Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 25


__ADS_3

Tapi belum di laksanakan Kai sendiri sedang bertatapan dengan xxx. "Mengapa kamu selalu datang kerumah ini?" Tanya Kai dengan kesal.


"Apakah aku akan menjawab pertanyaanmu?" Xxx mendekati Kai, dan membisikkan " Tanyalha dengan ayah tercintamu!"


Billy yang melihat itu, merasa kwatir. Di duduk diam, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Xxx datang mendekati Billy, dan duduk di depannya. Kai yang melihat hal itu, merasa begitu benci dengan pria yang bernama xxx.


Kai mengepalkan tanganya, dengan wajah penuh keamarahan. Dia menghampri xxx dan menyingkirkanya dari hadapan Billy. Xxx tertawa. Billy ketakutan, dan menghentikan kelakuan Kai.


"Wah, anakmu juga begitu sangat menarik. Tapi sangat di sayangkan  terlalu muda untuk di bawa berburu."


"Tu...tuan. Maafkan dia! Dia selalu berbuat seperti itu. Dia tidak mengerti apa-apa. Jangan sakiti dia.


"Aku tidak berniat menyakitinya. Tapi aku ingin dia ikut menjadi angotaku. Bagaiamana pak Billy?" 


"Jangan harap kamu bisa menyuruhku untuk jadi anggota pemburu gilamu itu. Dasar tidak tau malu. Menjijikkan."


Billy menarik Kai, dan menyuruhnya untuk tidak bicara. Xxx tersenyum dingin, dan duduk. "Biarkan dia bicara, bagaimana pun, sebagai senior harus di hargai. Bukan begitu?"


"Aku tidak akan, membiarkanmu menghancurkan impianku. Pria menjijikkan lihat saja, aku sendiri yang akan memberikanmu makna kehidupan sesungguhnya."


Kai yang di tahan beberapa pengawal itu berusaha melepaskan diri dari mereka. Dia pergi beranjak dari tempat itu, tanpa peduli apa yang akan ayahnya lakukan dengan xxx.


Kai tidak ingin membuat keluarga Firtz hancur, karena xxx yang bahkan umurnya masih muda. Dan merebut segalanya dari dirinya. Sejak mengenal xxx keluarga Billy, berantakan dan tidak bisa terkendalikan. Bahkan banyak rahasia, yang tidak seharusnya mereka tutupi untuk melukai orang lain.


Kai berusaha keras membantu keluarga Firtz, karena sudah tau gerak-gerik ayahnya dengan xxx. Dia yakin bahwa xxx tidak hanya membalas dendam, tetapi ingin menghancurkan reputasi


 


"Makanlha! Kamu akan lemah jika tidak makan."


Gavin berusaha membujuk Eunha untuk makan. Tapi Eunha tidak mau makan, dengan keadaan badan melemah.


"Baiklha, jika kamu tidak ingin melihatku disini. Maka aku akan segera pergi. Setelah kamu sudah merasa baikan."


Gavin meletakkan makanannya di atas meja yang ada di samping Eunha. DN beranjak dari ruangan tersebut. Eunha merasa kesal, dan sangat emosional.


Dia melihat punggung Gavin dengan tatapan menyedihkan dan menyakitkan.


Eunha menahan air matanya. "Mengapa dia kemari? Apakah dia tidak merasa cukup untuk menyakitiku?"


Air mata Eunha mengalir dari kedua sudut matanya, dia menahan tangisnya dengan mengigit bibirnya. Dia tidak pernah membayangkan akan memiliki kehidupan yang menyakitkan, bahkan di saat mengandung tidak ada kasih sayang dari sang suami, maupun kerabat.


Setelah beberapa menit, Noris masuk ke dalam kamar Eunha. Dia membawa segelas jus dan memberikanya pada Eunha. "Nyonya, jangan bersedih! Ini tidak seperti yang nyonya pikirkan. Semuanya akan berjalan dengan takdir masing-masing."


Noris meninggalkan Eunha di ruanganya. Dia membersihkan rumah, dan melakukan pekerjaan lainnya. Gavin menyuruhnya untuk menjaga Eunha, dan  merawatnya. Dia kembali ke kota, dan tidak ingin membuat Eunha merasa semakin benci dengannya.


Beberapa menit lalu Gavin mengatakan " Noris aku percayakan istriku di tanganmu untuk saat ini! Rawatlha dia seperti kamu merawatku, dan jaga dia agar tidak melakukan hal yang aneh-aneh! Aku tidak bisa mengirim pelayan kesini, kecuali dirimu.


Aku tidak ingin membuatnya jatuh ke perangkap musuh. Tadi malam Ku mendapat sebuah file yang kita cari beberapa hari lalu. File itu di korim dari tempat Billy. Aku tidak bisa lagi tinggal berdiam diri. Aku sudah seharusnya kembali kedunia itu. Bagaimana pun kamu adalah satu-satunya, yang bisa menjaga rahasia ini. Jangan biarkan orang lain mengetahui, tempat ini! Aku mohon padamu! Mungkin dia tidak akan memaafkanku, tapi aku percaya jika suatu hari nanti anakku akan memaafkanku.


Walaupun nyatanya, mereka tidak bisa memaafkanku. Tapi aku ingin melihatnya tumbuh besar. Dan terhindar dari bisnis bawah tanah. Aku tidak ingin menodainya, dengan dunia kegelapan. Bagiku mereka adalah keluarga yang sangat berharga, walaupun aku telah menyesal tidak bertanggung jawab, untuk membahagiakannya. Aku akan meneleponmu di saat aku telah tiba di kota. Dan jangan biarkan orang lain mengetahui nomormu! Pergilha membeli ponsel baru dan kartu baru juga. Sekalian kamu harus mempersiapakan beberapa resep kesehatan untuk Eunha. Soal gajimu aku akan mentransfernya, sesuai permintaanmu!"


Gavin yang berdiri dengan kedua tangan di dalam kantongnya. Noris, merasa kasihan dengan keadaan Gavin. Dia pun berniat untuk melakukan apa yang di perintahkan Gavin, karena sejak kecil dia sudah di rawat keluarga Firtz bahkan di jadikan seorang pengawal yang berguna, dan paling berbeda dari yang lainnya.


"Aku akan melakukan apapun yang tuan muda perintahkan. Tuan tidak perlu kwatir soal gaji ku. Aku sudah sepantasnya melakukan pekerjaan yang kamu perintahkan."


Eunha duduk di tempat tidurnya, menghabiskan makanan yang di sajikan Gavin. Dia tersenyum kecil, di saat mencicipinya. Eunha, berjalan-jalan melihat sekeliling halamannya. Dia ingin melihat apa yang dilakukan Gavin dan Noris. Tapi sudah lima menit berkeliling, dia belum melihat Gavin.


Yang dia lihat hanyalha Noris yang asik menjemur beberapa pakaian.


Noris yang melihat Eunha berdiri di teras rumah itu, tersenyum. Dia merasa senang, karena melihat Eunha sudah mulai baikan. "Nyonya, apakah perasaanmu sudah lebih baik?"


"Hmmm. Iya."


Jawaban yang begitu singkat. Noris menyelesaikan pekerjaanya dengan sangat baik. Eunha memeriksa Gavin di dalam rumah, tapi tidak menemukanya. Dia mengerutkan wajahnya, dan ingin bertnya pada Noris, tapi merasa malu.


"Kemana dia? Apakah dia sedang pergi membeli bahan-bahan makanan?"


Eunha bertanya-tanya. Lalu memeriksa isi lemari makanan, dan melihat bahwa lemari makanan masih punya banyak stok makanan.


"Mengapa aku ingin menemuinya? Bukankah ak sudah melupakanya?"


Lusi Jane masuk ke ruangan itu. Dan duduk di kursi yang ada di hadapan Lyman. Dia memperhatikan Lyman yang sedang melamun itu, dan terbatuk untuk menyadarkanya.


"Ehh, kak Lusi. Aku ingin menayakan sesuatu."


Wajah penuh keseriusan, dan menatap Lusi.


"Ada apa? Mengapa wajahmu terlihat serius? Apakah sesuatu sedang terjadi di perusahaan?"


"Tentu." Jawaban yang santai


"Hah?" Kwatir dan kaget.


"Bagaimana kamu bisa santai, jika sesuatu terjadi di perusahaan? Apakah kamu ingin membawa kita semua tenggelam?"


"Tidak ada yang akan tenggelam kecuali aku."


Lusi panik, dan berdiri. Dia tidak ingin Lyman bersantai di saat sebuah masalah terjadi di perusahaan.


"Aku akan bicara dengan beberapa karywan lainnya. Kami akan berhati-hati dan tidak ingin membiarkanmu teggelam sendirian. Kita sebagai rekan kerja, sudah seharusnya berusha bersama. Jangan kwatir, aku tidak akan tinggal diam.


"Aihzzz, aku tidak ingin orang lain ikut campur dalam hal ini. Cukup diriku, dan aku rasa ini sangat gawat dan hampir membuatku mati."


"What? Jangan menanggung sendiri. Bagaiamana jika kamu mati? Aku tidak bisa tinggal diam. Tunggu sebentar!" Begitu panik mendengarkan perkataan Lyman.


"Aku hany ingin tahu namanya, dan tempat tinggalnya. Maka semua akan baik-baik saja. Karena aku akan membuatnya berubah dalam sekejab."


"Iya ampun Lyman, mengapa kamu berpikir seperti ini? Apakah kamu sudah gila? Bagaiaman aku akan tau nama, dan tempat tinggalnya jika tidak mengatkanya segera?"


"Siapa nama wanita kemarin itu? Dan dimana di tinggal? Aku ingin tau tentang dirinya, tolong kakak Lusi membantuku mencari tahu tentang dia!"


"Krik,,,krikkk."


Wajah Lusi kesal, dan memerah. Dia meneriaki Lyman dan menjewernya. Mereka terlihat seperti sahabat, bukan antara atasan dengan bawahan. Lusi sudah panik sejak tadi, bahkan detak jantung tidak stabil mendegar perkataan Lyman. Dan itu hanyahlah sebuah hal sepele.


Lyman menyuruh Lusi Jane keruangannya. Dia ingin mengetahui, siapa nama wanita yang berani bicara dengan lancang itu. Bahakan dia penasaran dengannya, mengapa wanita itu mengatakan pria tidak bertanggung jawab, bahkan menyuruh untuk menjaga Gavin dengan baik-baik. Wanita itu terlihat sedikit aneh, dan berbeda dari wanita yang sebelumnya dia temui.


"Apakah kamu jatuh cinta dengannya?"


"Bu..bukan begitu. Aku hanya penasaran dengan wanita itu. Dan aku rasa dia harus bertanggung jawab, karena membuatku ingin mati pagi ini."


Lyman dengan percayaan tinggi mengatakan hal itu pada Lusi. Dia memainkan pena di tanganya, dan mengingat wajah dingin wanita itu.


Dia tersenyum tak jelas. Lusi yang melihat hal itu mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang yang terlihat tidak asing.


"Halo, Jihan ini aku sekretaris Lusi. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Ini tentang atasan saya yang ingin menemuimu. Apakah kamu punya waktu sekitar satu jam kedepanya?"


"Hah? Aku sedang sibuk dan tidak ada waktu kak. Maafkan aku. Wheheheh"


"Wah, tidak perlu minta maaf. Ini semua karena atasan saya. Pasti saya akan di marahi dan di pecat dengan cepat."


Lyman mengerutkan dahinya, dan merasa aneh dengan Lusi yang senyum-senyum sendiri sembari berbisik dengan seseorang dari ponselnya.


"Oke baiklha kak. Aku akan menemui atasnmu."


"Terima kasih banyak Jihan. Kamu memang pengertian denganku. Tapi kamu harus berhati-hati dengannya! Dia adalah pria playboy yang akan memangsa siapapun lho. Wheheheheh."


Lyman merampas ponsel dari tangan Lusi. "Ada apa ini? Mengapa kamu bicara begitu aneh? Dan berbisik, apakah kamu sedang bicara dengan pacarmu?"


Menempelkan pada telinga dan bicara sana sini. "Ini siapa? Bisa jelaskan? Jika kamu pacar kak Lusi, kamu harus berhati-hati denganku! Aku tidak akan membiarkan pria brengsek untuk menyakiti hatinya. Apakah kamu dengar?"


"Hadeh, mengapa akau harus mendengarkan pria yang tidak bertanggung jawab?"


"What? Ahrgkkkk. Kak Lusi, mengapa kamu menelpon wanita aneh itu?"


Mematikan ponselnya, dan merasa malu. Dia bahkan membiarkan sekretaris, menyebutnya seorang playboy. Dia kesal, dan tidak tau mau berbuat apa.


Lusi Jane tersenyum, dan keluar dari ruangan itu.


Pukul 20.30 Pm


Eunha terlihat sedang menunggu seseorang. Dia duduk di ruang tamu, dan melihat beberapa kali ke arah pintu. Dia ingin menanyakan Noris tapi, merasa malu. Eunha melihat jam dinding, yang sudah menunjukkan pukul 20.31 Pm.


Noris yang duduk, sembari bermain dengan seekor anak anjing memperhatikan Eunha. Dia bertanya pada Eunha "Ada apa nyonya? Mengapa nyonya terlihat sedang menunggu sesuatu?"


"Ehh, bukan. Aku hanya ingin melihat suasana di luar saja. Aku keluar dulu."


Eunha pergi keluar. Dan menatap bulan yang sedang bersinar terang. Dia merindukan Gavin, tidak tau mengapa hatinya berubah seperti itu. Mungkin karena dia sedang mengandung. Noris keluar melihat Eunha, dan berdiri di sampingnya. Dia ikut menatap bulan, dan memperhatikan bintang-bintang yang sedang bercahaya di langit.


Eunha merasa kwatir dengan Gavin, karena belum melihatnya. Dia memberanikan diri menanyakan pada Noris. "Kemana dia?" Tanya Eunha dengan malu. Noris tersenyum kecil, dan menghela napas. Dia menyandarkan punggungnya ke salah satu tiang yang ada disana.


"Apakah nyonya kwatir dengan tuan muda?"

__ADS_1


"Bu...bukan. aku tidak kwatir. Aku hanya saja tidak melihat dia sejak tadi siang. Bagaiamana jika dia pergi ke dalam hutan, disana sangatlha gelap..."


"Bumi, adalah tempat paling indah dan mulia. Semua hidup dengan keindahan masing-masing. Tapi akan ada yang dinamakan dengan kesulitan hidup. Semua hal itu akan berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Jika hari ini kita terlihat begitu buruk, mungkin besok kita akan terlihat lebih baik. Namun kita tidak pernah menerima, apa yang sedang terjadi adalah sebuah permainan dunia. Di bumi ini bahkan makhluk hidup terbagi beribu macam. Dan bumi meyediakan keindahan alam seperti yang sedang kita lihat saat ini. Bulan,  Bintang dan Awan.


Tapi diantara tiga benda tersebut, ada yang akan terus berada di tempat yang sama. Bagaimana pun hukum alam sedang mempermainkanya, tapi dia tetap ada disana. Hanya saja, dia tidak meyadari bahwa sebenarnya dirinya tetap berada di tempat yang sama. Tidak bisa melarikan diri, karena itu adalah takdir yang telah di berikan Tuhan. Coba nyonya bayangkan! Apa yang akan terjadi jika Bulan dan Bintang itu pergi berpindah tempat? "


"Bumi akan hancur." Jawab Eunha dengan polos. Noris tersenyum, memberikan sebuah selendang untuk menutupi leher Eunha.


"Sudah nyonya! Lebih baik nyonya istirahat sekarang! Ini sudah malam. Dan tuan muda tidak akan kembali malam ini. Dia sedang melakukan pekerjaan yang begitu penting. Nyonya tidak usah kwatir, karena tuan muda tidak mungkin melupakan nyonya."


Sepuluh menit kemudian Eunha membaringkan badanya di tempat tidur. Dia memandangi langit-langit rumahnya, dan tidak bisa tertidur.


"Jika Bulan, dan Bintang berpindah tempat maka bumi akan hancur.  Dalam arti jika Gavin berpindah hati, dan begitu juga denganku maka hubungan kami akan hancur."


Eunha memikirkan perkataan Noris. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi perasaanya begitu sakit, di saat mengetahui bahwa Gavin telah kembali ke kota, dan tidak memberitahunya sama sekali. Dia menggengam erat selimut yang dia kenakan. "Dasar pria ********. Dia bahkan tidak meminta maaf dengan tulus. Pergi begitu saja, tanpa mempedulikanku."


Disisi lain Gavin yang sedang menghabiskan waktunya sejak sejam lalu di Bar club. Bersama dengan Barry.  Barry tidak tau apa yang sedang terjadi. Tapi dia sedikit yakin bahwa Gavin sedang mengalami sakit hati. Dia menghentikan Gavin untuk tidak meminum miras lagi. Tapi Gavin tidak bisa di hentikan. Gavin sudah mabuk, dan wajah yang sudah memerah, dan meminta beberapa botol miras lagi.


"Gavin apa kamu sudah gila? Kamu sudah  menghabiskan 21 botol miras. Mengapa kamu begitu bodoh? Apakah kamu sudah bosan hidup?"


Barry merampas gelas milik Gavin dan meletakkannya dengan tegas di atas meja. Dia membayar tagihannya, lalu menuntun Gavin pulang ke rumah. Barry merasa kwatir dengan Gavin, yang tiba-tiba kembali dan minum banyak. Dia mencoba menghubungi Lyman. Namun tidak ada jawaban dari Lyman. Barry menyetir, sembari melirik Gavin sekali-kali.


"Mengapa aku melakukan hal bodoh itu?" Gavin yang mabuk sembari bicara tak jelas. Barry menggelengkan kepalanya "Aku rasa Gavin sedang mengalami masalah serius. Dia tidak bisa di biarkan seperti ini, aku akan menanyakan apa yang sedang terjadi."


"Cikyeeetttt......" Mobil Barry tiba-tiba berhenti di pinggiran jalan.


"Apakah kita sudah sampai?" Tanya Gavin dengan keadaan mabuk berat.


"Iya kita sudah sampai, tapi aku ingin menanyakan sesuatu."


"Hmm, ka...kamu mau ta..tan...tanya apa? Oeeekkkk."


Gavin muntah, di dalam mobil. Barry menghela napas, dan tidak melanjutkan menanyakan apa yang ingin dia tanya. Dia kembali fokus menyetir mobil, dan membuka jendela mobilnya.


***


Lyman duduk di sebuah restoran yang tidak jauh dari perusahaan. Dia sedang menunggu Jihan. Dia tidak berpikir ingin menemui wanita itu, tapi Lusi Jane sudah menyuruhnya terlebih dahulu. Sudah lebih dari sejam Lyman menunggu, tapi wanita itu tidak muncul sama sekali. Dia pun merasa bahwa wanita itu tidak akan datang karena sudah larut malam. Dia membayar tagihan, dan melangkahkan kakinya dari tempat itu.


Di depan pintu wanita berdiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Lyman lewat begitu saja dari hadapanya. Dia kesal, karena Lyman pulang begitu saja. Jihan juga naik ke atas motornya, dan mengatakan "Dasar pria tak bertanggung jawab. Masih saja pria bodoh, dan tidak bisa menepati janji. Cuihhhh."


Lyman yang mendengarkan perkataan wanita itu, langsung menoleh. Dan bertolak pinggang. "What? Apakah kamu benar-benar mengataiku seperti itu?" Tanya Lyman dengan nada kesal.


"Untung saja kamu langsung peka. Mana ada di luar sana pria menyebalkan sepertimu? Tidak bertanggung jawab."


"Heh,,, tunggu dulu. Kamu mengatakan saya pria tidak bertanggung jawab? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu? Kamu telah mengingkari janji untuk datang menemuiku."


"Hadeh, jelas-jelas aku sudah datang. Siapa suruh kamu yang pulang?"


"Dasar wanita aneh, masih saja mengoceh. Jelas-jelas datang telat, dan tidak tepat waktu."


Wanita itu menghidupkan sepeda motornya, dan pergi sesegera mungkin. Lyman yang merasa kesal dengan tingkah wanita itu, menendang  ban mobilnya. "Brakkk." Kesakitan "Aihhhhh.....arghhhh." Berteriak merasa kesakitan.


Sebuah apartemen di tengah-tengah kota. Krystal dengan seorang pria tidak di kenal sedang bersama. Mereka bersama sejak beberap jam yang lalu, di saat Krystal  mabuk berat di club dan di antar oleh pria yang kelihatanya tidak baik.


Pria itu membantu Krystal untuk bisa kembali ke apartemen. Dia membaringkan Krystal di tempat tidur dan membuka alas kakinya. Dia merokok dengan senyuman sinis, di saat melihat Krystal yang tertidur dengan menggoda. "Wanita bodoh ini. Dia begitu percaya dengan orang yang bahkan baru saja dia kenal. Wheheh, keuntungan yang sangat langkah."


Membuka kancing baju Krystal secara perlahan. Dengan lembut dan penuh gairah. Pria itu mulai meraba-raba di atas tubuh Krystal. Tidak lama kemudian, tanganya di hentikan oleh Krystal. "Apa yang sedang kamu coba2 lakukan?"


"Wah...wah. Kamu mengapa terlihat tidak terima? Aku tidak akan berbuat kasar kok. Aku akan melakukanya dengan lembut. Whehehe."


"Siapa kamu? Lepaskan aku!" Berusaha memberontak dengan sekuat tenaga. Tapi pria itu lebih kuat darinya. "Dasar wanita, tidak tau malu masih berani berteriak dan menolak. Jelas-jelas dia mau. Wheheehh."


Pria itu melepaskan pakaianya dengan cepat. Dan ingin malakukan hal bejad tersebut. Dan mendekatkan wajahnya ke hadapan Krystal.


"Brakkk." Pria itu tiba-tiba jatuh pingsan. Di waktu yang tepat Kai sedang ingin menemui Krystal dan melihat hal bejad pria aneh tersebut.


Kai memanggil polisi terdekat, dan menyerahkan pria tak di kenal itu. Kai menyelimuti badan Krystal dengan selimut, dan menyisihkan rambut Krystal dari wajahnya. Krystal dengan tiba-tiba merangkul Kai, dan memeluknya dengan erat. "Jangan pergi! Aku sangat membutuhkanmu."


"Lepaskan aku!" Kai berusaha melepaskan tangkulan Krystal tersebut. Tapi hal itu membuat Krystal terbangun dan tersenyum pada Kai. " Ada apa? Apakah kamu masih marah?"


Wajah mereka begitu sangat dekat. Jantung Kai berdetak begitu sangat cepat. Dia melihat wajah Krystal, dan bibir sexynya. Kai menelan ludahnya, dan pelan-pelan ingin mencium Krystal. Tapi dia takut, dan melupakan hal itu.


"Aku tidak bisa melakukanya." Melepaskan rangkulan Krystal. Namun tiba-tiba Krystal merenge-renge dan menarik Kai lalu menciumnya. Kai pun membalas ciuman itu, dengan penuh cinta.


Pukul 06.30 Am.


Gavin membuka matanya perlahan. Dia merasa pening dan memegangi kepalanya. Lyman masuk ke dalam kamar Gavin dan membawakan semangkok soup pereda mabuk. Lyman membuka tirai jendela Gavin, lalu berdiri di depan Gavin dengan menyilangkan kedua tanganya di depan dada.


"Mengapa kamu berdiri di sana?" Tanya Gavin dengan nada pelan.


"Mengapa kepalaku begitu sakit?" Dengan wajah yang masih memerah.


"Dasar pria tidak bertanggung jawab. Apakah kamu tidak berani membawa istrimu kembali? Kamu malah mabuk-mabukan dan masih berani kembali kerumah?"


Lyman seakan-akan pria yang terlihat tegas. Bahkan dia mengikuti cara wanita itu berbicara. Dia tidak menyadari caranya berbicara berbeda kali ini. Lyman meninggalkan kamar Gavin, dan menyuruhnya untuk segera menghabiskan soup tersebut.


"Aku tidak ingin telat bekerja. Kamu masih bisa meminta bantuan kepadaku! Aku akan bekerja di perusahaan, kamu bisa istirahat dan memikirkan bagaiman cara membawa istrimu kembali!"


"Aiszzzz, anak itu sudah semakin berani. Bahkan mengomel, seakan dia tau semuanya."  


Lyman merasa senang, dan melompat-lompat kegirangan di depan kamar Gavin. Dia merasa bahwa dirinya sangat hebat di saat bicara seperti itu. Barry yang melihat hal itu menatap Lyman dengan penuh pertanyaan.


"Ada apa dengannya?"


"Akhirnya, aku semakin pintar. Whahhahh." Merasa bangga, dan segera pergi ke kantor dengan penuh semangat.


Gavin meraih ponselnya, dan menghubungi Noris. "Maaf... nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, coba...." Gavin mencoba beberapa kali, tapi jawabannya hanya no yang anda tuju.


Rumah tengah hutan. Noris yang sedang sibuk mencari sinyal hp. Dia naik ke rumah atas pohon yang ada di depan rumah tersebut. Dia sudah disana sejak setengah jam yang lalu, dan berusaha mencari sinyal tapi sangat sulit. Dia mengoyang-goyangkan ponselnya, dan melompat-lompat sembari menaikkan ponselnya di hadapanya.


Eunha yang melihat Noris itu tersenyum. Dia pun memanggil Noris dengan melambaikan tangannya. Noris turun dari rumah pohon. Eunha menggambil ponsel Noris dan membawanya ke dekat taman Lavender, di tepian sungai. Noris mengikuti Eunha ke tempat tersebut. Noris terkagum-kagum di saat melihat taman Lavender yang begitu luas dan berada di tepian sungai yang mengalir.


Sungai yang mengalir dengan perlahan, dengan air yang begitu jernih. Kicauan burung yang membuat suasana semakin hidup dan hembusan angin menjejukkan tempat tersebut. Tanaman Lavender, yang tampak masih baru di kembangkan, dan beberapa jenis bunga lainnya.


Ponsel Noris berdering. Dengan segera dia menjawab panggilan itu. Noris pergi menjaga jarak untuk bicara pada Gavin. Eunha tersenyum hangat, dan menggambil alat untuk menyiram bunga-bunga tersebut. Dia mulai meniramnya, dengan begitu semangat. Noris sekali-kali melirik ke arah Eunha dan bicara dengan nada pelan pada Gavin.


"Apakah dia sudah baikan?" Tanya Gavin pada Noris.


"Tuan tidak usah kwatir. Setelah nyonya bangun pagi ini, dia langsung tersenyum, dan wajahnya terlihat sedikit..."


"Sedikit apa? Aku sudah katakan kamu harus menjaganya!"


"Iya aku paham. Tapi nyonya sedikit sedih."


"Aku ingin melihat wajahnya. Ahlikan ke video!"


Noris mengahlikan panggilan suara ke video. Gavin melihat Eunha yang sedang menyiram bunga-bunga indah dan penuh warna-warni itu. Dia ingin membantu Eunha menyiram tanaman itu, menyiram bersama dan tertawa seperti sepasang suami istri. Tapi itu semua hanyalha khayalan Gavin sementara waktu. Karena dia begitu sangat tidak pantas mendapatkan wanita yang berhati mulia seperti  Eunha.


Eunha menyiram, sembari memegangi perutnya. Dan beberapa kali mencoba menenagkan pikiran. Dia menoleh ke arah Noris, dan menyuruhnya untuk ikut menenangkan pikiran.


"Noris apa yang kamu lakukan disana? Cepat kemari! Apa kamu tidak ingin menenagkan pikiranmu?"


"Ehh, iya. Iya nyonya." Noris pun berpamitan pada Gavin dan ikut mengambil posisi seperti Eunha. Merentangkan tangan dan merasakan bisikan udara, dan mendegarkan kicauan burung.


"Nyonya tunggu sebentar! Aku lupa mematikan kompor di dapur."


Mengingat kompor yang belum dia matikan beberapa menit lalu. Tapi Eunha telah mematikanya, sebelum mengajak Noris untuk ikut bersamanya ke taman tersebut.


"Aku sudah mematikannya. Kamu tidak perlu kwatir!"


"Benarkah?"


"Hmm".


Apartemen Krystal.


Krystal bangun, dan terkejut di saat melihat pakaiannya yang berantakan di lantai. Dia mengintip tubuhnya di balik selimut, dan berteriak.


"Arghkkkk." Segera berlari ke kamar mandi. Setelah beberapa menit dia merasa bahwa diri baik-baik saja. Dia tidak ingat apapun yang terjadi kemarin malam, dan mencoba mencari tau lewat camera yang selalu dia siapkan untuk memantau siapa saja yang masuk ke apartemenya.


Sebelum pukul enam pagi Kai pergi dari apartemen Krystal. Dia tidak ingin Krystal akan berpikir yang aneh-aneh tentangnya. Dan meninggalkan sebuah USB di atas meja yang ada diruang tamu. Krystal tidak mempedulikan USB tersebut dan mencoba melihat apa yang terjadi melalui komputer yang sudah dia hubungkan dengan camera pengintai.


Dia merinding di saat melihat dirinya membawa orang lain ke apartemnya. Dia berteriak dan tidak ingin melanjutkan menonton rekaman itu, disaat pria itu mulai meraba-rabanya. Tapi dia penasaran mengapa pria itu tidak ada di tempat itu disaat sudah pagi? Dia berusaha mengingatnya apa yang telah terjadi padanya.


"Apa yang telah aku lakuakan? Mengapa pria itu? Mengapa jika sesuatu terjadi denganku? Hiksss....hiksss. Apa yang akan ku lakukan?"


Krystal merasa prustasi di saat melihat apa yang sedang dia lakukan bersama pria yang bahkan dia tidak kenal sama sekali. Dia menangis terisak-isak. Ponselnya berdering berkali-kali tapi dia tidak menjawabnya. Panggilan dari Kai, dan beberapa pesan yang di kirimkan oleh Kai.


Perusahaan Trowa.


Lyman dan Barry yang sedang bekerja untuk memecahakan apa tujuan dari file rahasia tersebut. Barry mencoba meneliti dan melihat berkali-kali file tersebut. Lyman yang berpikir keras dan mendapatkan ide yang begitu masuk akal.


"Kak Barry. Aku sudah mengerti apa maksud dari file ini."

__ADS_1


Barry mendengarkan penjelasan Lyman yang masuk akal tersebut. Mereka juga berencana untuk melakukan penelitian  terhadap orang-orang yang terkait dalam file yang mereka temukan.


"Lyman, tapi apakah kamu yakin ini bukanlha sebuah tipuan?"


Tanya Barry dengan sedikit kwatir. Lyman tersenyum dan memindahkan file tersebut ke USB pribadinya. Dan ingin mengamankan file tersebut, sebelum mendapat apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Ini bukanlha tipuan. Tapi aku yakin bahwa ini ulah dari musuh Billy. Beberapa hari lalu aku masih melihat orang aneh yang muncul dari belakang pohon di depan rumah white. Tampaknya orang itu selalu mengintai disana, bahkan membuat camera terbang untuk mengintai area  rumah white. Dia pasti sedang merencanakan hal di luar dugaan kita. Aku akan segera memberitahukan ini pada kak Gavin, dan aku percaya samamu. Bantu aku menemukan siapa yang sering muncul di sana. Tapi jangan beritahu siapapun soal ini!"


"Baiklha, aku akan melakukanya. Tapi aku bisa tanya sesuatu?" Tanya Barry dengan penuh harapan.


"Hmm, tentu kenapa tidak?"


"Apakah Gavin, pergi menemui Eunha dua hari lalu?"


Lyman terdiam dan merasa kwatir untuk memberitahu hal itu. Dia menghela napas "Aku rasa begitu. Tapi aku tidak yakin, bahwa dia bisa membujuk istrinya kembali."


"Apakah kamu yakin? Akan lebih baik jika Eunha tidak kembali untuk sementara waktu. Karena kita akan mengahadapai banyak permasalahan akhir-akhir ini. Dia juga sedang menggandung, dan dia bisa saja sebuah kelemahan untuk Gavin disaat musuh kita menemukannya."


"Aku juga terkadang berpikir begitu. Tapi melihat keadaan Kak Gavin akhir-akhir ini. Sangat sulit bagiku melihatnya disaat terpuruk, bahkan tidak pernah tersenyum setelah dia merahsiakan keberadaan kakak ipar."


"Tapi kita bisa melakukkan hal lain. Kita bisa menyuruh Gavin untuk pergi kesana, dan menemuinya bukan?"


Barry dan Lyman punya pendapat yang sama tentang Gavin dan Eunha, mereka selalu berpikir untuk bisa menyatukan kembali hubungan Gavin dan Eunha. Tapi itu akan sulit, di saat-saat seperti ini. Bisa saja Eunha, akan menjadi tawanan untuk musuh, dan titik kelemahan bagi Gavin dan Lyman nantinya. Bisnis bawa tanah bukanlha hal yang di sepelekan.


Sejak kematian kedua orangtua mereka, Gavin ingin menyelesaikan urusan bisnis bawah tanah dengan keadaan baik-baik tanpa membunuh satu sama lain. Sejak dulu dia tidak pernah tertarik dengan bisnis ini, tapi keadaan yang akan mengubah segalanya. Dia hanya berusaha untuk mempertahankan derajat keluarganya. Tidak di sangkah hal seperti ini bisa terjadi sampai seperti ini.


Gavin sudah pasrah untuk kehilangan semua perusahaannya. Dia ingin menjalani kehidupan yang sederhana seperti orang lain. Bisa bersama keluarga dan memiliki keharmonisan tanpa ganguan dari siapapun. Dia sudah merasa lelah dengan bisnis yang tidak bisa dia akhiri dengan baik.


Dia berpikir untuk tidak menodai orang lain dengan bisnis yang seperti itu. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk membawa derajat keluarga Firtz tapi dia tidak pernah mendapat kasih sayang yang seutuhnya. Baginya uang adalah yang di cari, tapi apakah kebahagiaan juga bisa di cari layaknya semudah mendapatkan uang?


Barry meninggalkan perusahaan milik ayahnya karena tidak ingin terlibat dengan bisnis bawah tanah. Tapi siapa  sangkah bahwa kepercayaanya di Eropa telah bergabung ke dunia bisnis bahwa tanah sejak satu tahun yang lalu. Dia melepaskan perusahaan keluarga Jane begitu saja, tanpa sedikit keraguan. Dia tidak ingin hidup di penuhi kekwatiran. Tapi apa yang akan terjadi di saat dia mencoba melarikan diri dari kenyataan ini?


Perusahaan keluarga Jane dan keluarga Firtz adalah perushaan yang begitu sulit untuk di hadapi. Tampaknya sebuah masalah akan terjadi, dan Barry sebagai putra dari keluarga Jane, tidak ingin melihat perusahaanya jatuh bangkrut. Dia di besarkan dari hasil perusahaan tersebut, dan bisa menikmati hidup dengan uang yang di hasilkan ayahnya melalui perushaan itu.


Dia memikirkanya berkali-kali, dan mencoba untuk mengtahui siapa yang telah berusaha keras untuk menodai perusahaan Jane? Selama beberapa tahun setelah ayahnya meninggal mereka tidak pernah kembali ke kota itu. Barry dengan ketulusan menyerahkan perusahaan itu ke tangan anak angkat ayahnya. Dia hanya menggambil setengah bagian dan memberikan kakaknya Lusi jane sepermpat dari yang dia dapatkan. Dia bekerja sebagai dokter, dan membuka klinik adalah hal yang sudah lebih baik.


Gavin tiba di perusahaanya. Dan berjalan dengan dingin ke dalam ruanganya. Dia melonggarkan dasinya, dan menayakan apa yang sedang dilakukan Barry dan Lyman, sehingga terlihat begitu serius.


"Apa kalian berdua sedang membahas seorang gadis?"


"Bukan begitu. Kami hanya membahasmu." Jawab Lyman dengan cepat.


Barry berdiri, dan mengambil USB yang di berikan Lyman. "Apa itu?" Tanya Gavin dengan penasaran.


"Oh iya aku lupa memberitahumu. Di saat kau pergi file aneh ini masuk ke komputermu, dan sepertinya ini adalah file yang sangat rahasia, dan penuh misteri."


"Benarkah?"


"Iya, Lyman berkata benar. Kami baru saja merundingkan apa yang sebenaranya terjadi. Dan kami melajak alamat dari mana file ini di kirim. Tampaknya tidak bisa di duga karena ini di kirim langsung dari tempat Billy. Aku rasa ini tidak asing lagi. Tapi file ini tidak seharusnya di kirim ke tempat ini juga." Jawab Barry sembari menjelaskanya dengan detail.


Gavin begitu penasaran, dan segera melihat file tersebut. Dia mengerutkan dahi dan terkejut. "Bukankah ini file waktu itu? Aku juga pernah mendapatkan file ini beberapa minggu yang lalu. Dan nama-nama yang ada di dalam itu adalah salah satu mafia terkenal di bagian Eropa. Bahkan di kabarkan mafia ini sedang tidak berada di sana sejak lima bulan yang lalu."


"Apakah dia sedang berada di Asia? Kita bisa saja menemuinya, dan meminta penjelasan." Jawab Lyman dengan semangat.


***


Malam yang terlihat kelam


Gemersikan ombak, dan hembusan angin


Membuatku tidak ingin melepasmu


Impianku, tetap ingin bersamamu,


Meraihmu, dan menggenggam erat tubuhmu.


Sayang, lihatlha hatiku!


Memancarkan sinar untukmu,


Jangan kau ragukan ketululusanku!


Aku ingin membawamu bersamaku


Memulai segalanya dari awal,


Dan melihat masa depan kita yang begitu indah.


Jangan menyiksa dirimu!


Aku tidak memerlukan semua kekayaan,


Aku tidak akan peduli, dengan apa yang akan kita lalui.


Tetap saja, aku akan bersamamu.


Melalui kejamnya dunia ini


Kita akan pergi bersama, untuk melewatinya.


Dunia tidak akan bisa menghancurkan cinta kita


Tapi hati, akan bisa menghancurkan segalanya.


Jangan berpaling dariku! Aku tidak ingin bersedih tanpa kehadiranmu


Dan tidak ingin tersenyum tanpa ke hadiranmu.


Dunia kita telah di takdirkan untuk bersama.


Datanglha!


Genggam tangan ini!


Aku akan memenuhi segala janji itu.


Janji yang telah kita ucapkan waktu itu.


Eunha yang duduk di tempat tidurnya, sembari membaca sebuah puisi tentang cinta. Dia merasa tersentuh, dengan puisi tersebut dan menutup bukunya. Dia merasa begitu sangat merindukan Gavin, tapi dia benci dengan sikapnya yang tidak bertanggung jawab itu. Dia datang dan pergi begitu saja, membuat hatinya terasa begitu sakit.


"Aku sungguh merindukanya. Walaupun aku membenci ketidak adilannya, tapi kali ini aku begitu sangat kwatir denganya. Aku merasa suatu masalah akan dia hadapi dengan segera. Pria waktu itu, apakah dia berusaha ingin menghancurkan Gavin? Mengapa dia bicara dengan ku dan mengetahui sesuatu tentang keluarga ku?"


Eunha menyandarkan badanya di tempat tidurnya, dan memegangi perutnya sembari sesekali mengelus dengan lembut. Dia merasa aneh dengan pria yang dia temui waktu itu, dan mengapa pria itu mengetahui tentang keluarga Eunha, yang bahkan semua orang sudah tidak ingat apa pun tentang keluarga tersebut. Eunha semakin merasa penasaran, dan menayakan pada Noris apa yang sedang terjadi saat itu.


Noris menjawab dengan gagap, dan tidak tau apapun soal pria yang Eunha bicarakan. Dia hanya tau, bahwa pria itu seorang pengusaha dari Eropa yang akhir-akhir ini dinyatakan sedang menghilang di dunia bisnis. Tapi kelihatanya bukan seperti itu. Pria itu hanya berpura-pura melakukan hal itu, dan berusaha untuk menjebak keluarga Firtz. Noris pernah melihat pria yang di tanyakan Eunha, bertemu dengan Billy dan beberapa mafia lainnya.


Noris mengenal beberapa dari mafia tersebut. Mereka adalah orang yang begitu sangat membenci keluarga Firtz. Tapi Noris tidak memberitahu soal itu pada Eunha. Dia mencari topik pembicaraan yang lain, agar Eunha tidak membahas hal tersebut. Tapi Eunha malah bengong, dan memikirkan sesuatu.


"Apakah nyonya, baik-baik saja?" Tanya Noris dengan cemas.


"Hmm?" Jawab Eunha.


"Aku akan membuatkan susu untuk nyonya. Nyonya tunggu lha sebentar!"


Noris begitu cepat pergi ke dapur. Dia takut memberitahukan seuatu hal yang akan membuat Eunha merasa bersalah. Setelah kepergiaan Eunha dari kota itu, Gavin selalu mendapat pesan yang mengancam ingin membunuh dirinya. Dan sejak itu Gavin tidak bisa tidur. Dia  kwatir dengan keselamatan Eunha dan bayinya. Dia tidak ingin melihat mereka terjerumus ke dunia bisnis yang menyakitkan tersebut.


Rumah White


Gavin duduk di ruang kerja pribadinya, dengan wajah yang terlihat begitu sangat serius. Dia memikirkan apa yang harus dia lakukan. Dia benar-benar ingin lepas dari dunia bisnis tersebut.


Ponsel Gavin berdering. Dia berpikir itu panggilan dari Noris karena nomor baru. Gavin langsung cepat menjawabnya, dan menempelkan pada telinga sebelah kanannya.


"Noris, apakah semuanya baik-baik saja?" Tanya Gavin dengan kekwatiran.


"Hallo tuan Gavin Firtz? Apakah kamu masih bisa mengigatku?"


"Siapa ini? Tanya Gavin dengan cepat dan nada suara yang sedikit tinggi. Pria yang bicara dengnya adalah xxxx.


"Aku pikir kamu sudah melupakanku. Tapi tidak apa-apa lha, aku hanya ingin memberitahumu sesuatu hal yang penting."


Gavin tidak dapat mengenali suara pria tersebut. "Aku pikir kamu sedang salah sambung!"


"Wah mengapa kamu begitu terdengar kesal? Aku hanya ingin bicara denganmu. Tapi mengatakan hal yang sama seperti saat itu. Apakah kamu sudah lupa? Dengan anak kecil yang menangis memohon padamu?"


*****Seorang anak kecil yang menangis meminta bantuan pada Gavin. Tapi dia mengabaikan anak itu, dan pergi begitu saja. Lalu beberapa hari lagi, dia bertemu dengan anak itu di sebuah toko buku. Gavin pada waktu itu berumur 14 tahun dan anak itu sekitar 8 tahun. Anak ini manangis karena di bully oleh beberapa anak lainnya. Gavin membantu anak tersebut lalu anak itu berterima kasih padanya.


"Terima kasih." Dengan nada yang rendah.


Gavin mengabaiakan ucapan terima kasih anak tersebut, dan pergi begitu saja. Hal itu terjadi berulang kali sampai di mana anak tersebut ingin punya teman. Dia ingin Gavin menjadi teman untuknya. Tapi Gavin dengan angkuh mengatakan "Aku tidak ingin punya teman."


Hal itu membuat hati sang anak tersebut merasa sedih tak berdaya. Dia pergi, dan merasa tidak lelah. Di hari berikutnya dia mencoba mendekati Gavin. Tapi Gavin seakan-akan mulai menjauhinya.


"Mengapa dia menjauhiku? Apakah karena aku tidak punya ayah ibu?" Hal yang selalu melintas di pikiran anak tersebut.

__ADS_1


Dan seorang anak yang terlahir dari keluarga terpandang, tersenyum pada Gavin dan menyalamnya. Gavin pun membalas senyuman anak itu. Melihat hal itu si anak tadi merasa berkecil hati, dan menangis selama beberapa hari. Orangtua angkatnya menyuruhnya untuk belajar giat, dan memaksanya untuk bisa melakukan yang terbaik.


Dia memiliki saudara tiri. Mereka tidak terlihat begitu akrab sama sekali. Saudara tirinya terlalu dingin, dan tidak peduli sama sekali. Mereka berdua bermain permainan anak-anak, tanpa mengajak anak yang satunya. Anak itu tidak punya teman, untuk bisa di ajak bermain. Dan melakukan hal-hal yang baru. Dia bermain dengan boneka miliknya, dan beberapa mobil-mobilan di dalam kamarnya. Dia tidak ingin melihat kedua anak dari ayah angkatnya itu bermain tanpa mempedulikan orang lain*.


__ADS_2