
Noris yang senyum-senyum merasa bahagia itu, duduk di rumah pohon sembari menikmati secangkir kopi buatanya. Dia senang melihat Gavin dan Eunha bersatu kembali, bagaimana pun itu adalah hal yang patut untuk di rayakan. Noris melihat dari rumah pohon tersebut ke segala arah yang terlihat dari sana. Dan melihat sekelompok berpakaian mencurigakan di bukit yang tidak jauh dari pedesaan itu.
Orang-orang tersebut memasang sebuah tenda. Noris turun dari rumah pohon dan mencari alat pembesar di dalam rumah. Dia penasaran dengan orang-orang tersebut, karena sebelumnya dia belum pernah melihat itu.
Gavin dan Eunha menyiram bunga-bunga yang ada di taman tersebut. Mereka begitu kompak, dan melakukanya dengan senang hati.
"Apakah kamu yang menanamnya sendiri?" Tanya Gavin
"Hmm, tentu. Aku rasa hal ini sangat muda. Dan aku tau, bahwa seseorang yang aku cintai menyukai dari beberapa jenis bunga ini."
"Apakah orang tersebut adalah ibuku?"
"Iya, dia selalu memberikan keberanian untukku. Dan mengatakan bahwa semuanya akan tetap baik jika kita bisa menghadapinya dengan penuh cinta."
"Bagaimana bisa kamu serakah? Bagaimana dengan bunga yang aku suka? Mengapa tidak ada?"
"Aku tidak ingin menanam bunga kejam seperti itu. Aku hanya bisa menanam bunga yang penuh dengan kasih sayang. Wheehehh."
"Wah, kamu curang. Apakah kamu tidak lihat bahwa aku tidak sekejam itu? Ehh tapi mungkin itu ada benarnya."
Raut wajah yang penuh penyesalan. Gavin memetik setangkai bunga mawar merah di taman tersebut, dan memberikannya pada Eunha dengan berlutut di hadapannya. "Bisakah aku mencintaimu dengan sepenuh hati? Dan bisakah kita memulai segalanya dari awal?"
Eunha marah, di saat melihat Gavin memetik bunga kesayanganya. "Apa yang kamu lakukan? Mengapa memetiknya? Ini sangat sulit untuk di kembangkan dan kamu memetiknya dengan semudah itu?"
"Ehhh, itu...?"
Noris berlari menghampiri Gavin. Dan bicara bagaikan sedang di kejar oleh hantu. Gavin dan Eunha tidak mengerti apa yang di coba jelaskan oleh Noris.
"Tu.....£_£/\=$%€£_/£%///_££_/_%_//_££$/6££6£%_££_£__££_€%%£$/£_/£_"
"Ada apa?" Tanya Gavin.
"It...itu."
"Tenangkan dirimu! Aku tidak bisa mengerti apa yang kamu katakan."
Menarik napas dan mencoba untuk menjelaskanya.
"Sekumpulan orang mencurigakan ada di sekitar sini! Kita harus segera pergi, karena aku percaya mereka adalah orang-orang yang mengancam nyawamu tuan."
Eunha kaget, dan melihat Gavin. Noris menyuruh Gavin untuk mencoba melihat orang-orang tersebut. Eunha hanya diam tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan.
Restaurant Million
Krystal dan Kai yang sedang menikmati makan mereka, sembari mengobrol. Kai bersikap canggung saat bertemu Krystal kali ini. Dia tidak bisa melupakan malam di mana Krystal menciumnya. Dia melihat bibir Krystal yang sangat sexy itu. Dan membuatnya harus menelan ludah berkali-kali.
Krystal memperhatikan Kai yang melamun itu, dan mengoyangkan tanganya di depan wajah Kai. "Apa ada masalah?" Tanya Krystal pada Kai. "Ti...tidak."
"Baiklha, tapi jika kamu ada masalah bisa cerita denganku! Aku akan mendegarkanmu."
"Iya. Wheheheheh."
Senguman Kai, yang membuat Krystal semakin terpanah. Dia tidak bisa berkata-kata di saat melihat Kai tersenyum padanya. Tapi Kai berkali-kali mengabaiakan perasaan Krystal. Dia merasa Krystal adalah teman satu-satunya, dan tidak ingin menghancurkan perteman tersebut karena hal bodoh
__ADS_1
Kai tidak pernah percaya dengan adanya cinta sejati, dan kesetiaan. Dia hanya meyakini bahwa dunia terlalu sulit dan penuh dengan kejahatan. Sejak kecil dia belum pernah mendapatkan kasih sayang yang sesungguhnya dari ayah, ataupun orang lain. Dia terbiasa hidup dengan kekerasan, dan kesepian.
"Kai, bisakah aku menanyakan sesuatu?"
"Iya."
"Apakah kamu akan tetap berteman denganku, jika aku berbuat jahat?"
"Pertanyaan semacam apa itu? Aku tidak bisa menjawabnya."
"Mengapa kamu tidak bisa menjawabnya? Apakah karen wanita itu? Kamu hanya bisa menyukai wanita yang berhati malaikat?"
"Bukan itu maksudku. Tapi aku...."
"Apa? Kamu sangat membenci wanita jahat seperti ku? Apakah kamu tau mengapa aku melakukan hal ini?"
"Aku hanya saja tidak ingin melihatmu jatuh ke dalam dosa. Karena kamu jelas tau, bahwa ayah tidak akan melepaskanmu sekali kamu masuk ke dalam perngkapnya. Apakah kamu tidak takut, dengan hukum?"
"Kamu sungguh naif. Aku bahkan mendengar dari ayahmu bahwa kau telah mengirim file rahasia pada musuh ayahmu sendiri. Apakah itu tidak termasuk hukum penculikan file?"
"Itu bukanlha penculikan, tapi itu adalah penyelamatan yang akan aku lakukan di saat ayahku benar-benar hilang kendali."
"Kamu sungguh pembohong, bahkan pernah mengatakan tidak akan pernah menolong ayahmu, walaupun dia mati."
"Aku mengatakanya karena emosi. Tapi dia telah membesarkanku, dan memberikanku nama serta kehidupan. Jika pun aku tau, bahwa dia bukanlha ayah kandungku maka aku tetap akan menyayanginya. Karena sejahat apapun dia tetaplha orang yang pernah menyelamatkan hidupku."
"Ayah, aku mendapatkanya."
"Pintar sekali putri kecilku. Bagaimana bisa kamu melakukannya dengan secepat itu. Apakah kamu menggunakan kecurangan?"
Dan ketika mereka sakit maka pria itu akan berjaga. Memberikan pendidikan, dan penuh ke harmonisan. Suatu hari di saat seorang bayi lahir di tengah-tengah keluarga itu, mengubah segalanya. Sang ayah semakin sibuk untuk bekerja dan waktu untuk bersama semakin berkurang. Tapi di saat hari penting ayahnya akan selalu ada untuknya dan juga kakak laki-lakinya.
Jumlah keluarga mereka bertambah, dengan adanya bayi tersebut. Putrinya selalu tersenyum dengan bayi itu, dan menjaganya setiap hari. Tapi ayahnya selalu mengatakan jangan terlalu lelah! Putri ayah masih sangat kecil.
Dan ketika bayi itu sudah besar, dan masuk ke pendidikan yang sama dengan kakaknya.
Di saat acara-acara spesial mereka, ayahnya tidak pernah lagi datang untuk menonton pertunjukan dari putrinya. Tapi ayahnya akan selalu memberikan permen padanya setelah di rumah.
Setiap kali putrinya melihat bahwa ayahnya tidak begitu terlalu peduli dengan adiknya. Disaat dia menangis pun ayahnya hanya mengatakan bahwa dia terlalu cengeng jadi anak laki-laki. Dan memberi contoh kakak laki-lakinya yang sangat baik, dan pintar.
Bahkan saat ayahnya menikahi lagi, membuat keluarga itu kembali lebih bahagia dari sebelumnya. Namun ayahnya tetap begitu digin terhadap adiknya. Mungkin karena ayahnya yang kehilangan istri tercinta demi melahirkan adiknya tersebut. Tapi ibu baru itu, begitu peduli dengan segalanya. Dia adalah pengasuh adik kecil itu, dan mendapat posisi menjadi seorang nyonya besar. Berhati mulia, dan tidak pernah membandingkan bahwa dirinya hanyalha seorang ibu tiri.
Dia melakukan tugasnya seperti seorang ibu kandung. Mengajari, menemani, dan membacakan cerita di saat anak-anaknya ingin tidur. Bahkan setelah besar, di saat putrinya pergi melanjutkan pendidikanya dia tidak lupa memesankan untuk hidup mandiri. Saat itu seorang anak bertambah lagi, dan di rumah semakin ramai.
Dan suatu ketika kakak laki-lakinya menghilang selama dua hari dan di temukan tidak bernyawa di sebuah apartemen. Hal itu membuat hati putrinya sangat bersedih. Dan di malamnya, dia mendegarkan perdebatan antara ayah dan ibunya, dia tidak tahan mendegarkan hal itu dan pergi dari rumah. Dan sejak saat itu semua berubah, dan kebaikan putrinya berubah menjadi kejahatan. Dan sampai kejahatan itu telah menjadi sebuah kegelapan yang membuat keluarga itu hancur, dan menghilangkan nyawa.
*******
Mata Krystal berkaca-kaca ingin menangis. Dia telah melupakan semua kebaikan yang telah di lakukan oleh orang yang pernah menyelamatkan hidupnya. Dia tidak bisa mengatakan apapun, dan tetap hanya ingin menghancurkan keluarga yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu.
Gavin bersiap-siap untuk pergi dari tempat itu. Dia menyuruh Eunha untuk membereskan pakaiannya. Gavin begitu kwatir, ternyata musuhnya bahkan sudah mengetahui tempat persembunyian Eunha istrinya. Dia tidak ingin istri dan anaknya terlibat dalam hal tersebut.
Noris berusaha untuk tidak meninggalkan jejak apapun di dalam rumah itu. Mereka pergi dari rumah tersebut. Eunha yang sedang mengandung itu tidak bisa berjalan lebih cepat.
__ADS_1
Sekelompok musuh Gavin itu, adalah orang-orang yang sudah mengikuti Gavin di saat datang ke hutan tersebut. Tapi di pedesaan mereka kehilangan jejak Gavin, sehingga mereka harus membuat sebuah tempat perlindungan di bukit, dan menghindari kewaspadaan dari para warga. Mereka seakan-akan sekelompok pendaki gunung.
Setelah dua jam berjalan dari hutan tersebut, akhirny mereka sampai di pedesaan. Karena kondisi Eunha yang tidak bisa berjalan lebih cepat dan memakan waktu lebih lama. Gavin segera membukakan pintu mobil dan meyenderkan Eunha di kursi mobilnya. Noris memasukkan barang-barang yang mereka bawa ke dalam bagasi.
Gavin mencari warung, dan membelikkan beberapa cemilan, dan minuman segar. Dia tidak melihat market atau semacamnya. Inilha pertama kLinya Gavin membeli sesuatu dari warung dengan tanganya sendiri. Setelah di dalam mobil Gavin membukakan sebotol air mineral, dan memberikannya pada Eunha. Dia merasa begitu kasihan dengan istrinya yang harus mengalami hal itu untuk menghindari para musuhnya demi keselamatannya.
"Noris dulu ini!" Memberikan minuman segar pada Noris, dan beberapa cemilan serta roti kecil.
Eunha penuh dengan keringat, dan wajah yang memucat. Dia bersandar, dan terlihat melemah tak berdaya. Gavin menginggat bahwa mereka belum makan apapun sejak tadi pagi sampai sore. Dia menyuruh Noris untuk menyetir, dan mencari sebuah restaurant di pinggir jalan.
"Eunha, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Gavin dengan cemas.
"Iya... aku tidak apa-apa. Di depan sana ada warung makan. Kita bisa membeli makanan di sana!"
Setelah di depan warung makan tersebut Gavin begitu cepat turun dari mobil dan membelikkan beberapa bungkus nasi dan juga lauknya. Orang-orang yang melihat Gavin terkagum-kagum, bahkan memotretnya.
"Apakah dia seorang aktor?"
"Ahhhh, dia sangat tampan. Aku yakin dia pasti seorang pengusaha."
"Lihat, bahkan tatapannya sangat mempesona. Coba kamu perhatikan postur tubuhnya! Aku rasa tidak akan menyesal jika aku di tiduri olehnya."
Kata-kata yang terlontar dari beberapa orang yang melihatnya. Dia tidak mempedulikannya orang-orang tersebut. Dia menambil dompetnya, dan melihat uangnya hanya tinggal lima puluh ribu. Dia memberikan kartu nya, tapi di sana hanya bisa menggunakan uang tunai. Gavin pun hanya membeli dua bungkus makanan. Dia tidak peduli untuk dirinya, tapi mementingkan Eunha, dan Noris karena meyetir mobil.
"Noris segeralha makan! Karena kamu akan menyetir dengan hati-hati. Tidak boleh sampai lapar."
Gavin menyuapi Eunha dan dia sendiri sebenarnya sedang kelaparan. Eunha tidak pernah menyangka hal seperti itu akan terjadi, dia merasa lebih baik dan ingin waktu berhenti di saat seperti itu untuk selamanya. Gavin terlihat seperti seorang pria sejati dan bertanggung jawab. Dia hanya memakan beberapa roti yang benar-benar belum pernah dia coba sebelumnya. Entah pun rasanya enak atau buruk Gavin tetap berusaha untuk menelannya.
Setelah beberapa menit mereka pergi dari tempat tersebut. Gavin menyuruh Eunha untuk tidur dan tidak memikirkan hal yang macam-macam. Gavin meraih ponselnya, dan menghubungi sekretarisnya Lusi. Dia meminta Lusi untuk memblokir segala akun media yang berasal dari desa tempat dia membeli nasi tadi.
"Sekretaris Lusi, cepat lakukan seperti perintahku! Jika tidak fotoku akan beredar di mana-mana. Ini demi keamanan semua orang!"
"Baik-baik tuan, aku akan segera menghubungi perusahaannya."
Lyman keluar dari ruanganya, bersama Jihan pengawalnya. Dia tampak lelah, karena melakukan banyak pekerjaan bahkan tidak bisa menghubungi Gavin untuk masalah yang begitu serius. Dia yang melihat sekretaris Luso belum pulang mengajaknya untuk pulang bersama.
"Ahh... aku masih ada yang harus di kerjakan. Tuan duluan saja!"
"Kak Lusi bisakah tidak memanggil seperti itu? Itu sangat keterlaluan. Dan tidak enak untuk di degar."
"Baik-baiklha. Oh iya, aku sudah menerima telpon dari tuan muda. Tapi bukan soal perusahaan, aku rasa sesuatu sedang bear-benar terjadi."
"Benarkah?" Panik dan segera mengeluarkan ponselnya. Dia pun menghubungi Gavin sesegera mungkin. Dan dengan cepat di jawab oleh Gavin.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Lyman dengan cemas.
"Iya aku baik-baik saja. Tapi kakak iparmu sepertinya tidak. Kami menuju ke kota sekarang, dan tolong carikan sebuah penginapan yang jauh dari keramaian!"
Terheran disaat mendegar kakak ipar. Lusi tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dan Jihan tidak tau siapa kakak ipar.
"Baiklha. Aku akan melakukanya. Kamu harus perhatikan kakak ipar! Jangan sampai lengah! Apakah bayinya baik-baik saja? Lakukan apa yang menurutmu bisa di andalkan, aku tidak ingin hal ini semakin rumit!"
"Iya, aku sudahi dulu pembicaranya."
__ADS_1
"Tutt....tutt."
Lyman yang begitu kembali semangat di saat mendegarkan kakak ipar. Dia menyuruh Jihan untuk ikut bersamanya. Dan permisi pada sekretaris Lusi untuk pulang duluan. Lusi juga merasa senang, karena sudah lama dia tidak mendegar tentang istri Gavin.