
Pukul 21:35Pm
Noris mendatangi Eunha, yang sedang berdiri di dekat jendela kamarnya. Noris menyuruh Eunha untuk ikut dengannya. Tanpa pikir panjang Eunha, ikut dengan senang hati. Walaupun begitu banyak pertanyaan yang ingin di ajukan Eunha. Namun mendengarkan Noris, yang meminta Eunha pergi denganya sesuai perintah Gavin.
Sebuah gedung yang terlihat sudah lama di tinggalkan. Gavin jongkok di hadapan seseorang yang duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Pria itu terlihat begitu membuat Gavin kesal, sehingga Gavin mencoba menayakan sesuatu yang mungkin di ketahui pria itu.
Tapi pria itu, tidak menjawab apapun. Dia hanya diam dan tertawa. Wajahnya dipukul, bahkan sampai berdarah. Namun tetap tidak mau bicara. Gavin berusaha untuk membuatnya mengatakan siapa dalang, yang mengirimkan barang-barang terlarang ke perusahaannya.
Sangking kesalnya, Gavin memukul pria itu berkali-kali. Tetap tidak mau bicara.
Eunha tiba di tempat itu, dan melihat Gavin memukul pria itu sampai berdarah.
Eunha berlari ke hadapan Gavin, dan mencoba untuk menghentikannya.
Gavin yang melihat itu, langsung marah dan menyingkirkan Eunha. Dia sangat kesal, karena seseorang berusaha merusak perusahaan nya. Dia juga heran dengan akhir-akhir ini, yang membuat nya harus membunuh beberapa orang yang tidak di ketahui identitasnya.
Namun setiap dia membunuh orang-orang itu, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Untuk itu, dia ingin pria yang satu ini tidak mati. Melainkan Gavin menyuruhnya untuk mengatakan siapa yang menyuruhnya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Gavin tolong hentikan!" Eunha memeluk Gavin untuk menghentikanya. Hal itu membuat Gavin, mengingat William waktu menceritakan nama Eunha. Dia pun mendorong secara keras Eunha.
"Apa kamu sudah tidak ingin hidup?"
Gavin menyuruh Noris membawa Eunha, untuk menyaksikan nya menembak pria ini lagi. Tetapi Gavin tiba-tiba berubah pikiran, dan menyuruh Eunha yang akan menembak pria itu sampai mati.
"Karena kamu tidak ingin bicara maka, aku akan membunuhmu. Aku tau, siapa yang menyuruhmu melakukan ini. Untuk itu juga aku akan menyuruh wanita ini membunuhmu."
Tersenyum jahat. Dia memberikan senjata miliknya pada Eunha. Sembari menatap pria itu dengan penuh tanya. Eunha sontak ketakutan. Bahkan dia pun tidak pernah memegang senjata. Tangannya bergetar, dan merasa begitu ketakutan.
Dia menatap Gavin, sembari matanya berkaca-kaca. Dia melemparkan senjata itu, dan memohon pada Gavin untuk tidak melakukan hal itu lagi. Dalam pikiran Gavin, menjadi semakin kesal dan menampar Eunha.
"Siapa yang menyuruhmu membantahku?"
"Ta,,ta,,tapi . Tapi dia mungkin ada maksud melakukan hal itu."
"Kamu benar. Tapi aku tidak peduli dengan hidupnya, bagaimana ini?"
"Gavin jangan melakukan hal itu! Kamu akan di penjara seumur hidup jika membunuh."
__ADS_1
"Jangan mengatakan hal yang terlihat bodoh! Kamu juga seorang pembunuh."
Amarah Gavin meledak. Dia teringat William yang terbunuh, dan semua terjadi hanya karena Eunha.
Pria itu meyaksikan pertengkaran Gavin, dan Eunha. Tapi dia teringat akan wanita yang memohon pada Gavin, demi hidupnya.
"Noris, bawahkan aku senjata! Berikan pada ****** ini!"
"Aku tidak mau melakukanya, aku,,, aku,,, aku tidak bisa. Dia juga manusia, yang perlu hidup."
"Apakah kamu mencoba menceramaiku?"
"Jika kamu masih berpikir, untuk tidak melakukanya maka akan ku bakar dirimu di dalam ini bersama pria itu."
Eunha merasa lemah tak berdaya. Dia duduk di lantai dan tak mampu untuk berdiri. Air matanya mengalir perlahan, dan dia menangis terisak-isak. Pria yang babak belur itu, merasa kasihan dengan wanita itu. Dia melihat ke arah Eunha, dan menatap Gavin.
Noris dan pengawal lainnya terkejut mendengarkan perkataan Gavin. Mereka begitu panik. Noris mendekati Gavin, sembari membisikkan.
"Bos, lebih baik aku yang tembak mati pria itu! Bagaimana jika tuan dan nyonya besar mengetahui hal ini?"
"Aku tidak peduli dengan hal itu. Aku juga sudah lama menahan amarah, untuk membunuh si ****** ini. Dia harus mati, seperti kakakku. Dia telah mempermainkan perasaan, dan juga membunuhnya."
Gavin yang melihat hal itu langsung tersenyum jahat, sembari mendekat.
Para pengawal Gavin, langsung menaikkan senjata dan mengarahkanya pada Eunha. Eunha melihat semua pengawal itu, dan mundur secara perlahan.
"Wow,,, apakah kamu juga berniat membunuhku? Dasar wanita tidak tau diri. Beginikah caramu membunuh William waktu itu?"
"Jangan mendekat!"
"Nyali yang sangat besar."
Tidak lama kemudian nyonya Firtz datang. Dia mengetahui Gavin membawa Eunha, ke tempat yang tidak pantas untuk di lihat siapapun. Dia bersama dengan para pegawalnya.
"Bos, nyonya besar ada disini."
"Apa?"
Gavin beranjak secepat mungkin, dia pun ketakutan di saat ibunya akan tau bahwa dirinya menikah tanpa cinta.
__ADS_1
"Noris, bawah wanita menjijikkan itu!"
"Baik bos."
Gavin pun pergi keluar dari jalan rahasia. Noris membawa Eunha, bersamanya. Ibu Gavin, menghela napas di saat mengetahui Gavin membawa Eunha untuk melakukan hal yang seharusnya rahasia seperti itu.
"Sampai kapan, dia terus membawa Eunha? Apakah dia sama seperti ayahnya, tidak punya hati?"
Di tengah perjalanan Eunha jatuh pingsan. Noris segera menggendongnya, sebelum nyonya Firtz datang.
Ponsel Nyonya Firtz berdering. Dia melihat panggilan dari Gavin. Dia pun segera menempelkan ponselnya ke telinga dan bicara.
"Ibu, bagaimana kabarmu?"
"Apakah dia sengaja meneleponku?" Bicara dalam hati.
Nyonya Firtz yang berjalan ke arah gedung itu, langsung berdiri dan menyuruh pengawalnya berhenti.
"Ada apa menelepon ibu semalam ini?"
"Anu,,, itu. Ehh,,, aku berencana besok ke rumah."
"Lalu?"
"Maksudku, agar ibu mengetahuinya."
"Ibu ingin menemuimu, dimana kamu?"
"Aku sedang di apartemen. Mengapa ibu tiba-tiba ingin menemuiku?"
"Aku akan kesana!"
"Baiklha, aku akan menunggu ibu."
Nyonya Firtz pun, berharap Eunha sudah tidak apa-apa. Mereka pergi meninggalkan tempat itu. Nyonya Firtz sedikit kesal dengan kelakuan anaknya, yang sama persis seperti tuan Firtz.
Dia tidak ingin hal yang pernah dia alami, di alami orang lain. Dia selalu berharap untuk hal itu. Namun Gavin tidak bisa di hindari lagi. Bagaimana pun melakukan perbuatan bawah tanah, adalah sesuatu yang sangat rahasia. Namun dia tidak menyadari telah meyeret seseorang kesana.
Eunha tidak pernah bisa mengerti apa yang terjadi. Dia selalu berharap untuk menjalankan kehidupan yang nyaman, dan damai. Tetapi tetap sama. Sejak kecil, dan setelah menikah dia berpikir, telah membebani orang lain. Dia tidak ingin melakukan hal itu, tapi jelas terlihat dari sifat orang-orang bagaimana memperlakukanya.
__ADS_1
~Jangan lupa menggunakan masker di saat bepergian! Tetap jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas sembuh seperti sedia kalah."