Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 8


__ADS_3

Pukul 00:05Am.


Gavin merasa kesal, dia menghela napas dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Dia menunggu nyonya Firtz yang tak kunjung datang. Dia pun tertidur disana, sampai pagi.


Eunha tidak melakukan pekerjaan seperti biasanya. Dia dalam keadaan tidak sehat. Dia terbaring di kamarnya, tidak ada satu orng pun yang melihatnya.


Gavin, tidak peduli dan pergi ke kantor seperti biasa.


Perusahaan Trowa


Pagi yang begitu cerah, dan terasa damai. Gavin melangkahkan kakinya, ke dalam perusahaan dengan wajah yang terlihat dingin.


"Gavin." Terdengar suara pria dari arah timur yaitu Barry Jane.


"Mengapa kamu kesini? Bukankah kamu seharusnya di Amerika?"


"Iya itu seharusnya, bukan berarti tidak bisa di sini kan?"


Mereka berdua sudah bersahabat sejak beberapa tahun yang lalu. Gavin pun mengajaknya untuk bicara di dalam kantornya. Barry tentu senang bisa bertemu dengan sahabatnya.


"Bagaimana keadaan disana?"


Sembari membuka jasnya. Barry menatap ruangan itu, dengan senyuman hangat di pipinya. Dia merasa sama seperti dulu, tidak ada yang berubah dengan ruang kerja Gavin.


"Disana tentu baik-baik saja."


"Apakah kamu merindukan Kak Lusi? Sepertinya dia ada di ruanganya. Kamu bisa menemuinya."


"Wah,,, aku kira tidak ada yang berubah. Ternyata kamu sudah berubah. Whehehh."


"Apa yang kamu katakan? Aku hanya memahamimu."


"Iya,, iya. Baiklha. Mungkin karena kamu sudah punya istri."


Gavin, sontak terkejut. Barry mengetahuinya memiliki istri. Dia sudah menyembunyikan hal itu secara, baik-baik agar orang lain tidak ada yang tau.


"Apa kamu bercanda?"


"Aku tau, kamu pasti terkejut mendengarnya. Tapi santai aja, karena aku juga tidak akan berpikir bodoh."


"Kapan kamu kembali ke Amerika?"


"Aku tidak tau kapan. Tapi yang pasti mungkin akan lama."


Nyonya besar datang ke perusahaan. Dia tersenyum pada karywan di sana. Dia terlihat begitu, elegan dan tata kramanya sangat baik.


"Wah, dia masih terlihat begitu muda."


"Iya, aku ingin punya mertua seperti dia."


Karywan yang bergosip. Mereka merasa iri, dengan ke cantikan nyonya Firtz.


Mereka membungkukkan badan, sembari tersenyum pada Nyonya Firtz.

__ADS_1


"Selamat pagi nyonya, ada yang bisa saya bantu?"


Lusi membungkukkan badanya, sembari tersenyum hangat. Nyonya Firtz merasa begitu terhormat. Dia membalas senyuman itu, dengan kelembutan.


"Iya Lusi. Bisakah, kamu katakan pada pada tuan Gavin bahwa aku ingin menemuinya?"


Setelah beberapa menit Nyonya Firtz masuk ke dalam kantor CEO.


Lusi mengantarkanya sampai ke ruangan Gavin.


Barry sontak berdiri dan membungkukkan badanya. Nyonya Firtz tersenyum hangat. Gavin menyuruh Barry untuk meninggalkan mereka. Barry pun pergi dan berpamitan dengan hangat.


Barry melangkahkan kakinya dengan wajah yang penuh kecerian. Para karywan wanita yang melihatnya begitu ingin mencari perhatian.


"Siapa dia?" Tanya salah satu karywan ke pada Lusi.


"Dia teman Pak Gavin." Dia menjawab seakan tak mengenali Barry. Wanita-wanita itu, begitu terharu dengan ke tampanan Barry. Lusi yang melihat itu, menggelengkan kepalanya.


"Dia tidak seperti yang kalian lihat. Dia mempunyai sifat yang sangat buruk. Apa kalian tau, dia selalu bertingkah seperti bayi."


Lusi tersenyum, dan pergi beranjak dari tempat itu sembari membawah, segelas coffe di tanganya. Dia merasa lucu, telah mengatakan hal konyol tentang adeknya sendiri pada teman kerjanya.


"Darimana dia tau? Atau apakah dia itu hanya cemburu dengan kita?"


"Jika dia cemburu, aku rasa itu sangat baik. Dia selama ini selalu berlagak sok hebat."


"Aku juga berpikir begitu. Dan ternyata wanita es itu bisa cemburu."


Kebiasaan karywan, yang suka mengusik hidup orang lain. Seakan-akan apa yang mereka lakukan sudah benar.


"Apa kamu sudah gila?"


Gavin tidak mengerti apa yang ibunya katakan. Dia menghela napas, dan mendekati ibunya sembari memeluk ibunya dengan manja.


"Mengapa ibu mengatakan aku sudah gila?"


"Kamu memang sudah gila, apa kamu tau apa yang akan terjadi jika kamu harus melibatkan istrimu bekerja di bawah tanah?"


"Aku tidak mengerti apa yang ibu katakan?"


"Kamu pikir ibuĀ  bodoh?"


Gavin mengerutkan dahinya, sembari duduk seperti biasanya. Dia merasa heran dengan kepintaran nyonya Firtz, yang mengetahui setiap gerak-geriknya.


"Untuk itu, ibu akan membawa Eunha tinggal di rumah. Dan kamu juga harus tinggal di rumah keluarga Firtz! Ayahmu dalam keadaan seperti ini, begitu banyak orang yang akan menggambil kesempatan untuk menjatuhkanmu."


"Tapi tidak seharusnya aku akan tinggal disana. Aku akan mengirim beberapa pengawal untuk menjaga rumah White. Lebih baik aku dan istriku, tinggal di apartemen seperti biasanya ibu."


"Apa kamu pikir ibu bodoh? Sampai kapan kamu akan memperlakukan Eunha seperti itu? Dia istrimu, sudah seharusnya kamu memikirkannya!"


"Apakah ibu, mengetahui soal pernikahan aneh ini?" Bicara dalam hati. Dia berusaha menenangkan suasana hati ibunya.


"Ibu tidak mau tau. Jika tidak kamu harus secepatnya memberikan keluarga Firtz keturunan!"

__ADS_1


"Hah? Apa yang ibu omongkan barusan? Apakah aku harus memiliki keturunan secepat itu?"


"Gavin, kamu harus mengerti! Ayahmu sudah tua, dan umurmu juga sudah pantas untuk memberikan keturunan. Dan adikmu Lyman tidak ingin berurusan soal bisnis. Jadi ibu harap itu adalah jalan yang sangat bagus untuk masa depan keluarga Firtz dan juga kamu."


Setelah beberapa jam Gavin pun duduk sambil memikirkan apa yang dikatakan ibunya. Dia tidak tau mau berbuat apa soak keturunan. Dia tau benar, bahwa dia tidak mengiginkan keturunan dari Eunha.Ponselnya berdering, dia melihat ponselnya dan menempelkannya ke telinga.


"Honey?" Terdengar suara seorang wanita. Dengan nada suara yang begitu lembut.


"Lora, aku lagi sibuk. Nanti aku akan menemuimu di apartemen."


"Apan sih? Aku sudah menunggumu di parkiran!"


"Mengapa kamu harus datang kesini? Aku pasti akan menjemputmu jika kamu katakan akan kemari."


"Aku sudah bosan nunggu jawaban darimu. Aku sudah menghubungi, dan mengirimkan pesan sejak beberapa jam yang lalu. Tapi kamu tidak menjawab apa pun."


Gavin segera bergegas. Dia pergi menemui Lora, ke tempat parkiran. Setelah disana dia melihat Lora bicara dengan seseorang. Tapi dia tidak peduli dengan pria yang bicara sama Lora. Serelah melihat Gavin, Lora menyuruh pria itu pergi dari tempat itu.


Gavin membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil Lora. Gavin duduk dengan wajah penuh ke kwatiran. Dia tidak tau sejak ibunya datang suasana hatinya begitu buruk.


Lora yang melihat wajah itu terdiam. Gavin tidak ingin bicara dia pun bersandar di dalam mobil. Lora tetap diam, sifatnya yang tidak suka di abaikan. Namun tidak pernah memahami bagaimana perasaan Gavin. Dia kesal melihat Gavin, yang bersandar tanpa kata apa pun.


"Honey, apa kamu pikir aku benda mati?"


"Lora, izinkan aku berbaring sebentar!"


"Haiz, apa kamu berpikir aku penenangmu?"


"Hmmm, mari bicara nanti saja! Aku sedang tidak enak badan."


"Aku datang kurang tepat. Aku harus segera pergi. Dia katakan kurang enak badan berarti dia punya penyakit. Aku harus menjauh, bagaimana jika peyakitnya menular?"


Lora bicara dalam hati. Dia kesal, karena datang tanpa sambutan hangat dari Gavin. Dia pun berasalan ada urusan penting. Dan pergi secepatnya dari tempat itu. Gavin turun dari dalam mobilnya dan melihat mobil yang melaju di depanya.


"Ada apa dengannya?"


Krystal, melihat Gavin yang keluar dari dalam mobil. Dia pun merasa ada yang aneh dengan hubungan Gavin dan Lora. Dia sudah tau bahwa Gavin punya seorang wanita sejak dia kuliah. Bahkan Krystal meyelidiki semua tentang Lora.


"Gavin?" Mengunci mobil, dan segera beranjak ke arah Gavin.


"Kakak? Apa yang kakak lakukan disini?" Menoleh ke arah Krystal.


"Aku ingin membicarakan sesuatu untukmu!"


"Apakah hal yang begitu serius?"


"Jika itu tidak serius, aku tidak akan datang ke sini."


"Baik-baiklha. Mari kita bicarakan di dalam kantorku saja!"


"Tunggu! Aku rasa lebih baik kita bicarakan di luar saja! Aku juga ingin menunjukkan sesuatu untukmu."


Gavin sebenarnya bukanlha kurang enak badan. Tadinya dia hanya ingin melihat bagaimana reaksi Lora. Tapi tidak di sangka Lora, memilih untuk pergi tanpa memperdulikanya.

__ADS_1


~Ingat menggunakan masker di saat bepergiaan! Dan tetap jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas sembuh.~


__ADS_2