Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 26


__ADS_3

Gavin menjatuhkan ponselnya, dan merasa begitu terkejut. Dia bahkan menginggat di saat orangtuanya memaksa dirinya untuk tidak berteman dengan orang dari keluarga miskin. Gavin bahkan tidak bebas untuk memilih siapa temanya, tapi dia di kontrol oleh orangtuanya.


"Apakah dia benci denganku?" Tanya Gavin dalam hati.


"Hallo? Apakah tuan Gavin masih ada di sana?"


Suara dari dalam ponsel. Gavin meraih ponselnya kembali dan bicara dengan tenang. "Apa yang kamu inginkan?"


"Hmmm, itu sangat muda. Aku hanya mengiginkan hal yang begitu muda."


"Jangan bermain-main denganku! Aku tidak akan melayani orang..."


Gavin terdiam, dan wajahnya terlihat cemas.


"Orang miskin? Ahhh, aku mengerti tuan muda seperti mu tidak akan mau berteman dengan ku bukan? Wah aku begitu sangat terkagum denganmu. Bisakah aku masih berteman denganmu di saat aku sudah kaya, atau apakah aku akan menjawab?"


Pria aneh itu terdengar seperti meledek Gavin. Dia seakan-akan mengetahui apa pun yang di hadapi selama ini. "Katakan apa yang kamu inginkan! Aku bukanlha orang yang suka bersabar, sebelum emosiku meledak." Gavin menanyakannya kembali, dengan nada kesal.


"Aku ingin Nyawamu. Wheheheh, bagaiamana? Apakah itu adil? Atau aku terlalu berlebihan? Ahh, maaf-maaf tuan muda terlalu merasa sedih jika aku meminta nyawanya. Bagaimana jika aku meminta nyawa istri dan anakmu? Itu pasti akan menjadi sebuah ide yang menyenangkan bukan?"


"Diam kamu! Siapa sebenarnya dirimu, sampai berani mengatakan hal seperti itu? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kamu bukanlha orang yang pantas mengatakan perkataan kotor itu. Jika kamu benar-benar mengiginkan sesuatu, maka temui aku di ****** aku akan lihat seberapa pantas dirimu mengatakan hal itu?"


"Jangan emosi! Aku tidak akan datang. Aku masih harus fokus dengan pekerjaanku tuan Gavin Firtz. Whahahahah."


Pukul 00.15 Am.


*


Eunha berjalan di sebuah hutan yang begitu gelap. Dia tidak bisa melihat apapun. Dia berjalan dengan perlahan, dan melihat sebuah rumah yang begitu jauh di tengah hutan belantara. Dia merasa bahwa di dalam rumah itu, ada orang. Dia mendekati rumah yang terlihat sudah lama tidak di tempati.


Eunha membuka pintunya secara perlahan, dan masuk ke rumah tersebut. Banyak kunang-kunang berterbangan dan menerangi ruangan tersebut. Eunha menyentuh salah satu kunang-kunang tersebut dan tersenyum. "Wah, indahnya."


Beberapa mata memperhatikan Eunha, dan mengikutinya. "Brakkk." Dari sebelah barat terdengar sesuatu yang terjatuh ke lantai. Eunha menelusuri, dan mencari benda apa yang jatuh tersebut. Dia mendengarkan suara tikus-tikus, dan melihat beberapa sarang laba-laba. Tempat itu begitu tersembunyi, dan terdapat banyak ruangan yang terlihat lama tidak terpakai.


Ruang tersebut, bagaiakan ruangan penelitian. Barang-barang dan beberapa hasil penelitian masih ada disana. Eunha memperhatikan dengan teliti, dan menganggkat sebuah botol yang berisi embun warna-warni. Eunha meletakkanya kembali, dan mengelilingi tempat itu dengan bantuan cahaya dari kunang-kunang.


Dia menginjak sesuatu, dan segera melihatnya. Sebuah buku harian yang sudah usang dan berdebu. Eunha mengambilnya dan meletakkan di meja. Tapi dia penasaran ingin membuka apa yang ada di dalam buku tersebut. Dia pun membukanya dengan perlahan, dan disaat pertama di buka, dia melihat sebuah foto yang tampak di dalam foto itu adalah keluarga yang begitu bahagia.


Dan sebuah USB. Eunha tidak mengerti mengapa ada USB di sana. Dia mengambil USB tersebut, lalu mengantonginya. Dia melihat sebuah ruangan yang begitu sangat gelap, namun di saat dia berjalan semakin jauh ke ruang tersebut maka semakin terihat terang dan lukisan yang begitu sangat berseni di setiap dinding ruangan itu. Dia berdiri di tengah-tengah ruangan itu, lalu melihat di bawahnya sebuah ruangan yang tidak bisa di tembus.


Bagaikan sebuah lantai yang terbuat dari cermin. Di balik lantai itu terlihat seorang pria yang duduk, dan memperhatikan sesuatu yang ada di dalam tangannya. Dan tidak lama kemudian seorang pria masuk ke dalam ruangan itu. Pria yang duduk sebelumnya, segera mengantongi benda yang dia pegang. Mereka bicara dengan sangat serius.


"Apakah kamu sudah meneliti benda yang akau katakan?" Tanya pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


"Aku sudah menelitinya, tapi setelah aku meneliti benda itu menghilang begitu saja. Aku tidak tau apa yang terjadi."


"Apa katamu? Menghilang? Bagaiamana kamu menghilangkan benda langkah seperti itu?"


Pria itu tampak kesal dan memegang kera pakaian pria yang di depannya.


Pria tersebut berusaha untuk menenangkannya.


"Aku akan jelaskan, tapi ini begitu sulit."


"Jangan membuat kesabaranku habis!"


"Aku tau. Tapi ini benar-benar sangat sulit. Aku butuh biaya banyak untuk mengembalikan hasil penelitianku kembali. Dan jika itu berhasil, maka aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Tapi kamu harus ingat! Aku tidak ingin melihatmu menyentuh salah satu barang yang telah aku teliti! Karena itu sangat berbahaya. Jika itu terjadi maka aku tidak akan pernah memaafkanmu."


"Jangan bercanda denganku! Aku akan melakukan apapun demi menyentuh yang seharusnya sudah jadi milikku. Dan ingatlha untuk datang ke tempat pertemuan kita di tanggal segini! Aku akan menunggumu di sana, dan jangan lupa untuk membawa anak laki-lakimu untukku! Itu adalah kesepakatan yang harus kita buat. Dan aku akan menyiapakan semua hal yang kau inginkan!"


Kemudian mereka keluar dari ruangan itu, dan seseorang yang tidak di kenal masuk ke ruangan tersebut, dan berusaha mencari sesuatu di dalam komputer yang ada di ruangan itu. Dia tampak serius, dan orang yang begitu mencurigakan.


Lantainya tiba-tiba berubah jadi gelap, dan sebuah ledakan pun terjadi. Eunha terkejut saat melihat ledakan tersebut dan menutup mulutnya dengan kedua tanganya. Dia berteriak, dan mencari bantuan pada orang lain. Dia melihat orang-orang yang berlari ke sana, sini. Eunha berlari dari tempat itu dan meminta tolong.


"Tolong....tolong....!"


Di saat di berlari minta tolong, seorang pria bertopeng menghampirinya dan membawanya pergi dari tempat itu. Dia merasa lega di saat pria itu menggandengnya. Dan mereka berhenti di sebuah tempat yang sudah jauh dari ruangan gelap tersebut. Dan pria itu mengatakan " Jangan pernah melihatnya! Pergilha dari tempat ini! Maka kamu akan lebih aman, jaga dirimu baik-baik!"


Tidak lama kemudian beberapa orang berpakaian aneh, menangkap pria bertopeng itu. Mereka terlihat menyakitinya dan memukuli pria itu sampai mengeluarkan darah. Dan Eunha berusaha untuk menghentikan apa yang sedang terjadi. Tapi dia tidak bisa menghentikannya, dia mencari sesuatu yang bisa untuk melawan orang-orang tersebut, dan merogo-rogo ke dalam kantong mantelnya. Dia hanya mendapat sebuah USB, dan disaat dia memegang benda itu para penjahat itu berahli pandangan, dan memukulnya.


Eunha tidak tau apa yang terjadi. Penjahat itu mengambil USB tersebut dari tangannya, dan meninggalkan tempat itu. Dia mendekati pria yang terjatuh dengan berlumuran darah itu. Dia mencoba membantunya. Pria itu tersenyum dan mengatakan terima kasih pada Eunha.


Setelah beberapa menit dia membawa pria itu ke dalam ruangan yang sebelumnya. Dia mencari apa yang bisa digunakan untuk membersihkan luka  pria tersebut. Dan sebuah ruangan bercahaya dengan tiba-tiba dan muncul seorang pria parubaya lalu tersenyum pada Eunha.


"Berbahagialha! Dia lebih terluka dari pada dirimu. Obati lukanya! Bawa dia bersamamu, karena masa lalu hanya lha masa lalu. Aku tidak ingin melihatmu larut dalam kesedihan! Bawa dia, dan temani untuk menghadapi segala masalahnya. Kamu lha satu-satunya yang akan bisa mengubah takdir. Jangan pernah mempercayai orang lain selain pria itu! Walaupun kamu bertemu dengan keluargamu, mereka semua akan menyesatkanmu. Biarkan dia datang menemuimu! Kamu adalah takdir yang sudah di tuliskan akan hidup bersamanya selamanya. Jangan pernah ragu dan takut! Semua yang dia lakukan demi masa depan keluargamu. Berbahagialha putriku, maafkan ayah...."


Menghilang perlahan. Eunha tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Dia membuka topeng pria itu, dan melihat bahwa di balik topeng itu adalah Gavin. Dia tidak mengenal siapa pria tersebut.


Tapi dia membersihkan luka pria itu. Dan tiba-tiba bermunculan ular dari segala sudut. Ular yang begitu sangat menakutkan, dan mengulurkan lidahnya menatap Eunha, dan pria yang bersamanya. Eunha ketakutan dan berteriak keras.


"Arghhkkkk."


Eunha membuka matanya, dengan badan yang berkeringat. Dia melihat sekelilingnya. Dan ternyata hanya sebuah mimpi. Noris masuk ke dalam kamar Eunha terburu-buru.


"Ada apa nyonya?" Tanya Noris dengan cemas.


"Aku bermimpi yang aneh." Duduk dengan wajah yang pucat karena ketakutan. Dia menyandarkan badanya di tempat tidur. Noris segera memberikan segelas air hangat pada Eunha.


"Nyonya minum dulu!" Menyodorkan pada Eunha.


"Pergilha tidur! Aku baik-baik saja. Dan itu hanyalha mimpi biasa" Pintah Eunha pada Noris.


Pagi hari


Gavin berdiri di depan jendelanya dan menatap taman Lavender yang mulai menua. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Lyman. Kemarin malam Lyman tidak pulang ke rumah, dan Gavin cemas. Tapi panggilan Gavin tidak di jawab.


"Mengapa anak bocil itu tidak mengangkat telponku? Apakah dia sedang pergi ke suatu tempat atau seseorang menculiknya?" Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam pikiran Gavin. Ponselnya pun berdering dan segera dia mennjawabnya.


"Apa kamu sudah gila? Kemana saja kamu? Mengapa tidak pulang kerumah?" Tanya Gavin dengan nada yang kesal dan tinggi.


"Ini aku tuan."


"Noris? Iya, apa yang ingin kamu katakan?"


"Tuan, nyonya ingin bicara denganmu."

__ADS_1


Gavin kaget mendengarnya dan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia merasa dadanya seakan ingin meledak. Dia tidak bisa berkata-kata. Dia takut jika Eunha meminta surat cerai, dan menyuruhnya untuk mati saja.


"Halo...?"


Suara Eunha, yang membuat hati Gavin serasa meledak. Bahkan dia gagap untuk bicara, ini pertama kalinya dia merasakan hal yang konyol seperti ini.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan menandatanganinya?" Gavin bicara dalam hati.


"Halo tuan muda?" Tanya Noris karena tidak bicara sama sekali. Eunha merasa sedih dan pergi menyiram bunga-bunganya.


"Mengapa dia tidak bicara?" Tanya Eunha dalam hati. Eunha berpikir bahwa Gavin benar-benar sudah tidak mengiginkannya. Dia hanyalha sebuah parasit yang selalu merugikan siapapun. Dia tidak ingin hal buruk terjadi pada Gavin. Setelah memikirkan mimpinya, dan merasa sesuatu benar-benar akan terjadi. Walaupun itu belum tentu benar, tapi dia begitu kwatir dengan Gavin. Wajahnya terlihat sedih.


"Mengapa dia ingin bicara denganku?" Tanya Gavin pada Noris dengan nada yang rendah.


"Aihszzz, mungkin nyonya sedang merindukan tuan muda."


"Benarkah? Apa kamu yakin?"


"Aku tidak yakin. Tapi saat tidur dia bermimpi sampai berkeringat, kelihatanya mimpi buruk. Aku menanyakanya, tapi nyonya mengatakan tidak ada apa-apa."


"Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia baik-baik saja?"


"Nyonya jauh lebih baik, tapi wajahnya terlihat menyedihkan. Beberapa kali dia melihat ke sini, mungkin karena tuan tidak bicara denganya."


"Benarkah begitu? Jika begitu panggilkan dia! Aku akan bicara dengannya."


"Baik-baiklha."


Noris pun memanggil Eunha sembari melambaikan tanganya. "Nyonya, tuan muda ingin bicara denganmu."


Eunha mengabaikan perkataan Noris dan memberikan syarat bahwa dirinya sedang sibuk. Eunha tiba-tiba berubah pikiran dan tidak ingin bicara dengan Gavin.


"Tuan apakah kamu tidak berniat untuk mengirimkan seorang pelayan wanita kesini? Aku sedikit kesulitan karena aku pria. Bagaimana jika nyonya memerlukan sesuatu yang lebih sulit?"


"Apa katamu? Apa jangan-jangan kamu memikirkan hal-hal bodoh? Aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku sudah katakan ini hanya rahasia kita, bagaimana jika orang itu melakukan sesuai perkatanya?"


"Apa? Siapa yang berani mengancam tuan muda? Apakah aku harus kembali kesana?" Tanya Noris dengan nada keras, merasa kwatir dengan Gavin. Eunha melihat Noris, dan penuh tanya. Dia pun mendekati Noris dan menanyakan apa yang terjadi.


"Noris, mengapa kamu tampak kesal? Ada apa?"


Noris masih mengomel pada Gavin, dan tidak memperhatikan bahwa Eunha di sampingnya. Terdengar suara Gavin yang menyuruh Noris untuk diam.


"Apa kamu sudah gila? Pelankan suaramu bagaimana jika ada yang mendengarkan?"


"Aku tidak peduli. Ini semua salah tuan muda. Kamu seharusnya bisa mengirim seseorang kesini, dan aku bisa kesana untuk menjagamu 24 jam. Bagimana jika orang itu membunuhmu? Apakah kamu pikir itu hanya sebuah lelucon?"


"Noris, apa kamu sudah tidak waras? Jelas-jelas seharusnya aku yang mengatakan hal itu. Kamu harus tetap disana dan berjaga, tidak bisa terjadi apa-apa dengannya dan anakku. Jika sesuatu terjadi, maka kamu akan berakhir di tanganku!"


Eunha merampas ponsel dari tangan Noris dan menempelkannya di telinga. Noris merasa takut, dan berpura-pura menyiram bunga.


"Aku akan mencari pria aneh itu. Dan aku rasa dia sudah mengancamku berkali-kali, bahkan dia mengatakan untuk membunuh istri dan anakku juga. Aku tidak bisa membiarkan hal ini. Aku percaya bahwa kamu bisa menjaga mereka! Aku tidak bisa kesana, bagaimana pun Eunha tidak akan pernah memaafkanku, jika aku masih lari dari tanggung jawabku kali ini maka aku tidak bisa menerima diriku sendiri.


 Mohon jangan membuatnya cemas, dan tetaplha bertahan untuk sementara! Aku juga tidak ingin membawa siapapun ke bisnis bawah tanah. Aku tidak ingin menodai tangan yang tidak berdosa, kamu juga jelas tau bahwa keluarga Billy bekerja sama dengan para ******** itu. Oh iya satu lagi, jika Lyman atau siapapun yang menayakan keberadaan kalian jangan katakan! Aku ragu dengan cara berpikir Lyman. Dia akhir-akhir ini bisa melakukan pekerjaan di perusahaan, tapi aku takut jika dia tidak bisa menyimpan rahasia."


Eunha terdiam mendengarkan perkataan Gavin, dia pun merasa semakin cemas dengan keselamatan Gavin. Menginggat apa yang dia mimpikan tadi malam ada hubunganya dengan semua hal yang dia lalui. Dia tidak ingin kehilangan Gavin, walaupun dia begitu sangat membencinya selama beberapa minggu terakhir ini.


Eunha mematikan ponselnya dan memberikan pada Noris. Sedangkan Gavin tidak tau akan berbuat apa. Dia begitu merasa sangat senang, dan dadanya semakin ingin meledak. Dia pun menelpon Lusi sekretarisnya, dan mengatakan dia akan mengambil libur selama beberapa hari. Dengan penuh semangat, dan menyusun pakaiannya ke dalam koper.


Lyman yang lewat dari depan kamar Gavin, melihatnya. Dia kaget, dan berpikir sesuatu pekerjaan yang mendadak terjadi.


"Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu akan pergi dinas? Dengan waktu yang lama?"


"Bukan. Aku ada urusan penting." Mengemasi dengan cepat. Lyman pun beranjak ingin pergi dari tempat itu. Dan Gavin teringat akan Lyman yang tidak kemabali kemarin malam. Dia mendekati Lyman, dan menyuruhnya menjelaskan apa yang terjadi.


"Ehh, bocil sini! Mengapa kamu tidak kembali kemarin malam?"


Lyman menghentikan langkahnya, dan menoleh ke Gavin sembari tersenyum.


Dia takut saat Gavin mengetahui, bahwa dia tidak kembali karena seorang wanita. Dia berusaha mencari alasan, namun alasanya tidak ada yang masuk akal, sampai Gavin mengatakan untuk tetap berusaha keras.


Lyman pun terkejut dan merasa malu. "Itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu, bukan karena menyukainya. Wheheheh."


"Baiklha, jika begitu aku lega. Dan satu hal lagi aku ingin berlibur untuk beberapa hari, aku percayakan urusan bisnis untukmu. Tapi ingat seperti perkataanku waktu itu, kamu tidak bisa menyentuh bisnis yang satu itu!" (Bisnis bawah tanah). Gavin bersemangat itu, memberikan kepercayaan urusan perusahaan pada adeknya Gavin. Dia bicara sembari menyusun kembali pakaiannya.


"Baiklha, aku juga sudah mengerti. Oh iya kak, aku ingin memberitahumu tentang sesuatu."


"Hmm, tentang apa."


"Akhir-akhir ini aku...."  Lyman menjelaskan semua apa yang sedang mencurigakan pada Gavin. Dia takut jika sesuatu yang serius terjadi pada Gavin, dan juga perusahaan. Gavin menanggapinya dengan santai, dan menyuruh agar Lyman


Selalu berhati-hati.


"Lyman, jangan lupa untuk menggunkan trik yang aku jelaskan di saat kamu merasa tidak nyaman, dan selalu ingat untuk membawa orang lain bermain bersamamu. Tapi orang lain yang bisa ikut denganmu, bukanlha Barry atau Carla. Aku percaya kamu bisa mencari seseorang yang tepat untuk menjagamu mulai saat ini!"


"Benarkah? Lalu bagaimana jika aku mencari wanita?" Wajah yang terlihat serius. Gavin tersenyum, sembari merapikan pakaiannya.


"Itu tergantung dirimu. Jika kamu merasa wanita itu bisa memberikan segalanya untukmu, maka lakukanlha. Tapi dia harus benar-benar bisa di andalkan dalam segala hal, dan terpercaya."


"Oke." Bersemangat, dan memeluk kakaknya Gavin. Dia merasa begitu senang, bisa melakukan pekerjaan di perusahaan, dan menjadi orang yang dipercaya oleh Gavin, yang dulunya selalu meremehkan dirinya.


"Aihh,  jangan memelukku! Apa kamu ingin membunuhku?" Merasa tidak nyaman. Lyman tidak peduli dia memang selalu seperti anak kecil, yang terkadang merenge-renge dan memeluk orang lain di saat bahagia.


Barry yang berjalan-jalan di sebuah taman di kota itu sembari melihat bunga-bunga yang penuh dengan warna-warni. Dia menunggu Carla disana, untuk membicarakan kesehatan Carla akhir-akhir ini. Carla adalah teman dekat Lyman, bahkan Lyman pernah mengungkapkan perasaanya pada Carla. Tapi perasaan itu bertepuk sebelah tangan. Lyman sudah lama menyukai Carla bahkan rela berbuat apapun untuk membahagiakan Carla.


Carla terlahir dari keluarga terpandang juga. Mereka berdua menempuh pendidikan di luar negri bersama, dan mendapat penghargaan secara bersama-sama. Carla orang yang cerdas, dan sexi. Dia tidak suka melihat orang lain lebih hebat dari dirinya, karena dia salah satu wanita yang selalu pusat perhatian sejak kecil. Bahkan dia melakukan beberapa kali operasi, untuk mendapatkan kecantikan yang lebih sempurna dan orang lain pun selalu memujinya.


"Ehhh, kak Barry." Carla yang melihat Barry langsung memanggilnya dan melambaikan tangan pada Barry. Dia tersenyum lebar dan berlari mendekati Barry, hingga ingin terjatuh. Barry tersenyum melihat tingkah Carla yang masih gegabah.


"Hati-hati! Tidak akan ada yang mengejarmu. Whehehh."


"Ehh, aku tidak mengatakan begitu. Tapi aku hanya ingin segera melihat wajah jelek mu dari dekat. Whahahah."


"Mengapa kamu ingin bicara denganku? Apakah kakak begitu ingin melihat ku atau, benar-benar merindukanku?"


Carla yang berdiri di depan Barry menanyakan hal itu, dan dengan gemas memeluk Barry tanpa mempedulikan orang lain. Barry terkejut, dan batuk-batuk merasa tidak nyaman. Dia melepaskan tangan Carla.

__ADS_1


"Kenapa? Apakah kakak tidak menyukainya?" Tanya Carla dengan manja.


"Bu...bukan begitu. Hmmm, lebih baik kita mencari tempat duduk dulu. Mari!"


Mengajak Carla untuk duduk. Wajah Barry memerah, merasa malu. Belum ada wanita yang pernah memeluknya selain kakaknya Lusi. Dan itu membuat dirinya sedikit gugup.


"Aku ingin menanyakan keadaanmu. Apa akhir-akhir ini kamu merasa lebih baik? Atau ada perubahan dengan tubuhmu?"


"Aku rasa sedikit ada perubahan. Terkadang aku tidak bisa mengingat apa yang baru aku lakukan. Bahkan masa-masa sekolahku, sudah mulai terlupakan. Aku tidak bia menginggat beberapa hal yang begitu serius, dan perubahan di tubuhku hanya badanku yang semakin gemuk."


"Aihhhzzz, mengapa kamu selalu berpikir, bertambah dan berkurangnya timbangan perubahan yang aneh? Itu kan sudah sewajarnya, jadi jangan berpikir penyakitmu itu hal yang di anggap enteng!"


"Aku rasa, itu tidak begitu penting. Karena ada kak Barry yang akan selalu merawatku jika aku dalam keadaan sakit bukan?"


"Aku katakan, jangan mengatakan hal yang tidak benar! Kamu membuatku merinding saja, bukankah kamu selalu ingin terlihat dalam keadaan yang cantik?"


"Hmm, iya itu benar. Tapi akhir-akhir ini aku berpikir untuk tidak tampil lebih cantik dari siapapun. Tapi aku ingin menjadi seorang yang berguna, dan tetap di cintai setiap orang, bukankah begitu?"


"Sudahlha, aku tidak ingin berdebat denganmu. Bagaimana jika kita pergi mencari sesuatu untuk dimakan?" Tanya Barry dengan malu-malu.


Xxxx yang duduk dengan pandanga yang begitu tajam. Dia melihat lukisan yang ada di dinding sebelah kanannya dan sekali-kali tersenyum sinis. Dia merasa benar-benar akan bertindak lebih cepat. Xxx tidak sabar ingin melihat kehancuran keluarga Firtz dengan tangannya sendiri.


"Kamu!" Melihat salah satu pengawal yang berdiri di depanya, dan memanggilnya. Lalu menyuruh untuk menyiapkan mobil dan pergi ke perusahaan Trowa. Dia ingin melihat apa reaksi Gavin dan Lyman di saat melihat musuh mereka yang sebenarnya. Dia yang dulunya berhati lembut kepada siapapun, dan seketika berubah menjadi seseorang yang kejam dan ingin membalaskan dendam pada keluarg Firtz.


Dia melangkahkan kakinya dengan begitu elegan dan siapa pun yang melihatnya terkagum-kagum. Dengan gaya rambut yang di tata, rapi dan tatapan yang bisa menusuk hati para wanita.


Eunha membantu Noris untuk merapikan rumah. Dia  merasa begitu lega, di saat sudah mendengarkan suara Gavin tadi pagi. Dia bersemangat kembali untuk melakukan pekerjaan rumah. Eunha menyuruh Noris untuk membantunya membawa pakaian yang kotor itu ke sungai yang tidak jauh dari rumahnya.


"Bisakah kamu membantuku membawakan ini?" Tanya Eunha dengan lembut. Noris pun dengan sangat senang hati membawa pakaian di dalam keranjang itu ke sungai. Dia membantu Eunha untuk mencuci pakaian-pakaian tersebut. Eunha tersenyum di saat melihat seorang pria yang seharusnya bekerja untuk mengawal, dan sekarang jadi seperti seorang wanita.


"Apakah kamu pernah bertemu dengan orangtuamu?" Tanya Eunha ingin mengetahui tentang Noris. Tapi Noris diam sebentar, dan menjawab pertanyaan Eunha dengan nada yang tidak bersemangat sama sekali.


"Itu. Aku adalah anak yatim piatu."


Eunha yang mendegar itu merasa begitu sangat kasihan. Dia tertawa, dan mencari topik lain. Eunha tidak ingin melihat orang lain bersedih. Prinsip seperti sangat berguna bagi Eunha, bagaimana pun dia pernah mengalami apa yang di alami Noris.


"Akhhh. Whahahahah. Aku hampir lupa menceritakan tentang mimpiku tadi malam."


"Nyonya, apakah kamu tau?"


"Ehh, tentang apa?" Tanya Eunha dengan senyuman.


"Orangtuaku tidak pernah menerimaku, dan menitipkanku di tempat yang layak untuk di tempati oleh orang lain sebagai yatim piatu. Tapi sangat berbeda denganku, aku di suruh orangtuaku untuk berpira-pura menjadi anak yatim, dan pergi kesana. Tapi aku tidak ingin melakukanya, karena merasa sangat takut, dan tidak ingin kehilangan mereka. Tapi mereka selalu memukuliku, dan mengatakan bahwa aku adalah anak pembawa sial, dan tidak pantas untuk memanggil mereka sebagai orangtuaku.


Dan pada saat itu, aku merasa sedih dan tidak bisa mengatakan apapun. Aku melihat ayahku mabuk, dan ibuku pulang bersama pria kaya. Ibu mencari duit, dengan cara seperti itu. Sedangkan ayahku hanya  bisa melakukan hal kotor, seperti pembunuh suruhan. Dan suatu hari aku melihat ayahku di bunuh sendiri oleh orang yang menyuruhnya melakukan tugas kotor itu. Tapi ayahku tidak di bayar sesuai perkataan, dan jatuh ke dalam pertengkaran, sehingga ayah di tusuk, dan di pukuli sampai tubuhnya penuh dengan darah.


Aku melihat seseorang anak yang berumur sekitar 12 tahun, dan membawa beberapa pengawal lalu membawa sekumpulan pria baj*** itu ke kantor polisi. Anak tersebut mengantarku ke rumah, dan menyuruh pengawalnya untuk mengurus mayat ayah. Dan tanpa diduga setelah di rumah aku mendapati ibuku yang terletak tak bernyawa di lantai. Aku tidak tau apa yang terjadi, dan aku melihat seorang pria parubaya keluar dari rumahku diam-diam dengan sebuah benda tajam di tanganya.


Aku berusaha untuk menanyakan padanya apa yang telah di lakukan pada ibuku. Tapi dia mala ingin membunuhku dan menamparku karena aku berkata kasar padanya. Lagi-lagi anak yang menolongku tadi datang, dan menyuruh pengawalnya untuk membereskan apa yang sedang terjadi. Setelah beberapa jam anak itu, bagaikan malaikat bagiku. Dia mengatakan agar aku tidak bersedih, karena di dunia ini hanya ada orang-orang yang bermakna dan punya takdir masing-masing.


Dia berusaha menenangkanku dengan menepuk-nepuk punggungku. Tapi di saat ayahnya melihat kami dekat, dia di tarik dan di tampar. Aku mendegarkan ayahnya mengatakan "Apa kamu sudah gila? Siapa dia? Mengapa kamu menolongnya?"


Aku terkejut dan merasa kasihan melihat anak itu. Ayahnyapun menyuruhnya untuk kembali. Tapi tidak sampai di situ, anak itu menyuruh salah satu pengawal untuk menyerahkanku ke panti asuhan, dan mencari tahu namaku.


Setelah itu dia sering datang ke panti asuhan, dan membeli beberapa anak-anak lainya mainan. Terkecuali aku, dia tidak membelikkanku tapi memberiku mainnanya dan memintaku untuk tetap berusaha lebih baik.


Setiap di datang kepanti asuhan, ayahnya sangat marah dan memukulnya. Bahkan ayahnya pernah mengancam untuk menutup panti tersebut. Aku merasa begitu sangat sedih. Kami tidak bertemu selama 10 tahun. Dan di saat kami sudah besar tidak sengaja aku menolongnya di saat beberapa orang yang mencurigakan mencurinya. Waktu itu aku tidak mengenalinya, tapi melihat tatapan, dan bentuk wajahnya yang masih sama itu membuatku menginggat anak tersebut.


Dia menanyakan tentangku, dan aku menanyakan tentanganya. Kami ternyata saling mengenal satu sama lain. Dia pun berjanji jika sudah sukses akan memberikanku kehidupan yang layak. Aku pikir itu hanyalha janji yang mungkin nantinya juga akan terlupakan. Tapi tidak setelah beberapa tahun kemudian di saat dia sudah sukses, dia datang menemuiku dan membawaku bersamanya.


Dia menyuruhku untuk berlatih lebih giat, dan mengajariku berbagai tips untuk menjadi seorang pengawal yang handal. Dari antara pengawal, hanya aku yang bisa ikut kemanapun bersamany, bahkan masuk ke kamarnya hanya bisa di lakuakan olehku selain pelayan. Dia memberikan banyak motivasi, dan membawaku sekali-kali bermain denganya.


Tapi aku masih sangat merasa bersalah, karena ayahnya selalu menekan dirinya untuk melakukan bisnis yang tidak seharusnya di lakukannya. Dia masuk ke bisnis yang begitu rahasia, dan semuanya berubah. Dia jarang tersenyum, dan bersenang-senang. Wajahnya tidak pernah tersenyum, dan terlihat bahagia setelah dia masuk ke dunia bisnis itu. Tapi aku tetap bersamanya, dan berjanji pada diriku untuk tetap setia melakukan segala apapun yang dia perintahkan."


Eunha tercengang, dan tidak menyangka bahwa perjalan hidup Noris sangatlha rumit. "Apakah anak itu adalah Gavin?" Tanya Eunha dengan ragu.


"Hmm. Dia adalah orang yang selalu menyelamatkanku. Tapi orang lain tidak akan pernah percaya dengan hal ini. Karena dia begitu dingin, dan angkuh pada orang lain bukan?"


Eunha menghela napas, dan mencari topik lainnya. Dia menyuruh Noris untuk tidak menangis, karena melihat kedua sudut matanya sedang menahan air mata.


"Noris, apakah kamu sudah punya pacar? Ehhh, kamu tidak boleh menangis! Apakah kamu seorang anak gadis?"


"Pacar? Aku tidak punya. Tapi aku akan segera mencarinya. Whehehehe."


"Jika kamu punya pacar, kamu harus mengenalkanya denganku!"


"Baiklha, nyonya tidak usah kwatir! Aku pasti akan memperlihatkanya paling pertama pada nyonya. Aku janji deh."


"Wah itu harus. Tapi aku rasa kamu tidak usah memanggilku seperti itu. Kamu bisa memanggilku dengan panggilan lainnya! Itu akan lebih baik bagus untuk ku dengar."


Perusahaan Trowa yang sedang sibuk bekerja. Xxx masuk dengan beberapa pengawal, dan memasukkan kedua tanganya ke dalam kantong celana. Karywan yang melihatnya langsung menatap dengan penuh cinta, dan hati yang berbunga-bunga.


"Wah,,, tampannya. Siapa dia?" Tanya salah satu karywan pada karywan lainnya. Mereka terpanah dengan ke tampanan xxx. Lusi tidak melihatnya, karena sedang sibuk mengetik dokumen yang akan di gunakan untuk rapat dua jam kedepannya.


Xxx berdiri di depan karywan untuk melaporkan dan meminta izin untuk menemui atasanya. Tapi bagian admin tidak berani untuk mengatasinya, karena terpanah dengan ketampanan pria itu. Dia menyuruh xxx untuk menuju ke wanita yang sedang mengetik di sebelah utara tersebut. Xxx tersenyum sinis dan mengatakan "Mengapa harus sama wanita itu? Bukankah ini tempat untuk malapor?"


"I...iya tapi  nyonya yang disana lha yang menangani hal ini sepenuhnya. Mari saya antarkan pak!"


Karywan tersebut memanggil Lusi dengan nada yang pelan.


"Syuttt... ehh.syuuttt!"


"Ada apa? Apa kamu sudah menyelesaikan  pekerjaanmu? Jika  sudah maka letakkan di mejaku! Aku akan melihatnya sebentar lagi."


"Bu...bukan begitu. Ini ada tamu, bisakah kamu mengantarkanya pada pak presdir?"


"Katakan padanya kita tidak menerima tamu hari ini! Presdir tidak ingin menemui siapapun. Apakah dia sudah ada janji sebelumnya?"


Xxx mengetuk-etuk meja kerja Lusi dengan jari-jari tanganya. Lusi pun menghentikan komputernya, lalu melihat Xxx. Dia tercengang, dan menutup mulutnya dengan kedua tanganya, sembari meneriaki Xxx. Dengan posisi yang marah, dan berdiri.


"Ehhh, kamu. Apa yang ingin kamu lakukan di sini?"


Xxx merasa lucu, dan tersenyum melihat ekspresi Lusi. Karywan lain pada berbisik mengatakan bahwa Lusi sudah gila, sampai terkejut dan meneriaki pria tampan seperti Xxx.


"Aku pikir, dia hanya ingin mencari perhatian dari pria itu."

__ADS_1


"Aku juga merasa seperti itu. Lihat dia bahkan menggunakn ekspresi seperti Ba** kelaparan itu." Bisik-bisik dari karywan yang melihat gal itu. Lusi melirik para karywan tersebut, dan menyilangkan kedua tanganya di depan dadanya.


"Ekhemmm. Bukankah kamu sedang mencariku? Ada apa? Apa kamu ingin meminta maaf untuk kejadian hari itu?" Tanya Lusi dengan penuh percaya diri. Xxx mendekatkan wajahnya pada Lusi sembari memperhatikanya. Lalu mundur  dan tersenyum mengejek. Karywan lain merasa iri, dan ingin memeluk pria itu segera.


__ADS_2