
Pukul 20:00Pm.
Gavin pun pergi ke rumah White. Dia tidak ingin orangtuanya tau apa yang terjadi diantaranya dengan Eunha. Dia masuk ke dalam rumah, dan melihat ibunya yang duduk di sofa sembari membaca sebuah majalah.
"Ibu pikir kamu tidak akan datang." Melihat Gavin, dan meletakkan majalah tersebut.
"Bagaimana mungkin aku membiarkan istriku, dirawat sendiri oleh ibu?"
"Baiklha, ibu juga ingin istirahat. Lebih baik kamu pergi melihat dia di kamar mu!"
"Apa?" Terkejut, disaat mengetahui Eunha tidur di kamarnya.
"Kenapa? Apa kamu pikir kamarmu hanya milikmu sendiri? Kamu sudah punya istri, dan harus saling berbagi denganya."
Ibunya tersenyum melihat ekspresi Gavin. Dia pergi ke dalam kamarnya, dan membiarkan Gavin untuk menjaga Eunha.
"Eunha, hari ini umurmu sudah bertambah satu tahun. Tapi ayah hanya bisa memberikanmu ini!" Memberikan sebuah buku novel tentang wanita yang beejuang hidup. Eunha kecil merasa bahagia. Dia memeluk ayahnya dengan sangat erat.
"Ayah, aku akan jadi wanita seperti yang ada di dalam buku ini. Dan aku berjanji, akan jadi seorang wanita yang hebat, dan membuat ayah dan ibu bangga."
"Benarkah? Ayah akan menunggu waktu itu! Tapi kamu tidak bisa lari jalur dari hal yang ayah katakan! Dan bawah ajari adikmu disaat kamu sudah dewasa!"
Ponsel ayah Eunha berdering. Ayahnya yang melihat ponsel itu, sembari membaca pesan dari pegawai kantor. Wajahnya terlihat begitu serius dan mencium pipi Eunha, sembari memeluk dengan lembut.
"Putri ayah yang baik, ijinkan ayah pergi sebentar! Ayah ada urusan mendadak. Kamu turunlha! Ibu dan adikmu sudah menyiapkan sesuatu untukmu!"
Ayah bergegas dengan terburu-buru. Eunha pergi menemui ibu dan adiknya di lantai bawah. Tetapi dia tidak menemui apa pun, selain sebuah kue ulang tahun. Dia beranggapan orangtuanya akan memberikanya suprise. Dia menunggu sampai sejam lebih. Dia baru menyadari ponsel ibunya terletak di atas meja.
Dia melihat ponsel ibunya, dan mendapati sebuah gambar dirinya yang di edit dengan kata-kata oleh ibunya.
"Putriku yang cantik. Ibu berharap di umurmu yang saat ini, bisa tetap beetahan dengan senyuman! Dan semoga kelak, kamu mendapatkan pria yang benar-benar mencintaimu. Dan memberikan kebahagiaan bagi keluarga kita, dan jangan lupa memberikan sebuah keadilan untuk adikmu!"
Tapi pada saat itu, Eunha belum bisa membaca. Dia menyimpan ponsel itu, dan berharap agar dia bisa membacanya suatu hari nanti. Tidak lama kemudian, sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Dia segera bergegas, merasa bahagia, mengira orang tuanya datang.
Namun yang datang adalah pamannya, yang membawa kabar bahwa perusahaan ayahnya dalam masalah. Pamanya membawa Eunha ke tempat kejadian. Dimana yang ada sebuah gedung yang terbakar. Pamanya mengatakan bahwa ayah Eunha ada di dalam gedung itu bersama ibunya.
Eunha menangis secara tragis sembari berlari ke arah gedung itu. Tetapi pamanya menahan Eunha, agar tidak pergi ke tempat api yang sedang membara itu. Pemadam berusaha keras untuk memadamkan apinya*.
"Ayah,,, ibu,,, jangan tinggalkan Eunha! Eunha janji akan bersikap lebih baik. Ayah,,, ibu,,,, Hiks hiksssss."
Eunha menaggis terisak-isak. Gavin yang berdiri, sembari membuka jasnya menoleh ke arah Eunha, sembari kebingungan. Dia mendekati Eunha dan mencoba memeriksa suhu badanya, dengan tanganya.
Eunha menarik tangan Gavin dengan erat. Gavin menarik tanganya, namun Eunha menggengam dengan erat, sembari mengatakan.
"Jangan tinggalkan Eunha. Hikssss."
__ADS_1
"Apakah, dia sedang bermimpi?" Menghela napas, sambil menarik tangannya.
Eunha tidak melepaskan, dan menarik sampai Gavin terduduk di tempat tidur.
"Haizzz."
"Kumohon jangan pergi! Eunha akan bersikap lebih baik." Memeluk Gavin yang sedang duduk di sampingnya dengan begitu Erat. Gavin terdiam, sambil menepuk nepuk punggung Eunha.
Dia menunggu Eunha untuk tidur. Gavin kwatir jika ibunya mengetahui apa yang dia lakukan selama ini dan berpura-pura perhatian pada Eunha. Gavin merasa begitu ngantuk, sembari memandangi wajah Eunha.
Pukul 01:25Am.
Nyonya Firtz mencoba mengcek Gavin dan Eunha. Dia membuka pintu kamarnya perlahan. Dan tersenyum hangat saat melihat Gavin dan Eunha tidur berpelukan.
Pagi
Eunha membuka matanya perlahan, dan menutup matanya kembali. Dia tersenyum hangat, dan berpikir sedang berhalusinasi bahwa Gavin di hadapanya. Dia membuka kembali matanya, dan terkejut lalu mendorong Gavin.
"Hah."
"Haizz, apan sih?" Membuka matanya dengan wajah yang terlihat kesal.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Memeriksa pakaiannya. Lalu menoleh ke arah Gavin, yang duduk di lantai.
"Aku mau mandi dulu. Kamu istirahat aja dulu! Jangan membuat masalah!"
"Ada apa denganya? Apakah dia itu Gavin yang aku kenal? Atau jangan-jangan malaikat yang di kirim ayah dan ibu?" Bicara dalam hatinya, dan begitu kebingungan melihat kelembutan Gavin.
"Selamat pagi nyonya muda." Seorang pelayan yang datang sembari membawa, semangkok bubur.
"Nyonya besar menyuruhku untuk membuatkan khusus bubur kesukaan nyonya. Nyonya besar ada urusan mendadak, dan menyuruh agar nyonya muda makan sendiri sampai habis!" Meletakkan di meja yang ada di samping Eunha.
Pelayan itu tersenyum jahat. Dia pun segera beranjak dan pergi dari kamar itu.
"Dia akan merasa sakit perut dan tidak bisa bergerak selama 2 hari. Dan aku akan bisa mendekati tuan Gavin. Wheheheh, memang nyonya Krystal sangat mengerti diriku."
Eunha meraih semangkok bubur itu, dan mencoba untuk mencicipinya. Gavin masuk ke dalam kamarnya, dan melihat Eunha yang ingin makan bubur kesukaannya. Dia merebut bubur itu, dengan wajah kesal.
"Apaansih?" Merasa sedih, karena makanna nya di rebut.
"Jangan berpikir, untuk memakan bubur kesukaanku." Menyantap sampai habis bubur itu, dan merasa puas.
Nyonya Firtz masuk ke dalam ruangan itu, dan membawa semangkok bubur yang sama. Dia terkejut, disaat melihat mangkok bekas bubur di tangan Gavin.
"Apakah kamu yang mencuri sebagian bubur yang ibu masak?"
__ADS_1
"Hah? Bukankah nyonya besar ada urusan mendadak?" Eunha merasa heran.
"Tidak ada. Ibu sengaja tidak pergi kemana-mana agar bisa merawatmu."
"Ta,,,ta,,,tapi pelayan itu, mengatakan nyonya ada urusan, dan menyuruh saya untuk menghabisi bubur ini."
Gavin kebingungan, dan menyentuh bagian perutnya sembari terburu-buru ke kamar mandi. Perutnya terasa mules. Eunha menoleh ke arah Gavin, dan kebingungan.
2 jam kemudian Gavin di infus. Dia terbaring di tempat tidur. Eunha sudah merasa baikan dan membantu untuk merawat Gavin. Dia terkena gangguan pencernaan, disebabkan salah memakan sesuatu.
Nyonya Firtz merasa kesal dengan pelayan itu, dan memecatnya. Pelayannya mengaku melakukan hal itu, sesuai permintaan Krystal.
"Eunha, kenapa kamu ada disini?"
Membersihkan sayuran, sembari tersenyum pada nyonya Firtz.
"Ehh, nyonya."
"Mengapa selalu memanggilku seperti itu? Aku ini ibu mertuamu sekarang. Dan jangan memanggilku seperti itu terus!" Wajah kecewa.
"Ibu, aku ingin membuatkan semangkok bubur peredah pecernaan."
"Baiklha, ibu akan melihat kondisi tuan Firtz dulu. Kamu jangan terlalu lelah! Jika ada sesuatu segera menghubungi ibu! Dan pakai lha ini!" Meletakkan sebuah ponsel di meja makan.
"Terima kasih ibu."
"Sama-sama Eunha sayang. Setelah itu, jangan lupa untuk istirahat! Fisikmu belum seutuhnya sembuh."
Nyonya Firtz beranjak dari tempat itu, menuju kamar Krystal. Dia mendapati Krystal yang duduk dengan sebuah ponsel di tangan.
"Ehh, ibu?" Tiba-tiba menyadari nyonya Firtz.
"Krystal, ibu ingin bicara denganmu."
Berdiri, dan menatap tajam Krystal. Dia tidak suka dengan sikap Krystal yang terus-menerus iri dengan orang lain. Ibunya mengetahui semua hal apa yang telah di lakukan Krystal pada Eunha.
Krystal begitu takut. Dia tersenyum ragu-ragu, sembari memeluk ibunya.
"Apakah ibu ingin membicarakan soal perusahaan lagi?"
"Krystal, ibu hanya ingin mengatakan. Jangan sampai ibu habis kesabaran!"
"Haiz,,, wanita ini benar-benar mulai membuatku kesal. Dia ibu kandung tapi, tidak pernah mendukungku sekalipun." Bicara dalam hati.
Eunha membawa semangkok bubur ke dalam kamar Gavin. Dia melihat Gavin yang sedang bicara dengan Barry.
~Jangan lupa menggunakan masker disaat bepergian! Dan jaga jarak!
__ADS_1
Semoga dunia kita cepat lekas sembuh seperti sedia kalah.~