membuat hati Eunha sakit. Dia pun menoleh wanita itu, dan tersenyum. Lalu mengatakan bahwa dirinya bukanlha pelayan melainkan seseorang yang berarti bagi kehidupan Gavin.


"Maaf nyonya. Aku bukan seorang pelayan. Tapi aku seseorang yang berarti, untuk laki-laki yang di sampingmu."


"Apa yang dia katakan?" Gavin terkejut mendengarkan perkataan Eunha. Dia tampak marah, dan melangkahkan kakinya mendekati Eunha.


"Apa kamu mengenalnya honey?"


"Aku tidak mengenalnya. Sepertinya dia orang gila yang tersesat." Perkataan Gavin, seakan-akan ingin membunuh Eunha. Dia bahkan mengatakan tidak mengenal Eunha. Lora tersenyum, dan beranjak menggandeng tangan Gavin untuk keluar dari ruangan itu.


Eunha menahan tangan Gavin dengan menundukkan kepalanya. Gavin melihat nya sembari menanyakan apa tujuan nya untuk datang.

__ADS_1


"Apa kamu sudah gila? Apa yang kamu lakukan disini? Benar-benar orang gila. Aku akan memanggilkan petugas keamanan untuk mengusirnya dari sini."


"Aku hanya mengantarkan ponselmu. Dan aku tau kamu belum makan apa pun dari kemarin malam, dan membawakan bekal untukmu. Aku tidak akan malaporkan apa pun pada nyonya besar, dan kamu tidak usah memanggil petugas keamanan! Aku akan pergi, semoga harimu menyenangkan."


Memberikan bekal dan ponsel itu pada Gavin. Lora tampak kesal, lalu menyilangkan tanganya di depan dada. Dia yang melihat Eunha membawa bekal itu, merampasnya dari tangan Gavin, dan membuangnya ke tempat sampah.


Eunha tidak bisa mengatakan apa pun. Dia tau, Gavin tidak akan pernah menerima dirinya. Tapi dia berusaha untuk tetap bersabar menghadapi situasi seperti itu. Gavin mengabaikan perkataan Eunha, dan beranjak pergi. Eunha berjalan ke arah mobil, sembari air matanya mengalir secara perlahan.


Krystal, turun dari dalam mobil dan tidak sengaja melihat Eunha. Krystal kebingungan, tapi dia tidak peduli dan segera masuk ke dalam perusahaan.


"Apa yang di lakukan wanita kegatelan itu disini?"


Krystal berjalan dengan elegan. Para karywan tersenyum pada nya. Mereka selalu memuji kecantikan Krystal. Aura, dan penampilan Krystal begitu banyak di kagumi oleh siapa pun.


"Krystal, kamu kenapa datang tanpa mengabariku?"


"Aku datang secara tiba-tiba. Whehehehehhh"


Krystal terlihat begitu dekat dengan sekretaris Gavin. Mereka bicara seperti sahabat masa kecil. Lusi Jean, memang sudah mengenal Krystal sejak lama. Akan tetapi dia tau bagaimana sifat Krystal.


"Kamu datang sendirian?"


"Iya. Oh, aku mau nanya sesuatu nih."


"Nanya apaan? Mengapa begitu tiba-tiba serius?"


"Bukan serius, tapi aku mau tanya, mengapa wanita itu kemari?"


"Sudah sepantasnya kan? Bukankah itu istri tuan Gavin?"


"Iya kamu benar. Aku mau menemui Gavin, tolong kamu kabari dia aku menunggunya!"


Krystal tidak melanjutkan menanyakan Eunha. Karena dia tau Lusi tidak akan tertarik mengatakan hal-hal seperti itu. Dia pun duduk di ruang tunggu, sembari menggambil ponselnya.


Lusi, mengelengkan kepala sembari menghela napas. Di dalam hatinya, dia begitu kasihan dengan istri Gavin. Wanita manapun akan merasa sakit hati, melihat suaminya bersama wanita lain.


Ponsel Lusi, berdering dia pun mengambilnya. Dia melihat pesan dari adiknya Barry.


~Jangan lupa menggunakan masker di saat berpergiaan! Tetap jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas sembuh seperti sedia kalah.~

__ADS_1


__ADS_2