
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Krystal yang mendengarkan perkataan Gavin, sontak tersenyum penuh harap.
Dia mendekati Gavin, sembari meletakkan sebuah amplop berwarna cokelat di meja Gavin.
"Menikah lha degannya!"
"Hah? Bagaimana bisa aku menikahi musuhku?"
"Iya, aku tau itu musuhmu. Tapi dengan cara kamu menikahinya, lebih bagus. Kamu semakin bisa membuatnya menderita."
"Lalu bagaimana dengan ayah dan ibu?"
"Aku akan membantumu! Lihat isi amplop itu! Di situ ada beberapa foto dan tentang diri wanita itu. "
Pukul 21:35Pm
Eunha pulang dari tempat kerjanya. Dia harus menempunh jarak 1 km dadi tempat kerjanya, ke rumah sepupunya. Dia melewati gang yang sepi, dan gelap. Namun karena sudah biasa, dia tidak merasa takut.
Di tengah perjalanan seseorang berpakaian serba hitam mengikutinya. Eunha berhenti, dan mencoba menoleh ke belakang. Namun tidak ada siapa-siapa.
Eunha pun mempercepat jalanya. Setelah 2 menit kemudia, seseorang menutup mulut Eunha dari belakang, sampai Eunha tidak sadarkan diri.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disini?"
Berdiri, dan semakin kebingungan. Gavin terlihat santai sembari memperbaiki pakaianya di depan kaca. Tidak lama, dan menoleh ke arah Eunha dengan senyuman hangat dipipinya.
"Kamu sudah bangun? Bagaimana dengan tidurmu?"
"Aku bertanya! mengapa aku ada disini?"
"Kamu tidak usah kwatir! Kemarin malam seseorang ingin menculikmu. Dan kebetulan aku lewat, lalu melihat mu."
Eunha, mencoba mengigatnya. Tapi dia tidak tau apa yang terjadi setelah seseorang menutup mulutnya.Dia membungkukkan badanya pada Gavin sembari berterima kasih.
"Tapi, mengapa bapak membawaku kesini?"
"Apa aku harus perjelas dari awal?"
"Tidak,, tidak perlu pak. "
"Aku dengar, kamu bekerja disebuah market? Dan gajimu tidak seberapa disana."
Eunha menatap badan Gavin, sembari merasa aneh. Dalam pikiranya "Mengapa dia tau hal itu?"
"Kamu pasti terkejut disaat aku mengetahuinya. Tapi kamu harus santai! Aku sudah mengenalmu sejak lama."
__ADS_1
Eunha diam dan mendekati Gavin, dengan rasa penasaranya.
Gavin hanya berkaca di depan cermin, dengan santai.
"Nama kamu Eunha Lim, tinggal dengan sepupumu. Umurmu 23 tahun, dan tinggi badanmu 165 cm, kamu memiliki saudara laki-laki. Dan kamu tamatan dari Univ **** dengan beasiswa. Benarkan seperti itu?"
Eunha terkejut mendengarkan penjelasan Gavin. Dia bingung, dan penuh tanya.
"Bagaimana kamu bisa tau?"
"Aku harus jujur untuk itu? Tidak tapi aku harus katakan.
Aku tertarik denganmu, lalu ingin mengetahui segalanya. Sejak saat itu aku benar benar tertarik padamu."
"Apa maksud kata katamu itu?"
"Aku menyukaimu, dan ingin menikahimu. Tapi aku tidak pernah berani mengatakan hal itu, bahkan tidak ingin menunjukkan diriku. Tapi untuk saat ini, aku ingin memberitahunya."
Eunha tertawa, merasa lucu dengan lelucon itu. Gavin menoleh ke arahnya, dengan tatapan tajam. Eunha terdiam, tidak mampu berkata kata. Dalam hati nya begitu banyak guncangan, dan pikiranya kemana mana.
"Dia begitu tampan, tatapannya, alisnya, kulitnya, bahkan bibirnya membuatku terguncang. Bagaimana ini? Aku belum pernah melihat pria seganteng dia. Dan dia bilang menyukaiku.
Apakah ini pangeran yang di kirimkan dewa untukku? Benar benar membuatku tak berdaya."
Eunha melamun sejenak, sembari menatapi Tae. Tae mendekatinya, lalu tersenyum hangat.
"Mengapa menatapku begitu? Apa aku tidak terlihat serius? Sudah aku duga akan hal itu. Tapi aku ingin memastikannya! Tempat mu bekerja, adalah cabang dari perusahaanku. Jika kamu masih ingin mendapatkan uang, maka bisa bekerja disana.
"Aku ingin pulang, aku tidak mengenalmu. Dan aku harap kamu jangan macam macam soal kehidupanku!"
Eunha beranjak, pergi mencari pintu keluar. Namun dia tidak menemukan pintu keluarnya. Gavin menghampirinya sembari mengandeng tanganya.
"Aku akan tunjukkan pintu keluarnya! Kamu bisa pulang, tapi aku ingin mengatakan sesuatu.Aku sangat mencintaimu. Aku akan menemuimu dua hari kedepanya, dan aku rasa kamu harus bisa menjawab, dan menggambil keputusan yang lebih tepat!"
Malam hari
***
Eunha rebahan di kamarnya. Dia masih bingung dengan kata kata pria yang tidak dia kenal itu. Bahkan namanya pun belum dia ketahui sama sekali. Dia takut jika pria itu datang.
"Aku harus memberitahu soal ini pada Laura dan Martin.
Mungkin mereka bisa memberikan solusi."
Eunha membuka pintu kamarnya, dan melihat Laura dan Martin ciuman di ruang tamu. Dia sontak berteriak, merasa malu sembari menutup matanya.
"Hiyaaaa,,,,?"
__ADS_1
Laura Dan Martin langsung duduk terdiam. Martin pura pura mencari sesuatu di atas meja. Laura mematikan TV dan beranjak dari tempat itu.
"Tunggu tunggu! Hah. Aku ingin membicarakan sesuatu hal yang serius."
Laura langsung menoleh ke arah Eunha, dan menarik tangan Eunha untuk duduk.
"Apa yang ingin kamu katakan! Jika itu soal cowok. Atau semacam pernikahan, cepat katakan! Agar kita bisa mempersiapkannya!"
Eunha menghela napas, dan menatap Laura. Dia memegang tangan Laura sembari mengatakan "Bukan soal pernikahan."
Laura langsung diam, dan melihat Martin.
"Hoammm, sepertinya aku udah sangat ngantuk nih."
"Aku juga merasa begitu, ayo cepat tidur! Besok juga kita harus kerja."
Laura melangkahkan kakinya dari sofa. Martin juga begitu.
"Laura, seseorang menyatakan perasaanya padaku."
Martin dan Laura segera duduk kembali ke sofa.
Dan menyuruh Eunha untuk menceritakan hal yang ingin dia ceritakan.
"Aku tidak mengenal pria itu. Tapi dia mengenaliku, bahkan tau nama, tempat kerjaku, bahakan tinggal dengan kalian juga dia tau. Dia mengatakan bahwa dia tertarik sejak saat itu, tapi aku bingung. Sejak kapan, dan aku rasa aku belum pernah bertemu denganya."
"Wahh, aku rasa dia pria yang benar benar tertarik untukmu."
Laura mengatakanya, dengan penuh keseriusan. Martin hanya menagguk anggukkan kepalanya.
"Jika kamu bertemu dia lagi, kamu harus bersikap seperti menyukainya! Karena pria seperti itu tidak bisa ditemukan dengan semudah ini. Kamu harus mencoba tertarik, dan balas perasanya! Walaupun kamu belum pernah berpacaran, aku yakin kamu bakalan bisa merasakan perasaan yang akan membuatmu terguncang."
"Tapi, disaat melihatnya yang pertama kali, aku sudah menyukainya."
"What?" Laura dan Martin tekejut mendegarkan perkataan itu.
"Wah, kamu harus bisa ungkapkan perasaanmu juga! Ini pertama kalinya, kamu menyukai seseorang. Dan mungkin pria itu titipan dari paman dan bibi yang ada disurga."
"Iya, aku setuju dengan Laura. Kamu jangan melepas pria yang menyukaimu diam diam, bahkan mencari tau tentangmu. Itu menunjukkan pria itu serius."
"Iya, umurmu juga sudah 23 tahun, dan aku rasa lebih baik kamu cepat punya seseorang, untuk bisa berbagi cerita!"
*Jangan lupa tinggalkan jejak! Sebuah vote dan komentar dari Anda, mampu mengukir seribu kebahagiaan untukku. Terima kasih sudah mampir ke karya ku.
Mohon maklumi kekurangan saya dalam menulis cerita ini😊.
Ingat pake masker disaat berpergian, dan tetap jaga jarak.
__ADS_1
Semoga dunia kita cepat lekas sembuh, seperti sedia kala😊