
"Dasar pria idiot. Apa kamu pikir wajah tampanmu ini, bisa membuatku terpanah? Kamu bisa pergi, karena presdir tidak ingin menemui siapapun hari ini.
Xxx tersenyum dan mendekati Lusi lalu membisikkan "Aku akan menunggu presdirmu. Dan terima kasih dengan wajah Ba** mu itu!"
Lusi merasa tidak terima dan menyiramkan air putih yang ada di depanya pada Xxx. Dia bersikap seperti seorang bos, dan membuat karywan lainnya heboh untuk berbisik.
"Ada apa? Apa kalian ingin memotong gaji?" Teriak Lusi dengan nada keras pada karywan, yang sedang berbisik-bisik memperhatikan mereka.
Xxx mengepalkan kedua tanganya, dan merasa begitu malu. Dia menatap tajam Lusi, dan hal itu membuat Lusi semakin membencinya dan ingin memukulnya. Lusi mendekatinya dan memegang dasi Xxx, dengan senyuman penuh kamarahan.
"Apakah kamu tidak punya pekerjaan lain Abian? Mengapa kamu kemari? Atau sudah kah kamu menyiapkan dirimu untuk melakukan belas dendam? Anak yang sangat malang, dan tidak tau diri ini. Mengapa kamu begitu marah sehingga mendengar nama sialmu?"
Wajah Xxx begitu terlihat sangat marah di saat Lusi menyebut nama itu. Lusi tersenyum sinis dan menarik dasi Xxx dengan dekat ke wajahnya. Dia membelai wajah Xxx lalu setelah beberapa detik melepaskanya dan menyilangkan kedua tanganya. Pengawal Xxx berusaha untuk menahan wanita itu. Tapi Xxx mengangkat tanganya pertanda untuk tidak melakukannya.
"Siapa kamu?" Tanya Xxx dengan tegas dengan mata yang memerah.
"Apakah aku benar? Benarkah kamu adalah anak itu? Whahaha. Aku tau, kamu ingin membuat keributan, lalu sembunyi bukan? Perusahaan kami tidak mengiginkan tamu seperti, (Mendekatkan pada Xxx dan membisikkan) tuan Abian Sun."
Xxx menoleh ke arah Lusi, dan melihat tanda pengenal yang di kenakan Lusi.
Xxx begitu terkejut, dan tidak bisa mengatakan apapun. Dia melihat wajah Lusi, dan air matanya ingin mengalir. Lusi menaikkan alisnya, dan menayakan mengapa Xxx heran.
Xxx beranjak meninggalkan tempat itu segera. Dia merasa begitu tidak berdaya di saat orang yang dia kenal mengatakan hal seperti itu padanya.
Karywan lain kesal dengan Lusi, dan penuh tanya. Tapi mereka begitu segan dengannya, dan berpura-pura mengabaikan hal itu. Lusi mengertakkan giginya, dengan penuh kebencian. Lalu mengatakan dengan nada yang begitu keras " Jangan pernah lupa dengan dirimu! Jangan seperti kacang, dan tetaplha berhati-hati untuk melakukan sesuatu! Karena aku tidak akan diam dengan seorang pengecut."
Kembali duduk ke tempatnya, dan menghembuskan napas. Dia merasa begitu sangat keterlaluan, tapi tidak tau mengapa sejak dia melihat semuanya waktu itu membuat dirinya merasa begitu benci dengan Xxx. Dia telah mengenal Xxx walaupun mereka tidak tumbuh bersama.
Xxx yang mendegar hal itu begitu sedih, dan seakan ingin menampar dirinya sendiri. Dia menginggat hal yang seharusnya tidak dia lakukan. Dia menahan air matanya, dan berjalan dengan cepat menuju mobilnya.
Senyuman, menghiasi wajah
Dan memberikan kepahitan
Melihat tanpa mengerti
Menerima tanpa mengiginkan
Semua hanyalha sebuah tipuan yang tidak akan dimegerti
Megepakkan sayap, dan melihat dunia
Hanya bisa menari, di bawah cahaya kegelapan
Menyentuh, dan mengoreskan
Sebuah luka yang tidak bisa di perbaiki
Berjanji untuk menemani,
Tetapi kesulitan telah menutupi segalanya.
Menimbulkan serpihan yang telah berlalu
Melirik seakan semuanya telah berubah
Di kejauhan, terpancar
seribu jawaban
Tapi tak seorangpun yang ingin
Pergi bersamaku untuk menemukan jawaban itu.
Hari semakin gelap, dan cahaya di bumi semakin singkat.
Sebuah luka kecil, telah menjadi luka besar.
Akankah, dunia bisa memaafkanku?
Haruskah aku melihat bumi, tanpa sebuah kebahagiaan?
Hal itu akan selalu hidup di pikiranku.
Tapi aku yakin, kamu akan melihatku layak
Dan kita bisa hidup di dunia tanpa luka yang akan menghancurkan segalanya
Untukmu yang aku rindukan, jangan membuatku cemas dan tetaplha tersenyum walaupun hatimu sedang terluka.
Eunha duduk di rumah pohon, dia bersandar dengan sebuah buku di tangannya. Dengan tidak terasa hari sudah mulai gelap tapi dia masih duduk disana. Eunha ingin melihat apa yang terjadi di dalam USB di mimpinya kemarin. Dia yakin ada sebuah jalan keluar tersimpan di tempat itu. Dia tidak menyangka ayahnya seorang pembohong. Walaupun hanya mimpi, tapi dia melihat ayahnya mengantongi benda yang sedang di permasalahkan itu, dalam arti ayahnya meninggal bukan karena pembunuhan, tapi takdir.
Angin di berhembus dengan perlahan. Eunha melihat buku yang dia pegang, dan membukanya kembali. Dia ingin melihat buku itu belum di isi, dan masih kosong. Dia berniat untuk menuliskan sesuatu di dalam buku itu. Dia mengayunkan penanya di atas kertas yang bersih itu. Belum saja menulis apapun, seseorang bicara padanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sore seperti ini? Bukankah seharusnya kamu di dalam rumah?"
Eunha yang menyadari bahwa yang bicara Gavin, dan segera menoleh. Gavin berdiri di tangga rumah pohon itu, dan melihat Eunha yang sedang duduk dengan wajah penuh tanya. Gavin tersenyum, dan melangkahkan kakinya mendekati Eunha. Dia memeluk Eunha dengan sangat erat, dan mencium keningnya. Eunha tidak berbicara, dan berpikir bahwa dirinya sedang mimpi.
"Ada apa? Mengapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Gavin dengan cemas.
"Mengapa kamu bisa ada di sini?" Eunha belum percaya Gavin ada di hadapannya. Dia mengulurkan tanganya dan meraba wajah Gavin dengan ragu. Gavin tersenyum dan memegang tangan Eunha. Dia merasa begitu senang Eunha menyentuhnya dengan hangat.
"Apakah aku sedang mimpi? Tapi ini seperti nyata." Eunha bicara dengan nada yang pelan. Tidak lama Noris yang melihat Gavin itu, segera berteriak memanggilnya. Dia ikut senang karena Gavin datang lagi ke tempat itu, walaupun Gavin terlihat lelah.
"Tuan muda? Apakah itu tuan muda?" Melambaikan tangan pada Gavin dengan semangat. Eunha melihat Noris dengan bingung, dan tersadar. Dia merasa malu, dan segera berdiri. Dia canggung, dan memperbaiki pakaiannya.
Setelah beberapa menit mereka pun pergi ke dalam rumah. Gavin melihat rumah itu tertata rapi seperti sebelumnya. Dia duduk di ruang tamu dan mengobrol dengan Noris. Eunha pergi ke kamarnya, dia tidak tau mengapa jantungnya berdetak semakin cepat, dan merasa gugup dan malu.
"Bagaimana keadaan disana tuan?" Tanya Noris dengan senang.
"Aku rasa untuk saat ini akan baik-baik saja. Tapi hal itu akan segera datang, aku tidak bisa melarikan diri dari hal itu."
Gavin yang duduk dengan wajah serius. Dia tampak tidak ingin menceritakan masalah yang sedang ada di dalam perusahaan. Dia cemas, jika orang lain ikut kwatir dan membuatnya tidak bisa melakukan hal itu dengan sendiri.
Pintu kamar Eunha terbuka lebar. Dia bisa melihat dan mendengarkan pembicaraan Gavin dengan Noris. Sekali-kali dia melihat Gavin, dan dia merasa lebih baik.
"Apa aku harus ikut kembali bersama tuan? Aku rasa kita tidak bisa menganggap mereka lemah."
"Aku tidak pernah menganggap mereka rendah. Tapi aku kwatir, jika kamu tidak disini maka keselamatan mereka akan terancam. Lyman memberitahuku bahwa akhir-akhir ini sudah mulai ada pergerakan. Bahkan orang itu menelponku, dan mengancamku."
"Baiklha, aku percaya dengan apa yang akan tuan lakukan."
Cafe Lasi
Lyman duduk dengan wajah yang berharap. Dia menunggu Jihan disana, dan ingin membicarakan sesuatu. Dia sudah menunggu sejak 15 menit yang lalu, dia belum pernah melakukan hal yang seperti itu pada ornag lain. Menunggu bukanlha hal yang pernah dia sukai, tapi Jihan sudah membuatnya menunggu sekarang dan waktu itu.
Lyman bermain ponsel, dan melihat-lihat aplikasi we-chatnya. Dia melihat status Carla yang sedang makan di Cafe Lasi. Status itu di upload dua menit yang lalu. Dia pun melihat sekelilingnya, dan mengejutkan baginya di saat melihat Carla makan bersama Barry. Akhir-akhir ini Lyman berusaha untuk mengajak Carla makan, atau berbelanja tapi itu sangat sulit d lakukan.
Dia tidak mengira bahwa Carla sedwkat itu dengan Barry. Dia merasa begitu sangat marah dengan cemburu. Carla yang tertawa di depan Barry, membuat Lyman semakin cemburu. Dia berdiri ingin menemui mereka, dan Jihan sudah berdiri di depannya.
"Apa yang kamu lihat?" Jihan melihat ke arah yang di lihat Lyman. Dia meletakkan tasnya, dan menyuruh Lyman untuk duduk kembali. Lyman menyuruh Jihan untuk makan sendiri, karena ada urusan. Jihan tidak terima dengan hal itu dan memaksa Lyman untuk kembali duduk. Lyman tidak mau, dan melangkahkan kakinya.
Jihan merasa sangat marah dan meneriaki Lyman dengan sangat keras. "Dasar pria tak bertanggung jawab." Seketika hening, dan orang-orang yang ada disana semua memperhatikan mereka. Lyman menghentikan langkahnya, dan merasa kesal dengan Jihan.
"Wah, ada apa disana?" Tanya Carla pada Barry.
"Ehh, itu kan Lyman? Ada apa dengan mereka?" Barry berdiri, dan mendekati Lyman. Dia bertanya apa yang terjadi sembari menyuruh Lyman untuk duduk.
"Ada apa? Mengapa kamu terlihat kesal?" Tanya Carla pada Jihan. Dia melihat Jihan dan merasa aneh. Dia menyuruh Jihan untuk menikmati makannya terlebih dahulu. Lyman hanya makan, dan tidak memperhatikan Jihan yang sedang marah itu. Barry mengira bahwa Lyman telah menemukan kekasih baru.
"Ehh, mengapa kamu memisahkan daun bawangnya?" Tanya Barry pada Carla yang makan dan memisahkan daun bawang yang terdapat di makananya. Dia tidak pernah menyukai daun bawang, dan selalu memisahkan di saat makan. Barry mengambil daun bawang milik Carla, lalu memakannya. Lyman yang memperhatikan hal itu merasa cemburu.
Dia menginggat di mana saat Carla makan bersamanya, dialha yang akan memisahkan daun bawang tersebut, dan Carla akan terlihat senang dan tersenyum. Bahkan mereka selalu dikatakan pasangan terhebat oleh orang-orang yang melihatnya.
Carla tidak memakan apapun. Dia hanya menatap Lyman dengan kesal, dia hanya menghargai Barry yang mengajaknya untuk makan bersama. Dia tidak berniat makan bersama Lyman, karena hal konyol tersebut. Barry menanyakan mengapa Jihan tidak memakan apapun. Dan jawabanya hanya karena tidak lapar. Carla tersenyum mendengarkan jawaban itu, dan menayakan mengapa tidak mencobanya, walaupun tidak lapar.
"Lyman jika kamu merasa malu, kita bisa pindah tempat kok." Carla mengatakan hal itu, seakan tidak ada yang terjadi antara dirinya dengan Lyman di hari-hari yang sudah lalu. Lyman hanya diam, dan cepat-cepat mengabiskan makanannya.
Jihan melihat ke luar dan memperhatikan orang-orang yang sedang berdiri di depan Cafe. Orang-orang tersebut tidak asing, bagi Jihan. Dia pun permisi untuk ke toilet. Di saat dia ingin ke toilet, dia pergi melihat apa yang ingin dilakukan oleh sekelompok orang tersebut.
Sekelompok orang itu mendekati tempat parkir dan berdiri dengan mencurigakan di dekat mobil yang Lyman kendarai. Mereka tampak sangat mencurigakan dan merusak rem, mobil tersebut.
Jihan tidak mengerti apa yang sedang di lakukan oleh sekelompok orang tersebut. Mereka segera pergi setelah melakukan tugasnya. Jihan merasa ada yang tidak beres dan segera berbuat sesuatu. Dia kembali ke dalam cafe, dan melihat mereka sudah menghabiskan makanan mereka masing-masing.
"Oh iya, aku hampir lupa. Aku punya hal yang ingin di bicarakan dengan tuan Lyman, bisakah kami mengambil tempat lain?"
"Aku tidak punya hal yang ingin di bicarakan denganmu." Jawab Lyman dengan cepat, dan memalingkan pandangannya. Barry meminta tangihannya, dan segera pergi dari tempat itu. Dia dengan senang hati untuk meninggalkan Lyman bersama wanita manis itu.
"Kami pergi duluan." Carla tersenyum pada Jihan sembari mengertakkan gigi. Pertanda bahwa Carla tidak menyukainya. Lyman melihat Barry dan Carla yang keluar dari cafe itu, dan tampak begitu dekat. Barry bahkan mengantarkanya pulang. Lyman merasa begitu marah, wajahnya telihat memerah dan tatapan tajamnya.
Jihan yang memperhatikan hal itupun bicara, untuk menghindari hal dingin.
"Apakah kamu masih marah?" Tanya Jihan pada Lyman yang diam tidak seperti biasanya itu. Lyman terlihat semakin dingin membuat suasana tidak hidup. Jihan pun mengeluarkan ponselnya dan memotret Lyman.
"Cikrekkk."
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Lyman dengan tegas. Jihan tersenyum dan memotret Lyman tanpa mempedulikanya. Lyman merasa tidak nyaman, dan merampas paksa ponsel Jihan.
"Apa kamu tidak ada kerjaan?"
"Aku hanya menunggumu untuk mengatakan sesuatu. Itu kan yang harusnya kau katakan?"
Jihan dengan penuh semangat itu, mengatakan yang tidak masuk akal pada Lyman. Dia memberitahu Lyman untuk tidak berharap pada Carla, dan melepaskanya segera. Lyman merasa aneh dengan perkataan Carla karena mengetahui perasaannya terhadap Carla.
"Itu bukan urusanmu! Mengapa kamu terlihat begitu dekat denganku? Padahal kamu hanya melihat hal seperti itu, langsung bersikap seakan-akan mengetahui sesuatu."
"Itu urusan terbesarku. Karena dia tidak pantas untuk di kasihani bukan?"
__ADS_1
"What? Apakah kamu sudah gila?"
"Iya, aku rasa begitu. Oh iya aku juga baru ingat. Kamu tidak bisa mengendarai mobilmu! Aku melihat beberapa orang mengotak-atik mobilmu di saat makan bareng tadi. Aku curiga itu akan berdampak buruk."
"Kamu pikir aku langsung percaya? Dasar wanita bodoh. Tidak ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. Pulanglha!"
"Oke, baiklha tapi kamu harus ingat! Carla tidak akan pernah mencintaimu dengan tulus, jadi jangan membuang waktu untuk hal yang tidak penting. Dan seabiknya, jika kamu masih ingin hidup lebih baik menyuruh seseorang menjemputmu kemari, karena mobilmu benar-benar sedang rusak."
Eunha tidur dengan sebuah buku di pelukanya. Gavin merasa begitu senang bisa melihat Eunha begitu dekat. Dia menatap wajah istrinya dengan senyuman, penuh makna. Dia melihat perut Eunha dan ingin menyentuhnya tapi dia takut ketahuan dan mencoba beberapa kali namun begitu ragu.
Eunha bergerak, dan memegang tangan Gavin dengan erat. Gavin merasa kwatir, dan mencoba melepaskan tanganya dengan pelan-pelan dari gengaman Eunha. Tapi itu terlalu erat, dan akan mengganggu Eunha tidur. Dan terpaksa tidur di tempat yang sama dengan Eunha.
Eunha tersenyum, dan merasa senang. Dia tidak pernah terpikir untuk bisa tidur bersama seperti itu. Ternyata dia menggunakan trik itu, agar Gavin tidur seranjang denganya.
Perusahaan trowa
Waktu tidak terasa begitu sangat cepat berlalu. Dua hari setelah Gavin meninggalkan perusahaan, hal yang tidak terduga terjadi hari itu. Beberapa karywan dari perusahaan trowa meninggal secara kekejaman. Mereka karywan yang dipercayakan untuk mengurus bagian dari perencanaan di perusahaan trowa.
Mereka di temukan di sebuah rumah kosong, dengan penuh darah dan meninggal dengan beberapa tusukan di perut, bahkan kepala mereka tertembak. Hal itu menjadi sangat heboh dalam beberapa detik. Lyman berusaha menghubungi Gavin namun tidak ada jawaban. Lyman merasa gelisah, dan tidak tau untuk berbuat apa. Dia tau, bahwa ini adalah ulah dari pebisnis bawah tanah yang sedang mengancam mereka akhir-akhir ini.
Karywan di perusahaan itu menjadi ketakutan. Lyman berusaha untuk menenangkan mereka, dan menyuruh untuk tetap bekerja seperti biasanya. Dia memanggil beberapa direktur untuk mengadakan rapat mendadak. Kali ini Lyman benar-benar harus melakukan apa yang seharusnya dia lakukan untuk melindungi karywan dan perusahaan.
Lusi juga terlihat sibuk mengatur jadwal, dan beberapa dokumen yang harus di selesaikan. Dia terlihat tidak begitu takut soal kejadian itu, tapi kwatir dengan keselamatan karywan, dan Lyman. Dia mengirimkan pesan pada Jihan untuk datang ke kantor.
Dia berpikir untuk merekrut Jihan sebagai pengawal untuk Lyman selama beberapa bulan. Dia sudah mengenal Jihan, bahkan mengetahui bahwa ilmu bela dirinya sangat bagus. Sebagai sekreraris dia tidak bisa diam saja dan membiarkan atasanya dalam bahaya. Karena dia tau, bahwa ibunya selalu mengatakan untuk bisa mengatasi beberapa masalah dalam waktu yang sama.
Dalam 10 menit, semua direktur di dalam perusahaan itu berkumpul di ruang rapat. Lyman hadir sebagai penganti sementara, dan melakukan tugasnya. Dia menjelaskan semua apa yang dia ketahui, dan memberikan sebuah keberanian pada masing-masing direktur tersebut untuk menghadapi masalah kecil seperti itu. Dia terlihat seperti pebisnis yang sangat berpengalaman dan sangat menjamin. Tidak jauh beda dengan kakaknya Gavin, bahkan bersikap seakan tidak ada yang terjadi.
Rapat berlangsung selama 30 menit, tidak lebih dan tidak kurang. Lyman yang begitu terobsesi dengan waktu, bahkan menghabiskan waktu yang singkat untuk rapat. Setelah itu, para direktur kembali ke ruangan masing-masing. Lyman menyandarkan kedua tanganya ke meja rapat, dan tidak menyangka bahwa dia bisa menghadapi rapat dengan para direktur besar.
Dia terlihat begitu bekerja keras, dan segera melonggarkan dasinya dan melangkahkan kakinya.
Belum tiba di pintu keluar Lusi datang menemuinyadan me,bawa Jihan yang berpakaian layaknya seperti pengawal. Lyman tidak menyadari bahwa wanita yang berdiri di samping Lusi adalah Jihan. Dia bertanya pada Lusi soal kerja sama dengan proyek yang sedang berkembang di bidang diamond Eropa.
Lusi menjawab dengan kerja yang baik.
"Oh iya Lyman mulai hari ini kamu akan punya pengawal pribadi. Sebagai sekretaris aku sudah mencari orang yang bisa di andalkan untuk menjagamu. "
"Baiklha, aku juga merasa harus itu adalah hal yang baik. Terima kasih untuk kak Lusi, karena sudah mekwatirkanku."
"Itu adalah kewajibanku. Ini dia pengawalmu mulai hari ini! Kemanapun kamu pergi dia harus tetap bersamamu. Itu adalah hal yang harus kita lakukan, bagaimana pun tuan muda tidak tau kapan kembali. Yang penting tuan kedua masih tetap disini dengan keselamatan yang penuh. Aku sudah menyuruh Barry untuk mengawasi beberapa tempat di sekitar kota ini."
Lyman tersenyum pada Jihan dan melihat tatapan yang tidak asing itu. Dia pun heran dan memperhatikan dengan dekat. Dia melihat penampilan pengawalnya yang begitu sangat menarik.
"Kak Lusi? Apa kamu tidak salah?"
"Salah karena apa? Bukankah itu adalah tugas terbaikku bukan?"
"I..ini kan? Aku tidak mau. Aku ingin mencari pengawal yang benar-benar bisa di percaya. Ini akan berdampak buruk jika aku menggunakan pengawal seperti dia."
Jihan merasa begitu kesal dengan perkataan Lyman dan tersenyum sinis pada Lyman. Dia tidak ingin berdebat dengan Lyman, tapi ingin memukulinya sampai babak belur. Hal itu ada di pikiran Jihan pada saat itu.
"Kamu tidak bisa menolak! Karena aku sudah bersusah payah untuk mencarikanmu seorang pengawal yang benar-benar bisa di andalkan. Dan aku mendapat amail dari perusahaan yang sudah tutup beberapa tahun untuk pertama kalinya hari ini. Tapi aku belum membuka apa yang ada di dalamnya. Aku ingin kamu sendiri yang melihat amail itu. Itu tampak sebuah pertanda baik atau bisa jadi buruk."
"Baiklha, aku akan segera melihatnya."
Melangkahkan kakinya dengan cepat. Lusi menyuruh Jihan untuk mengikutinya, dan menjadi pengawal baik dan terpercaya. Jihan yang baru pertama kali bekerja sebagai pengawal itu, merasa sedikit gugup dan tidak tau apa yang harus dia lakukan selain untuk berdiri mengawasi Lyman.
Eunha menjayikan sarapan. Dia membersihkan alat-alat yang di gunakannya untuk memasak. Dia terlihat lebih semangat daripada hari-hari sebelumnya.
Gavin mendengarkan suara piring yang klontang klanting membuatnya bangun dari tidurnya. Dia duduk dan melihat sekelilingnya. Dia ingat bahwa dia tidur satu ranjang dengan Eunha kemarin malam.
"Astaga, apa yang ku lakukan? Apakah dia marah?"
Segera pergi dari kamar tersebut, dan melihat punggung Eunha dari ruang tamu. Dia tersenyum mendekati Eunha yang sedang mencuci piring tersebut. Gavin memeluk Eunha dari belakang. Eunha tersenyum, dan melirik.
"Ada apa ini?" Tanya Eunha dengan mesra.
"Aku ingin memelukmu seperti ini setiap hari."
"Aku ingin membersihkan piring-piring ini, tidakkah bisa kamu melepaskanku?"
"Biarkan piring itu kotor! Aku ingin memelukmu hanya sebentar saja."
Eunha pun meletakkan piring yang di tanganya, dan membuka sarung tangan yang di kenakan. Dia membalikkan badanya dan menatap Gavin dengan penuh cinta. Tatapan yang penuh pengertian, dan seribu bahasa.
Eunha memeluk kembali Gavin, tapi itu sangat sulit dengan keadaan perut yang membuncit. Dia melihat wajah Gavin. Tanpa ragu lagi Gavin pun mencium Eunha dengan kebahagiaan. Eunha membalas ciuman tersebut, dengan mesranya mereka berciuman sembari memejamkan mata.
Gavin menyentuh wajah Eunha, dan menyisihkan rambutnya. Tangan Gavin mulai menelusuri badan Eunha, sampai dia melupakan bahwa istrinya sedang mengandung. Dia berhenti dan tmelihat Eunha, lalu menciumnya kembali.
"Aku kembali, apakah nyonya masih....?"
Mereka tidak menginggat bahwa di rumah itu ada orang lain selain mereka berdua. Noris yang membersihkan halaman depan itu, masuk tanpa sengaja melihat Gavin dan Eunha yang sedang bermesraan. Mereka pun merasa malu dan kembali mengambil pekerjaan masing-masing. Gavin pergi ke taman Lavender dan beberapa jenis bunga lainnya.
__ADS_1