
Gavin duduk sembari menyuruh Eunha untuk meyeduh segelas teh. Bagi Eunha ini lha pertama kalinya Gavin meminta segelas teh buatannya.
Eunha segera bergegas dan meyajikan segelas teh lalu memberikanya pada Gavin.
"Ruangan ini terlihat seperti biasanya tidak ada yang berubah." Gavin mengatakan hal itu. Eunha menoleh ke arah Gavin dan penuh tanya.
"Apakah kamu akan membiarkanku duduk sendirian disini?"
"A,,,apa?" Eunha jadi bingung dengan sikap Gavin.
"Temani aku disini! Hanya sebentar! Aku ingin ngobrol denganmu."
Eunha pun duduk berhadapan dengan Gavin. Dia merasa risih karena tidak terbiasa dengan sikap Gavin itu. Gavin tersenyum melihat Eunha dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
Lalu menyodorkanya pada Eunha "Aku sudah memikirkanya! Bagaimana pun juga aku merasa tidak pantas untukmu. Dan masalah yang telah terjadi selama ini, tolong kamu maafkan aku! Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi aku ingin mempercayai perasaanku. Aku ingin memberikanmu kebebasan."
Jantung Eunha berdetak sangat kencang. Dia terkejut mendengarkan perkataan Gavin.
"Ma,,,ma,,,maksud tuan?"
"Jangan kamu panggil aku seperti itu! Itu membuatku semakin sulit untuk melihatmu. Aku hanya tidak ingin membuatmu hidup dengan kekerasan bersamaku. Kamu bisa menandatangani surat itu!"
Eunha membuka isi amplop itu, dan melihat surat cerai. Dia meletakkan kembali surat itu, dan meyodorkanya pada Gavin. Dia menggelengkan kepala dan meminta agar Gavin tidak menceraikanya.
"Aku mohon! Jangan ceraikan aku!"
"Apa yang kamu katakan? Bukankah kamu merasa senang jika pada akhirnya bercerai denganku?"
"Aku akan merasa sedih. Aku tidak punya siapa-siapa. Dan bagaimana aku bisa hidup di luar sana?"
"Kamu tidak usah kwatir, aku sudah memperhitungkanya. Dan untuk kebutuhanmu selama 3 tahun sudah ku persiapakan. Tapi setelahnya aku tidak akan peduli tentang kebutuhanmu itu. Kamu harus segera mencari pekerjaan."
Eunha meneteskan air mata dan meraih tangan Gavin lalu menggengamnya dengan erat. "Bagaimana ini? Bagaimana jika aku memberitahu tentang bayinyang di dalam perutku?" Bicara dalam hati sembari menangis.
"Gavin menarik tanganya, dan melepaskan gengaman Eunha. Dia berdiri dan mengatakan dengan tegas "Aku tidak ingin kamu menolak akan hal ini! Aku akan memberikan waktu dalam satu minggu. Kamu harus sudah menandatanganinya!"
Gavin pun beranjak pergi dari ruangan itu. Eunha menangis tak henti sembari melihat surat tersebut.
Rumah white
Lyman yang masih bersedih duduk di taman sembari menatapi tanaman Lavender yang di rawat oleh nyonya Firtz semasa hidupnya. Barry melihatnya dan menemui Lyman.
"Wahhh, bunganya terlihat sangat indah." Barry mengatakan hal itu dan duduk di samping Lyman.
"Siapa yang menyuruhmu kemari?" Tanya Lyman dengan nada yang meyedihkan. Barry tersenyum dan menepuk punggung Lyman.
"Aku hanya ingin melihat tanaman ini. Dan ternyata kamu ada disini. Bagaiamana jika kita pergi mencari kesenangan?"
Berusaha untuk membangkitkan semangat Lyman.
"Aku tidak bisa melakukanya."
__ADS_1
"Wahhh, sejak kapan kamu bisa dingin seperti ini? Padahal aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Aku tidak ingin mendengarnya."
"Baiklha. Aku juga tidak akan memaksakanmu. Tapi aku rasa wanita itu akan merasa sedih jika tidak melihatmu di sana."
Barry beranjak dari tempat itu. Lyman membalikkan badan dan melihat Barry lalu memanggilnya.
"Tunggu! Wanita yang mana maksudmu?"
Barry terdiam dan tersenyum hangat.
"Apakah itu penting?"
"Aizzz anak ini. Aku ingin tau siapa yang kamu maksud. Ehhh, tanggal berapa sekarang?"
"Aku tidak ingat." Jawab Barry dengan ketus. Lyman menggambil ponselnya dari dalam kantong dan memeriksa tanggal. Dia teringat akan ulang tahun seseorang yang amat dia cintai.
"Astagah, bagaimana bisa aku ingin melewatkan hari ini? Sekarang ulang tahun Carla mengapa kamu tidak mengatakanya?"
"Aku ingin mengatakanya, kamu tidak ingin mendengarkanku."
Lyman pun segera bergegas dan menyuruh Barry untuk membantunya menyiapkan sesuatu. Barry sangat senang melihat Lyman kembali ceria.
Eunha membaringkan badan di sofa dengan wajah yang terlihat pucat. Dia masih memegang kertas tersebut.
"Tapi bagaimana jika aku tidak bercerai dengan Gavin? Apakah dia akan menerima bayi ini?" Mengelus-elus perutnya.
"Dan bagimana jika aku bercerai denganya? Apakah anak ini akan baik-baik saja? Apa yang akan terjadi jika suatu hari nanti dia bertanya tentang dirinya?"
Eunha pun berpikir untuk menuruti kemauan Gavin. Dia menggambil pena yang ada di atas meja tersebut lalu menandatangani surat perceraian tersebut. Dia menghela napas, dan meraih ponselnya.
Dia mengirimkan pesan pada Gavin "Aku sudah memutuskan untuk menandatanganinya. Kamu bisa memenuhi syarat yang tertera juga! Aku pikir besok adalah waktu yang paling tepat untuk perpindahan."
Gavin yang duduk di kursi kerjanya tersenyum melihat pesan dari Eunha. Dia menelpon Lyman.
"Lyman, apakah urusan yang aku berikan sudah kamu laksanakan?"
"Hmmm, tentu tapi masalah rumahnya sedikit rumit." Lyman yang sedang berbelanja dengan Barry di sebuah gedung perbelanjaan.
"Siapakan urusan itu hari ini juga! Besok akan di tempati!"
"What....?" Lyman yang mendengar hal itu meninggikan nada suaranya karena terkejut. Barry mengerutkan dahi.
Setelah beberapa detik Gavin menutup kembali ponselnya. Lyman pun terlihat begitu sedih. Dia bad mood dan menyuruh Barry untuk tidak memilih bahan makanan.
"Aku ada urusan lain, lebih baik kita pulang saja!"
"Ada apa? Apakah Gavin menyuruhmu kerja di perusahaan?
"Bukan begitu. Aku hanya mempersiapakan sebuah rumah di pinggiran kota."
__ADS_1
"Rumah?"
"Hmm, rumah yang akan di tempati oleh Eunha."
"Wah, itu sangat bagus. Apakah hubungan mereka sudah baik?"
"Aizzz, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Rumah itu salah satu syarat dalam surat perceraian mereka. Aku merasa tidak berguna untuk kak Eunha. Dia wanita yang baik. Tapi mulai besok dia sudah tidak bagian dari keluarga Firtz lagi."
"Cerai?" Barry terkejut dan segera bergegas pergi ke perusahaan Gavin. Dia merasa sangat marah, dan tidak terima jika Eunha di ceraikan olehnya.
Setelah mengemudi 15 menit, Barry pun sampai di perusahaan Gavin.
Lusi Jane yang sedang sibuk dengan pekerjaan kantor melihat Barry yang berjalan dengan cepat ke arah ruangan presdir.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku ingin bertemu dengan presdir."
"Tunggu sebentar, aku akan memberitahu pak presdir."
"Aku langsung masuk aja, dia menyuruhku kemari."
Barry yang sudah emosi menerobos masuk keruangan presdir tersebut. Dia melihat Gavin yang duduk sembari memegang pena di tanganya. Gavin menoleh ke arah Barry dan tersenyum hangat.
"Tumben? Apakah kamu ingin mengajakku makan siang?"
Barry duduk di sebuah kursi yang ada di hadapan Gavin dan menyilangkan tanganya. Gavin tertawa melihat tingkah Barry.
"Wahh, ada apa ini?"
"Gavin? Apakah kamu menceraikan Eunha?"
Raut wajah Gavin berubah seketika di saat mendengar nama Eunha.
"Mengapa kamu menanyakan hal itu?"
"Aku ingin tau."
"Apakah kamu jatuh hati pada wanita seperti itu?"
"Gavin? Apakah kamu hanya bisa menyakiti seorang yang tidak bersalah? Dan memanfaatkannya dengan sesuka hati lalu membuangnya seperti kotoran?"
"Aku tidak membuangnya, aku hanya memberikan kebebasan. Mengapa kamu terlihat sangat marah? Dan ini bukan lha urusanmu, aku rasa kamu tidak perlu ikut campur dalam urusan orang lain."
Barry berdiri dan menarik kera kemeja Gavin. "Kamu harus berpikir sebelum bertindak. Bagaimana bisa kamu mengatakan memberikanya kebebasan?"
Gavin mendorong Barry dan merasa marah. "Jika kamu menyukainya, aku tidak akan melarangmu. Mengapa kamu terlihat begitu peduli denganya? Sebagai pria aku sudah melakukan tanggung jawabku, dan memberikan yang terbaik untuknya. Aku juga memberikan hak setelah menceraiaknya, dia juga tidak hidup susah."
Barry berdiri dan menatap tajam Gavin.
"Pria macam apa yang mengaku bertanggung jawab padahal membuang istri dan bayinya? Apakah kamu seorang pria sejati?
__ADS_1
"**Jangan lupa menggunakan masker di saat berpergiaan, dan tetap jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas sembuh seperti sedia kalah."
Salam hangat dari autor๐๐**