
Sebulan kemudian.
Waktu begitu cepat berlalu. Gavin seperti biasanya pergi ke perusahaan. Dan Eunha tetap dirumah, dan menjalani hidup seperti biasanya juga.
Krystal menemui Gavin di dalam ruanganya. Dia mengatakan tentang kematian William bukanlha sebuah pembunuhan, melainkan bunuh diri. Namun Gavin semakin penasaran dengan tujuan Krystal mengatakan hal tersebut.
"Apakah kamu berpikir aku akan mempercayaimu?"
"Gavin, apa kamu sudah mengetahui sesuatu?"
Krystal merasa kwatir dan cemas. Dia takut Gavin mengetahui semuanya, dan tentang dirinya yang bukan kakak kandungnya. Dia tidak ingin kehilangan martabat yang sudah di berikan oleh keluarga Firtz.
"Iya. Aku sudah mengetahuinya."
Krystal menatap Gavin dengan ke gelisahan. Dan tiba-tiba berlutut di hadapan Gavin sembari mengatakan "Maaf kan aku Gavin. Walaupun aku bukan saudara kandungmu tapi aku menganggapmu sebagai adikku sendiri. Mungkin William juga akan berusaha lebih keras demi kebahagiaanmu, jika dia masih hidup."
"Apa-apan ini? Diam! Aku tidak ingin melihatmu! Aku tidak ingin mendengarkan sapatah katapun. Dan aku sarankan lebih baik kamu pergi! Sebelum aku berubah pikiran."
Gavin kebingungan. Tadinya dia ingin mencari tau tentang Eunha, lalu berpura-pura mengetahui sesuatu. Namun yang dia dengar sebuah hal yang membingungkan. Dia pun merasa kecewa, dan tidak yakin akan hal itu.
Krystal berpura-pura menangis dan segera beranjak dari ruangan Gavin. Tidak lama setelah Krystal pergi Nyonya Firtz datang menemui Gavin. Dia terlihat begitu santai, dan elegan seperti biasanya.
"Selamat datang nyonya." Sapa Lusi sembari tersenyum.
"Hey Lusi. Apa kabar?" Dengan nada suara yang begitu sangat lembut.
"Baik. Apakah nyonya ingin menemui Tuan Gavin?"
"Aku, sungguh berterima kasih karena kamu bisa memahaminya." Tersenyum dan melangkahkan kakinya.
Nyonya Firtz mendorong pintu ruangan tersebut. Dia mendapati Gavin sedang menandatangani kontrak. Dia masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Gavin apakah kamu punya waktu sebentar?"
Gavin mengabaikan perkataan Ibunya. Dia merasa kesal karena menginggat perkataan Krystal. Dia berusaha tenang agar bisa menanyakan kebenaranya pada ibunya. Namun emosionalnya begitu sangat tinggi.
"Gavin? Apakah kamu sedang memikirkan sesuatu?"
__ADS_1
"Aku sangat sibuk, dan tidak punya waktu untuk membicarakan hal yang tidak penting."
Nyonya Firtz duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Dia menatap Gavin, sembari menggelangkan kepalanya.
Gavin pun meletakkan pena di tanganya sembari melihat ibunya. Dia berpikir bahwa ibunya ingin membicarakan hal yang apa di katakan Krystal tadi.
"Gavin jangan terlalu serius seperti itu! Ibu hanya ingin mengatakan sesuatu hal penting."
"Aku sudah mengetahuinya. Dan aku tidak punya banyak waktu lebih baik ibu pulang, dan menemani ayah!"
Sikap yang begitu dingin. Gavin beranjak dari tempat duduknya dan menggambil sebuah dokumen tentang perusahaanya yang ada di kota C. Ibunya kebingungan disaat dia menyuruh nyonya Firtz untuk memberikan dokumen itu pada Krystal.
"Gavin? Bukankah ini dokumen rahasia?"
"Iya aku tau itu dokumen rahasia. Namun aku rasa sebagai saudara tertua dia juga perlu mengetahui ini."
"Apa yang kamu katakan?"
"Ibu, walaupun dia tidak saudara kandungku tapi aku sudah menganggapnya seperti saudara kandung. Dan apakah ibu ingin mengatakan hal itu?"
Ibunya tercengang dan kebingungan. Dia tidak bisa mengatakan apa pun disaat mengetahui bahwa Gavin telah mengetahuinya. Sela mengatakan agar Gavin, tidak melakukan hal itu. Karena dia berpikir bahwa Krystal melakukan kerja sama dengan Billy.
Dia berpikir kematian adiknya Seize ibu kandung Gavin adalah sebuah pembunuhan. Karena hal itu, membuat Billy ingin menghancurkan keluarga Firtz dengan berkeping-keping.
Sela berusaha menghindarinya, dan melakukan sebuah kerja sama dengan sebuah perusahaan terbaik di Eropa.
Dia melakukan itu untuk pecegahan hal ini. Tanpa sepengetahuan siapa pun. Dia sudah berjanji untuk sahabatnya Seize, agar menjaga dan membesarkan Gavin seperti anaknya sendiri.
Dia mengetahui tentang kematian sahabatnya itu. Namun dia tidak punya keberanian untuk mengatakan pada siapapun. Dia hanya bisa melakukan sesuai permintaan sahabatnya itu.
Namun masalah semakin rumit, jika terus seperti itu. Nyonya Firtz pun menjelaskan sesuatu hal tentang Krystal dan William.
Malam hari
Gavin pulang ke apartemen dengan keadaan mabuk. Eunha yang melihat Gavin, merasa ada sesuatu yang tidak benar. Dia menata Gavin ke dalam kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
Berusaha menghindar dari Eunha sembari jalan dengan oleng-oleng. Gavin melangkahkan kakinya menaiki tangga, dan terjatuh. Eunha kwatir dan memapahnya.
"Apa kamu sudah bosan hidup?" Melihat Eunha dan bicara dengan nada tidak jelas. Eunha memanggil Noris pengawalnya dan menyuruh untuk membantu Gavin ke kamarnya.
"Ada apa dengannya?" Eunha mengaruk kepalanya dengan kebingungan. Setelah Gavin di atas tempat tidur, dia membantunya untuk melepaskan sepatu Gavin.
Tidak lama kemudian di saat Eunha beranjak ingin pergi dari ruangan itu, Gavin berbicara.
"Aku akan menemukannya, jika memang benar begitu. Dan mengapa keluarga Sun melakukan hal itu juga?"
Bicara tidak jelas. Ehnha mengerutkan dahinya dan memikirkan apa yang di katakan Gavin.
"Keluarga Sun? Apakah dia tau tentang keluarga Sun?"
Rumah White
Nyonya Firtz bicara dengan tuan Firtz. Mereka membicarakan tentang anak bungsu mereka Lyman, yang sedang berada di luar Negri. Mereka memikirkan untuk memberitahukan tentang Krystal dan William.
"Pa, kita juga harus melihat Gavin! Bagaimana pun dia sudah seharusnya mengetahui semua ini!"
Duduk di samping suaminya yang terbaring di tempat tidur. Tuan Firtz makin hari semakin buruk kondisinya. Hal itu yang membuat Sela kwatir, tentang masa depan Gavin dan Lyman.
Dia berusaha untuk memperbaiki semuanya dari awal. Namun itu sangat sulit untuk di lakukan.
"Iya aku juga berpikir untuk hal ini. Tapi bagaimana jika Gavin tidak mempercayainya? Atau sebaliknya? Aku takut dia akan membenciku."
Seorang ayah yang kwatir, dan menutupi segala hal yang tidak ingin dia beritahu pada anaknya. Dia selalu beepikir untuk mengataknya namun dia takut anaknya akan pergi menjauh dan membencinya.
"Kamu jangan kwatir! Jika itu terjadi, maka kita akan tetap memperbaikinya! Bagaimana pun mereka sudah sepantasnya mengetahui semua. Aku tau itu sulit, tapi kita juga sudah tua, dan bagaimana pun kita harus melepaskan mereka dari bisnis bawah tanah."
"Tapi aku sudah mendengar bahwa Gavin membunuh dengan bisnis bawah tanah. Pasti dia juga sudah bertemu dengan para mafia lainya. Dan aku takut dia berhadapan dengan keluarga Danger. Itu bisa menimbulkan masalah besar. Danger sudah lama mencari kesempatan untuk menenggelamkan perusahaan Trowa."
"Aku akan ikut membantumu. Walaupun itu tidak mudah, tapi aku akan tetap berpihak pada perusahaan Trowa. Dan kamu jangan kwatir! Gavin pasti bisa mengahadapi masalah ini, dan kita juga memerlukan bantuan Lyman. Minggu depan dia sudah menyelesaikan studynya, dan sudah saatnya dia ikut campur dengan perusahaan."
"Baiklha. Jika begitu kamu tentukan pertemuan setelah Lyman datang! Aku akan berbicara pada Gavin, pelan-pelan. Gimana pun dia tidak bisa meneruskan kehidupan bawah tanah."
Nyonya Firtz dan tuan Firtz yang berusaha untuk memberitahu anak-anaknya yang terbaik. Mereka begitu sangat kwatir dengan masa depan Gavin dan Lyman. Mereka berencana untuk memberitahukan semua hal yang belum pernah mereka beritahukan sebelumnya.
__ADS_1
Sementara Krystal berada di bawah pengaruh Billy. Dia menjadi salah satu alat, untuk menghancurkan keluarga Firtz. Krystal di pengaruhi oleh Billy dengan mengatakan bahwa orangtua Krystal dibunuh oleh keluarga Firtz. Maka dari itu keluarga Firtz ingin membalas dengan membesarkan Krystal dan William. Namun setelah besar, tuan Firtz dengan sengaja membunuh William. Dan Krystal begitu membenci keluarga itu sejak saat itu.