Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 23


__ADS_3

Dia duduk dan menuliskan sebuah puisi di dalam sebuah buku harian. Dia tersenyum, dan menyimpan buku itu di raknya. Dia kembali melakukan pekerjaannya. Dia menjemur, beberapa pakaian di halaman rumahnya.


Perusahaan Trowa


Gavin yang duduk di ruangannya dengan wajah yang tidak tersenyum, dan tidak semangat sama sekali. Lusi sebagai sekretarisnya begitu sibuk melakukan pekerjaan perusahaan yang banyak akhir-akhir ini.


Dia memperhatikan atasanya itu. Dia merasa kasihan, tapi tidak tau apa yang membuat Gavin terlihat seperti itu. Lusi meletakkan dokumen-dokumen penting di meja Gavin.


"Eunha? Mengapa kamu kesini?"


Lusi terkejut, dia tidak mengerti mengapa Gavin menyebut nama Eunha. Padahal di ruangan tersebut hanya ada Gavin dan dirinya. Lusi melihat sekelilingnya dan segera beranjak dari tempat itu.


Gavin berdiri dan menarik tangan Lusi. "Maafkan aku! Aku tidak punya pilihan untuk melakukan itu. Aku tidak bisa melupakan hal buruk yang telah aku lakukan untukmu."


"Ehh tuan. Tu,,,tuan ini saya Lusi."


Sembari memberontak melepaskan gengaman Gavin. Namun Gavin tidak ingin melepaskannya.


"Mengapa? Apakah kamu sudah membenciku? Aku benar-benar merindukanmu." Memeluk dengan erat.


Lusi tidak mampu memberontak. Dia ketakutan dan kwatir. Tidak lama kemudian seseorang membuka pintu ruangan Gavin. Yaitu Lyman Firtz yang berdiri tidak mengerti apa yang sedang dia pikirkan.


"Ehhh." Lusi panik dan melepaskan dirinya dari Gavin secara paksa. Gavin pun tersadar, dan merasa begitu malu.


"Ada apa? Mengapa kamu disini?" Tanya Gavin pada Lusi. Dia melihat sekelilingnya. "Kemana wanita itu?"


Lyman menghela napas, dan tidak mengerti apa yang di katakan oleh Gavin. Dia menyuruh Lusi Jane untuk mengatakan sesuatu.


"Bu,,, bukan seperti yang tuan lihat. Tuan muda ini, hanya menyebut nama nyonya muda, dan kemudian memelukku. Hanya itu, aku pikir keadaan tuan muda tidak baik."


"Keluarlha! Jangan biarkan siapapun mengetahui hal ini!" Lyman terlihat begitu berubah sejak berurusan dengan perusahaan. Gavin hanya diam, dan tidak mengerti apa yang terjadi. Dia berdiri di dekat jendela ruanganya. Dia melihat kota itu dengan wajah yang penuh kesedihan.


"Kak, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Lyman dengan rasa kwatir.


"Aku rasa, aku benar-benar sedang sakit." Jawab Gavin dengan nada kecil.


"Jika kau ingin menemuinya, maka pergilha!


Lyman mendekati Gavin dan merangkulnya. Mereka terlihat begitu akrab akhir-akhir ini. Lyman tidak ingin melihat Gavin larut dalam penyesalan.


"Bagaimana bisa aku menemuinya? Dia pasti sangat membenciku. Bahkan dia tidak ingin melihatku." Jawab Gavin dengan sedih.


"Bagaimana bisa kamu tau, dia akan membencimu?"


"Aku sudah memberikan kehidupan yang keras, bahkan aku membuangnya dengan jauh."

__ADS_1


Lyman melepaskan rangkulannya dan memegang kedua pundak Gavin dan menatap Gavin.


"Lihat aku! Apakah kamu pikir aku dapat bertahan jadi seorang pebisnis, tanpamu? Kamu meyakinkanku, dan memberikanku kesempatan. Kamu juga bisa meyakinkannya! Dia tidak akan membencimu! Percayalha!"


Gavin terdiam dan tidak tau mau ngomong apa. Lyman menurunkan tanganya, dan memasukkannya ke dalam  kantong celana.


"Aku tidak percaya denganmu. Aku pikir kamu akan melakukan hal yang begitu bertanggung jawab. Tapi nyatanya kamu hanya bisa menyakiti perasaan orang yang begitu lemah. Aku tidak akan melakukan bisnis ini lagi. Aku akan pergi ke luar negri, dan mencari pekerjaan lain."


Lyman membalikkan badanya dan beranjak ingin pergi dari ruangan itu.


Gavin menoleh Lyman "Tunggu!" Lyman berhenti dan melirik ke arah Gavin.


"Jika kamu pergi ke luar negri, bagaimana perusahaan ini?"


"Aku tidak ingin melakukan bisnis yang membosankan seperti ini."


"Tapi, aku tidak bisa meninggalkan perusahaan tanpa seseorang yang bisa aku percaya."


"Apa kamu juga akan pergi keluar negri?" Tanya Lyman dengan ketus.


"Aku akan menemui wanita itu. Aku akan membawanya pulang, dan memberikan kehidupan yang baik."


Lyman membalikkan badanya, dan melihat Gavin. Dia tersenyum dan merasa bahagia. Gavin juga tersenyum, dan mereka berdua berpelukan.


Terdengar suara pintu yang terbuka. Barry yang membawa setumpuk dokumen, dari rumah white dengan susah payah. Karena terkejut melihat Gavin dan Lyman yang berpelukan denagn tidak sengaja dia menjatuhkan dokumen-dokumen tersebut.


Lyman tersenyum dan membisikkan "Pergilha! Aku tidak akan memberitahu orang lain. Kamu juga tidak perlu memberitahuku tempat seperti apa itu!"


Menepuk punggung Gavin, dan melepaskannya. "Wah, mengapa kamu menjatuhkan dokumennya?"


Gavin tersenyum melihat hal itu, dan cepat beranjak dari tempat itu. "Heh, mau kemana kamu?"


Gavin tidak menjawabnya, dan berjalan tanpa memperdulikan perkataan Barry. Lusi merasa malu, dan menundukkan kepalanya. "Lusi!"


"Hah?"


"Aku ingin cuty beberapa hari, tolong kamu tangani perusahaan! Lyman akan mengantikanku untuk sementara waktu. Aku serahkan pengawasan dari mu."


"Cuty? Bu...bukankah kita akan menghadiri banyak pertemuan, dan juga kita harus mengadakan rapat mengenai bisnis Diamond."


"Aku percaya kalian bisa melakukan yang terbaik. Aku akan segera kembali."


"Ba...baik tuan."


Lyman membantu Barry mengumpulkan kembali dokumen-dokumen tersebut. "Barry? Apakah kamu merasa akhir-akhir ini ada yang aneh di sekitar rumah white?"

__ADS_1


"Nggak, aku tidak ada merasa aneh." Jawab Barry sembari meletakkan dokumen yang dia kumpulkan di meja kerja.


"Mengapa kamu menanyakan hal itu?"


"Aku hanya penasaran saja, mungkin aku banyak berhalusinasi, bahkan berpikir yang aneh-aneh."


"Benarkah? Atau apakah kamu sedang mengejar seorang wanita?"


Barry bicara seakan meledek, dan membaca dokumen yang sudah dia rapikan itu. Lyman berdiri dan menginggat


* Di malam hari yang begitu dingin. Sebuah rumah yang terlihat mewah dan di awasi beberapa pengawal. Yaitu rumah white, yang di tempati oleh Gavin dan Lyman. Pada pukul 21:45Pm Lyman mencari udara segar di depan kamarnya, dan menatap taman Lavender milik almarhum ibunya.


"Benda apa itu?" Bicara pelan dan memperhatikan sesuatu yang tampak tidak jelas dari depan kamarnya.


Benda yang semakin mendekati rumah white. Benda itu tampak sebuah kamera yang dilakukan dengan terbang di udara. Lyman yang melihat hal itu merasa ada yang aneh.


"Bukankah itu camera terbang? Mengapa camera itu sepertinya sedang mengintai rumah ini?"


Lyman memperhatikan benda itu selama satu jam Lalu setelahnya, dia melihat seseorang yang keluar dari balik pohon yang tidak jauh dari depan gerbang rumah white. Hal itu sudah terjadi selama tiga kali dalam sebulan.


Barry yang melihat komputer itu, menoleh ke arah Lyman. Dia menggambil sebuah dokumen dan menyodorkannya pada Lyman. "Apakah kamu akan bermalas-malasan di saat bekerja?"


"Ehh." Kaget.


"Coba lihat ini, sepertinya ada sebuah file aneh yang baru masuk ke komputer Gavin! Sebelumnya aku tidak pernah melihat file ini."


Barry memperlihatkan pada Lyman sebuah file yang di kirim 4 menit lalu. File itu tampak aneh. Barry sudah bekerja selama bertahun-tahun dengan Gavin, dia belum pernah melihat file itu. Bahkan disaat Gavin menyuruhnya membantu untuk melakukan pemeriksaan, file itu tidak pernah muncul. Barry adalah seorang yang bekerja sebagai dokter dan sekaligus sebagai pebisnis.


"Tunggu! Bukankah ini di kirim seharusnya ke tempat lain?"


Tanya Lyman dengan cermat. "Hah? Apa ada sesuatu pertanda?" Tanya Barry kembali."


"Sepertinya, aku pernah mendapat file ini. Tapi dimana iya?" Jawab Lyman.


"Sebentar, aku akan melacak tempat pengirimnya. Sepertinya ini sedikit mencurigakan." Barry langsung cepat melacak dari mana datangnya file tersebut. Lyman duduk diam dan memperhatikan kinerja Barry.


Di depan perusahaan Trowa, seorang wanita turun dari mobil dengan style yang begitu membuat orang memperhatikanya.


Karywan-karywan di perusahaan itu mulai mengosip. Salah satu karywan mengatakan " hmm, asar wanita tidak tau malu." Lora yang mendengarkan hal itu langsung berhenti dan menoleh ke arah karywan tersebut.


Dia membuka kaca matanya, dan berjalan mendekati karywan itu. Karywan lain tampak ketakutan, dan kwatir.


"Apakah kamu sudah bosan bekerja di tempat ini?" Tanya Lora dengan wajah yang penuh kemarahan.


"Untuk apa kamu ingin mengetahuinya? Dasar wanita aneh rendahan." Jawab karywan tersebut.

__ADS_1


"Apakah karywan sepertimu pantas mengatakan itu? Apakah kamu tidak takut jika atasanmu mengetahuinya? Dasar orang rendah. Dilihat dari cara berpakaianmu saja aku sudah tau jelas bahwa kau bukanlha  dari keluarga terpandang. Dasar karywan sampah, bisanya cuman melawan, aku peingatkan kamu! Aku tidak ingin melihat mu setelah  10 menit kedepannya!"


Lora membalikkan badanya dan melangkahkan kakinya.


__ADS_2